{"id":31733,"date":"2026-04-14T18:15:39","date_gmt":"2026-04-14T11:15:39","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/perjalanan-nya-berabad-abad-habakuk-36\/"},"modified":"2026-04-14T18:15:40","modified_gmt":"2026-04-14T11:15:40","slug":"perjalanan-nya-berabad-abad-habakuk-36","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/perjalanan-nya-berabad-abad-habakuk-36\/","title":{"rendered":"Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya. [Mazmur 22:7]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ejekan merupakan sebagian besar dari bahan penyusun dukacita Tuhan kita. Yudas mengolok-olok Dia di kebun; imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat menertawakan dan menghina Dia; Herodes tidak menghiraukan-Nya; hamba-hamba dan tentara mencemooh Dia, dan menista-Nya dengan kejam; Pilatus dan pengawalnya mengejek status-Nya sebagai raja; dan di kayu salib segala macam hinaan mengerikan dan cacian menyeramkan dilontarkan ke arah Dia. Ejekan memang selalu sulit untuk ditanggung, tetapi ketika kita sedang menderita begitu hebat, maka ejekan itu menjadi begitu tak berperasaan, begitu kejam, sehingga sangat melukai hati. Bayangkan Sang Juruselamat disalibkan, disiksa dengan penderitaan yang jauh lebih besar dari yang dipikirkan seluruh makhluk fana, kemudian bayangkan aneka ragam manusia, semuanya menggelengkan kepala mereka atau mencibir dengan cemoohan yang pahit kepada seorang korban malang yang sungguh menderita! Tentunya pasti ada sesuatu yang lebih pada diri Dia yang tersalib itu yang dapat mereka lihat, sebab kalau tidak kerumunan besar yang berbaur itu tidak akan dengan suara bulat memberikan penghinaan kepada-Nya. Bukankah itu adalah suatu pengakuan dari si jahat, ketika sepertinya kemenangannya yang besar sudah diraih, ternyata dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain mengejek Sang Kebaikan yang berkemenangan yang saat itu memerintah di atas salib? Oh Yesus, yang \u201cdihina dan dihindari orang [Yesaya 53:3],\u201d bagaimana mungkin Engkau rela mati demi orang-orang yang memperlakukan Engkau dengan begitu buruk? Inilah kasih yang menakjubkan, cinta ilahi, ya, cinta yang tak terukur. Kami pun telah menghina Engkau pada hari-hari kami belum dilahirkan kembali, dan bahkan sejak lahir baru, kami tetap mengutamakan dunia di dalam hati kami, tetapi Engkau tetap mengucurkan darah untuk menyembuhkan luka-luka kami, dan mati untuk memberi kami hidup. Oh seandainya kami dapat memberikan bagi-Mu takhta tertinggi di hati seluruh umat manusia! Kami akan mengumandangkan puji-pujian untuk Engkau di darat dan laut sampai seluruh manusia memuja Engkau, seperti halnya seluruh manusialah yang dahulu menolak Engkau dengan suara bulat. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Ejekan merupakan sebagian besar dari bahan penyusun dukacita Tuhan kita. Yudas mengolok-olok Dia di kebun; imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat menertawakan dan menghina Dia; Herodes tidak menghiraukan-Nya; hamba-hamba dan tentara mencemooh Dia, dan menista-Nya dengan kejam; Pilatus dan pengawalnya mengejek status-Nya sebagai raja; dan di kayu salib segala macam hinaan mengerikan dan cacian menyeramkan dilontarkan ke arah Dia. Ejekan memang selalu sulit untuk ditanggung, tetapi ketika kita sedang menderita begitu hebat, maka ejekan itu menjadi begitu tak berperasaan, begitu kejam, sehingga sangat melukai hati. Bayangkan Sang Juruselamat disalibkan, disiksa dengan penderitaan yang jauh lebih besar dari yang dipikirkan seluruh makhluk fana, kemudian bayangkan aneka ragam manusia, semuanya menggelengkan kepala mereka atau mencibir dengan cemoohan yang pahit kepada seorang korban malang yang sungguh menderita! Tentunya pasti ada sesuatu yang lebih pada diri Dia yang tersalib itu yang dapat mereka lihat, sebab kalau tidak kerumunan besar yang berbaur itu tidak akan dengan suara bulat memberikan penghinaan kepada-Nya. Bukankah itu adalah suatu pengakuan dari si jahat, ketika sepertinya kemenangannya yang besar sudah diraih, ternyata dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain mengejek Sang Kebaikan yang berkemenangan yang saat itu memerintah di atas salib? Oh Yesus, yang \u201cdihina dan dihindari orang [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Yesaya%2053:3\">Yesaya 53:3<\/a>],\u201d bagaimana mungkin Engkau rela mati demi orang-orang yang memperlakukan Engkau dengan begitu buruk? Inilah kasih yang menakjubkan, cinta ilahi, ya, cinta yang tak terukur. Kami pun telah menghina Engkau pada hari-hari kami belum dilahirkan kembali, dan bahkan sejak lahir baru, kami tetap mengutamakan dunia di dalam hati kami, tetapi Engkau tetap mengucurkan darah untuk menyembuhkan luka-luka kami, dan mati untuk memberi kami hidup. Oh seandainya kami dapat memberikan bagi-Mu takhta tertinggi di hati seluruh umat manusia! Kami akan mengumandangkan puji-pujian untuk Engkau di darat dan laut sampai seluruh manusia memuja Engkau, seperti halnya seluruh manusialah yang dahulu menolak Engkau dengan suara bulat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ejekan merupakan sebagian besar dari bahan penyusun dukacita Tuhan kita. Yudas mengolok-olok Dia di kebun; imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat menertawakan dan menghina Dia; Herodes tidak menghiraukan-Nya; hamba-hamba dan tentara mencemooh Dia, dan menista-Nya dengan kejam; Pilatus dan pengawalnya mengejek status-Nya sebagai raja; dan di kayu salib segala macam hinaan mengerikan dan cacian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31733","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":1,"views":"54","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31733","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31733"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31733\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68923,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31733\/revisions\/68923"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31733"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31733"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31733"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}