{"id":31738,"date":"2026-04-15T18:15:39","date_gmt":"2026-04-15T11:15:39","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mereka-berjalan-makin-lama-makin-kuat-mazmur-847\/"},"modified":"2026-04-15T18:15:40","modified_gmt":"2026-04-15T11:15:40","slug":"mereka-berjalan-makin-lama-makin-kuat-mazmur-847","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mereka-berjalan-makin-lama-makin-kuat-mazmur-847\/","title":{"rendered":"Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? [Mazmur 22:1]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kita di sini melihat dalamnya kesedihan Sang Juruselamat. Tidak ada tempat lain yang dengan sangat baik menunjukkan dukacita Kristus seperti di Kalvari, dan tidak ada momen lain di Kalvari yang begitu penuh dengan penderitaan seperti di saat seruan-Nya memecah udara\u2014&quot;Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?&quot; [Matius 27:46] Dalam momen ini, kelemahan fisik bersatu dengan siksaan mental yang akut dari penghinaan dan aib yang harus Ia lewati; dan yang membuat dukacita-Nya sungguh pada titik puncaknya, Ia memikul penderitaan rohani yang tak terungkapkan, yaitu hasil dari perginya kehadiran Bapa-Nya. Inilah tengah malam yang gelap dari ketakutan-Nya; yaitu saat Ia turun ke jurang maut penderitaan. Tidak ada manusia yang dapat menyelami pengertian sepenuhnya dari kalimat tersebut. Beberapa dari kita terkadang berpikir kita bisa berseru, &quot;Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?&quot; Ada musim-musim di mana terang dari senyuman Bapa kita terselimuti oleh awan dan kegelapan; tetapi mari kita mengingat bahwa Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan kita. Hanya kelihatannya saja Ia meninggalkan kita, namun dalam kasus Kristus, Ia sungguh-sungguh ditinggalkan. Kita berduka saat kasih Bapa kita sedikit undur; tetapi ketika wajah Allah sungguh-sungguh berpaling dari Anak-Nya, siapakah yang dapat menghitung dalamnya penderitaan yang Yesus alami karenanya? RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Kita di sini melihat dalamnya kesedihan Sang Juruselamat. Tidak ada tempat lain yang dengan sangat baik menunjukkan dukacita Kristus seperti di Kalvari, dan tidak ada momen lain di Kalvari yang begitu penuh dengan penderitaan seperti di saat seruan-Nya memecah udara\u2014&#8221;Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Matius%2027:46\">Matius 27:46<\/a>] Dalam momen ini, kelemahan fisik bersatu dengan siksaan mental yang akut dari penghinaan dan aib yang harus Ia lewati; dan yang membuat dukacita-Nya sungguh pada titik puncaknya, Ia memikul penderitaan rohani yang tak terungkapkan, yaitu hasil dari perginya kehadiran Bapa-Nya. Inilah tengah malam yang gelap dari ketakutan-Nya; yaitu saat Ia turun ke jurang maut penderitaan. Tidak ada manusia yang dapat menyelami pengertian sepenuhnya dari kalimat tersebut. Beberapa dari kita terkadang berpikir <i>kita<\/i> bisa berseru, &#8220;Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?&#8221; Ada musim-musim di mana terang dari senyuman Bapa kita terselimuti oleh awan dan kegelapan; tetapi mari kita mengingat bahwa Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan kita. Hanya kelihatannya saja Ia meninggalkan kita, namun dalam kasus Kristus, Ia sungguh-sungguh ditinggalkan. Kita berduka saat kasih Bapa kita sedikit undur; tetapi ketika wajah Allah sungguh-sungguh berpaling dari Anak-Nya, siapakah yang dapat menghitung dalamnya penderitaan yang Yesus alami karenanya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kita di sini melihat dalamnya kesedihan Sang Juruselamat. Tidak ada tempat lain yang dengan sangat baik menunjukkan dukacita Kristus seperti di Kalvari, dan tidak ada momen lain di Kalvari yang begitu penuh dengan penderitaan seperti di saat seruan-Nya memecah udara\u2014&#8221;Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?&#8221; [Matius 27:46] Dalam momen ini, kelemahan fisik bersatu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-31738","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"58","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31738","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31738"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31738\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68925,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31738\/revisions\/68925"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31738"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31738"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31738"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}