{"id":34608,"date":"2020-01-04T11:04:35","date_gmt":"2020-01-04T04:04:35","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=34608"},"modified":"2019-12-29T11:31:08","modified_gmt":"2019-12-29T04:31:08","slug":"saya-benci-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/saya-benci-agama\/","title":{"rendered":"SAYA BENCI AGAMA"},"content":{"rendered":"<p><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Saya benci agama. Agama dapat diringkas dalam satu frasa ini : \u2018lakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu\u2019 Sepanjang sejarah kita telah menciptakan ribuan variasi dari formula ini. \u2022 Berdoa 5x sehari \u2022 Ke gereja 1x seminggu \u2022 Dermakan uang ke rumah ibadah \u2022 Persembahkan semua yang sulung \u2022 Jadilah orang baik \u2022 Ampuni supaya diampuni Tak peduli betapa kecil atau besar transaksinya, intinya tetaplah ini : Lakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Tapi Yesus datang untuk menunjukkan betapa kelirunya kita selama ini. Allah tidak menuntut pembayaran apapun dari kita sebelum memberikan apa-apa ke kita, sebelum Ia memberkati kita. Tidak. Karena Ia adalah Pemberi segala sesuatu yang baik, tak peduli siapa kita. Cinta dan pengampunanNya tak bersyarat. Dan dari kelimpahan inilah kita melakukan hal yang sama kepada sesama. Bukan dalam rangka memuaskan hati Tuhan. Kita melakukan hal baik karena ITULAH SIAPA KITA. Itulah IDENTITAS kita. Pertanyaannya : apakah kita bersedia menerima pesan yang Yesus bawa ini? Atau dengan keras kepala tetap \u2018berpegang pada agama\u2019? Entah dengan anda, tapi saya sudah muak dengan \u2018perlombaan\u2019 menyenangkan hati Tuhan. Saya memilih percaya pada apa kata Yesus dan beristirahat (REST) dalam kebaikanNya. Anda bagaimana? [Phil Drysdale : I Hate Religion; 15 September 2014] http:\/\/www.phildrysdale.com\/2014\/09\/hate-religion\/ *) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Saya benci agama.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Agama dapat diringkas dalam satu frasa ini : \u2018lakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu\u2019<\/p>\n<p>Sepanjang sejarah kita telah menciptakan ribuan variasi dari formula ini.<br \/>\n\u2022 Berdoa 5x sehari<br \/>\n\u2022 Ke gereja 1x seminggu<br \/>\n\u2022 Dermakan uang ke rumah ibadah<br \/>\n\u2022 Persembahkan semua yang sulung<br \/>\n\u2022 Jadilah orang baik<br \/>\n\u2022 Ampuni supaya diampuni<\/p>\n<p>Tak peduli betapa kecil atau besar transaksinya, intinya tetaplah ini : Lakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu.<\/p>\n<p>Tapi Yesus datang untuk menunjukkan betapa kelirunya kita selama ini.<\/p>\n<p>Allah tidak menuntut pembayaran apapun dari kita sebelum memberikan apa-apa ke kita, sebelum Ia memberkati kita.<\/p>\n<p>Tidak.<\/p>\n<p>Karena Ia adalah Pemberi segala sesuatu yang baik, tak peduli siapa kita.<br \/>\nCinta dan pengampunanNya tak bersyarat.<\/p>\n<p>Dan dari kelimpahan inilah kita melakukan hal yang sama kepada sesama.<\/p>\n<p>Bukan dalam rangka memuaskan hati Tuhan.<\/p>\n<p>Kita melakukan hal baik karena ITULAH SIAPA KITA.<br \/>\nItulah IDENTITAS kita.<\/p>\n<p>Pertanyaannya : apakah kita bersedia menerima pesan yang Yesus bawa ini?<\/p>\n<p>Atau dengan keras kepala tetap \u2018berpegang pada agama\u2019?<\/p>\n<p>Entah dengan anda, tapi saya sudah muak dengan \u2018perlombaan\u2019 menyenangkan hati Tuhan.<\/p>\n<p>Saya memilih percaya pada apa kata Yesus dan beristirahat (REST) dalam kebaikanNya.<\/p>\n<p>Anda bagaimana?<\/p>\n<p>[Phil Drysdale : I Hate Religion; 15 September 2014]<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.phildrysdale.com\/2014\/09\/hate-religion\/\" rel=\"nofollow\">http:\/\/www.phildrysdale.com\/2014\/09\/hate-religion\/<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>*) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia<\/strong><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Saya benci agama. Agama dapat diringkas dalam satu frasa ini : \u2018lakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu\u2019 Sepanjang sejarah kita telah menciptakan ribuan variasi dari formula ini. \u2022 Berdoa 5x sehari \u2022 Ke gereja 1x seminggu \u2022 Dermakan uang ke rumah ibadah \u2022 Persembahkan semua yang sulung \u2022 Jadilah orang baik \u2022 Ampuni supaya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33118,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"12"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-34608","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"better_featured_image":{"id":33118,"alt_text":"","caption":"","description":"fa92371951cd4dfc224524543c810947","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/10-alasan-mengapa-agama-tak-baik-buat-anda_5df74098443ee.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/10-alasan-mengapa-agama-tak-baik-buat-anda_5df74098443ee.jpeg?fit=451%2C326&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1883","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34608","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34608"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34608\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33118"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34608"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34608"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34608"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}