{"id":34624,"date":"2020-01-01T11:04:24","date_gmt":"2020-01-01T04:04:24","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=34624"},"modified":"2019-12-29T11:24:21","modified_gmt":"2019-12-29T04:24:21","slug":"3-tahap-kedewasaan-rohani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/3-tahap-kedewasaan-rohani\/","title":{"rendered":"3 TAHAP KEDEWASAAN ROHANI"},"content":{"rendered":"<p><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - 1 Yohanes 2:12-14 memuat tahapan perkembangan\/kedewasaan orang percaya : 1. Little children. \u201cAku menulis kepadamu anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena namaNya\u201d (ayat 2). Sebagaimana di alam natural, setiap orang memulai perjalanan rohaninya sebagai anak-anak. Mereka perlu diajar bahwa semua dosanya SUDAH diampuni Yesus. Penghalang terbesar pertumbuhan seorang anak adalah kesadaran akan dosa (sin-consciousness). Anak-anak harus diajar akan kebenaran mereka di hadapan Allah (righteousness conscious), sehingga mampu memahami ajaran kebenaran (Ibrani 5:13). 2. Young men \u201cAku menulis kepadamu orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat\u201d. Orang muda mengerti ada \u2018power\u2019 Allah dalam diriNya untuk menang atas \u2018power of sin\u2019. 3. Fathers \u201cAku menulis kepadamu bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia yang ada dari mulanya\u201d. Seorang bapa mengenal Allah, kasih karuniaNya dan hidupnya tertanam disitu. Ia sudah siap \u2018memuridkan\u2019 org lain. Kembali ke ayat 4-6, seorang saudara palsu\/penyusup tidaklah mengenal Allah, didalam dia tidak ada kasih Allah, bagaimana dia mau melaksanakan perintah Allah (mengasihi yg lain)? Bagaimana dia mau hidup seperti Yesus hidup (dalam kasih)? [Dicuplik dari buku Ken Legg : Grace Roots] *) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; 1 Yohanes 2:12-14 memuat tahapan perkembangan\/kedewasaan orang percaya :<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>1. Little children.<br \/>\n\u201cAku menulis kepadamu anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena namaNya\u201d (ayat 2).<br \/>\nSebagaimana di alam natural, setiap orang memulai perjalanan rohaninya sebagai anak-anak.<br \/>\nMereka perlu diajar bahwa semua dosanya SUDAH diampuni Yesus.<br \/>\nPenghalang terbesar pertumbuhan seorang anak adalah kesadaran akan dosa (sin-consciousness).<br \/>\nAnak-anak harus diajar akan kebenaran mereka di hadapan Allah (righteousness conscious), sehingga mampu memahami ajaran kebenaran (Ibrani 5:13).<\/p>\n<p>2. Young men<br \/>\n\u201cAku menulis kepadamu orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat\u201d.<br \/>\nOrang muda mengerti ada \u2018power\u2019 Allah dalam diriNya untuk menang atas \u2018power of sin\u2019.<\/p>\n<p>3. Fathers<br \/>\n\u201cAku menulis kepadamu bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia yang ada dari mulanya\u201d.<br \/>\nSeorang bapa mengenal Allah, kasih karuniaNya dan hidupnya tertanam disitu.<br \/>\nIa sudah siap \u2018memuridkan\u2019 org lain.<\/p>\n<p>Kembali ke ayat 4-6, seorang saudara palsu\/penyusup tidaklah mengenal Allah, didalam dia tidak ada kasih Allah, bagaimana dia mau melaksanakan perintah Allah (mengasihi yg lain)?<br \/>\nBagaimana dia mau hidup seperti Yesus hidup (dalam kasih)?<\/p>\n<p>[Dicuplik dari buku Ken Legg : Grace Roots]<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>*) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; 1 Yohanes 2:12-14 memuat tahapan perkembangan\/kedewasaan orang percaya : 1. Little children. \u201cAku menulis kepadamu anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena namaNya\u201d (ayat 2). Sebagaimana di alam natural, setiap orang memulai perjalanan rohaninya sebagai anak-anak. Mereka perlu diajar bahwa semua dosanya SUDAH diampuni Yesus. Penghalang terbesar pertumbuhan seorang anak adalah kesadaran akan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31959,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"12"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-34624","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"better_featured_image":{"id":31959,"alt_text":"","caption":"","description":"692f51885d01a472b0bac7662236de23","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/mitos-mitos-tentang-kedewasaan-rohani_5df70913c207a.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/mitos-mitos-tentang-kedewasaan-rohani_5df70913c207a.jpeg?fit=443%2C332&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1076","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34624","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34624"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34624\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31959"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34624"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34624"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34624"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}