{"id":34628,"date":"2019-12-31T07:04:21","date_gmt":"2019-12-31T00:04:21","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=34628"},"modified":"2019-12-29T11:20:52","modified_gmt":"2019-12-29T04:20:52","slug":"apakah-kasih-allah-tak-bersyarat7-alasan-untuk-mengatakan-ya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-kasih-allah-tak-bersyarat7-alasan-untuk-mengatakan-ya\/","title":{"rendered":"APAKAH KASIH ALLAH TAK BERSYARAT?7 ALASAN UNTUK MENGATAKAN \u2018YA\u2019"},"content":{"rendered":"<p><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Istilah \u2018kasih tanpa syarat\u2019 (unconditional love) tidak ditemukan dalam Alkitab. Bahkan di bagian tertentu, Allah menyebut diriNya sebagai Allah yang cemburu, yang mengasihi orang yang mengasihi Dia dan membenci orang yang membenci Dia (Keluaran 20:5-6). Bagaimanapun, saya tetap yakin 100% bahwa Ia mencintai saya tanpa syarat. Anda juga sebaiknya yakin. Saya akan tunjukkan 7 alasan mengapa anda harus yakin : 1. Kasih, sesuai definisinya, adalah sesuatu yang tak bersyarat \u201cAllah adalah kasih (agape)\u201d \u2013 1 Yohanes 4:16 Anda pasti tahu definisi kasih agape yaitu kasih yang tak bersyarat, yang berkorban dan aktif. Tapi tahukah anda bahwa kasih ini unik. Ini adalah kasih Allah sendiri, yang tidak akan anda dapatkan dari manusia. Tidak ada ekspektasi, tidak ada beban. 2. Yesus mendemonstrasikan kasih tak bersyarat Tetapi Allah menunjukkan\/mendemonstrasikan kasih (agape)-Nya pada kita dengan ini : Kristus mati bagi kita saat kita masih orang berdosa (Roma 5:8) Mau lihat seperti apa kasih agape? Lihat Yesus!! Karena Allah begitu mencintai (agape) dunia ini, hingga Ia menyerahkan Anak TunggalNya..(Yohanes 3:16) Kita ini tidak layak diselamatkan, tapi toh Yesus datang ke dunia. Ia mati untuk menunjukkan Dia lebih mementingkan kita ketimbang nyawaNya sendiri. Kita tidak lakukan apapun untuk menarik perhatianNya. Kita bahkan belum bertobat. Tapi toh Pencipta kita ini mau mati di salib, diletakkan disana oleh kita, bahkan mengampuni pembunuhan\u00a0 yang kita lakukan atas diri-Nya. Salib adalah demonstrasi kasih terbesar yang pernah dikenal dunia. 3. KasihNya tidak terukur Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. (Efesus 3:17-19) Saat Paulus menulis kata-kata ini, Paulus tahu persis apa yang dia minta untuk kita lakukan adalah hal yang mustahil. Tak mungkin kita bisa memahami dimensi kasih Allah yang ekstravaganza. Kasih Allah TAK TERPAHAMI. Namun Paulus menyuruh kita untuk \u201cUkur panjangnya!\u201d, \u201cTebak kedalamannya!\u201d, \u201cNaik untuk tahu betapa tingginya!\u201d; sebab jika anda mendapat kilatan yang terkecil sekalipun tentang betapa Allah mencintai anda, wow..anda \u2018menghilang\u2019 : ego dan agamawi anda memudar. Pencapaian dan kualifikasi yang anda banggakan akan dengan senang hati anda buang ke tempat sampah, dibandingkan dengan hak istimewa dan keindahan luarbiasa dari pengenalan akan Kristus. 4. Allah tidak menyimpan catatan dosa anda Kasih (agape) itu tidak memikirkan keuntungan diri sendiri, tidak gampang tersinggung atau marah; ia tidak mencatat kesalahan yang dilakukan kepadanya.. (1 Korintus 13:5, terjemahan Amplified Bible) Yesus tahu nama setiap prajurit yang menyiksa-Nya, setiap orang yang menganiaya-Nya, dan tiap orang Farisi yang mengatakan Dia berasal dari iblis. Toh Dia tetap ke salib untuk mendamaikan setiap dari mereka dengan Allah. Allah tidak memperhitungkan dosa-dosa mereka (2 Korintus 5:19), juga tidak memperhitungkan dosa anda! Dosa anda dihapus seolah anda tak pernah berdosa sama sekali (Yesaya 43:25). Allah Anak sudah mencucurkan darah buat anda, membuat Allah Bapa dan Roh Kudus tidak akan mengingat lagi dosa anda (Ibrani 8:12, 10:17). 5. Kasih Allah itu tak berkesudahan Kasih itu tidak berkesudahan [tak pernah gagal, tak pernah pudar, tak akan menjadi usang]. (1 Korintus 13:8, terjemahan Amplified Bible) Anda dibawa kasih Allah ke salib dan Dia terlalu mengasihi anda sampai Ia kembali dari kematian dan mencari anda, untuk mengatakan bahwa Ia mengampuni anda, mencintai anda dan ingin bersama anda selamanya. Hanya Allah yang bisa begitu. 6. Kasih Allah itu kekal Aku mencintaimu dengan kasih abadi, dan menarikmu padaKu dengan kasih setiaKu. (Yeremia 31:3) Kata \u2018kasih setia\u2019 (chesed) menggambarkan kasih yang terus menerus dan setia, muncul 250 kali dalam kitab Perjanjian Lama, melukiskan bagaimana hati Allah kepada kita dan dinyatakan secara formal dalam suatu perjanjian (covenant) melalui perantara kita Yesus Kristus. Seandainya mungkin Allah berhenti mencintai kita, Ia terikat dengan perjanjian yang dibuatNya untuk terus mencintai kita sepanjang Yesus hidup. 7. Allah mengasihi orang yang tak layak dikasihi Mungkin anda pikir Allah tidak bisa mencintai anda karena segala hal buruk dalam diri anda. Pikirkan orang-orang di Alkitab yang Allah kasihi. Ia mencintai Daud, seorang pembunuh dan pezinah. Ia mengejar seorang Farisi kejam bernama Saulus. Saat Ia ingin menggambarkan kasihNya pada Israel, Ia menyuruh Hosea mengawini dan mencintai seorang pelacur. Selama di dunia, Ia berteman dengan para pendosa, pemungut cukai, penderita kusta, orang asing dan kafir Samaria. Coba pikirkan, kenapa Allah melakukannya? KENAPA IA MENCINTAI KITA? CintaNya pada kita bukan karena kita ini sangat manis, baik, menyenangkan atau patuh. Dia mencintai kita karena itulah sifatNya. Itulah siapa Dia. Karena Dia adalah kasih, tak ada hal lain selain mengasihi kita. Jika kasihNya bersyarat, untuk apa Ia mati dengan sangat menyakitkan bagi kita? Jika Ia tidak mati, maka tak ada perjanjian yang baru atas dasar kasih karunia-Nya. Tapi Ia telah mati. Dan perjanjian itu berlaku bagi kita. Inilah kabar baik yang perlu dengar seluruh dunia. [Paul Ellis : Is God\u2019s Love Unconditional? 7 Reasons to say \u201cYes\u201d; 17 May, 2011] http:\/\/escapetoreality.org\/2011\/05\/17\/unconditional_love\/ *) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Istilah \u2018kasih tanpa syarat\u2019 (unconditional love) tidak ditemukan dalam Alkitab.<br \/>\nBahkan di bagian tertentu, Allah menyebut diriNya sebagai Allah yang cemburu, yang mengasihi orang yang mengasihi Dia dan membenci orang yang membenci Dia (Keluaran 20:5-6).<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Bagaimanapun, saya tetap yakin 100% bahwa Ia mencintai saya tanpa syarat. Anda juga sebaiknya yakin. Saya akan tunjukkan 7 alasan mengapa anda harus yakin :<\/p>\n<p>1. Kasih, sesuai definisinya, adalah sesuatu yang tak bersyarat<br \/>\n\u201cAllah adalah kasih (agape)\u201d \u2013 1 Yohanes 4:16<\/p>\n<p>Anda pasti tahu definisi kasih agape yaitu kasih yang tak bersyarat, yang berkorban dan aktif.<br \/>\nTapi tahukah anda bahwa kasih ini unik. Ini adalah kasih Allah sendiri, yang tidak akan anda dapatkan dari manusia. Tidak ada ekspektasi, tidak ada beban.<\/p>\n<p>2. Yesus mendemonstrasikan kasih tak bersyarat<\/p>\n<p>Tetapi Allah menunjukkan\/mendemonstrasikan kasih (agape)-Nya pada kita dengan ini : Kristus mati bagi kita saat kita masih orang berdosa (Roma 5:8)<\/p>\n<p>Mau lihat seperti apa kasih agape? Lihat Yesus!!<\/p>\n<p>Karena Allah begitu mencintai (agape) dunia ini, hingga Ia menyerahkan Anak TunggalNya..(Yohanes 3:16)<\/p>\n<p>Kita ini tidak layak diselamatkan, tapi toh Yesus datang ke dunia.<br \/>\nIa mati untuk menunjukkan Dia lebih mementingkan kita ketimbang nyawaNya sendiri.<br \/>\nKita tidak lakukan apapun untuk menarik perhatianNya.<br \/>\nKita bahkan belum bertobat.<br \/>\nTapi toh Pencipta kita ini mau mati di salib, diletakkan disana oleh kita, bahkan mengampuni pembunuhan\u00a0 yang kita lakukan atas diri-Nya.<br \/>\nSalib adalah demonstrasi kasih terbesar yang pernah dikenal dunia.<\/p>\n<p>3. KasihNya tidak terukur<\/p>\n<p>Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. (Efesus 3:17-19)<\/p>\n<p>Saat Paulus menulis kata-kata ini, Paulus tahu persis apa yang dia minta untuk kita lakukan adalah hal yang mustahil.<br \/>\nTak mungkin kita bisa memahami dimensi kasih Allah yang ekstravaganza.<br \/>\nKasih Allah TAK TERPAHAMI.<br \/>\nNamun Paulus menyuruh kita untuk \u201cUkur panjangnya!\u201d, \u201cTebak kedalamannya!\u201d, \u201cNaik untuk tahu betapa tingginya!\u201d; sebab jika anda mendapat kilatan yang terkecil sekalipun tentang betapa Allah mencintai anda, wow..anda \u2018menghilang\u2019 : ego dan agamawi anda memudar.<br \/>\nPencapaian dan kualifikasi yang anda banggakan akan dengan senang hati anda buang ke tempat sampah, dibandingkan dengan hak istimewa dan keindahan luarbiasa dari pengenalan akan Kristus.<\/p>\n<p>4. Allah tidak menyimpan catatan dosa anda<\/p>\n<p>Kasih (agape) itu tidak memikirkan keuntungan diri sendiri, tidak gampang tersinggung atau marah; ia tidak mencatat kesalahan yang dilakukan kepadanya.. (1 Korintus 13:5, terjemahan Amplified Bible)<\/p>\n<p>Yesus tahu nama setiap prajurit yang menyiksa-Nya, setiap orang yang menganiaya-Nya, dan tiap orang Farisi yang mengatakan Dia berasal dari iblis.<br \/>\nToh Dia tetap ke salib untuk mendamaikan setiap dari mereka dengan Allah.<br \/>\nAllah tidak memperhitungkan dosa-dosa mereka (2 Korintus 5:19), juga tidak memperhitungkan dosa anda!<br \/>\nDosa anda dihapus seolah anda tak pernah berdosa sama sekali (Yesaya 43:25).<br \/>\nAllah Anak sudah mencucurkan darah buat anda, membuat Allah Bapa dan Roh Kudus tidak akan mengingat lagi dosa anda (Ibrani 8:12, 10:17).<\/p>\n<p>5. Kasih Allah itu tak berkesudahan<\/p>\n<p>Kasih itu tidak berkesudahan [tak pernah gagal, tak pernah pudar, tak akan menjadi usang]. (1 Korintus 13:8, terjemahan Amplified Bible)<\/p>\n<p>Anda dibawa kasih Allah ke salib dan Dia terlalu mengasihi anda sampai Ia kembali dari kematian dan mencari anda, untuk mengatakan bahwa Ia mengampuni anda, mencintai anda dan ingin bersama anda selamanya.<br \/>\nHanya Allah yang bisa begitu.<\/p>\n<p>6. Kasih Allah itu kekal<\/p>\n<p>Aku mencintaimu dengan kasih abadi, dan menarikmu padaKu dengan kasih setiaKu. (Yeremia 31:3)<\/p>\n<p>Kata \u2018kasih setia\u2019 (chesed) menggambarkan kasih yang terus menerus dan setia, muncul 250 kali dalam kitab Perjanjian Lama, melukiskan bagaimana hati Allah kepada kita dan dinyatakan secara formal dalam suatu perjanjian (covenant) melalui perantara kita Yesus Kristus.<br \/>\nSeandainya mungkin Allah berhenti mencintai kita, Ia terikat dengan perjanjian yang dibuatNya untuk terus mencintai kita sepanjang Yesus hidup.<\/p>\n<p>7. Allah mengasihi orang yang tak layak dikasihi<br \/>\nMungkin anda pikir Allah tidak bisa mencintai anda karena segala hal buruk dalam diri anda.<br \/>\nPikirkan orang-orang di Alkitab yang Allah kasihi.<br \/>\nIa mencintai Daud, seorang pembunuh dan pezinah.<br \/>\nIa mengejar seorang Farisi kejam bernama Saulus.<br \/>\nSaat Ia ingin menggambarkan kasihNya pada Israel, Ia menyuruh Hosea mengawini dan mencintai seorang pelacur.<br \/>\nSelama di dunia, Ia berteman dengan para pendosa, pemungut cukai, penderita kusta, orang asing dan kafir Samaria.<br \/>\nCoba pikirkan, kenapa Allah melakukannya?<\/p>\n<p>KENAPA IA MENCINTAI KITA?<br \/>\nCintaNya pada kita bukan karena kita ini sangat manis, baik, menyenangkan atau patuh.<br \/>\nDia mencintai kita karena itulah sifatNya.<br \/>\nItulah siapa Dia.<br \/>\nKarena Dia adalah kasih, tak ada hal lain selain mengasihi kita.<\/p>\n<p>Jika kasihNya bersyarat, untuk apa Ia mati dengan sangat menyakitkan bagi kita?<br \/>\nJika Ia tidak mati, maka tak ada perjanjian yang baru atas dasar kasih karunia-Nya.<br \/>\nTapi Ia telah mati.<br \/>\nDan perjanjian itu berlaku bagi kita.<\/p>\n<p>Inilah kabar baik yang perlu dengar seluruh dunia.<\/p>\n<p>[Paul Ellis : Is God\u2019s Love Unconditional? 7 Reasons to say \u201cYes\u201d; 17 May, 2011]<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/escapetoreality.org\/2011\/05\/17\/unconditional_love\/\" rel=\"nofollow\">http:\/\/escapetoreality.org\/2011\/05\/17\/unconditional_love\/<\/a><\/p>\n<div id=\"jp-post-flair\" class=\"sharedaddy sd-like-enabled sd-sharing-enabled\">\n<div id=\"like-post-wrapper-97127639-53-5df7917873b8b\" class=\"sharedaddy sd-block sd-like jetpack-likes-widget-wrapper jetpack-likes-widget-unloaded\" data-src=\"\/\/widgets.wp.com\/likes\/index.html?ver=20190321#blog_id=97127639&amp;post_id=53&amp;origin=dailygracia.wordpress.com&amp;obj_id=97127639-53-5df7917873b8b\" data-name=\"like-post-frame-97127639-53-5df7917873b8b\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>*) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Istilah \u2018kasih tanpa syarat\u2019 (unconditional love) tidak ditemukan dalam Alkitab. Bahkan di bagian tertentu, Allah menyebut diriNya sebagai Allah yang cemburu, yang mengasihi orang yang mengasihi Dia dan membenci orang yang membenci Dia (Keluaran 20:5-6). Bagaimanapun, saya tetap yakin 100% bahwa Ia mencintai saya tanpa syarat. Anda juga sebaiknya yakin. Saya akan tunjukkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33556,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"12"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-34628","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"better_featured_image":{"id":33556,"alt_text":"","caption":"","description":"993e50871ac43ad608bd3dcfc5cb8117","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/5-cara-yesus-menyingkapkan-kasih-karunia_5df7560106488.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/5-cara-yesus-menyingkapkan-kasih-karunia_5df7560106488.jpeg?fit=490%2C300&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1473","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34628","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34628"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34628\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33556"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34628"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34628"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34628"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}