{"id":34632,"date":"2019-12-17T11:41:57","date_gmt":"2019-12-17T04:41:57","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=34632"},"modified":"2019-12-17T11:41:57","modified_gmt":"2019-12-17T04:41:57","slug":"apakah-bijak-memberikan-uang-kepada-peminta-minta-dan-tunawisma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-bijak-memberikan-uang-kepada-peminta-minta-dan-tunawisma\/","title":{"rendered":"APAKAH BIJAK MEMBERIKAN UANG KEPADA PEMINTA-MINTA DAN TUNAWISMA?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Artikel ini tidak saya tujukan untuk membahas seluruh aspek mengenai memberikan uang kepada peminta-minta dan tunawisma, tapi membahas argumen yang muncul lagi dan lagi dalam pikiran orang saat menghadapi situasi ini. Banyak orang berpikir mereka harus menjadi penjaga yang baik atas keuangan mereka, dan akan memberi di saat mereka yakin uang mereka digunakan dengan tepat. Orang ingin berlaku murah hati, tapi kemurahan hati juga butuh hikmat, bukan? BUKAN!! Pertama, bukan demikian yg dimaksud dengan murah hati. Kemurahan hati bukan mengenai kemana uang kita pergi, tapi seberapa rela uang itu meninggalkan dompet kita. Kedua, banyak orang tidak mau memberi karena tidak yakin uang yang diberikan akan digunakan dengan baik oleh si penerima. Kebenarannya adalah, itu BUKAN keputusan si pemberi. Keputusan bagaimana uang itu digunakan adalah antara si penerima dan Tuhan. Satu-satunya keputusan yang perlu anda buat adalah apakah anda akan memberi sesuai tuntunan Tuhan, dan seberapa rela dan sukacita anda saat memberikannya. \u00a0 PERHATIKAN BAIK-BAIK Saya tidak sedang menyarankan anda memberikan seluruh uang anda kepada orang yang tidak bertanggungjawab. Berdoalah minta tuntunan Tuhan kepada siapa anda harus berikan uang anda. Jika anda merasa tidak ingin memberikan uang anda kepada peminta-minta dan tunawisma, dan ingin memberikannya pada orang lain, itu sepenuhnya keputusan anda. Yang saya mau sampaikan adalah, ada kalanya kita merasa dituntun untuk memberikan uang kepada orang yang kemungkinan besar akan menyalahgunakannya, tapi atas nama \u2018hikmat\u2019, kita batal melakukannya. Itu BUKAN hikmat. Itu namanya PENGHAKIMAN. Menahan uang dari orang yang mungkin menyalahgunakannya tidak menjadikan anda berhikmat, itu membuat anda jadi \u2018hakim\u2019. Hikmat itu seperti ini : Jika anda merasa Tuhan menuntun anda memberi, tak peduli siapa yang menerima dan bagaimana mereka menggunakannya, BERI SAJA! Jangan bungkus sikap menghakimi kita dengan kemasan bernama hikmat dan menutupi pilihan salah kita seolah itu berasal dari kebijaksanaan kita. Sebagai penutup, berikut kutipan dari Bill Johnson : Tidak memberi uang kepada kaum miskin hanya karena kita takut mereka akan menyalahgunakannya, adalah PENYALAHGUNAAN uang. Untuk direnungkan : Apakah saya segera memberi jika Tuhan menuntun saya untuk memberi, atau apakah saya membiarkan hikmat palsu merampas sukacita memberi? [Phil Drysdale : Is it wisdom to give money to the homeless?; 19 June, 2013] http:\/\/www.phildrysdale.com\/2013\/06\/is-it-wisdom-to-give-money-to-the-homeless\/ *) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Artikel ini tidak saya tujukan untuk membahas seluruh aspek mengenai memberikan uang kepada peminta-minta dan tunawisma, tapi membahas argumen yang muncul lagi dan lagi dalam pikiran orang saat menghadapi situasi ini.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banyak orang berpikir mereka harus menjadi penjaga yang baik atas keuangan mereka, dan akan memberi di saat mereka yakin uang mereka digunakan dengan tepat. Orang ingin berlaku murah hati, tapi kemurahan hati juga butuh hikmat, bukan?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">BUKAN!!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertama, bukan demikian yg dimaksud dengan murah hati.<br \/>\nKemurahan hati bukan mengenai kemana uang kita pergi, tapi seberapa rela uang itu meninggalkan dompet kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua, banyak orang tidak mau memberi karena tidak yakin uang yang diberikan akan digunakan dengan baik oleh si penerima.<br \/>\nKebenarannya adalah, itu BUKAN keputusan si pemberi.<br \/>\nKeputusan bagaimana uang itu digunakan adalah antara si penerima dan Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Satu-satunya keputusan yang perlu anda buat adalah apakah anda akan memberi sesuai tuntunan Tuhan, dan seberapa rela dan sukacita anda saat memberikannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">PERHATIKAN BAIK-BAIK<br \/>\nSaya tidak sedang menyarankan anda memberikan seluruh uang anda kepada orang yang tidak bertanggungjawab. Berdoalah minta tuntunan Tuhan kepada siapa anda harus berikan uang anda.<br \/>\nJika anda merasa tidak ingin memberikan uang anda kepada peminta-minta dan tunawisma, dan ingin memberikannya pada orang lain, itu sepenuhnya keputusan anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang saya mau sampaikan adalah, ada kalanya kita merasa dituntun untuk memberikan uang kepada orang yang kemungkinan besar akan menyalahgunakannya, tapi atas nama \u2018hikmat\u2019, kita batal melakukannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Itu BUKAN hikmat.<br \/>\nItu namanya PENGHAKIMAN.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menahan uang dari orang yang mungkin menyalahgunakannya tidak menjadikan anda berhikmat, itu membuat anda jadi \u2018hakim\u2019.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hikmat itu seperti ini :<br \/>\nJika anda merasa Tuhan menuntun anda memberi, tak peduli siapa yang menerima dan bagaimana mereka menggunakannya, BERI SAJA!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jangan bungkus sikap menghakimi kita dengan kemasan bernama hikmat dan menutupi pilihan salah kita seolah itu berasal dari kebijaksanaan kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai penutup, berikut kutipan dari Bill Johnson :<br \/>\nTidak memberi uang kepada kaum miskin hanya karena kita takut mereka akan menyalahgunakannya, adalah PENYALAHGUNAAN uang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk direnungkan :<br \/>\nApakah saya segera memberi jika Tuhan menuntun saya untuk memberi,<br \/>\natau apakah saya membiarkan hikmat palsu merampas sukacita memberi?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">[Phil Drysdale : Is it wisdom to give money to the homeless?; 19 June, 2013]<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/www.phildrysdale.com\/2013\/06\/is-it-wisdom-to-give-money-to-the-homeless\/\" rel=\"nofollow\">http:\/\/www.phildrysdale.com\/2013\/06\/is-it-wisdom-to-give-money-to-the-homeless\/<\/a><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div id=\"jp-post-flair\" class=\"sharedaddy sd-like-enabled sd-sharing-enabled\" style=\"text-align: justify;\"><strong>*) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia<\/strong><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Artikel ini tidak saya tujukan untuk membahas seluruh aspek mengenai memberikan uang kepada peminta-minta dan tunawisma, tapi membahas argumen yang muncul lagi dan lagi dalam pikiran orang saat menghadapi situasi ini. Banyak orang berpikir mereka harus menjadi penjaga yang baik atas keuangan mereka, dan akan memberi di saat mereka yakin uang mereka digunakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1987,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-34632","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"better_featured_image":{"id":1987,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/ekonomi.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/ekonomi.jpg?fit=750%2C434&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/ekonomi.jpg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/ekonomi.jpg?fit=750%2C434&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1460","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34632","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34632"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34632\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1987"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34632"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34632"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34632"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}