{"id":34640,"date":"2019-12-29T18:04:14","date_gmt":"2019-12-29T11:04:14","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=34640"},"modified":"2019-12-29T11:13:38","modified_gmt":"2019-12-29T04:13:38","slug":"kasih-karunia-hukum-tertinggi-semesta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kasih-karunia-hukum-tertinggi-semesta\/","title":{"rendered":"KASIH KARUNIA : HUKUM TERTINGGI SEMESTA"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Sepanjang hidup, kita berusaha untuk mengontrol. Sebagai bayi, sebagai kanak-kanak, sebagai remaja, lalu sebagai orang dewasa, bahkan hingga menjadi orangtua. Kita mengontrol tubuh kita, ucapan kita, kelakuan kita, pasangan kita, karir kita, juga anak-anak kita. Di sepanjang hidup, kita berusaha mengontrol moral kita. Membuktikan diri kepada org lain, menunjukkan bahwa kita pantas, kita layak. Kita hidup dengan aturan ini : HUKUM. Sesuatu yang bisa diukur dan dicapai dengan usaha kita. Namun di satu titik, kita bertemu dengan satu konsep yang bertentangan dengan natur kita yang suka mengontrol. Suatu kata yang menakutkan. Dan kita menyimpannya jauh-jauh. Kita tidak mau memikirkannya. Sampai suatu hari kita begitu putus asa. Lalu bertanya-tanya, apakah kata yang kita simpan jauh-jauh itu bisa memerdekakan. Kata itu adalah \u2018Kasih Karunia\u2019. Memahami dan berjemur di bawah kasih karunia berarti melepaskan kontrol, mengakui bahwa kita tidak \u2018in-charge\u2019 dan memang tak pernah \u2018in-charge\u2019. Itu pekerjaan \u2018orang lain\u2019. Memahami dan berjemur di bawah kasih karunia berarti melepaskan hasrat untuk mengontrol. Menyadari bahwa hasrat itu adalah akar dari segala dosa, dimulai di Taman Eden. Melepaskan kontrol adalah seperti seorang pemabuk melepaskan botol yang selalu digenggamnya erat. Seperti seorang suami, di tengah-tengah adu mulut dengan istrinya, memutuskan untuk mengalah. Seperti seorang karyawan gila karir yang dengan rendah hati menerima batal promosi. Seperti seorang rabbi Yahudi yang mati dengan rela, memaafkan orang-orang yang memakukannya ke salib itu. Masalahnya, kita kecanduan mengontrol. Kita kepengen terus menerus memegang \u2018botol\u2019 kita. Kita bisa benar-benar merdeka hanya dengan menyerahkan kontrol, tapi kita KECANDUAN. Siapa yang akan melepaskan kita dari tubuh celaka ini? Ironis, Seseorang melepaskan kuasaNya, membiarkan rantai kematian mengikatNya, untuk membuat orang seperti kita terbebas dari kerinduan kita untuk mengontrol; diampuni dari perilaku ini, dimana seolah segala sesuatu tergantung dari kemampuan kita mengatur dunia kita. Tentu saja, sebagai warga masyarakat yang bertanggungjawab, kita harus punya kontrol atas hidup kita. Orang Kristen bukanlah orang anti-sosial. Kita menyukai hidup penuh sopan santun, sukses dan berdampingan dengan damai seperti orang lain. Kita adalah orang yang mengerti bahwa kemampuan untuk mengontrol adalah hadiah sejak mulanya. Bahwa kemampuan mengontrol yang besar yang tampaknya kita miliki hanya khayalan belaka. Kita telah menemukan bahwa hukum tertinggi di alam semesta ini adalah KASIH KARUNIA. [Mark Galli : The Ultimate Law of the Universe : Grace; 5 February 2015] http:\/\/www.christianitytoday.com\/behemoth\/2015\/issue-15\/ultimate-law-of-universe-grace.html \u00a0 *) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia \u00a0\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Sepanjang hidup, kita berusaha untuk mengontrol.<\/p>\n<div>\n<p>Sebagai bayi, sebagai kanak-kanak, sebagai remaja, lalu sebagai orang dewasa, bahkan hingga menjadi orangtua. Kita mengontrol tubuh kita, ucapan kita, kelakuan kita, pasangan kita, karir kita, juga anak-anak kita.<\/p>\n<p>Di sepanjang hidup, kita berusaha mengontrol moral kita. Membuktikan diri kepada org lain, menunjukkan bahwa kita pantas, kita layak.<br \/>\nKita hidup dengan aturan ini : HUKUM.<br \/>\nSesuatu yang bisa diukur dan dicapai dengan usaha kita.<\/p>\n<p>Namun di satu titik, kita bertemu dengan satu konsep yang bertentangan dengan natur kita yang suka mengontrol.<br \/>\nSuatu kata yang menakutkan.<br \/>\nDan kita menyimpannya jauh-jauh.<br \/>\nKita tidak mau memikirkannya.<\/p>\n<p>Sampai suatu hari kita begitu putus asa.<br \/>\nLalu bertanya-tanya, apakah kata yang kita simpan jauh-jauh itu bisa memerdekakan.<\/p>\n<p>Kata itu adalah \u2018Kasih Karunia\u2019.<\/p>\n<p>Memahami dan berjemur di bawah kasih karunia berarti melepaskan kontrol, mengakui bahwa kita tidak \u2018in-charge\u2019 dan memang tak pernah \u2018in-charge\u2019.<br \/>\nItu pekerjaan \u2018orang lain\u2019.<\/p>\n<p>Memahami dan berjemur di bawah kasih karunia berarti melepaskan hasrat untuk mengontrol. Menyadari bahwa hasrat itu adalah akar dari segala dosa, dimulai di Taman Eden.<\/p>\n<p>Melepaskan kontrol adalah seperti seorang pemabuk melepaskan botol yang selalu digenggamnya erat. Seperti seorang suami, di tengah-tengah adu mulut dengan istrinya, memutuskan untuk mengalah.<br \/>\nSeperti seorang karyawan gila karir yang dengan rendah hati menerima batal promosi.<br \/>\nSeperti seorang rabbi Yahudi yang mati dengan rela, memaafkan orang-orang yang memakukannya ke salib itu.<\/p>\n<p>Masalahnya, kita kecanduan mengontrol.<br \/>\nKita kepengen terus menerus memegang \u2018botol\u2019 kita.<br \/>\nKita bisa benar-benar merdeka hanya dengan menyerahkan kontrol, tapi kita KECANDUAN.<br \/>\nSiapa yang akan melepaskan kita dari tubuh celaka ini?<\/p>\n<p>Ironis, Seseorang melepaskan kuasaNya, membiarkan rantai kematian mengikatNya, untuk membuat orang seperti kita terbebas dari kerinduan kita untuk mengontrol; diampuni dari perilaku ini, dimana seolah segala sesuatu tergantung dari kemampuan kita mengatur dunia kita.<\/p>\n<p>Tentu saja, sebagai warga masyarakat yang bertanggungjawab, kita harus punya kontrol atas hidup kita. Orang Kristen bukanlah orang anti-sosial. Kita menyukai hidup penuh sopan santun, sukses dan berdampingan dengan damai seperti orang lain.<\/p>\n<p>Kita adalah orang yang mengerti bahwa kemampuan untuk mengontrol adalah hadiah sejak mulanya.<br \/>\nBahwa kemampuan mengontrol yang besar yang tampaknya kita miliki hanya khayalan belaka.<br \/>\nKita telah menemukan bahwa hukum tertinggi di alam semesta ini adalah KASIH KARUNIA.<\/p>\n<p>[Mark Galli : The Ultimate Law of the Universe : Grace; 5 February 2015]<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.christianitytoday.com\/behemoth\/2015\/issue-15\/ultimate-law-of-universe-grace.html\" rel=\"nofollow\">http:\/\/www.christianitytoday.com\/behemoth\/2015\/issue-15\/ultimate-law-of-universe-grace.html<\/a><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<\/div>\n<p><strong>*) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Sepanjang hidup, kita berusaha untuk mengontrol. Sebagai bayi, sebagai kanak-kanak, sebagai remaja, lalu sebagai orang dewasa, bahkan hingga menjadi orangtua. Kita mengontrol tubuh kita, ucapan kita, kelakuan kita, pasangan kita, karir kita, juga anak-anak kita. Di sepanjang hidup, kita berusaha mengontrol moral kita. Membuktikan diri kepada org lain, menunjukkan bahwa kita pantas, kita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"12"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-34640","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-umum"],"better_featured_image":null,"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1071","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34640","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34640"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34640\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34640"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34640"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34640"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}