{"id":34644,"date":"2019-12-30T07:04:11","date_gmt":"2019-12-30T00:04:11","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=34644"},"modified":"2019-12-29T11:12:10","modified_gmt":"2019-12-29T04:12:10","slug":"mengapa-saya-tak-lagi-percaya-kasih-karunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mengapa-saya-tak-lagi-percaya-kasih-karunia\/","title":{"rendered":"MENGAPA SAYA TAK LAGI PERCAYA KASIH KARUNIA"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Pukul 9 malam, saya pulang dengan membawa beban berat pekerjaan. Anak-anak sudah di tempat tidur masing-masing, mata 5 watt tapi masih menunggu ciuman selamat malam dari Papa. Istri saya tampak lelah tapi tetap tersenyum melihat saya pulang. Tapi saya sedang lelah. Saya mulai bertingkah sangat menyebalkan. Dalam hati, saya tahu, kelakuan saya akan memperburuk keadaan. Saya menunggu pembalasan istri saya. Saya pantas mendapatkannya, seruan kemarahan \u201cAku tak pantas diperlakukan begini\u201d. Tapi bukan itu yang terjadi. Sebaliknya, ia mengecup pipi saya, bilang ia mencintai saya, lalu pergi tidur dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya. Saya berdiri sendirian di dapur. Ditemani 2 hal : mood jelek saya, dan kasih karunia yang ditunjukkan istri saya. Psikolog dilatih untuk mengubah orang lewat serangkaian daftar tindakan intervensi. Kita bisa menyebutnya dengan empati, penerimaan, atau tindakan positif tanpa syarat. Tapi semuanya bermuara pada ini : Ruang terapi adalah \u2018kantung\u2019 kasih karunia di dunia yang penuh penghakiman ini. Orang datang pada kami untuk disembuhkan. Tapi bagaimana mereka bisa dibenahi, diubah, ditingkatkan, diperbaiki jika mereka dibiarkan dalam kondisi awal mereka? Saya mengerti perasaan ini. Tapi saya beritahu, kasih karunia bukanlah sekedar menerima kita apa adanya. Kasih karunia menerima kita sebagaimana kita adanya, dengan seluruh pergumulan, kepedihan dan kegagalan kita, tapi tetap memeluk kita dan menghargai kita. Dalam kasih karunia, tidak dibutuhkan perubahan untuk cinta dan hubungan. Dan cinta yang tidak menuntut perubahan seperti ini punya kekuatan. BAGAIMANA KASIH KARUNIA MULAI MENGUBAH SEGALA SESUATU Dalam kasih karunia kita diijinkan menjadi diri kita yang sebenar-benarnya : senyawa kompleks dari kegagalan dan keindahan, rasa malu dan kemuliaan. Dalam kehadirannya, kasih karunia mengijinkan kemanusiaan kita tersingkap : gerutuan penuh kemarahan, air mata kepedihan, ketakutan terdalam, sentimen paling kasar dan kejam, hasrat paling menyimpang, atau rasa malu paling besar. Kasih karunia tidak mengernyitkan kening, atau menakuti atau menghakimi berkata, \u201cKalau anda bisa mengubah hal-hal buruk itu, baru kita bisa berjalan seiring\u201d. Sebaliknya, kasih karunia menoleh penuh kasih, mungkin dengan senyum di wajahnya, berkata, \u201cNah kamu sudah datang, saya sudah menunggumu. Kamu diterima disini. Seutuhnya dirimu. Engkau dikasihi\u201d. Inilah kecemerlangan kasih karunia : ia menyambut \u2018kegelapan\u2019 kita dalam terangnya tanpa melakukan apa-apa dengan sisi gelap itu, karena ia tahu itu tidak perlu, mengingat kegelapan tumbuh subur dalam ketersembunyian. Yang kasih karunia lakukan adalah membiarkan kita berada di bawah terangnya, menyinari semua yang tersembunyi dan itu yang mengusir pergi kegelapan. Saat kita berhenti menyimpan dan menekan kegelapan kita dibalik tabir rasa malu, kegelapan itu tidak akan bertahan. APA YANG DILIHAT OLEH KASIH KARUNIA Saya berdiri di dapur ditemani mood buruk saya dan kasih karunia istri saya. Semua menjadi jelas. Jika ia membalas kelakuan saya dengan kemarahan, itu akan membuat sakit hati saya makin berakar. Sebaliknya, ia menunjukkan penerimaan sekalipun saya sedang menjengkelkan, memberi ruang agar saya dapat merasakan dan melewati masa berat saya. Saya masih kesal. Tapi saya merasakan sesuatu : saya ingin minta maaf. Saya ke kamar tidur dan minta maaf padanya. Ia merespon segera, \u201cKamu mengalami hari yang melelahkan, tidak apa-apa kamu mengalami bad mood. Kamu pria yg baik dan saya tahu kamu akan minta maaf\u201d. Istri saya bisa melihat sisi baik saya bahkan disaat saya menyebalkan. Dia percaya pada \u2018terang\u2019 saya, sekalipun saat itu yang dilihatnya hanya \u2018kegelapan\u2019 saya. Ia melihat siapa saya sesungguhnya dan akan menjadi nantinya, sekalipun saat itu saya jadi seseorang yang bukan saya. Saya biasa mengatakan saya percaya kasih karunia. Saya tidak mengatakannya demikian lagi kini. Setelah \u2018mengenal\u2019 kasih karunia, yang saya tahu adalah ini : kasih karunia MEMPERCAYAI saya. BAGAIMANA KASIH KARUNIA MENGUBAH SEGALANYA Kuasa pemulihan kasih karunia tidak berhenti saat ia merangkul kegelapan kita. Saat kita menemukan \u2018kantung\u2019 kasih karunia di dunia ini, saat diri kita yang sesungguhnya muncul ke permukaan, kita menemukan hal-hal indah yang terjalin dengan sisi gelap kita. Ada mutiara-mutiara indah tersangkut disana. Saat kasih karunia memunculkan diri kita yang sejati, kita menemukan hal luar biasa dalam diri kita : suatu hasrat, passion, tujuan yang tertanam dalam DNA kita. Saat identitas kita tercuci bersih, kita mulai melihat diri kita sebagaimana kita diciptakan : indah, teratur dan berkelimpahan. Kita tidak lagi menyerahkan diri berkontribusi mencintai gaya dan cara dunia yang sedang menuju kesudahannya ini. Saat kita menerima kasih karunia, ia menjadi penuntun kita. Dan kita menjadi dia. Kita berhenti mengusahakan kesempurnaan. Kita berhenti menantikan perubahan dan mulai membagikan kasih karunia. Kita menghentikan upaya gila-gilaan untuk menjadi orang lain dan menemukan damai sejahtera dengan siapa diri kita sesungguhnya. Akhirnya. [Dr.Kelly Flanagan : Why I do not believe in grace anymore\u2019; 9 July 2014] drkellyflanagan.com\/2014\/07\/09\/why-i-dont-believe-in-grace-anymore\/ \u00a0 *) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Pukul 9 malam, saya pulang dengan membawa beban berat pekerjaan. Anak-anak sudah di tempat tidur masing-masing, mata 5 watt tapi masih menunggu ciuman selamat malam dari Papa.<br \/>\nIstri saya tampak lelah tapi tetap tersenyum melihat saya pulang.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Tapi saya sedang lelah.<\/p>\n<p>Saya mulai bertingkah sangat menyebalkan. Dalam hati, saya tahu, kelakuan saya akan memperburuk keadaan. Saya menunggu pembalasan istri saya.<br \/>\nSaya pantas mendapatkannya, seruan kemarahan \u201cAku tak pantas diperlakukan begini\u201d.<\/p>\n<p>Tapi bukan itu yang terjadi. Sebaliknya, ia mengecup pipi saya, bilang ia mencintai saya, lalu pergi tidur dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya.<br \/>\nSaya berdiri sendirian di dapur. Ditemani 2 hal : mood jelek saya, dan kasih karunia yang ditunjukkan istri saya.<\/p>\n<p>Psikolog dilatih untuk mengubah orang lewat serangkaian daftar tindakan intervensi.<br \/>\nKita bisa menyebutnya dengan empati, penerimaan, atau tindakan positif tanpa syarat.<\/p>\n<p>Tapi semuanya bermuara pada ini :<\/p>\n<p>Ruang terapi adalah \u2018kantung\u2019 kasih karunia di dunia yang penuh penghakiman ini.<\/p>\n<p>Orang datang pada kami untuk disembuhkan.<br \/>\nTapi bagaimana mereka bisa dibenahi, diubah, ditingkatkan, diperbaiki jika mereka dibiarkan dalam kondisi awal mereka?<\/p>\n<p>Saya mengerti perasaan ini.<\/p>\n<p>Tapi saya beritahu, kasih karunia bukanlah sekedar menerima kita apa adanya.<br \/>\nKasih karunia menerima kita sebagaimana kita adanya, dengan seluruh pergumulan, kepedihan dan kegagalan kita, tapi tetap memeluk kita dan menghargai kita.<br \/>\nDalam kasih karunia, tidak dibutuhkan perubahan untuk cinta dan hubungan. Dan cinta yang tidak menuntut perubahan seperti ini punya kekuatan.<\/p>\n<p>BAGAIMANA KASIH KARUNIA MULAI MENGUBAH SEGALA SESUATU<br \/>\nDalam kasih karunia kita diijinkan menjadi diri kita yang sebenar-benarnya : senyawa kompleks dari kegagalan dan keindahan, rasa malu dan kemuliaan.<\/p>\n<p>Dalam kehadirannya, kasih karunia mengijinkan kemanusiaan kita tersingkap : gerutuan penuh kemarahan, air mata kepedihan, ketakutan terdalam, sentimen paling kasar dan kejam, hasrat paling menyimpang, atau rasa malu paling besar.<\/p>\n<p>Kasih karunia tidak mengernyitkan kening, atau menakuti atau menghakimi berkata, \u201cKalau anda bisa mengubah hal-hal buruk itu, baru kita bisa berjalan seiring\u201d.<br \/>\nSebaliknya, kasih karunia menoleh penuh kasih, mungkin dengan senyum di wajahnya, berkata, \u201cNah kamu sudah datang, saya sudah menunggumu. Kamu diterima disini. Seutuhnya dirimu. Engkau dikasihi\u201d.<\/p>\n<p>Inilah kecemerlangan kasih karunia : ia menyambut \u2018kegelapan\u2019 kita dalam terangnya tanpa melakukan apa-apa dengan sisi gelap itu, karena ia tahu itu tidak perlu, mengingat kegelapan tumbuh subur dalam ketersembunyian.<br \/>\nYang kasih karunia lakukan adalah membiarkan kita berada di bawah terangnya, menyinari semua yang tersembunyi dan itu yang mengusir pergi kegelapan.<\/p>\n<p>Saat kita berhenti menyimpan dan menekan kegelapan kita dibalik tabir rasa malu, kegelapan itu tidak akan bertahan.<\/p>\n<p>APA YANG DILIHAT OLEH KASIH KARUNIA<br \/>\nSaya berdiri di dapur ditemani mood buruk saya dan kasih karunia istri saya. Semua menjadi jelas. Jika ia membalas kelakuan saya dengan kemarahan, itu akan membuat sakit hati saya makin berakar.<br \/>\nSebaliknya, ia menunjukkan penerimaan sekalipun saya sedang menjengkelkan, memberi ruang agar saya dapat merasakan dan melewati masa berat saya.<\/p>\n<p>Saya masih kesal. Tapi saya merasakan sesuatu : saya ingin minta maaf.<\/p>\n<p>Saya ke kamar tidur dan minta maaf padanya. Ia merespon segera, \u201cKamu mengalami hari yang melelahkan, tidak apa-apa kamu mengalami bad mood. Kamu pria yg baik dan saya tahu kamu akan minta maaf\u201d.<\/p>\n<p>Istri saya bisa melihat sisi baik saya bahkan disaat saya menyebalkan. Dia percaya pada \u2018terang\u2019 saya, sekalipun saat itu yang dilihatnya hanya \u2018kegelapan\u2019 saya.<br \/>\nIa melihat siapa saya sesungguhnya dan akan menjadi nantinya, sekalipun saat itu saya jadi seseorang yang bukan saya.<\/p>\n<p>Saya biasa mengatakan saya percaya kasih karunia.<br \/>\nSaya tidak mengatakannya demikian lagi kini.<br \/>\nSetelah \u2018mengenal\u2019 kasih karunia, yang saya tahu adalah ini : kasih karunia MEMPERCAYAI saya.<\/p>\n<p>BAGAIMANA KASIH KARUNIA MENGUBAH SEGALANYA<br \/>\nKuasa pemulihan kasih karunia tidak berhenti saat ia merangkul kegelapan kita.<\/p>\n<p>Saat kita menemukan \u2018kantung\u2019 kasih karunia di dunia ini, saat diri kita yang sesungguhnya muncul ke permukaan, kita menemukan hal-hal indah yang terjalin dengan sisi gelap kita. Ada mutiara-mutiara indah tersangkut disana.<\/p>\n<p>Saat kasih karunia memunculkan diri kita yang sejati, kita menemukan hal luar biasa dalam diri kita : suatu hasrat, passion, tujuan yang tertanam dalam DNA kita.<br \/>\nSaat identitas kita tercuci bersih, kita mulai melihat diri kita sebagaimana kita diciptakan : indah, teratur dan berkelimpahan.<br \/>\nKita tidak lagi menyerahkan diri berkontribusi mencintai gaya dan cara dunia yang sedang menuju kesudahannya ini.<br \/>\nSaat kita menerima kasih karunia, ia menjadi penuntun kita. Dan kita menjadi dia.<\/p>\n<p>Kita berhenti mengusahakan kesempurnaan.<br \/>\nKita berhenti menantikan perubahan dan mulai membagikan kasih karunia.<br \/>\nKita menghentikan upaya gila-gilaan untuk menjadi orang lain dan menemukan damai sejahtera dengan siapa diri kita sesungguhnya.<br \/>\nAkhirnya.<\/p>\n<p>[Dr.Kelly Flanagan : Why I do not believe in grace anymore\u2019; 9 July 2014]<\/p>\n<p>drkellyflanagan.com\/2014\/07\/09\/why-i-dont-believe-in-grace-anymore\/<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>*) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Pukul 9 malam, saya pulang dengan membawa beban berat pekerjaan. Anak-anak sudah di tempat tidur masing-masing, mata 5 watt tapi masih menunggu ciuman selamat malam dari Papa. Istri saya tampak lelah tapi tetap tersenyum melihat saya pulang. Tapi saya sedang lelah. Saya mulai bertingkah sangat menyebalkan. Dalam hati, saya tahu, kelakuan saya akan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"12"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-34644","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-umum"],"better_featured_image":null,"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1201","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34644","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34644"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34644\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34644"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34644"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34644"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}