{"id":34676,"date":"2019-12-20T14:16:42","date_gmt":"2019-12-20T07:16:42","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=34676"},"modified":"2019-12-20T14:16:42","modified_gmt":"2019-12-20T07:16:42","slug":"tentang-perpuluhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/tentang-perpuluhan\/","title":{"rendered":"TENTANG PERPULUHAN"},"content":{"rendered":"<p><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Maleakhi 3:8-12 adalah ayat yang paling sering digunakan untuk \u2018menghimbau\u2019 jemaat agar memberi perpuluhan\u00a0 (PP) kepada gereja, dengan menekankan aspek : \u2013 jika tidak memberi PP = merampok Tuhan \u2013 jika tidak memberi PP, maka akan dikutuk (dilengkapi contoh biasanya) \u2013 jika memberi PP dan membawanya ke rumah perbendaharaan, kita akan diberkati (inipun biasanya pakai contoh) \u2013 rumah perbendaharaan yang dimaksud adalah gereja lokal. Masalahnya, banyak orang yang lantas bergumul untuk membayar PP sehingga menimbulkan pertanyaan sebagai berikut : \u2013 sudahkah saya membayar cukup? \u2013 PP dihitung dari pendapatan kotor (sebelum pajak) atau pendapatan bersih (sesudah pajak)? \u2013 apakah saya harus membayar PP dari pinjaman\/beasiswa saya? Kita perlu menelaah apa yang Alkitab katakan tentang PP. Jangan terima mentah-mentah apa yang tradisi atau orang lain katakan mengenai PP (bahkan kata gembala anda atau pendeta terkenal sekalipun). Apa itu \u2018Perpuluhan\u2019 (Tithing)? Perpuluhan adalah memberi 10% dari pendapatan secara reguler kepada Tuhan. PP diberlakukan di masa Perjanjian Lama, di bawah Taurat, agar suku Lewi yang melayani di Kemah Suci (nantinya di jaman Salomo melayani di Bait Suci) terpelihara hidupnya. Kita tahu bahwa suku Lewi dikhususkan oleh Tuhan untuk melayani di Kemah & tidak menerima warisan tanah seperti 11 suku lainnya. Jadi mereka tidak memiliki pendapatan. Karena itu mereka menerima \u2018perpuluhan\u2019 sebagai sumber \u2018income\u2019. PP juga dikumpulkan untuk memelihara hidup para janda, yatim piatu, orang miskin dan orang asing. PP diberlakukan di masa Perjanjian Lama (old covenant), BUKAN di masa perjanjian yang baru. PP hanya disebutkan 4x dalam kitab Perjanjian Baru, 3x dalam Injil & beberapa kali dalam pasal 7 surat Ibrani. Di dalam Injil (Matius 23:23, Lukas 11:42, 18:12) Yesus menegur orang Farisi yang terlalu menekankan PP sehingga mengabaikan hal lainnya. Mereka begitu terfokus pada PP sehingga melewatkan tujuan Taurat yang sebenarnya yaitu mengasihi Allah dan sesama. Mereka juga dengan keliru beranggapan bahwa PP adalah cara untuk mendapatkan berkat dan perkenanan Tuhan. Yesus menohok kemunafikan mereka, karena membayar PP membuat mereka merasa lebih baik dari orang lain. Perkataan Yesus ini disampaikan sebelum salib. Di salib, perjanjian yang lama itu dinyatakan usang, tak berlaku lagi (Ibrani 8:13). PP BUKAN bagian dari perjanjian baru. Jika ya, pastilah Paulus sudah mengajarkannya lewat surat-suratnya. PP tidak diajarkan di surat-surat itu dan tidak punya tempat dalam gereja perjanjian baru. Jangan pandang enteng perkara membayar PP ini. Membayar PP bagi org Kristen (gereja) = menempatkan diri kembali ke bawah Taurat. Dan orang yang menempatkan diri ke bawah Taurat membuka diri terhadap kutuk (Galatia 3:10). Setiap orang yang ingin menaati 1 bagian Hukum Taurat, harus menaati keseluruhannya. Jika hanya menuruti 1 bagian tapi mengabaikan 612 yang lain, ia tetap dinyatakan bersalah (Yakobus 2:10). Referensi lain tentang PP di kitab Perjanjian Baru ada di Ibrani pasal 7. Surat ini sebenarnya ditujukan buat orang Ibrani\/Yahudi, untuk menunjukkan superioritas perjanjian (covenant) yang baru dibanding dengan yang lama. Ada yang berargumen bahwa PP wajib juga bagi orang Kristen dengan mengutip perikop ini, dengan alasan Abraham memberi PP kepada Melkisedek sekalipun ia tidak dibawah Taurat. Perhatikan baik-baik : 1. Kita harus bedakan antara apa yang dicatat dalam Alkitab tentang perbuatan orang-orang masa itu, dengan apa yang Tuhan perintahkan untuk kita lakukan. Abraham melakukan hal-hal ini : \u2013 ia mengakui Sarah sebagai adiknya, bukan istrinya. 2 kali! Betapa pengecutnya Abraham membiarkan istrinya jadi umpan utk menyelamatkan diri. Jika saja Tuhan tidak turun tangan, Sarah pasti sudah jadi gundik raja kafir. \u2013 ia memberikan separuh dari tanah Kanaan yang Tuhan berikan padanya kepada Lot, ponakannya tersayang. Apakah kita harus melakukan hal yang sama? Alasan mengapa PP disebut di Ibrani 7 adalah semata untuk menunjukkan betapa perjanjian yang baru lebih baik dari yang lama, dimana Yesus adalah Imam berdasarkan peraturan Melkisedek, yang jauh lebih tinggi dari imam Lewi berdasarkan peraturan Harun. Tidak ada instruksi untuk melakukan PP disebutkan disitu. 2. Di Kejadian 14, Abraham diberkati SEBELUM ia membawa PP, BUKAN sesudah!! Ia memberi PP sebagai respon atas berkat Melkisedek. BUKAN supaya ia dapat berkat (ayat 18-20). Ia sudah jadi orang kaya raya jauh sebelum ia memberi PP (Kejadian 13:2). Dia tidak perlu membayar Tuhan atau siapapun untuk mendapat berkat. Kita, sebagai penerima berkat Abraham atas dasar iman kepada Kristus, JUGA TIDAK PERLU memberi PP untuk diberkati. Hanya ada 1 alasan kita diberkati : Karya Yesus di salib! Ia yang melayakkan kita menerima segala berkat rohani (Efesus 1:3). 3. Abraham memberi PP bukan karena ada yang menyuruh. Allah tidak pernah memberi instruksi untuk Dan Abraham memberi PP bukan dari harta pribadinya. Yang dia berikan adalah 10% dari harta jarahan perang. Ya, dia memberi 10% kepada Melkisedek, tapi ia memberi 90% sisanya kepada raja Sodom (Kejadian 14:21). Jadi kalau mau meniru Abraham, pergilah berperang, jarah semua harta musuh Anda, berikan 10%nya ke gereja lokal, dan 90%nya ke kompleks lokalisasi dan bandar narkoba setempat (ya kira-kita demikian perbandingannya). Abraham memberi PP berapa kali? SATU KALI!! Dibandingkan masa hidupnya yang 175 tahun, sepertinya memberi PP 1x bukanlah \u2018prestasi\u2019 yang mengagumkan. Sekali lagi, orang Kristen TIDAK dibawah Hukum Taurat (Roma 6:14). Jika sebagai orang Kristen anda tetap ingin membayar PP dan\/atau mewajibkan jemaat anda membayar PP, sebaiknya anda perhatikan ayat-ayat perjanjian lama tentang PP ini : Imamat 27:30-33; Ulangan 12:6-7, 17-18; 14:22-26, 28-29; 26:12-13. #Perpuluhan TIDAK PERNAH berupa uang! PP selalu dalam bentuk makanan atau bahan pangan. #Ada 3 jenis PP : a.10% utk Kaum Lewi b.10% utk perayaan di Yerusalem 1x setahun Jika anda tidak bisa membawa bahan makanan itu ke Yerusalem, anda boleh tukar dulu menjadi uang yang lebih mudah dibawa. Lalu sesampainya di Yerusalem anda beli bahan makanan dengan uang itu. Jadi PP tetap dalam bentuk makanan\/bahan pangan. c.10% untuk imam lokal, orang miskin, anak yatim, janda, orang asing setiap 3 tahun. Jadi\u2026 perpuluhan bukan 10%. Tapi 20% tiap tahun. Dan tahun ke 3 besarnya 30%. Lantas bagaimana dengan \u2018kutuk\u2019 di Maleakhi 3 tadi? Pernyataan ini (bahwa Anda dikutuk karena apa yang anda lakukan\/tidak lakukan) adalah MENGHINA salib. Kristus telah menjadi kutuk agar kita beroleh berkat (Galatia 3:13). Perhatikan juga kepada siapa ayat ini ditujukan. Di Maleakhi 2:1,8-9 disebutkan tentang imam-imam, karena mereka TIDAK mengajarkan bagian Taurat secara utuh kepada umat, tapi memilih mana yg enak bagi mereka saja. Jadi ayat ini BUKAN untuk gereja! Di masa penjanjian yang baru, jemaat mula-mula dikenal karena kemurahan hati mereka. Mereka memberi untuk membantu saudara dalam Kristus (antara lain di Kisah 6:1-7). Juga untuk mendukung pekabaran Injil (antara lain di Kisah 15:3). Sebelum abad ke-3 para pemberita injil\/pendeta tidak memiliki penghasilan karena memang tidak dimungkinkan mereka bekerja sampingan. Jadi jemaat menyokong mereka dengan sukarela. Adalah Kaisar Konstantin dari Roma yang mengenalkan ide menggaji para pendeta, diadopsi dari tradisi penyembahan berhala. Ia menggunakan uang kota untuk menggaji orang yang melayani sebagai pendeta di kerajaannya. Praktek ini berkembang hingga menjadi hukum tetap di abad 10. 900 tahun setelah Yesus. Saya tidak menentang anda memberi. Karena memberi adalah DNA orang percaya, sebab Bapa kita di surga adalah Seorang Pemberi. Jika anda memberi 10% pendapatan anda ke gereja lokal, monggo! Tapi jangan berpikir itu Tuhan yang mengharuskan sebagai syarat untuk memberkati anda. Tuhan tidak perlu diberi \u2018umpan\u2019 supaya memberkati kita! Ada orang-orang yang tak kenal lelah memberitakan Injil dan melayani tubuh Kristus. Adalah sangat alkitabiah bagi kita untuk menyokong mereka. Karena tak semua pelayan Injil bisa \u2018membuat tenda\u2019 seperti Paulus, Akwila dan Priskila untuk menyokong hidupnya. Tapi ingat, ini bukan hukum. Ini adalah prinsip. Memberi sangat berbeda dengan membayar PP. Memberi adalah respon alami seseorang yang hatinya diluapi rasa syukur atas kasih karunia Tuhan. Memberilah dengan sukacita (2 Korintus 9:7), memberilah untuk menolong orang lain (Matius 25:34-35), memberilah saat anda telah diperlengkapi dan dilayani (2 Korintus 9:10-11), atau saat anda merasa Roh Kudus menggerakkan anda. Karena Yesus tidak melihat apa dan bagaimana dan berapa besar anda memberi. Dia melihat mengapa anda memberi. (Ringkasan buku Ps Ken Legg : New Covenant New Glory Chapter 11; dan artikel Phil Drysdale mengenai\u00a0 Perpuluhan : phildrysdale.com\/tithing) *) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Maleakhi 3:8-12 adalah ayat yang paling sering digunakan untuk \u2018menghimbau\u2019 jemaat agar memberi perpuluhan\u00a0 (PP) kepada gereja, dengan menekankan aspek :<br \/>\n\u2013 jika tidak memberi PP = merampok Tuhan<br \/>\n\u2013 jika tidak memberi PP, maka akan dikutuk (dilengkapi contoh biasanya)<br \/>\n\u2013 jika memberi PP dan membawanya ke rumah perbendaharaan, kita akan diberkati (inipun biasanya pakai contoh)<br \/>\n\u2013 rumah perbendaharaan yang dimaksud adalah gereja lokal.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Masalahnya, banyak orang yang lantas bergumul untuk membayar PP sehingga menimbulkan pertanyaan sebagai berikut :<br \/>\n\u2013 sudahkah saya membayar cukup?<br \/>\n\u2013 PP dihitung dari pendapatan kotor (sebelum pajak) atau pendapatan bersih (sesudah pajak)?<br \/>\n\u2013 apakah saya harus membayar PP dari pinjaman\/beasiswa saya?<\/p>\n<p>Kita perlu menelaah apa yang Alkitab katakan tentang PP. Jangan terima mentah-mentah apa yang tradisi atau orang lain katakan mengenai PP (bahkan kata gembala anda atau pendeta terkenal sekalipun).<\/p>\n<p>Apa itu \u2018Perpuluhan\u2019 (Tithing)?<br \/>\nPerpuluhan adalah memberi 10% dari pendapatan secara reguler kepada Tuhan.<br \/>\nPP diberlakukan di masa Perjanjian Lama, di bawah Taurat, agar suku Lewi yang melayani di Kemah Suci (nantinya di jaman Salomo melayani di Bait Suci) terpelihara hidupnya. Kita tahu bahwa suku Lewi dikhususkan oleh Tuhan untuk melayani di Kemah &amp; tidak menerima warisan tanah seperti 11 suku lainnya. Jadi mereka tidak memiliki pendapatan. Karena itu mereka menerima \u2018perpuluhan\u2019 sebagai sumber \u2018income\u2019.<br \/>\nPP juga dikumpulkan untuk memelihara hidup para janda, yatim piatu, orang miskin dan orang asing.<\/p>\n<p>PP diberlakukan di masa Perjanjian Lama (old covenant), BUKAN di masa perjanjian yang baru.<br \/>\nPP hanya disebutkan 4x dalam kitab Perjanjian Baru, 3x dalam Injil &amp; beberapa kali dalam pasal 7 surat Ibrani.<\/p>\n<p>Di dalam Injil (Matius 23:23, Lukas 11:42, 18:12) Yesus menegur orang Farisi yang terlalu menekankan PP sehingga mengabaikan hal lainnya.<br \/>\nMereka begitu terfokus pada PP sehingga melewatkan tujuan Taurat yang sebenarnya yaitu mengasihi Allah dan sesama.<br \/>\nMereka juga dengan keliru beranggapan bahwa PP adalah cara untuk mendapatkan berkat dan perkenanan Tuhan.<br \/>\nYesus menohok kemunafikan mereka, karena membayar PP membuat mereka merasa lebih baik dari orang lain.<\/p>\n<p>Perkataan Yesus ini disampaikan sebelum salib.<br \/>\nDi salib, perjanjian yang lama itu dinyatakan usang, tak berlaku lagi (Ibrani 8:13).<\/p>\n<p>PP BUKAN bagian dari perjanjian baru.<br \/>\nJika ya, pastilah Paulus sudah mengajarkannya lewat surat-suratnya. PP tidak diajarkan di surat-surat itu dan tidak punya tempat dalam gereja perjanjian baru.<\/p>\n<p>Jangan pandang enteng perkara membayar PP ini. Membayar PP bagi org Kristen (gereja) = menempatkan diri kembali ke bawah Taurat.<br \/>\nDan orang yang menempatkan diri ke bawah Taurat membuka diri terhadap kutuk (Galatia 3:10).<br \/>\nSetiap orang yang ingin menaati 1 bagian Hukum Taurat, harus menaati keseluruhannya. Jika hanya menuruti 1 bagian tapi mengabaikan 612 yang lain, ia tetap dinyatakan bersalah (Yakobus 2:10).<\/p>\n<p>Referensi lain tentang PP di kitab Perjanjian Baru ada di Ibrani pasal 7.<br \/>\nSurat ini sebenarnya ditujukan buat orang Ibrani\/Yahudi, untuk menunjukkan superioritas perjanjian (covenant) yang baru dibanding dengan yang lama.<br \/>\nAda yang berargumen bahwa PP wajib juga bagi orang Kristen dengan mengutip perikop ini, dengan alasan Abraham memberi PP kepada Melkisedek sekalipun ia tidak dibawah Taurat.<\/p>\n<p>Perhatikan baik-baik :<br \/>\n1. Kita harus bedakan antara apa yang dicatat dalam Alkitab tentang perbuatan orang-orang masa itu, dengan apa yang Tuhan perintahkan untuk kita lakukan.<br \/>\nAbraham melakukan hal-hal ini :<br \/>\n\u2013 ia mengakui Sarah sebagai adiknya, bukan istrinya. 2 kali! Betapa pengecutnya Abraham membiarkan istrinya jadi umpan utk menyelamatkan diri.<br \/>\nJika saja Tuhan tidak turun tangan, Sarah pasti sudah jadi gundik raja kafir.<br \/>\n\u2013 ia memberikan separuh dari tanah Kanaan yang Tuhan berikan padanya kepada Lot, ponakannya tersayang.<br \/>\nApakah kita harus melakukan hal yang sama?<\/p>\n<p>Alasan mengapa PP disebut di Ibrani 7 adalah semata untuk menunjukkan betapa perjanjian yang baru lebih baik dari yang lama, dimana Yesus adalah Imam berdasarkan peraturan Melkisedek, yang jauh lebih tinggi dari imam Lewi berdasarkan peraturan Harun.<br \/>\nTidak ada instruksi untuk melakukan PP disebutkan disitu.<\/p>\n<p>2. Di Kejadian 14, Abraham diberkati SEBELUM ia membawa PP, BUKAN sesudah!!<br \/>\nIa memberi PP sebagai respon atas berkat Melkisedek. BUKAN supaya ia dapat berkat (ayat 18-20).<br \/>\nIa sudah jadi orang kaya raya jauh sebelum ia memberi PP (Kejadian 13:2).<br \/>\nDia tidak perlu membayar Tuhan atau siapapun untuk mendapat berkat.<br \/>\nKita, sebagai penerima berkat Abraham atas dasar iman kepada Kristus, JUGA TIDAK PERLU memberi PP untuk diberkati.<br \/>\nHanya ada 1 alasan kita diberkati : Karya Yesus di salib! Ia yang melayakkan kita menerima segala berkat rohani (Efesus 1:3).<\/p>\n<p>3. Abraham memberi PP bukan karena ada yang menyuruh. Allah tidak pernah memberi instruksi untuk Dan Abraham memberi PP bukan dari harta pribadinya. Yang dia berikan adalah 10% dari harta jarahan perang.<br \/>\nYa, dia memberi 10% kepada Melkisedek, tapi ia memberi 90% sisanya kepada raja Sodom (Kejadian 14:21).<br \/>\nJadi kalau mau meniru Abraham, pergilah berperang, jarah semua harta musuh Anda, berikan 10%nya ke gereja lokal, dan 90%nya ke kompleks lokalisasi dan bandar narkoba setempat (ya kira-kita demikian perbandingannya).<br \/>\nAbraham memberi PP berapa kali? SATU KALI!!<br \/>\nDibandingkan masa hidupnya yang 175 tahun, sepertinya memberi PP 1x bukanlah \u2018prestasi\u2019 yang mengagumkan.<\/p>\n<p>Sekali lagi, orang Kristen TIDAK dibawah Hukum Taurat (Roma 6:14).<\/p>\n<p>Jika sebagai orang Kristen anda tetap ingin membayar PP dan\/atau mewajibkan jemaat anda membayar PP, sebaiknya anda perhatikan ayat-ayat perjanjian lama tentang PP ini :<br \/>\nImamat 27:30-33; Ulangan 12:6-7, 17-18; 14:22-26, 28-29; 26:12-13.<\/p>\n<p>#Perpuluhan TIDAK PERNAH berupa uang!<br \/>\nPP selalu dalam bentuk makanan atau bahan pangan.<\/p>\n<p>#Ada 3 jenis PP :<br \/>\na.10% utk Kaum Lewi<br \/>\nb.10% utk perayaan di Yerusalem 1x setahun<br \/>\nJika anda tidak bisa membawa bahan makanan itu ke Yerusalem, anda boleh tukar dulu menjadi uang yang lebih mudah dibawa. Lalu sesampainya di Yerusalem anda beli bahan makanan dengan uang itu. Jadi PP tetap dalam bentuk makanan\/bahan pangan.<br \/>\nc.10% untuk imam lokal, orang miskin, anak yatim, janda, orang asing setiap 3 tahun.<\/p>\n<p>Jadi\u2026 perpuluhan bukan 10%.<br \/>\nTapi 20% tiap tahun.<br \/>\nDan tahun ke 3 besarnya 30%.<\/p>\n<p>Lantas bagaimana dengan \u2018kutuk\u2019 di Maleakhi 3 tadi?<br \/>\nPernyataan ini (bahwa Anda dikutuk karena apa yang anda lakukan\/tidak lakukan) adalah MENGHINA salib. Kristus telah menjadi kutuk agar kita beroleh berkat (Galatia 3:13).<\/p>\n<p>Perhatikan juga kepada siapa ayat ini ditujukan.<br \/>\nDi Maleakhi 2:1,8-9 disebutkan tentang imam-imam, karena mereka TIDAK mengajarkan bagian Taurat secara utuh kepada umat, tapi memilih mana yg enak bagi mereka saja.<br \/>\nJadi ayat ini BUKAN untuk gereja!<\/p>\n<p>Di masa penjanjian yang baru, jemaat mula-mula dikenal karena kemurahan hati mereka. Mereka memberi untuk membantu saudara dalam Kristus (antara lain di Kisah 6:1-7).<br \/>\nJuga untuk mendukung pekabaran Injil (antara lain di Kisah 15:3).<br \/>\nSebelum abad ke-3 para pemberita injil\/pendeta tidak memiliki penghasilan karena memang tidak dimungkinkan mereka bekerja sampingan. Jadi jemaat menyokong mereka dengan sukarela.<br \/>\nAdalah Kaisar Konstantin dari Roma yang mengenalkan ide menggaji para pendeta, diadopsi dari tradisi penyembahan berhala. Ia menggunakan uang kota untuk menggaji orang yang melayani sebagai pendeta di kerajaannya.<br \/>\nPraktek ini berkembang hingga menjadi hukum tetap di abad 10.<br \/>\n900 tahun setelah Yesus.<\/p>\n<p>Saya tidak menentang anda memberi.<br \/>\nKarena memberi adalah DNA orang percaya, sebab Bapa kita di surga adalah Seorang Pemberi.<\/p>\n<p>Jika anda memberi 10% pendapatan anda ke gereja lokal, monggo!<br \/>\nTapi jangan berpikir itu Tuhan yang mengharuskan sebagai syarat untuk memberkati anda.<br \/>\nTuhan tidak perlu diberi \u2018umpan\u2019 supaya memberkati kita!<\/p>\n<p>Ada orang-orang yang tak kenal lelah memberitakan Injil dan melayani tubuh Kristus. Adalah sangat alkitabiah bagi kita untuk menyokong mereka. Karena tak semua pelayan Injil bisa \u2018membuat tenda\u2019 seperti Paulus, Akwila dan Priskila untuk menyokong hidupnya.<br \/>\nTapi ingat, ini bukan hukum. Ini adalah prinsip.<\/p>\n<p>Memberi sangat berbeda dengan membayar PP.<br \/>\nMemberi adalah respon alami seseorang yang hatinya diluapi rasa syukur atas kasih karunia Tuhan.<br \/>\nMemberilah dengan sukacita (2 Korintus 9:7),<br \/>\nmemberilah untuk menolong orang lain (Matius 25:34-35), memberilah saat anda telah diperlengkapi dan dilayani (2 Korintus 9:10-11),<br \/>\natau saat anda merasa Roh Kudus menggerakkan anda.<\/p>\n<p>Karena Yesus tidak melihat apa dan bagaimana dan berapa besar anda memberi.<br \/>\nDia melihat mengapa anda memberi.<\/p>\n<p>(Ringkasan buku Ps Ken Legg : New Covenant New Glory Chapter 11; dan artikel Phil Drysdale mengenai\u00a0 Perpuluhan : phildrysdale.com\/tithing)<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>*) Diterjemahkan oleh Mona Yayaschka\/dailygracia<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Maleakhi 3:8-12 adalah ayat yang paling sering digunakan untuk \u2018menghimbau\u2019 jemaat agar memberi perpuluhan\u00a0 (PP) kepada gereja, dengan menekankan aspek : \u2013 jika tidak memberi PP = merampok Tuhan \u2013 jika tidak memberi PP, maka akan dikutuk (dilengkapi contoh biasanya) \u2013 jika memberi PP dan membawanya ke rumah perbendaharaan, kita akan diberkati (inipun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32662,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"12"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[5,3],"tags":[],"class_list":["post-34676","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-umum"],"better_featured_image":{"id":32662,"alt_text":"","caption":"","description":"4c37910b08ab96826a4d0a29fd413165","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/tentang-perpuluhan_5df72af8305bd.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/tentang-perpuluhan_5df72af8305bd.jpeg?fit=278%2C182&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"4005","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34676","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34676"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34676\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34676"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34676"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34676"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}