{"id":34811,"date":"2019-12-27T14:11:16","date_gmt":"2019-12-27T07:11:16","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=34811"},"modified":"2019-12-27T14:24:16","modified_gmt":"2019-12-27T07:24:16","slug":"tari-sufi-dan-selawat-iringi-misa-natal-upaya-jalin-persahabatan-lintas-iman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/tari-sufi-dan-selawat-iringi-misa-natal-upaya-jalin-persahabatan-lintas-iman\/","title":{"rendered":"Tari sufi dan selawat iringi misa Natal, &#8216;upaya jalin persahabatan lintas iman&#8217;"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur agar Muslim tak ucapkan &#039;Selamat Natal&#039; tak menghentikan sekelompok pemuda lintas iman untuk turut berpartisipasi dalam perayaan Natal di Malang. Harum dupa menguar dari balik Gereja Katolik Paroki Santo Vincentius A. Paulo di Malang, Jawa Timur, saat misa Natal, Rabu (25\/12) sore. Puluhan misdinar atau pelayan Romo berbaris, berjalan pelan. Mereka mengenakan pakaian atas putih dan bawah merah. Seorang misdinar membawa salib, dua orang yang membawa lilin dan seorang membawa wadah berisi dupa. Pengurus gereja menyambut dan menyapa Gusdurian Muda (Garuda) yang hadir. Melalui pengeras suara, diumumkan kepada jemaat misa natal jika Gusdurian berada di antara mereka. Mereka hadir untuk membangun toleransi dan berkontribusi pada dialog lintas iman. &quot;Selamat datang kawan Gusdurian, Gusdurian Muda dan Gubuk Sufi. Mereka hadir untuk menyemarakkan misa Natal. Terima kasih telah hadir dan membangun toleransi,&quot; katanya seperti dilaporkan wartawan Eko Widianto untuk BBC Indonesia. Berjalan perlahan, mereka memasuki gereja. Sementara di belakang Romo Yohanes Gani Sukarsono dan pemuka gereja mengikuti, berjalan di belakang. Di belakang Romo Gani, sejumlah pemuda mengenakan peci putih berbaju koko dan bersarung. Masing-masing memukul rebana sembari menyanyikan selawat syiir tanpo waton. Sejumlah perempuan berjilbab dan laki-laki berpeci duduk di antara jemaat misa Natal. Mereka hadir bersama sejumlah anggota Gusdurian Muda lain lintas agama: ada yang beragama Islam, Kong Hu Cu, Buddha, Kristen, Katolik dan penganut kepercayaan. Di tengah khotbah, Romo Yohanes Gani Sukarsono yang akrab disapa Romo Gani menyampaikan penghargaan terhadap Gusdurian Muda yang hadir di antara jemaat misa natal. Sebaliknya, jemaat juga diminta melakukan hal yang sama. Saling menghormati, membangun toleransi dan menjunjung kemanusiaan. Romo Gani menyampaikan tengah membangun relasi lintas iman, salah satunya melalui seni budaya. Gerakan ini diharapkan bisa menangkal kekerasan atas nama agama, intoleransi, pelarangan ibadah dan pelarangan perayaan Natal yang terjadi di berbagai daerah. &quot;Tak cuma pesan melalui spanduk, ini disampaikan langsung. Harapannya agar agama bukan lagi menjadi sekat, tapi agama menjadi bagian (dari upaya) membangun kemanusiaan. Percuma ada agama jika kemanusiaan masih ditindas,&quot; ujarnya. Merayakan Natal tanpa tekanan Pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur Nur Kholis Saleh dalam sambutannya juga menyerukan hal yang sama. &quot;Rayakan Natal dengan damai, seperti kami merayakan Idul Fitri. Hidup rukun berdampingan,&quot; ujarnya. Usai misa Natal, sejumlah santri dari Gubuk Sufi Jabung, Kabupaten Malang, maju mendekati altar. Mereka berdiri dengan tangan bersilang mendekap dada sembari membungkuk--tanda hormat kepada para jemaat misa Natal. Penari Sufi pimpinan Muhammad Al Mukhtadir alias Gus Muham berlahan menari, berputar berlawanan jarum jam. Pukulan rebana dari kelompok seni al-Banjari mengiringi tarian sufi yang diciptakan Jalaludin Rumi. Mereka menari, berputar hingga pakaian yang dikenakan mengembang. &quot;Tari sufi ini intinya menyebarkan kasih sayang.,&quot; kata Gus Muham. &quot;Saya hanya menghadiri saudara saya yang merayakan Natal. Ini manusia, saya melihat manusia,&quot; kata Gus Muham saat ditanya mengenai imbauan MUI Jawa Timur agar Muslim tidak mengucapkan &#039;Selamat Natal&#039;. MUI Pusat telah menyatakan bahwa pihaknya tidak menyarankan maupun melarang Muslim mengucapkan &#039;Selamat Natal&#039;. (BBC)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><\/p>\n<p class=\"story-body__introduction\"><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; Imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur agar Muslim tak ucapkan &#8216;Selamat Natal&#8217; tak menghentikan sekelompok pemuda lintas iman untuk turut berpartisipasi dalam perayaan Natal di Malang.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Harum dupa menguar dari balik Gereja Katolik Paroki Santo Vincentius A. Paulo di Malang, Jawa Timur, saat misa Natal, Rabu (25\/12) sore.<\/p>\n<p>Puluhan misdinar atau pelayan Romo berbaris, berjalan pelan.<\/p>\n<p>Mereka mengenakan pakaian atas putih dan bawah merah.<\/p>\n<p>Seorang misdinar membawa salib, dua orang yang membawa lilin dan seorang membawa wadah berisi dupa.<\/p>\n<p>Pengurus gereja menyambut dan menyapa Gusdurian Muda (Garuda) yang hadir.<\/p>\n<p>Melalui pengeras suara, diumumkan kepada jemaat misa natal jika Gusdurian berada di antara mereka.<\/p>\n<p>Mereka hadir untuk membangun toleransi dan berkontribusi pada dialog lintas iman.<\/p>\n<p>&#8220;Selamat datang kawan Gusdurian, Gusdurian Muda dan Gubuk Sufi. Mereka hadir untuk menyemarakkan misa Natal. Terima kasih telah hadir dan membangun toleransi,&#8221; katanya seperti dilaporkan wartawan Eko Widianto untuk BBC Indonesia.<\/p>\n<p>Berjalan perlahan, mereka memasuki gereja. Sementara di belakang Romo Yohanes Gani Sukarsono dan pemuka gereja mengikuti, berjalan di belakang.<\/p>\n<p>Di belakang Romo Gani, sejumlah pemuda mengenakan peci putih berbaju koko dan bersarung. Masing-masing memukul rebana sembari menyanyikan selawat <i>syiir tanpo waton<\/i>.<\/p>\n<p>Sejumlah perempuan berjilbab dan laki-laki berpeci duduk di antara jemaat misa Natal. Mereka hadir bersama sejumlah anggota Gusdurian Muda lain lintas agama: ada yang beragama Islam, Kong Hu Cu, Buddha, Kristen, Katolik dan penganut kepercayaan.<\/p>\n<p>Di tengah khotbah, Romo Yohanes Gani Sukarsono yang akrab disapa Romo Gani menyampaikan penghargaan terhadap Gusdurian Muda yang hadir di antara jemaat misa natal.<\/p>\n<p>Sebaliknya, jemaat juga diminta melakukan hal yang sama. Saling menghormati, membangun toleransi dan menjunjung kemanusiaan.<\/p>\n<p>Romo Gani menyampaikan tengah membangun relasi lintas iman, salah satunya melalui seni budaya.<\/p>\n<p>Gerakan ini diharapkan bisa menangkal kekerasan atas nama agama, intoleransi, pelarangan ibadah dan pelarangan perayaan Natal yang terjadi di berbagai daerah.<\/p>\n<p>&#8220;Tak cuma pesan melalui spanduk, ini disampaikan langsung. Harapannya agar agama bukan lagi menjadi sekat, tapi agama menjadi bagian (dari upaya) membangun kemanusiaan. Percuma ada agama jika kemanusiaan masih ditindas,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<h2 class=\"story-body__crosshead\">Merayakan Natal tanpa tekanan<\/h2>\n<p>Pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur Nur Kholis Saleh dalam sambutannya juga menyerukan hal yang sama.<\/p>\n<p>&#8220;Rayakan Natal dengan damai, seperti kami merayakan Idul Fitri. Hidup rukun berdampingan,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Usai misa Natal, sejumlah santri dari Gubuk Sufi Jabung, Kabupaten Malang, maju mendekati altar.<\/p>\n<p>Mereka berdiri dengan tangan bersilang mendekap dada sembari membungkuk&#8211;tanda hormat kepada para jemaat misa Natal.<\/p>\n<p>Penari Sufi pimpinan Muhammad Al Mukhtadir alias Gus Muham berlahan menari, berputar berlawanan jarum jam.<\/p>\n<p>Pukulan rebana dari kelompok seni al-Banjari mengiringi tarian sufi yang diciptakan Jalaludin Rumi. Mereka menari, berputar hingga pakaian yang dikenakan mengembang.<\/p>\n<p>&#8220;Tari sufi ini intinya menyebarkan kasih sayang.,&#8221; kata Gus Muham.<\/p>\n<p>&#8220;Saya hanya menghadiri saudara saya yang merayakan Natal. Ini manusia, saya melihat manusia,&#8221; kata Gus Muham saat ditanya mengenai imbauan MUI Jawa Timur agar Muslim tidak mengucapkan &#8216;Selamat Natal&#8217;.<\/p>\n<p>MUI Pusat telah menyatakan bahwa pihaknya tidak menyarankan maupun melarang Muslim mengucapkan &#8216;Selamat Natal&#8217;. (BBC)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur agar Muslim tak ucapkan &#8216;Selamat Natal&#8217; tak menghentikan sekelompok pemuda lintas iman untuk turut berpartisipasi dalam perayaan Natal di Malang. Harum dupa menguar dari balik Gereja Katolik Paroki Santo Vincentius A. Paulo di Malang, Jawa Timur, saat misa Natal, Rabu (25\/12) sore. Puluhan misdinar atau pelayan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":34812,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[4],"class_list":["post-34811","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-natal"],"better_featured_image":{"id":34812,"alt_text":"","caption":"","description":"06206dc8dcd10b0c12f9333385a2a22b","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/tari-sufi-dan-selawat-iringi-misa-natal-upaya-jalin-persahabatan-lintas-iman_5e04e6e619160.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/tari-sufi-dan-selawat-iringi-misa-natal-upaya-jalin-persahabatan-lintas-iman_5e04e6e619160.jpeg?fit=320%2C180&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/tari-sufi-dan-selawat-iringi-misa-natal-upaya-jalin-persahabatan-lintas-iman_5e04e6e619160.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/tari-sufi-dan-selawat-iringi-misa-natal-upaya-jalin-persahabatan-lintas-iman_5e04e6e619160.jpeg?fit=320%2C180&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1257","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34811","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34811"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34811\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34812"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34811"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34811"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34811"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}