{"id":34861,"date":"2026-05-01T18:15:44","date_gmt":"2026-05-01T11:15:44","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/akhir-suatu-hal-lebih-baik-dari-pada-awalnya-pengkhotbah-78\/"},"modified":"2026-05-01T18:15:44","modified_gmt":"2026-05-01T11:15:44","slug":"akhir-suatu-hal-lebih-baik-dari-pada-awalnya-pengkhotbah-78","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/akhir-suatu-hal-lebih-baik-dari-pada-awalnya-pengkhotbah-78\/","title":{"rendered":"Pipinya bagaikan bedeng rempah-rempah, petak-petak rempah-rempah akar. [Kidung Agung 5:13]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Lihatlah, bulan yang penuh bunga telah tiba! Angin Maret dan hujan April telah melaksanakan tugasnya, dan tanah sudah diselimuti keindahan. Datanglah hai jiwaku, kenakanlah pakaian berlibur dan pergilah menjelajah mengumpulkan kalung-kalung bunga dari pikiran-pikiran sorgawi! Engkau mengetahui waktu bagi dirimu sendiri, sebab engkau sangat mengenal bedeng rempah-rempah, dan engkau telah sering mencium bau semerbak dari rempah-rempah akar, sehingga engkau akan segera pergi kepada Dia yang sangat kaukasihi, dan mendapati segala macam keindahan dan sukacita di dalam Dia. Pipi yang pernah dengan kasar dipukuli tongkat, yang sering berlinang air mata simpati, yang dinista dengan air ludah itu \u2014 pipi itulah, sembari tersenyum dengan kemurahan hati, merupakan wewangian yang harum bagi hatiku. Engkau tidak menyembunyikan wajahmu dari penghinaan dan air ludah, O Tuhan Yesus, dan oleh karena itu aku menemukan kesukaan yang terbesar dalam memuji-Mu. Pipi yang kerut oleh kesedihan yang mendalam itu, yang merah oleh guratan-guratan darah yang mengucur dari kepala-Mu yang bermahkota duri; tanda kasih tak terbatas dari-Mu demikianlah yang tidak mungkin tidak memikat jiwaku, jauh lebih kuat daripada banyak tumpukan wewangian. Kalaupun aku tidak dapat melihat seluruh wajah-Nya, aku akan tetap memandang pipi-Nya, oleh karena sekilas saja melihat Dia sudah lebih dari cukup untuk menyegarkan kerohanianku serta menghasilkan beragam kegembiraan. Dalam Yesus, bukan saja aku mendapati wewangian, melainkan sebedeng rempah-rempah; bukan hanya satu akar, melainkan segala jenis rempah-rempah akar yang harum baunya. Bagiku, Dialah Mawarku dan Bunga Bakungku, Kelegaan Hatiku dan Rangkaian Bunga Pacar Airku. Ketika aku bersama-Nya, sepanjang tahun adalah Mei [1] dan jiwaku mulai membasuh wajah yang penuh sukaria oleh embun pagi kasih karunia-Nya, serta menenangkan diri dengan nyanyian burung-burung janji-Nya. Tuhan Yesus yang kuhargai, biarlah aku, dengan tindakanku yang nyata, mengenal kebahagiaan yang berada dalam persekutuan yang erat dan tetap bersama-Mu. Aku adalah seorang malang yang tak bernilai, yang pipinya rela Kaucium! O, biarlah aku mencium Engkau kembali dengan kecupan bibirku! RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Lihatlah, bulan yang penuh bunga telah tiba! Angin Maret dan hujan April telah melaksanakan tugasnya, dan tanah sudah diselimuti keindahan. Datanglah hai jiwaku, kenakanlah pakaian berlibur dan pergilah menjelajah mengumpulkan kalung-kalung bunga dari pikiran-pikiran sorgawi! Engkau mengetahui waktu bagi dirimu sendiri, sebab engkau sangat mengenal bedeng rempah-rempah, dan engkau telah sering mencium bau semerbak dari rempah-rempah akar, sehingga engkau akan segera pergi kepada Dia yang sangat kaukasihi, dan mendapati segala macam keindahan dan sukacita di dalam Dia. Pipi yang pernah dengan kasar dipukuli tongkat, yang sering berlinang air mata simpati, yang dinista dengan air ludah itu \u2014 pipi itulah, sembari tersenyum dengan kemurahan hati, merupakan wewangian yang harum bagi hatiku. Engkau tidak menyembunyikan wajahmu dari penghinaan dan air ludah, O Tuhan Yesus, dan oleh karena itu aku menemukan kesukaan yang terbesar dalam memuji-Mu. Pipi yang kerut oleh kesedihan yang mendalam itu, yang merah oleh guratan-guratan darah yang mengucur dari kepala-Mu yang bermahkota duri; tanda kasih tak terbatas dari-Mu demikianlah yang tidak mungkin tidak memikat jiwaku, jauh lebih kuat daripada banyak tumpukan wewangian. Kalaupun aku tidak dapat melihat seluruh wajah-Nya, aku akan tetap memandang pipi-Nya, oleh karena sekilas saja melihat Dia sudah lebih dari cukup untuk menyegarkan kerohanianku serta menghasilkan beragam kegembiraan. Dalam Yesus, bukan saja aku mendapati wewangian, melainkan sebedeng rempah-rempah; bukan hanya satu akar, melainkan segala jenis rempah-rempah akar yang harum baunya. Bagiku, Dialah Mawarku dan Bunga Bakungku, Kelegaan Hatiku dan Rangkaian Bunga Pacar Airku. Ketika aku bersama-Nya, sepanjang tahun adalah Mei [1] dan jiwaku mulai membasuh wajah yang penuh sukaria oleh embun pagi kasih karunia-Nya, serta menenangkan diri dengan nyanyian burung-burung janji-Nya. Tuhan Yesus yang kuhargai, biarlah aku, dengan tindakanku yang nyata, mengenal kebahagiaan yang berada dalam persekutuan yang erat dan tetap bersama-Mu. Aku adalah seorang malang yang tak bernilai, yang pipinya rela Kaucium! O, biarlah aku mencium Engkau kembali dengan kecupan bibirku!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Lihatlah, bulan yang penuh bunga telah tiba! Angin Maret dan hujan April telah melaksanakan tugasnya, dan tanah sudah diselimuti keindahan. Datanglah hai jiwaku, kenakanlah pakaian berlibur dan pergilah menjelajah mengumpulkan kalung-kalung bunga dari pikiran-pikiran sorgawi! Engkau mengetahui waktu bagi dirimu sendiri, sebab engkau sangat mengenal bedeng rempah-rempah, dan engkau telah sering mencium bau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-34861","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"67","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34861","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34861"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34861\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68968,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34861\/revisions\/68968"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34861"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34861"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34861"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}