{"id":35066,"date":"2025-05-04T08:47:08","date_gmt":"2025-05-04T01:47:08","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/tuhan-keadilan-kita-yeremia-236\/"},"modified":"2025-05-04T08:47:10","modified_gmt":"2025-05-04T01:47:10","slug":"tuhan-keadilan-kita-yeremia-236","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/tuhan-keadilan-kita-yeremia-236\/","title":{"rendered":"Dapatkah manusia membuat allah bagi dirinya sendiri? Yang demikian bukan allah! [Yeremia 16:20]"},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Satu dosa besar yang menempel pada bangsa Israel kuno adalah penyembahan berhala, dan umat Israel rohani pun terganggu oleh kecenderungan pada kebebalan yang sama. Bintang dewa Refan [Kisah Para Rasul 7:43] tidak lagi bersinar, dan perempuan-perempuan tidak lagi menangisi dewa Tamus [Yehezkiel 8:14], tetapi Mamon masih masuk dengan lembu emasnya, dan kuil-kuil kecongkakan belum ditinggalkan. Diri, dalam berbagai bentuknya, berjuang menaklukkan orang-orang pilihan di bawah kuasanya, dan keinginan daging membangun mezbah-mezbahnya sejauh masih ada ruang. Bagi orang-orang percaya, anak-anak yang difavoritkan sering menjadi penyebab perbuatan dosa; Tuhan berduka ketika Ia melihat kita memanjakan mereka melewati batas; mereka akan menjadi sebuah kutukan seperti yang ditimbulkan Absalom kepada Daud, atau mereka akan diambil dari kita dan rumah kita menjadi sunyi sepi. Jika orang-orang Kristen ingin menumbuhkan semak berduri sebagai isi bantal tidur, biarkan mereka memanjakan orang-orang yang mereka kasihi! RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Satu dosa besar yang menempel pada bangsa Israel kuno adalah penyembahan berhala, dan umat Israel rohani pun terganggu oleh kecenderungan pada kebebalan yang sama. Bintang dewa Refan [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Kisah%20Para%20Rasul%207:43\">Kisah Para Rasul 7:43<\/a>] tidak lagi bersinar, dan perempuan-perempuan tidak lagi menangisi dewa Tamus [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Yehezkiel%208:14\">Yehezkiel 8:14<\/a>], tetapi Mamon masih masuk dengan lembu emasnya, dan kuil-kuil kecongkakan belum ditinggalkan. Diri, dalam berbagai bentuknya, berjuang menaklukkan orang-orang pilihan di bawah kuasanya, dan keinginan daging membangun mezbah-mezbahnya sejauh masih ada ruang. Bagi orang-orang percaya, anak-anak yang difavoritkan sering menjadi penyebab perbuatan dosa; Tuhan berduka ketika Ia melihat kita memanjakan mereka melewati batas; mereka akan menjadi sebuah kutukan seperti yang ditimbulkan Absalom kepada Daud, atau mereka akan diambil dari kita dan rumah kita menjadi sunyi sepi. Jika orang-orang Kristen ingin menumbuhkan semak berduri sebagai isi bantal tidur, biarkan mereka memanjakan orang-orang yang mereka kasihi!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Satu dosa besar yang menempel pada bangsa Israel kuno adalah penyembahan berhala, dan umat Israel rohani pun terganggu oleh kecenderungan pada kebebalan yang sama. Bintang dewa Refan [Kisah Para Rasul 7:43] tidak lagi bersinar, dan perempuan-perempuan tidak lagi menangisi dewa Tamus [Yehezkiel 8:14], tetapi Mamon masih masuk dengan lembu emasnya, dan kuil-kuil kecongkakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-35066","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"252","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35066","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35066"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35066\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":67853,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35066\/revisions\/67853"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35066"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35066"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35066"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}