{"id":39922,"date":"2020-10-21T11:07:47","date_gmt":"2020-10-21T04:07:47","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=39922"},"modified":"2020-10-08T01:15:35","modified_gmt":"2020-10-07T18:15:35","slug":"apakah-tujuh-roh-allah-itu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-tujuh-roh-allah-itu\/","title":{"rendered":"Apakah tujuh roh Allah itu?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - \u201cTujuh roh Allah\u201d disebutkan di kitab Wahyu 1:4; 3:1; 4:5; dan 5:6. Tujuh roh Allah tidak diidentifikasi dengan pasti, sehingga mustahil untuk menjadi sesuatu yang dogmatis. Wahyu 1:4 menyebutkan bahwa tujuh roh ada di hadapan takhta Allah. Wahyu 3:1 menyatakan bahwa Yesus Kristus \u201cmemiliki\u201d tujuh roh Allah. Wahyu 4:5 menghubungkan tujuh roh Allah dengan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta Allah. Wahyu 5:6 menyamakan tujuh roh dengan \u201ctujuh mata\u201d Anak Domba dan menyatakan bahwa mereka \u201cdiutus ke seluruh bumi.\u201d Setidaknya ada tiga kemungkinan penafsiran mengenai tujuh roh Allah ini. Pertama, tujuh roh Allah ini merupakan simbol Roh Kudus. Alkitab, khususnya kitab Wahyu, menggunakan angka tujuh untuk menyatakan kesempurnaan dan keutuhan. Angka \u201ctujuh\u201d dalam \u201ctujuh roh,\u201d sudah pasti tidak sedang merujuk pada tujuh roh Allah yang berbeda-beda, melainkan pada keberadaan Roh Kudus yang sempurna dan utuh. Pandangan kedua, tujuh roh Allah ini sedang merujuk pada tujuh malaikat, seperti serafim atau kerubim. Hal ini sesuai dengan banyak malaikat lainnya yang digambarkan di kitab Wahyu (Wahyu 4:6-9; 5:6-14; 19:4-5). Kemungkinan ketiga berdasarkan kitab Yesaya 11:2 yang mengatakan, \u201cRoh TUHAN aka nada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN.\u201d Ini mungkin dapat menjelaskan keberadaan tujuh roh Allah, yaitu: (1) Roh TUHAN, (2) Roh hikmat, (3) Roh pengertian, (4) Roh nasihat, (5) Roh keperkasaan, (6) Roh pengenalan, (7) Roh takut akan Tuhan. Allah memang tidak mengatakan secara spesifik siapa atau apa tujuh roh itu. Penafsiran pertama, yang menyatakan kalau kata ini sedang merujuk pada Roh Kudus, sepertinya yang paling mungkin. (gotquestions)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; \u201cTujuh roh Allah\u201d disebutkan di kitab Wahyu 1:4; 3:1; 4:5; dan 5:6. Tujuh roh Allah tidak diidentifikasi dengan pasti, sehingga mustahil untuk menjadi sesuatu yang dogmatis. Wahyu 1:4 menyebutkan bahwa tujuh roh ada di hadapan takhta Allah. Wahyu 3:1 menyatakan bahwa Yesus Kristus \u201cmemiliki\u201d tujuh roh Allah. Wahyu 4:5 menghubungkan tujuh roh Allah dengan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta Allah. Wahyu 5:6 menyamakan tujuh roh dengan \u201ctujuh mata\u201d Anak Domba dan menyatakan bahwa mereka \u201cdiutus ke seluruh bumi.\u201d<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setidaknya ada tiga kemungkinan penafsiran mengenai tujuh roh Allah ini. Pertama, tujuh roh Allah ini merupakan simbol Roh Kudus. Alkitab, khususnya kitab Wahyu, menggunakan angka tujuh untuk menyatakan kesempurnaan dan keutuhan. Angka \u201ctujuh\u201d dalam \u201ctujuh roh,\u201d sudah pasti tidak sedang merujuk pada tujuh roh Allah yang berbeda-beda, melainkan pada keberadaan Roh Kudus yang sempurna dan utuh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pandangan kedua, tujuh roh Allah ini sedang merujuk pada tujuh malaikat, seperti serafim atau kerubim. Hal ini sesuai dengan banyak malaikat lainnya yang digambarkan di kitab Wahyu (Wahyu 4:6-9; 5:6-14; 19:4-5).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemungkinan ketiga berdasarkan kitab Yesaya 11:2 yang mengatakan, \u201cRoh TUHAN aka nada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN.\u201d Ini mungkin dapat menjelaskan keberadaan tujuh roh Allah, yaitu: (1) Roh TUHAN, (2) Roh hikmat, (3) Roh pengertian, (4) Roh nasihat, (5) Roh keperkasaan, (6) Roh pengenalan, (7) Roh takut akan Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Allah memang tidak mengatakan secara spesifik siapa atau apa tujuh roh itu. Penafsiran pertama, yang menyatakan kalau kata ini sedang merujuk pada Roh Kudus, sepertinya yang paling mungkin. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; \u201cTujuh roh Allah\u201d disebutkan di kitab Wahyu 1:4; 3:1; 4:5; dan 5:6. Tujuh roh Allah tidak diidentifikasi dengan pasti, sehingga mustahil untuk menjadi sesuatu yang dogmatis. Wahyu 1:4 menyebutkan bahwa tujuh roh ada di hadapan takhta Allah. Wahyu 3:1 menyatakan bahwa Yesus Kristus \u201cmemiliki\u201d tujuh roh Allah. Wahyu 4:5 menghubungkan tujuh roh Allah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":47258,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[134,1],"tags":[],"class_list":["post-39922","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab"],"better_featured_image":{"id":47258,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/tujuh_roh_Allah.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/tujuh_roh_Allah.jpg?fit=596%2C448&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/tujuh_roh_Allah.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/tujuh_roh_Allah.jpg?fit=596%2C448&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"9108","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39922","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39922"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39922\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47258"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39922"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39922"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39922"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}