{"id":39979,"date":"2020-06-12T12:19:16","date_gmt":"2020-06-12T05:19:16","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=39979"},"modified":"2020-06-11T00:21:31","modified_gmt":"2020-06-10T17:21:31","slug":"apa-yang-dimaksud-alkitab-dengan-pernyataan-kamu-adalah-allah-di-kitab-mazmur-826-dan-injil-yohanes-1034","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-yang-dimaksud-alkitab-dengan-pernyataan-kamu-adalah-allah-di-kitab-mazmur-826-dan-injil-yohanes-1034\/","title":{"rendered":"Apa yang dimaksud Alkitab dengan pernyataan \u201ckamu adalah allah\u201d di kitab Mazmur 82:6 dan Injil Yohanes 10:34?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Mari kita mulai dengan membedah kitab Mazmur pasal 82, yang dikutip Yesus dalam Injil Yohanes 10:34. Kata \u201cAllah\u201d di kitab Mazmur 82:6 diterjemahkan dari kata Ibrani \u201celohim.\u201d Kata \u201celohim\u201d ini biasanya digunakan untuk merujuk pada Allah sejati yang esa, walaupun juga digunakan untuk merujuk pada hal lain. Kitab Mazmur 82:1 menyatakan, \u201cAllah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah Ia menghakimi.\u201d Dari tiga ayat berikutnya di bagian ini, kata \u201callah-allah\u201d merujuk pada \u201chakim dan orang-orang yang memiliki posisi berkuasa dan memerintah.\u201d Menyebut hakim di bumi sebagai \u201callah\u201d mengindikasikan tiga hal: 1) ia memiliki wewenang atas orang lain, 2) wewenang yang ia gunakan sebagai penguasa sipil harus ditakuti, dan 3) ia mendapat kuasa dan wewenangnya dari Allah sendiri, yang digambarkan menghakimi seluruh bumi di ayat 8. Penggunaan kata \u201callah-allah\u201d yang merujuk kepada manusia memang jarang, tetapi bisa ditemukan di beberapa bagian di Perjanjian Lama. Contohnya, ketika Allah mengirimkan Musa kepada Firaun, Dia berfirman, \u201cLihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun\u201d (Kel 7:1). Musa, sebagai utusan Allah, menyampaikan Firman Tuhan sehingga saat itu dianggap sebagai perwakilan Allah bagi raja. Kata Ibrani \u201celohim\u201d juga diterjemahkan menjadi \u201chakim-hakim\u201d di kitab Keluaran 21:6 dan 22:8, 9, dan 28. Kitab Mazmur pasal 82 ini pada intinya mengajarkan kalau hakim-hakim di dunia harus bertindak dengan tidak memihak dan menjunjung keadilan. Para hakim ini pada akhirnya harus menghadap Sang Hakim juga. Ayat 6 dan 7 memperingatkan para hakim di dunia ini bahwa mereka juga akan dihakimi satu hari kelak. \u201cAku sendiri telah berfirman: \u2018Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.\u2019 Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas.\u201d Ayat ini menyatakan kalau Allah mengangkat manusia pada posisi berkuasa dimana mereka dianggap sebagai allah-allah di antara manusia lainnya. Meski mereka mewakili Allah di bumi ini, mereka diingatkan kalau mereka tetaplah hanya manusia. Pada akhirnya, mereka harus mempertanggungjawabkan kepada Allah bagaimana mereka telah menggunakan wewenang tersebut. Sekarang, mari kita lihat bagaimana Yesus menggunakan perikop ini. Yesus telah menyatakan diri-Nya sebagai Anak Allah (Yoh 10:25-30). Orang-orang Yahudi yang tidak percaya malah merespon dengan menuduh Yesus menghujat Allah karena Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah (ayat 33). Yesus kemudian mengutip kitab Mazmur 82:6 ini. Yesus mengingatkan orang-orang Yahudi kalau hukum Taurat juga merujuk manusia \u2013 yang memiliki wewenang dan kehormatan \u2013 sebagai \u201callah-allah.\u201d Maksud Yesus di bagian ini ialah: kalian mendakwa Aku menghujat Allah karena memakai sebutan \u201cAnak Allah.\u201d Tapi, Kitab Suci yang kalian pegang juga memakai istilah yang sama untuk merujuk pada hakim di dunia. Jika para hakim ini dapat disebut sebagai \u201callah-allah,\u201d apalagi Aku yang dipilih dan diutus oleh Allah? Sebaliknya, kita perlu pahami kebohongan ular pada Hawa di Taman Eden. Dia menyatakan, \u201cmatamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat\u201d (Kej 3:5). Ini merupakan kebenaran yang hanya sebagian benarnya. Mata mereka memang terbuka (ayat 7), tetapi mereka tidak menjadi seperti Allah. Justru, mereka kehilangan wewenang, bukannya mendapatkannya. Iblis memperdaya Hawa bahwa dia bisa menjadi seperti Allah yang sejati. Iblis menjeratnya dengan kebohongan. Sebaliknya, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Anak Allah berdasarkan kebenaran Alkitab. Saat itu, memang sudah ada pemahaman kalau \u201corang-orang yang berpengaruh\u201d bisa disebut sebagai allah-allah. Jadi, Mesias seharusnya sah-sah saja memakai istilah itu bagi diri-Nya sendiri. Manusia bukanlah \u201callah\u201d ataupun \u201callah kecil.\u201d Kita bukanlah Allah. Allah ialah Allah. Kita yang beriman-percaya pada Kristus adalah anak-anak-Nya.(gotquestions.org)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Mari kita mulai dengan membedah kitab Mazmur pasal 82, yang dikutip Yesus dalam Injil Yohanes 10:34. Kata \u201cAllah\u201d di kitab Mazmur 82:6 diterjemahkan dari kata Ibrani \u201celohim.\u201d Kata \u201celohim\u201d ini biasanya digunakan untuk merujuk pada Allah sejati yang esa, walaupun juga digunakan untuk merujuk pada hal lain.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Kitab Mazmur 82:1 menyatakan, \u201cAllah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah Ia menghakimi.\u201d Dari tiga ayat berikutnya di bagian ini, kata \u201callah-allah\u201d merujuk pada \u201chakim dan orang-orang yang memiliki posisi berkuasa dan memerintah.\u201d<\/p>\n<p>Menyebut hakim di bumi sebagai \u201callah\u201d mengindikasikan tiga hal: 1) ia memiliki wewenang atas orang lain, 2) wewenang yang ia gunakan sebagai penguasa sipil harus ditakuti, dan 3) ia mendapat kuasa dan wewenangnya dari Allah sendiri, yang digambarkan menghakimi seluruh bumi di ayat 8.<\/p>\n<p>Penggunaan kata \u201callah-allah\u201d yang merujuk kepada manusia memang jarang, tetapi bisa ditemukan di beberapa bagian di Perjanjian Lama. Contohnya, ketika Allah mengirimkan Musa kepada Firaun, Dia berfirman, \u201cLihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun\u201d (Kel 7:1). Musa, sebagai utusan Allah, menyampaikan Firman Tuhan sehingga saat itu dianggap sebagai perwakilan Allah bagi raja. Kata Ibrani \u201celohim\u201d juga diterjemahkan menjadi \u201chakim-hakim\u201d di kitab Keluaran 21:6 dan 22:8, 9, dan 28.<\/p>\n<p>Kitab Mazmur pasal 82 ini pada intinya mengajarkan kalau hakim-hakim di dunia harus bertindak dengan tidak memihak dan menjunjung keadilan. Para hakim ini pada akhirnya harus menghadap Sang Hakim juga. Ayat 6 dan 7 memperingatkan para hakim di dunia ini bahwa mereka juga akan dihakimi satu hari kelak. \u201cAku sendiri telah berfirman: \u2018Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.\u2019 Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas.\u201d<\/p>\n<p>Ayat ini menyatakan kalau Allah mengangkat manusia pada posisi berkuasa dimana mereka dianggap sebagai allah-allah di antara manusia lainnya. Meski mereka mewakili Allah di bumi ini, mereka diingatkan kalau mereka tetaplah hanya manusia. Pada akhirnya, mereka harus mempertanggungjawabkan kepada Allah bagaimana mereka telah menggunakan wewenang tersebut.<\/p>\n<p>Sekarang, mari kita lihat bagaimana Yesus menggunakan perikop ini. Yesus telah menyatakan diri-Nya sebagai Anak Allah (Yoh 10:25-30). Orang-orang Yahudi yang tidak percaya malah merespon dengan menuduh Yesus menghujat Allah karena Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah (ayat 33). Yesus kemudian mengutip kitab Mazmur 82:6 ini. Yesus mengingatkan orang-orang Yahudi kalau hukum Taurat juga merujuk manusia \u2013 yang memiliki wewenang dan kehormatan \u2013 sebagai \u201callah-allah.\u201d<\/p>\n<p>Maksud Yesus di bagian ini ialah: kalian mendakwa Aku menghujat Allah karena memakai sebutan \u201cAnak Allah.\u201d Tapi, Kitab Suci yang kalian pegang juga memakai istilah yang sama untuk merujuk pada hakim di dunia. Jika para hakim ini dapat disebut sebagai \u201callah-allah,\u201d apalagi Aku yang dipilih dan diutus oleh Allah?<\/p>\n<p>Sebaliknya, kita perlu pahami kebohongan ular pada Hawa di Taman Eden. Dia menyatakan, \u201cmatamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat\u201d (Kej 3:5). Ini merupakan kebenaran yang hanya sebagian benarnya. Mata mereka memang terbuka (ayat 7), tetapi mereka tidak menjadi seperti Allah. Justru, mereka kehilangan wewenang, bukannya mendapatkannya.<\/p>\n<p>Iblis memperdaya Hawa bahwa dia bisa menjadi seperti Allah yang sejati. Iblis menjeratnya dengan kebohongan. Sebaliknya, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Anak Allah berdasarkan kebenaran Alkitab. Saat itu, memang sudah ada pemahaman kalau \u201corang-orang yang berpengaruh\u201d bisa disebut sebagai allah-allah. Jadi, Mesias seharusnya sah-sah saja memakai istilah itu bagi diri-Nya sendiri.<\/p>\n<p>Manusia bukanlah \u201callah\u201d ataupun \u201callah kecil.\u201d Kita bukanlah Allah. Allah ialah Allah. Kita yang beriman-percaya pada Kristus adalah anak-anak-Nya.(gotquestions.org)<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Mari kita mulai dengan membedah kitab Mazmur pasal 82, yang dikutip Yesus dalam Injil Yohanes 10:34. Kata \u201cAllah\u201d di kitab Mazmur 82:6 diterjemahkan dari kata Ibrani \u201celohim.\u201d Kata \u201celohim\u201d ini biasanya digunakan untuk merujuk pada Allah sejati yang esa, walaupun juga digunakan untuk merujuk pada hal lain. Kitab Mazmur 82:1 menyatakan, \u201cAllah berdiri dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":35771,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[134],"tags":[],"class_list":["post-39979","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika"],"better_featured_image":{"id":35771,"alt_text":"","caption":"","description":"f2428b7f1885827a36bf2dc6da45c8c0","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/wajah-allah_5e3454589564d.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/wajah-allah_5e3454589564d.jpeg?fit=700%2C525&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/wajah-allah_5e3454589564d.jpeg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/wajah-allah_5e3454589564d.jpeg?fit=700%2C525&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2962","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39979","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39979"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39979\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35771"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39979"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39979"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39979"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}