{"id":40070,"date":"2021-04-03T10:42:27","date_gmt":"2021-04-03T03:42:27","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=40070"},"modified":"2021-04-03T10:42:32","modified_gmt":"2021-04-03T03:42:32","slug":"apakah-yang-terjadi-di-taman-getsemani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-yang-terjadi-di-taman-getsemani\/","title":{"rendered":"Apakah yang terjadi di Taman Getsemani?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -\u00a0 Taman Getsemani, tempat yang secara harafiah berarti &quot;tempat pemerasan minyak,&quot; berada di lereng Bukit Zaitun di seberang Lembah Kidron dari Yerusalem. Sebuah taman berisi sekelompok pohon zaitun tua yang masih ada pada zaman ini. Yesus sering pergi ke Getsemani bersama para murid-Nya untuk berdoa (Yohanes 18:2). Peristiwa yang paling terkenal di Getsemani terjadi pada malam menjelang penyaliban-Nya ketika Yesus dikhianati. Semua penulis Injil menggambarkan peristiwa malam itu secara berbeda, sehingga membaca semuanya (Matius 26:36-56; Markus 14:32-52; Lukas 22:39-53; Yohanes 18:1-11) dapat memberi gambaran yang tepat secara keseluruhan. Pada permulaan malam itu, setelah Yesus dan para murid-Nya merayakan Paskah Yahudi, mereka pergi ke taman itu. Pada suatu waktu, Yesus membawa tiga di antaranya \u2013 Petrus, Yakobus, dan Yohanes \u2013 ke tempat tersendiri. Di tempat itu Yesus meminta mereka berjaga-jaga menemani-Nya dan berdoa supaya mereka tidak jatuh ke dalam percobaan (Matius 26:41), namun mereka tertidur. Dua kali Yesus harus membangunkan mereka dan mengingatkan mereka untuk berdoa supaya mereka tidak jatuh ke dalam percobaan. Peringatan Yesus begitu mengena karena kenyataannya Petrus benar jatuh ke dalam percobaan malam itu ketika ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Yesus menjauh sedikit dari ketiga murid-Nya untuk berdoa, dan dua kali Ia berdoa meminta supaya diloloskan dari cawan murka sang Bapa, namun tiap kali Ia tunduk kepada kehendak Bapa-Nya. Ia &quot;sangat sedih, seperti mau mati&quot; (Matius 26:38), namun Allah mengutus malaikat dari surga untuk menguatkan-Nya (Lukas 22:43). Setelah ini, Yudas Iskariot, sang pengkhianat, datang bersama &quot;serombongan&quot; prajurit, imam besar, Farisi, dan hamba-hambanya untuk menangkap Yesus. Yudas menunjuk Yesus dengan isyarat ciuman. Dalam upayanya melindungi Yesus, Petrus mengambil pedang dan menyerang seorang pria bernama Malkhus, hamba imam besar, dan memutuskan telinganya. Yesus mengecam Petrus dan menyembuhkan telinga orang itu. Cukup mengejutkan bahwa kerumuman orang itu tidak terkesan melihat mujizat pemulihan tersebut. Meskipun mereka berjatuhan ke tanah, mereka tidak gentar mengamati kuasa-Nya, baik itu dalam perubahan wujud-Nya atau kuasa ucapan-Nya, yang digambarkan dalam Yohanes 18:5-6. Pada akhirnya, Ia tetap ditangkap dan dibawa ke Pontius Pilatus, sedangkan para murid-Nya melarikan diri. Peristiwa yang terjadi di Taman Getsemani terus menggema selama ribuan tahun. Gairah, perilaku dan tindakan Yesus pada malam mengegerkan itu telah dikemas dalam bentuk musik, buku, maupun tayangan film. Pada abad ke-16, Bach menggubah dua oratorio yang istimewa berdasarkan kisah injil Matius dan Yohanes, sampai pada zaman ini melalui film The Passion of the Christ, kisah malam yang luar biasa ini diberitakan berulang kali. Bahkan kiasan seperti &quot;barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang&quot; (Matius 26:52); &quot;roh memang penurut, tetapi daging lemah&quot; (Markus 14:38); dan &quot;Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah&quot; (Lukas 22:44) sudah menjadi bahasa sehari-hari. Yang terpenting dari malam itu ialah bahwa Juruselamat kita bersedia melunasi hutang hukuman dosa kita dengan mati di atas kayu salib. &quot;Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah&quot; (2 Korintus 5:21). Inilah injil Yesus Kristus. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211;\u00a0 Taman Getsemani, tempat yang secara harafiah berarti &#8220;tempat pemerasan minyak,&#8221; berada di lereng Bukit Zaitun di seberang Lembah Kidron dari Yerusalem. Sebuah taman berisi sekelompok pohon zaitun tua yang masih ada pada zaman ini. Yesus sering pergi ke Getsemani bersama para murid-Nya untuk berdoa (Yohanes 18:2). Peristiwa yang paling terkenal di Getsemani terjadi pada malam menjelang penyaliban-Nya ketika Yesus dikhianati. Semua penulis Injil menggambarkan peristiwa malam itu secara berbeda, sehingga membaca semuanya (Matius 26:36-56; Markus 14:32-52; Lukas 22:39-53; Yohanes 18:1-11) dapat memberi gambaran yang tepat secara keseluruhan.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Pada permulaan malam itu, setelah Yesus dan para murid-Nya merayakan Paskah Yahudi, mereka pergi ke taman itu. Pada suatu waktu, Yesus membawa tiga di antaranya \u2013 Petrus, Yakobus, dan Yohanes \u2013 ke tempat tersendiri. Di tempat itu Yesus meminta mereka berjaga-jaga menemani-Nya dan berdoa supaya mereka tidak jatuh ke dalam percobaan (Matius 26:41), namun mereka tertidur. Dua kali Yesus harus membangunkan mereka dan mengingatkan mereka untuk berdoa supaya mereka tidak jatuh ke dalam percobaan. Peringatan Yesus begitu mengena karena kenyataannya Petrus benar jatuh ke dalam percobaan malam itu ketika ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Yesus menjauh sedikit dari ketiga murid-Nya untuk berdoa, dan dua kali Ia berdoa meminta supaya diloloskan dari cawan murka sang Bapa, namun tiap kali Ia tunduk kepada kehendak Bapa-Nya. Ia &#8220;sangat sedih, seperti mau mati&#8221; (Matius 26:38), namun Allah mengutus malaikat dari surga untuk menguatkan-Nya (Lukas 22:43).<\/p>\n<p>Setelah ini, Yudas Iskariot, sang pengkhianat, datang bersama &#8220;serombongan&#8221; prajurit, imam besar, Farisi, dan hamba-hambanya untuk menangkap Yesus. Yudas menunjuk Yesus dengan isyarat ciuman. Dalam upayanya melindungi Yesus, Petrus mengambil pedang dan menyerang seorang pria bernama Malkhus, hamba imam besar, dan memutuskan telinganya. Yesus mengecam Petrus dan menyembuhkan telinga orang itu. Cukup mengejutkan bahwa kerumuman orang itu tidak terkesan melihat mujizat pemulihan tersebut. Meskipun mereka berjatuhan ke tanah, mereka tidak gentar mengamati kuasa-Nya, baik itu dalam perubahan wujud-Nya atau kuasa ucapan-Nya, yang digambarkan dalam Yohanes 18:5-6. Pada akhirnya, Ia tetap ditangkap dan dibawa ke Pontius Pilatus, sedangkan para murid-Nya melarikan diri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peristiwa yang terjadi di Taman Getsemani terus menggema selama ribuan tahun. Gairah, perilaku dan tindakan Yesus pada malam mengegerkan itu telah dikemas dalam bentuk musik, buku, maupun tayangan film. Pada abad ke-16, Bach menggubah dua oratorio yang istimewa berdasarkan kisah injil Matius dan Yohanes, sampai pada zaman ini melalui film <i>The Passion of the Christ<\/i>, kisah malam yang luar biasa ini diberitakan berulang kali. Bahkan kiasan seperti &#8220;barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang&#8221; (Matius 26:52); &#8220;roh memang penurut, tetapi daging lemah&#8221; (Markus 14:38); dan &#8220;Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah&#8221; (Lukas 22:44) sudah menjadi bahasa sehari-hari. Yang terpenting dari malam itu ialah bahwa Juruselamat kita bersedia melunasi hutang hukuman dosa kita dengan mati di atas kayu salib. &#8220;Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah&#8221; (2 Korintus 5:21). Inilah injil Yesus Kristus. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211;\u00a0 Taman Getsemani, tempat yang secara harafiah berarti &#8220;tempat pemerasan minyak,&#8221; berada di lereng Bukit Zaitun di seberang Lembah Kidron dari Yerusalem. Sebuah taman berisi sekelompok pohon zaitun tua yang masih ada pada zaman ini. Yesus sering pergi ke Getsemani bersama para murid-Nya untuk berdoa (Yohanes 18:2). Peristiwa yang paling terkenal di Getsemani terjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":54802,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1],"tags":[425,432,407],"class_list":["post-40070","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","tag-jumat-agung","tag-passion","tag-passover"],"better_featured_image":{"id":54802,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/Taman-Getsemani.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/Taman-Getsemani.png?fit=768%2C432&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/Taman-Getsemani.png"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/Taman-Getsemani.png?fit=1280%2C720&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"5164","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40070","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40070"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40070\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54802"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40070"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40070"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40070"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}