{"id":40187,"date":"2026-06-03T18:15:44","date_gmt":"2026-06-03T11:15:44","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/seperti-tuhan-mencintai-hosea-31\/"},"modified":"2026-06-03T18:15:45","modified_gmt":"2026-06-03T11:15:45","slug":"seperti-tuhan-mencintai-hosea-31","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/seperti-tuhan-mencintai-hosea-31\/","title":{"rendered":"Mereka ini adalah tukang-tukang periuk yang diam di Netaim dan Gedera; mereka diam di sana dan bekerja untuk raja. [1 Taw 4:23]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Tukang periuk bukan pekerja yang tarafnya tertinggi, tapi &quot;raja&quot; memerlukan tukang periuk, karena itulah mereka dalam jawatan kerajaan, meskipun bahan yang mereka kerjakan bukan apa-apa, hanyalah tanah liat. Kita pun, mungkin dipekerjakan dalam bagian yang terendah dalam pekerjaan Tuhan, tapi tetap saja itu hak istimewa untuk melakukan hal apa pun untuk &quot;raja&quot;; dan karena itulah kita tinggal diam dalam panggilan kita, sambil berharap bahwa, &quot;[kita] berbaring di antara kandang-kandang, [kita akan menjadi] sayap-sayap merpati bersalut dengan perak, bulu kepaknya dengan emas berkilau-kilauan.&quot; [Maz 68:14] Teks ini berkata kepada kita yang diam di Netaim [tumbuh-tumbuhan] dan Gedera [tembok-tembok], dengan pekerjaan kita yang kasar, kampungan, dan berurusan dengan pagar dan parit. Mereka mungkin lebih ingin tinggal di kota, dengan kehidupannya, masyarakatnya, dan keadabannya, tapi mereka tetap ditahan pada tempat yang sudah ditentukan bagi mereka, karena mereka melakukan pekerjaan raja. Tempat di mana kita ditempatkan sudah ditetapkan, dan kita tidak seharusnya keluar dari situ dengan banyak tingkah, tapi berusaha melayani Tuhan dari dalam sana, dengan menjadi berkat bagi mereka yang bersamanya kita tinggal. Tukang-tukang periuk dan pekebun-pekebun itu memiliki teman kerajaan, karena mereka &quot;tinggal bersama raja&quot; dan walaupun tinggal di antara tembok-tembok dan tumbuh-tumbuhan, mereka tinggal bersama dengan raja di sana. Tidak ada tempat yang taat hukum, atau pekerjaan yang berkenan, sehina apapun, bisa menghalangi kita dari persekutuan dengan Tuan ilahi kita. Walaupun dalam gubuk singgahan, losmen keliaran, rumah sosial, maupun penjara, kita dapat berjalan bersama raja. Dalam segala pekerjaan iman kita dapat bergantung pada persekutuan kita dengan Yesus. Hanya ketika kita berada dalam pekerjaan-Nya kita bisa mengingat akan senyum-Nya. Engkau, hai pekerja-pekerja yang tidak dikenal, yang mengerjakan pekerjaan Tuhanmu di tengah-tengah debu dan kepahitan yang terendah di antara yang terendah, kuatkanlah hatimu, karena permata sudah ditemukan di antara tahi hewan sebelum saat ini, guci tanah sudah diisi dengan harta surgawi, dan rumput liar sudah diubahkan menjadi bunga-bunga yang berharga. Tinggallah engkau bersama Raja demi pekerjaan-Nya, dan ketika Dia menulis tawarikh-Nya, namamu akan dicatat. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Tukang periuk bukan pekerja yang tarafnya tertinggi, tapi &#8220;raja&#8221; memerlukan tukang periuk, karena itulah mereka dalam jawatan kerajaan, meskipun bahan yang mereka kerjakan bukan apa-apa, hanyalah tanah liat. Kita pun, mungkin dipekerjakan dalam bagian yang terendah dalam pekerjaan Tuhan, tapi tetap saja itu hak istimewa untuk melakukan hal apa pun untuk &#8220;raja&#8221;; dan karena itulah kita tinggal diam dalam panggilan kita, sambil berharap bahwa, &#8220;[kita] berbaring di antara kandang-kandang, [kita akan menjadi] sayap-sayap merpati bersalut dengan perak, bulu kepaknya dengan emas berkilau-kilauan.&#8221; [<a href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/?Maz%2068:14\">Maz 68:14<\/a>] Teks ini berkata kepada kita yang <i>diam di Netaim [tumbuh-tumbuhan] dan Gedera [tembok-tembok]<\/i>, dengan pekerjaan kita yang kasar, kampungan, dan berurusan dengan pagar dan parit. Mereka mungkin lebih ingin tinggal di kota, dengan kehidupannya, masyarakatnya, dan keadabannya, tapi mereka tetap ditahan pada tempat yang sudah ditentukan bagi mereka, karena mereka melakukan pekerjaan raja. Tempat di mana kita ditempatkan sudah ditetapkan, dan kita tidak seharusnya keluar dari situ dengan banyak tingkah, tapi berusaha melayani Tuhan dari dalam sana, dengan menjadi berkat bagi mereka yang bersamanya kita tinggal. Tukang-tukang periuk dan pekebun-pekebun itu memiliki <i>teman kerajaan<\/i>, karena mereka &#8220;tinggal bersama raja&#8221; dan walaupun tinggal di antara tembok-tembok dan tumbuh-tumbuhan, mereka tinggal bersama dengan raja <i>di sana<\/i>. Tidak ada tempat yang taat hukum, atau pekerjaan yang berkenan, sehina apapun, bisa menghalangi kita dari persekutuan dengan Tuan ilahi kita. Walaupun dalam gubuk singgahan, losmen keliaran, rumah sosial, maupun penjara, kita dapat berjalan <i>bersama raja<\/i>. Dalam segala pekerjaan iman kita dapat bergantung pada persekutuan kita dengan Yesus. Hanya ketika kita berada dalam pekerjaan-Nya kita bisa mengingat akan senyum-Nya. Engkau, hai pekerja-pekerja yang tidak dikenal, yang mengerjakan pekerjaan Tuhanmu di tengah-tengah debu dan kepahitan yang terendah di antara yang terendah, kuatkanlah hatimu, karena permata sudah ditemukan di antara tahi hewan sebelum saat ini, guci tanah sudah diisi dengan harta surgawi, dan rumput liar sudah diubahkan menjadi bunga-bunga yang berharga. Tinggallah engkau bersama Raja demi pekerjaan-Nya, dan ketika Dia menulis tawarikh-Nya, namamu akan dicatat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Tukang periuk bukan pekerja yang tarafnya tertinggi, tapi &#8220;raja&#8221; memerlukan tukang periuk, karena itulah mereka dalam jawatan kerajaan, meskipun bahan yang mereka kerjakan bukan apa-apa, hanyalah tanah liat. Kita pun, mungkin dipekerjakan dalam bagian yang terendah dalam pekerjaan Tuhan, tapi tetap saja itu hak istimewa untuk melakukan hal apa pun untuk &#8220;raja&#8221;; dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-40187","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"25","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40187","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40187"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40187\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":69052,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40187\/revisions\/69052"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40187"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40187"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40187"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}