{"id":40530,"date":"2020-06-11T11:58:55","date_gmt":"2020-06-11T04:58:55","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=40530"},"modified":"2020-06-09T15:04:05","modified_gmt":"2020-06-09T08:04:05","slug":"apa-itu-christian-science","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-itu-christian-science\/","title":{"rendered":"Apa itu Christian Science?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Christian Science dirintis oleh Mary Baker Eddy (1821-1910) yang mempelopori ide baru mengenai hubungan antara spiritualitas dan kesehatan. Terinspirasi oleh pengalamannya sendiri soal kesembuhan pada 1866, bertahun-tahun lamanya Eddy melakukan penelitian terhadap berbagai metode penyembuhan melalui pendekatan Alkitab dan doa. Hasil penelitiannya berupa sistem penyembuhan yang dia sebut sebagai \u201cChristian Science\u201d pada 1879. Bukunya, Science and Health with Key to the Scriptures, membuka pengertian baru mengenai hubungan antara jiwa-tubuh-roh. Dia juga mendirikan perguruan tinggi, gereja, perusahaan penerbitan dan surat kabar ternama, \u201cThe Christian Science Monitor.\u201d Karena kesamaannya dengan kelompok-kelompok bidat lainnya, banyak pihak yang memandang Christian Science sebagai bidat; bukan salah satu aliran dalam kekristenan. Christian Science menyatakan bahwa Allah \u2013 Bapa dan Ibu segalanya \u2013 itu sangat baik dan rohani . Semua ciptaan Allah, termasuk natur yang sejati dari setiap orang, merupakan keserupaan dengan Allah secara rohani tanpa cela. Karena ciptaan Allah itu baik adanya, kejahatan seperti penyakit, kematian dan dosa bukanlah bagian dari realitas fundamental. Sebaliknya, kejahatan ini merupakan akibat dari hidup terpisah dari Allah. Doa merupakan jalan utama bagi seseorang supaya bisa lebih dekat kepada Allah, sehingga bisa menyembuhkan penyakit manusia. Ini berbeda dengan ajaran Alkitab yang mengajarkan bahwa manusia dilahirkan dalam dosa, yang diwarisi dari kejatuhan Adam, yang sekaligus telah memisahkan kita dari Allah. Tanpa anugerah penyelamatan Allah, melalui kematian Kristus di atas kayu salib, kita tidak akan pernah disembuhkan dari penyakit yang paling utama - dosa. Bukannya mengajarkan bahwa Yesus menyembuhkan sakit rohani kita (lihat Yesaya 53:5), penganut Christian Science melihat pelayanan Yesus sebagai paradigma mereka mengenai penyembuhan; percaya bahwa hal itu menunjukkan sentralitas penyembuhan dalam kaitannya dengan keselamatan. Penganut Christian Science berdoa supaya bisa mewujudkan realitas dan kasih Allah setiap harinya; supaya ia bisa mengalami sendiri sehingga bisa menolong orang lain mengalami dampak pengharmonisan dan penyembuhan melalui pemahaman ini. Bagi kebanyakan penganut Christian Science, kesembuhan rohani merupakan pilihan pertama yang efektif. Karena itu, mereka lebih memilih percaya pada kuasa doa, alih-alih perawatan medis. Pihak berwenang kadang-kadang mempertanyakan pendekatan ini, khususnya dalam keadaan di mana perawatan kesehatan tidak dilakukan kepada anak kecil. Namun, tidak ada kebijakan resmi mereka yang mewajibkan soal ini. Christian Science tidak memiliki pendeta. Sebaliknya, Alkitab dan Science and Health berperan sebagai pendeta dan pengkhotbah. Pelajaran Alkitab dilakukan setiap hari dan dibacakan secara nyaring pada hari Minggu oleh dua orang awam yang dipilih di setiap jemaat setempat. \u201cGereja\u201d Christian Science juga melakukan kebaktian kesaksian mingguan, di mana anggota jemaat menceritakan pengalaman mereka dengan penyembuhan dan regenerasi. Dari semua bidat &quot;Kristen\u201d yang ada, \u201cChristian Science\u201d merupakan yang paling tidak akurat untuk diberi nama seperti itu. Christian Science sama sekali tidak bisa dikategorikan sebagai salah satu aliran dalam kekristenan. Christian Science menyangkal semua doktrin inti yang membuat sistem kepercayaan itu bisa disebut &quot;Kristen.&quot; Christian Science, pada faktanya, justru berlawanan dengan sains dan lebih mirip kepada spiritualitas zaman-baru yang mistis sebagai jalan bagi kesembuhan fisik dan rohani. Christian Science harusnya dilihat sebagai bidat, dan karena itu harus ditolak. (gotquestions.org)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Christian Science dirintis oleh Mary Baker Eddy (1821-1910) yang mempelopori ide baru mengenai hubungan antara spiritualitas dan kesehatan. Terinspirasi oleh pengalamannya sendiri soal kesembuhan pada 1866, bertahun-tahun lamanya Eddy melakukan penelitian terhadap berbagai metode penyembuhan melalui pendekatan Alkitab dan doa.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Hasil penelitiannya berupa sistem penyembuhan yang dia sebut sebagai \u201cChristian Science\u201d pada 1879. Bukunya, Science and Health with Key to the Scriptures, membuka pengertian baru mengenai hubungan antara jiwa-tubuh-roh. Dia juga mendirikan perguruan tinggi, gereja, perusahaan penerbitan dan surat kabar ternama, \u201cThe Christian Science Monitor.\u201d<\/p>\n<p>Karena kesamaannya dengan kelompok-kelompok bidat lainnya, banyak pihak yang memandang Christian Science sebagai bidat; bukan salah satu aliran dalam kekristenan.<\/p>\n<p>Christian Science menyatakan bahwa Allah \u2013 Bapa dan Ibu segalanya \u2013 itu sangat baik dan rohani . Semua ciptaan Allah, termasuk natur yang sejati dari setiap orang, merupakan keserupaan dengan Allah secara rohani tanpa cela. Karena ciptaan Allah itu baik adanya, kejahatan seperti penyakit, kematian dan dosa bukanlah bagian dari realitas fundamental.<\/p>\n<p>Sebaliknya, kejahatan ini merupakan akibat dari hidup terpisah dari Allah. Doa merupakan jalan utama bagi seseorang supaya bisa lebih dekat kepada Allah, sehingga bisa menyembuhkan penyakit manusia.<\/p>\n<p>Ini berbeda dengan ajaran Alkitab yang mengajarkan bahwa manusia dilahirkan dalam dosa, yang diwarisi dari kejatuhan Adam, yang sekaligus telah memisahkan kita dari Allah. Tanpa anugerah penyelamatan Allah, melalui kematian Kristus di atas kayu salib, kita tidak akan pernah disembuhkan dari penyakit yang paling utama &#8211; dosa.<\/p>\n<p>Bukannya mengajarkan bahwa Yesus menyembuhkan sakit rohani kita (lihat Yesaya 53:5), penganut Christian Science melihat pelayanan Yesus sebagai paradigma mereka mengenai penyembuhan; percaya bahwa hal itu menunjukkan sentralitas penyembuhan dalam kaitannya dengan keselamatan.<\/p>\n<p>Penganut Christian Science berdoa supaya bisa mewujudkan realitas dan kasih Allah setiap harinya; supaya ia bisa mengalami sendiri sehingga bisa menolong orang lain mengalami dampak pengharmonisan dan penyembuhan melalui pemahaman ini.<\/p>\n<p>Bagi kebanyakan penganut Christian Science, kesembuhan rohani merupakan pilihan pertama yang efektif. Karena itu, mereka lebih memilih percaya pada kuasa doa, alih-alih perawatan medis.<\/p>\n<p>Pihak berwenang kadang-kadang mempertanyakan pendekatan ini, khususnya dalam keadaan di mana perawatan kesehatan tidak dilakukan kepada anak kecil. Namun, tidak ada kebijakan resmi mereka yang mewajibkan soal ini.<\/p>\n<p>Christian Science tidak memiliki pendeta. Sebaliknya, Alkitab dan Science and Health berperan sebagai pendeta dan pengkhotbah.<\/p>\n<p>Pelajaran Alkitab dilakukan setiap hari dan dibacakan secara nyaring pada hari Minggu oleh dua orang awam yang dipilih di setiap jemaat setempat. \u201cGereja\u201d Christian Science juga melakukan kebaktian kesaksian mingguan, di mana anggota jemaat menceritakan pengalaman mereka dengan penyembuhan dan regenerasi.<\/p>\n<p>Dari semua bidat &#8220;Kristen\u201d yang ada, \u201cChristian Science\u201d merupakan yang paling tidak akurat untuk diberi nama seperti itu.<\/p>\n<p>Christian Science sama sekali tidak bisa dikategorikan sebagai salah satu aliran dalam kekristenan. Christian Science menyangkal semua doktrin inti yang membuat sistem kepercayaan itu bisa disebut &#8220;Kristen.&#8221;<\/p>\n<p>Christian Science, pada faktanya, justru berlawanan dengan sains dan lebih mirip kepada spiritualitas zaman-baru yang mistis sebagai jalan bagi kesembuhan fisik dan rohani.<\/p>\n<p>Christian Science harusnya dilihat sebagai bidat, dan karena itu harus ditolak. (gotquestions.org)<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Christian Science dirintis oleh Mary Baker Eddy (1821-1910) yang mempelopori ide baru mengenai hubungan antara spiritualitas dan kesehatan. Terinspirasi oleh pengalamannya sendiri soal kesembuhan pada 1866, bertahun-tahun lamanya Eddy melakukan penelitian terhadap berbagai metode penyembuhan melalui pendekatan Alkitab dan doa. Hasil penelitiannya berupa sistem penyembuhan yang dia sebut sebagai \u201cChristian Science\u201d pada 1879. Bukunya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46160,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134],"tags":[119,120,121],"class_list":["post-40530","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","tag-bidat","tag-cult","tag-new-age"],"better_featured_image":{"id":46160,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Christian-Science.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Christian-Science.jpg?fit=275%2C183&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Christian-Science.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Christian-Science.jpg?fit=275%2C183&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2629","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40530","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40530"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40530\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46160"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40530"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40530"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40530"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}