{"id":41358,"date":"2022-06-10T09:09:00","date_gmt":"2022-06-10T02:09:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41358"},"modified":"2022-06-05T17:08:09","modified_gmt":"2022-06-05T10:08:09","slug":"apa-kualitas-yang-seharusnya-saya-cari-pada-seorang-calon-suami","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-kualitas-yang-seharusnya-saya-cari-pada-seorang-calon-suami\/","title":{"rendered":"Apa kualitas yang seharusnya saya cari pada seorang calon suami?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ketika seorang perempuan Kristen mencari seorang suami, dia seharusnya mencari seorang laki-laki yang \u201cberkenan di hati Allah sendiri\u201d (Kis 13:22). Hubungan yang paling penting yang bisa kita miliki adalah hubungan kita secara pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Hubungan itu lebih penting dari semua yang lain. Jika hubungan vertikal kita dengan Allah berjalan sebagaimana seharusnya, maka hubungan horizontal kita juga akan mencerminkan realitas itu. Karena itu, seorang calon suami yang baik seharusnya seorang pria yang fokus hidupnya berjalan dalam ketaatan kepada Firman Tuhan, yang senantiasa berusaha agar hidupnya bisa membawa kemuliaan bagi Allah (1 Korintus 10:31). Apa kualitas-kualitas lain yang harus dicari? Rasul Paulus memberi kita kualitas-kualitas yang harus kita cari dalam diri seorang suami dalam 1 Timotius pasal 3. Bagian ini memang secara spesifik membicarakan kualifikasi-kualifikasi bagi seorang pemimpin dalam gereja. Namun, kualitas-kualitas ini juga seharusnya bisa mewarnai kehidupan siapa saja yang hidupnya \u201cmenyenangkan Allah.\u201d Kualitas-kualitas ini dapat diringkas sebagai berikut: seorang pria harus sabar dan terkontrol dalam kelakuannya, tidak dipenuhi dengan keangkuhan tetapi oleh sikap tenang, mampu menguasai emosinya, bermurah hati kepada orang lain, mampu mengajar dengan sabar, tidak mabuk atau memboroskan talenta Allah, tidak cenderung kepada hal-hal yang terkait kekerasan, tidak berlebihan dalam hal-hal kecil dalam hidupnya tetapi fokus kepada Allah, tidak mudah marah atau terlalu sensitif sehingga dia gampang tersinggung, dan bersyukur untuk apa yang Allah berikan, bukannya iri hati dengan talenta-talenta yang orang lain terima. Kualitas-kualitas di atas mendeskripsikan laki-laki yang secara aktif giat dalam proses menjadi orang-percaya yang dewasa. Itu merupakan tipe laki-laki yang layak dijadikan calon suami bagi seorang perempuan. Ya, menarik secara fisik, punya minat yang sama, bisa saling melengkapi, dan keinginan akan anak juga merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan. Namun, perkara-perkara ini harus menjadi pertimbangan sekunder dari kualitas-kualitas rohani yang harus dicari seorang perempuan dalam diri seorang laki-laki. Seorang laki-laki yang Saudara dapat percaya, hormati, dan ikuti dalam perjalanan spiritualnya jauh-jauh lebih bernilai daripada seorang laki-laki yang tampan, terkenal, berkuasa, atau mempunyai uang. Akhirnya, ketika \u201cmencari\u201d seorang suami, kita harus berserah kepada kehendak Allah dalam hidup kita. Setiap perempuan ingin bertemu dengan \u201claki-laki idaman\u201dnya, tapi kenyataannya, dia mungkin akan menikah dengan seorang laki-laki dengan kekurangan sebanyak yang ia sendiri miliki. Kemudian, oleh anugerah Allah, mereka akan mempergunakan sisa hidup mereka bersama-sama mempelajari bagaimana menjadi seorang pasangan untuk, dan pelayan dari, satu sama lain. Kita harus masuk ke dalam hubungan terpenting kedua dari kehidupan kita (yaitu pernikahan), bukan semata-mata dipengaruhi oleh emosi, tetapi harus dengan mata terbuka lebar. Hubungan kita yang paling penting yaitu dengan Tuhan dan Juruselamat kita, harus selalu menjadi fokus utama dari hidup kita. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Ketika seorang perempuan Kristen mencari seorang suami, dia seharusnya mencari seorang laki-laki yang \u201cberkenan di hati Allah sendiri\u201d (Kis 13:22).<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Hubungan yang paling penting yang bisa kita miliki adalah hubungan kita secara pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Hubungan itu lebih penting dari semua yang lain.<\/p>\n<p>Jika hubungan vertikal kita dengan Allah berjalan sebagaimana seharusnya, maka hubungan horizontal kita juga akan mencerminkan realitas itu. Karena itu, seorang calon suami yang baik seharusnya seorang pria yang fokus hidupnya berjalan dalam ketaatan kepada Firman Tuhan, yang senantiasa berusaha agar hidupnya bisa membawa kemuliaan bagi Allah (1 Korintus 10:31).<\/p>\n<p>Apa kualitas-kualitas lain yang harus dicari? Rasul Paulus memberi kita kualitas-kualitas yang harus kita cari dalam diri seorang suami dalam 1 Timotius pasal 3.<\/p>\n<p>Bagian ini memang secara spesifik membicarakan kualifikasi-kualifikasi bagi seorang pemimpin dalam gereja. Namun, kualitas-kualitas ini juga seharusnya bisa mewarnai kehidupan siapa saja yang hidupnya \u201cmenyenangkan Allah.\u201d<\/p>\n<p>Kualitas-kualitas ini dapat diringkas sebagai berikut: seorang pria harus sabar dan terkontrol dalam kelakuannya, tidak dipenuhi dengan keangkuhan tetapi oleh sikap tenang, mampu menguasai emosinya, bermurah hati kepada orang lain, mampu mengajar dengan sabar, tidak mabuk atau memboroskan talenta Allah, tidak cenderung kepada hal-hal yang terkait kekerasan, tidak berlebihan dalam hal-hal kecil dalam hidupnya tetapi fokus kepada Allah, tidak mudah marah atau terlalu sensitif sehingga dia gampang tersinggung, dan bersyukur untuk apa yang Allah berikan, bukannya iri hati dengan talenta-talenta yang orang lain terima.<\/p>\n<p>Kualitas-kualitas di atas mendeskripsikan laki-laki yang secara aktif giat dalam proses menjadi orang-percaya yang dewasa. Itu merupakan tipe laki-laki yang layak dijadikan calon suami bagi seorang perempuan.<\/p>\n<p>Ya, menarik secara fisik, punya minat yang sama, bisa saling melengkapi, dan keinginan akan anak juga merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan. Namun, perkara-perkara ini harus menjadi pertimbangan sekunder dari kualitas-kualitas rohani yang harus dicari seorang perempuan dalam diri seorang laki-laki.<\/p>\n<p>Seorang laki-laki yang Saudara dapat percaya, hormati, dan ikuti dalam perjalanan spiritualnya jauh-jauh lebih bernilai daripada seorang laki-laki yang tampan, terkenal, berkuasa, atau mempunyai uang.<\/p>\n<p>Akhirnya, ketika \u201cmencari\u201d seorang suami, kita harus berserah kepada kehendak Allah dalam hidup kita.<\/p>\n<p>Setiap perempuan ingin bertemu dengan \u201claki-laki idaman\u201dnya, tapi kenyataannya, dia mungkin akan menikah dengan seorang laki-laki dengan kekurangan sebanyak yang ia sendiri miliki. Kemudian, oleh anugerah Allah, mereka akan mempergunakan sisa hidup mereka bersama-sama mempelajari bagaimana menjadi seorang pasangan untuk, dan pelayan dari, satu sama lain.<\/p>\n<p>Kita harus masuk ke dalam hubungan terpenting kedua dari kehidupan kita (yaitu pernikahan), bukan semata-mata dipengaruhi oleh emosi, tetapi harus dengan mata terbuka lebar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hubungan kita yang paling penting yaitu dengan Tuhan dan Juruselamat kita, harus selalu menjadi fokus utama dari hidup kita. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ketika seorang perempuan Kristen mencari seorang suami, dia seharusnya mencari seorang laki-laki yang \u201cberkenan di hati Allah sendiri\u201d (Kis 13:22). Hubungan yang paling penting yang bisa kita miliki adalah hubungan kita secara pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Hubungan itu lebih penting dari semua yang lain. Jika hubungan vertikal kita dengan Allah berjalan sebagaimana [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[146],"class_list":["post-41358","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-relasi"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"976","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41358","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41358"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41358\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41358"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41358"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41358"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}