{"id":41361,"date":"2022-06-22T09:10:00","date_gmt":"2022-06-22T02:10:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41361"},"modified":"2022-06-05T17:26:35","modified_gmt":"2022-06-05T10:26:35","slug":"seberapa-muda-seseorang-pantas-untuk-berpacaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/seberapa-muda-seseorang-pantas-untuk-berpacaran\/","title":{"rendered":"Seberapa muda seseorang pantas untuk berpacaran?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -\u00a0 Seberapa muda seseorang pantas untuk berpacaran tergantung kepada tingkat kedewasaan, tujuan, dan keyakinannya. Sering kali, semakin muda kita, semakin kurang dewasa kita, karena kurangnya pengalaman. Ketika kita baru mulai memahami siapa kita, kita mungkin belum memiliki dasar yang kuat untuk membentuk hubungan romantis yang kokoh secara rohani. Kita akan lebih cenderung membuat keputusan-keputusan yang tidak bijaksana; yang dapat menyebabkan kerusakan secara emosi, fisik, psikologi, dan rohani dalam diri kita. Berada dalam suatu hubungan akan menempatkan kita dalam pencobaan yang hampir konstan, khususnya pada saat emosi mulai berkembang dan ketertarikan kepada orang lain mulai mendalam. Anak remaja yang muda\u2014bahkan remaja yang lebih besar\u2014dikelilingi oleh tekanan dari hormonnya dan dari masyarakat, yang kelihatannya hampir tidak tertanggungkan. Tiap hari, ia membawa perasaan-perasaan baru\u2014keraguan, ketakutan, dan kebingungan dirangkaikan dengan sukacita dan kegembiraan\u2014yang mana akan sangat membingungkannya. Orang muda mempergunakan waktunya hanya untuk mengerti siapa mereka dan bagaimana mereka berhubungan dengan dunia dan orang sekitar mereka. Menambah tekanan itu dari aktvitas berpacaran pada tahap ini mungkin terlalu berat, khususnya ketika pasangannya juga sedang mengalami gejolak yang sama. Hubungan yang terlalu dini menjadikannya lebih sulit dalam menghindari rusaknya identitas diri yang masih rapuh dan sedang dalam proses. Belum lagi terkait soal menghadapi pencobaan. Jika belum bermaksud untuk menikah, mungkin terlalu dini bagi seseorang untuk berpacaran. Jauh lebih aman terlibat di kegiatan kelompok, di mana orang-orang muda dapat mengembangkan keterampilan sosial dan persahabatan, tanpa menambah tekanan dan masalah-masalah; yang merupakan bagian dari hubungan pacaran. Tidak peduli kapan seorang memutuskan berpacaran, ini harus menjadi satu periode untuk membangun di atas fondasi iman yang sudah diajarkan kepadanya; untuk bertumbuh dan memahami apa yang Allah ingin dia lakukan. Tidak pernah terlalu muda untuk memulai proses yang menarik ini. \u201cJangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu\u201d (1 Timotius 4:12). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211;\u00a0 Seberapa muda seseorang pantas untuk berpacaran tergantung kepada tingkat kedewasaan, tujuan, dan keyakinannya.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Sering kali, semakin muda kita, semakin kurang dewasa kita, karena kurangnya pengalaman. Ketika kita baru mulai memahami siapa kita, kita mungkin belum memiliki dasar yang kuat untuk membentuk hubungan romantis yang kokoh secara rohani. Kita akan lebih cenderung membuat keputusan-keputusan yang tidak bijaksana; yang dapat menyebabkan kerusakan secara emosi, fisik, psikologi, dan rohani dalam diri kita.<\/p>\n<p>Berada dalam suatu hubungan akan menempatkan kita dalam pencobaan yang hampir konstan, khususnya pada saat emosi mulai berkembang dan ketertarikan kepada orang lain mulai mendalam. Anak remaja yang muda\u2014bahkan remaja yang lebih besar\u2014dikelilingi oleh tekanan dari hormonnya dan dari masyarakat, yang kelihatannya hampir tidak tertanggungkan.<\/p>\n<p>Tiap hari, ia membawa perasaan-perasaan baru\u2014keraguan, ketakutan, dan kebingungan dirangkaikan dengan sukacita dan kegembiraan\u2014yang mana akan sangat membingungkannya. Orang muda mempergunakan waktunya hanya untuk mengerti siapa mereka dan bagaimana mereka berhubungan dengan dunia dan orang sekitar mereka.<\/p>\n<p>Menambah tekanan itu dari aktvitas berpacaran pada tahap ini mungkin terlalu berat, khususnya ketika pasangannya juga sedang mengalami gejolak yang sama. Hubungan yang terlalu dini menjadikannya lebih sulit dalam menghindari rusaknya identitas diri yang masih rapuh dan sedang dalam proses. Belum lagi terkait soal menghadapi pencobaan.<\/p>\n<p>Jika belum bermaksud untuk menikah, mungkin terlalu dini bagi seseorang untuk berpacaran. Jauh lebih aman terlibat di kegiatan kelompok, di mana orang-orang muda dapat mengembangkan keterampilan sosial dan persahabatan, tanpa menambah tekanan dan masalah-masalah; yang merupakan bagian dari hubungan pacaran.<\/p>\n<p>Tidak peduli kapan seorang memutuskan berpacaran, ini harus menjadi satu periode untuk membangun di atas fondasi iman yang sudah diajarkan kepadanya; untuk bertumbuh dan memahami apa yang Allah ingin dia lakukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak pernah terlalu muda untuk memulai proses yang menarik ini. \u201cJangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu\u201d (1 Timotius 4:12). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211;\u00a0 Seberapa muda seseorang pantas untuk berpacaran tergantung kepada tingkat kedewasaan, tujuan, dan keyakinannya. Sering kali, semakin muda kita, semakin kurang dewasa kita, karena kurangnya pengalaman. Ketika kita baru mulai memahami siapa kita, kita mungkin belum memiliki dasar yang kuat untuk membentuk hubungan romantis yang kokoh secara rohani. Kita akan lebih cenderung membuat keputusan-keputusan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[146],"class_list":["post-41361","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-relasi"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"792","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41361","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41361"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41361\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41361"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41361"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41361"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}