{"id":41368,"date":"2022-06-22T09:11:00","date_gmt":"2022-06-22T02:11:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41368"},"modified":"2022-06-05T17:24:25","modified_gmt":"2022-06-05T10:24:25","slug":"bagaimana-saya-akan-mengetahui-ketika-saya-telah-menemukan-pasangan-yang-sempurna-untuk-saya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bagaimana-saya-akan-mengetahui-ketika-saya-telah-menemukan-pasangan-yang-sempurna-untuk-saya\/","title":{"rendered":"Bagaimana saya akan mengetahui ketika saya telah menemukan pasangan yang sempurna untuk saya?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Alkitab tidak menunjukkan bagaimana menemukan \u201cpasangan yang sempurna,\u201d juga tidak dengan detil menunjukkan bagaimana menemukan pasangan pernikahan yang tepat. Satu hal yang Firman Allah dengan tegas nyatakan hanyalah memastikan bahwa kita tidak menikah dengan orang yang tidak percaya (2 Korintus 6:14-15). 1 Korintus 7:39 mengingatkan kita bahwa kita harus menikah dengan orang yang bisa diterima oleh Allah\u2014dengan kata lain, orang Kristen. Selebihnya, Alkitab tidak mengatakan apa-apa tentang bagaimana mengetahui bahwa kita menikah dengan orang yang \u201ctepat\u201d. Jadi mengapa Allah tidak menerangkan dengan jelas apa kualitas yang harus kita cari pada pasangan kita? Mengapa kita tidak mendapat penjelasan yang lebih detil tentang masalah yang begitu penting ini? Kenyataannya, Alkitab sangat jelas menyatakan siapa itu orang Kristen dan tentang bagaimana kita harus bersikap, sehingga detil tidak lagi diperlukan. Orang Kristen harus sepaham dalam hal-hal yang penting. Ketika dua orang Kristen mempunyai komitmen bagi pernikahan mereka dan hati untuk menaati Kristus, mereka telah memiliki bahan-bahan yang diperlukan untuk pernikahan yang berhasil. Namun demikian, karena masyarakat kita dibanjiri dengan orang-orang yang mengaku Kristen, maka bijaksana untuk meneliti dengan baik sebelum mengabdikan diri kepada komitmen pernikahan seumur hidup. Begitu calon pasangan sudah punya prioritas\u2014apakah dia sungguh-sungguh memiliki komitmen untuk keserupaan Kristus\u2014maka hal-hal yang detil mudah dikenali dan mudah untuk dihadapi. Pertama-tama, kita harus memastikan bahwa kita memang sudah siap untuk menikah. Kita harus cukup dewasa untuk bisa melihat hal-hal yang melampaui masa kini, terutama mengenai mampu tidaknya kita mengabdikan dengan orang ini untuk sisa hidup kita. Kita juga harus menyadari bahwa pernikahan menuntut pengorbanan dan sikap tidak egois. Sebelum menikah, pasangan harus mempelajari peranan dan kewajiban dari seorang suami dan istri (Efesus 5:22-31; 1 Korintus 7:1-16; Kolose 3:18-19; Titus 2:1-5; 1 Petrus 3:1-7). Pasangan harus memastikan mereka sudah mengenal satu sama lain untuk jangka waktu yang cukup sebelum mendiskusikan pernikahan. Mereka harus memperhatikan bagaimana pasangannya bereaksi dalam situasi yang berbeda-beda, bagaimana dia bersikap di sekitar keluarganya dan teman-temannya, dan dengan orang macam apakah dia melewatkan waktunya. Kelakuan seseorang sangat dipengaruhi oleh pergaulannya (1 Korintus 15:33). Mereka harus sepakat untuk hal-hal seperti moralitas, keuangan, nilai-nilai, anak-anak, kehadiran dan keterlibatan di gereja, hubungan dengan besan, dan pekerjaan. Semua ini merupakan wilayah-wilayah yang berpotensi untuk menjadi penyebab konflik dalam pernikahan dan harus dipertimbangkan dengan hati-hati terlebih dahulu. Akhirnya, pasangan mana pun yang mempertimbangkan untuk menikah harus terlebih dahulu mengikuti konseling pranikah dengan pendeta mereka atau konselor Kristen yang terlatih. Di sini, mereka akan mempelajari hal-hal yang bernilai dalam membangun pernikahan yang didasari iman kepada Kristus. Mereka juga akan belajar bagaimana menghadapi konflik-konflik yang tidak terhindarkan. Setelah semua kriteria ini dipenuhi, pasangan ini sudah siap untuk memutuskan apakah mereka ingin menikah. Jika mereka sungguh-sungguh mencari kehendak Allah, Dia akan mengarahkan jalan kita (Amsal 3:5-6). English . (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Alkitab tidak menunjukkan bagaimana menemukan \u201cpasangan yang sempurna,\u201d juga tidak dengan detil menunjukkan bagaimana menemukan pasangan pernikahan yang tepat. Satu hal yang Firman Allah dengan tegas nyatakan hanyalah memastikan bahwa kita tidak menikah dengan orang yang tidak percaya (2 Korintus 6:14-15).<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>1 Korintus 7:39 mengingatkan kita bahwa kita harus menikah dengan orang yang bisa diterima oleh Allah\u2014dengan kata lain, orang Kristen. Selebihnya, Alkitab tidak mengatakan apa-apa tentang bagaimana mengetahui bahwa kita menikah dengan orang yang \u201ctepat\u201d.<\/p>\n<p>Jadi mengapa Allah tidak menerangkan dengan jelas apa kualitas yang harus kita cari pada pasangan kita? Mengapa kita tidak mendapat penjelasan yang lebih detil tentang masalah yang begitu penting ini?<\/p>\n<p>Kenyataannya, Alkitab sangat jelas menyatakan siapa itu orang Kristen dan tentang bagaimana kita harus bersikap, sehingga detil tidak lagi diperlukan. Orang Kristen harus sepaham dalam hal-hal yang penting. Ketika dua orang Kristen mempunyai komitmen bagi pernikahan mereka dan hati untuk menaati Kristus, mereka telah memiliki bahan-bahan yang diperlukan untuk pernikahan yang berhasil.<\/p>\n<p>Namun demikian, karena masyarakat kita dibanjiri dengan orang-orang yang mengaku Kristen, maka bijaksana untuk meneliti dengan baik sebelum mengabdikan diri kepada komitmen pernikahan seumur hidup. Begitu calon pasangan sudah punya prioritas\u2014apakah dia sungguh-sungguh memiliki komitmen untuk keserupaan Kristus\u2014maka hal-hal yang detil mudah dikenali dan mudah untuk dihadapi.<\/p>\n<p>Pertama-tama, kita harus memastikan bahwa kita memang sudah siap untuk menikah. Kita harus cukup dewasa untuk bisa melihat hal-hal yang melampaui masa kini, terutama mengenai mampu tidaknya kita mengabdikan dengan orang ini untuk sisa hidup kita.<\/p>\n<p>Kita juga harus menyadari bahwa pernikahan menuntut pengorbanan dan sikap tidak egois. Sebelum menikah, pasangan harus mempelajari peranan dan kewajiban dari seorang suami dan istri (Efesus 5:22-31; 1 Korintus 7:1-16; Kolose 3:18-19; Titus 2:1-5; 1 Petrus 3:1-7).<\/p>\n<p>Pasangan harus memastikan mereka sudah mengenal satu sama lain untuk jangka waktu yang cukup sebelum mendiskusikan pernikahan. Mereka harus memperhatikan bagaimana pasangannya bereaksi dalam situasi yang berbeda-beda, bagaimana dia bersikap di sekitar keluarganya dan teman-temannya, dan dengan orang macam apakah dia melewatkan waktunya.<\/p>\n<p>Kelakuan seseorang sangat dipengaruhi oleh pergaulannya (1 Korintus 15:33). Mereka harus sepakat untuk hal-hal seperti moralitas, keuangan, nilai-nilai, anak-anak, kehadiran dan keterlibatan di gereja, hubungan dengan besan, dan pekerjaan. Semua ini merupakan wilayah-wilayah yang berpotensi untuk menjadi penyebab konflik dalam pernikahan dan harus dipertimbangkan dengan hati-hati terlebih dahulu.<\/p>\n<p>Akhirnya, pasangan mana pun yang mempertimbangkan untuk menikah harus terlebih dahulu mengikuti konseling pranikah dengan pendeta mereka atau konselor Kristen yang terlatih. Di sini, mereka akan mempelajari hal-hal yang bernilai dalam membangun pernikahan yang didasari iman kepada Kristus. Mereka juga akan belajar bagaimana menghadapi konflik-konflik yang tidak terhindarkan. Setelah semua kriteria ini dipenuhi, pasangan ini sudah siap untuk memutuskan apakah mereka ingin menikah.<\/p>\n<p>Jika mereka sungguh-sungguh mencari kehendak Allah, Dia akan mengarahkan jalan kita (Amsal 3:5-6).<\/p>\n<p>English<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">. (gotquestions)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Alkitab tidak menunjukkan bagaimana menemukan \u201cpasangan yang sempurna,\u201d juga tidak dengan detil menunjukkan bagaimana menemukan pasangan pernikahan yang tepat. Satu hal yang Firman Allah dengan tegas nyatakan hanyalah memastikan bahwa kita tidak menikah dengan orang yang tidak percaya (2 Korintus 6:14-15). 1 Korintus 7:39 mengingatkan kita bahwa kita harus menikah dengan orang yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"70"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[146],"class_list":["post-41368","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-relasi"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"688","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41368","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41368"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41368\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}