{"id":41382,"date":"2022-06-25T09:13:00","date_gmt":"2022-06-25T02:13:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41382"},"modified":"2022-06-05T17:31:08","modified_gmt":"2022-06-05T10:31:08","slug":"apakah-perbedaan-antara-dating-dan-courting","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-perbedaan-antara-dating-dan-courting\/","title":{"rendered":"Apakah perbedaan antara dating dan courting?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Dating and courtship merupakan dua metode bagi seseorang untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Meskipun ada orang non-Kristen yang melakukan dating dengan maksud untuk melakukan hubungan seks, bagi orang Kristen hal ini tidak dapat diterima. Ini tidak boleh menjadi alasan baginya untuk melakukan dating. Banyak orang Kristen melihat dating sebagai hubungan yang sedikit melebihi persahabatan. Mereka mempertahankan aspek persahabatan hingga kedua orang tersebut siap untuk berkomitmen sebagai calon pasangan hidup. Yang pertama dan terpenting, fase dating adalah saat ketika orang Kristen tahu jika kandidat pasangan hidupnya ini sudah menjadi orang-percaya di dalam Kristus atau belum. Alkitab memperingatkan supaya orang-percaya dan yang bukan orang-percaya tidak menikah, karena mereka yang tinggal dalam terang (Kristus) dan mereka yang tinggal di dalam kegelapan tidak bisa hidup dalam keharmonisan (2 Kor 6:14-15). Selama fase dating ini, hanya boleh ada sedikit atau bahkan tidak ada kontak fisik sama sekali. Hubungan seks seharusnya menjadi sesuatu yang dilakukan ketika sudah menikah kelak (1 Kor 6:18-20). Sementara kalau metode courtship, dua orang yang sedang menjalin hubungan ini sama sekali tidak boleh melakukan kontak fisik (tidak boleh saling menyentuh, berpegangan tangan, ataupun berciuman) sampai mereka kelak menikah. Banyak dari mereka yang sedang berada dalam hubungan courtship ini tidak akan menghabiskan waktu bersama-sama, kecuali ada anggota keluarga mereka yang ikut hadir, yang sebaiknya adalah para orangtua dari pasangan ini. Selain itu, pasangan yang sedang melakukan courtship ini sudah terlebih dahulu menyatakan niat mereka untuk menguji pasangannya apakah akan menjadi pasangan hidup yang cocok atau tidak. Para pendukung courtship menyatakan bahwa metode ini memungkinkan dua pihak untuk benar-benar mengenal satu sama lain dalam sebuah kondisi yang lebih platonis atau lebih bersifat persaudaraan, tanpa tekanan dari keintiman fisik atau emosi yang bisa mengaburkan penilaian mereka. Ada masalah tersendiri dengan kedua metode ini. Untuk para daters, menghabiskan waktu secara intensif dengan lawan jenis yang dirasa menarik dapat mengundang godaan yang bisa jadi sangat sulit untuk ditolak. Pasangan Kristen yang sedang melakukan dating harus memiliki batasan-batasan dan berkomitmen untuk tidak melanggarnya. Jika mereka merasa kalau hal ini sulit untuk dilakukan, mereka harus mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa Kristus akan selalu ditinggikan ketika mereka sedang menghabiskan waktu bersama-sama. Mereka sama sekali tidak boleh memberikan kesempatan kepada dosa untuk menguasai hubungan mereka. Sama seperti pasangan yang melakukan courting, orangtua dari pasangan yang melakukan dating harus terlibat dalam hubungan anak mereka, supaya mereka bisa ikut mengenal pasangan anaknya. Para orangtua bisa menjadi sumber nasihat dan bimbingan yang bijaksana dan cerdas bagi kedua pihak. Model courtship ini memiliki beberapa masalah tersendiri. Meskipun banyak pendukung courtship melihat metode ini sebagai satu-satunya pilihan untuk menemukan pasangan hidup, beberapa orang menganggap metode ini penuh tekanan dan kontrol. Selain itu, sulit untuk mengenali pribadi yang &quot;sebenarnya&quot; di balik topeng yang ditunjukkan seseorang di hadapan seluruh keluarga besar. Manusia pada umumnya akan menunjukkan kepribadian yang berbeda ketika sedang berada dalam kelompok dan dalam kondisi satu-lawan-satu. Jika pasangan ini tidak pernah memiliki waktu berdua, mereka tidak pernah memiliki kesempatan suntuk menjalin hubungan secara satu-lawan-satu. Mereka tidak bisa mengenal satu sama lain dalam keintiman emosional dan spiritual. Selain itu, courtship akhirnya lebih mengarah pada &quot;perjodohan&quot; dari orangtua kedua pihak. Seringkali, metode ini akan menimbulkan kebencian pada salah satu atau kedua pihak. Penting untuk dipahami kalau Alkitab tidak pernah mengajarkan metode dating ataupun courtship ini. Karakter Kekristenan dan kedewasaan rohani dari kedua pihak ini jauh lebih penting ketimbang bagaimana dan kapan mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Alkitab menyatakan kalau hasil dari sebuah proses \u2013 di mana pria dan wanita Kristen yang kudus menikah dan membesarkan anak-anaknya untuk kemuliaan Allah \u2013 jauh lebih penting daripada metode yang mereka gunakan untuk mencapai hasil tersebut. &quot;Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah&quot; (1 Kor 10:31). Pada akhirnya, kita harus bijaksana dalam memutlakkan sesuatu \u2013 baik itu metode dating ataupun courting \u2013 sebagai &quot;satu-satunya cara,&quot; sehingga memandang rendah mereka yang memilih metode lain. Untuk segala sesuatu yang tidak dinyatakan Alkitab, kesatuan Tubuh Kristus harus menjadi yang terpenting, terlepas dari pilihan apa yang diambil orang lain. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; <i>Dating<\/i> and <i>courtship<\/i> merupakan dua metode bagi seseorang untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Meskipun ada orang non-Kristen yang melakukan <i>dating<\/i> dengan maksud untuk melakukan hubungan seks, bagi orang Kristen hal ini tidak dapat diterima. Ini tidak boleh menjadi alasan baginya untuk melakukan <i>dating<\/i>.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Banyak orang Kristen melihat <i>dating<\/i> sebagai hubungan yang sedikit melebihi persahabatan. Mereka mempertahankan aspek persahabatan hingga kedua orang tersebut siap untuk berkomitmen sebagai calon pasangan hidup. Yang pertama dan terpenting, fase <i>dating<\/i> adalah saat ketika orang Kristen tahu jika kandidat pasangan hidupnya ini sudah menjadi orang-percaya di dalam Kristus atau belum.<\/p>\n<p>Alkitab memperingatkan supaya orang-percaya dan yang bukan orang-percaya tidak menikah, karena mereka yang tinggal dalam terang (Kristus) dan mereka yang tinggal di dalam kegelapan tidak bisa hidup dalam keharmonisan (2 Kor 6:14-15). Selama fase dating ini, hanya boleh ada sedikit atau bahkan tidak ada kontak fisik sama sekali. Hubungan seks seharusnya menjadi sesuatu yang dilakukan ketika sudah menikah kelak (1 Kor 6:18-20).<\/p>\n<p>Sementara kalau metode <i>courtship,<\/i> dua orang yang sedang menjalin hubungan ini sama sekali tidak boleh melakukan kontak fisik (tidak boleh saling menyentuh, berpegangan tangan, ataupun berciuman) sampai mereka kelak menikah. Banyak dari mereka yang sedang berada dalam hubungan <i>courtship<\/i> ini tidak akan menghabiskan waktu bersama-sama, kecuali ada anggota keluarga mereka yang ikut hadir, yang sebaiknya adalah para orangtua dari pasangan ini.<\/p>\n<p>Selain itu, pasangan yang sedang melakukan <i>courtship<\/i> ini sudah terlebih dahulu menyatakan niat mereka untuk menguji pasangannya apakah akan menjadi pasangan hidup yang cocok atau tidak. Para pendukung <i>courtship<\/i> menyatakan bahwa metode ini memungkinkan dua pihak untuk benar-benar mengenal satu sama lain dalam sebuah kondisi yang lebih platonis atau lebih bersifat persaudaraan, tanpa tekanan dari keintiman fisik atau emosi yang bisa mengaburkan penilaian mereka.<\/p>\n<p>Ada masalah tersendiri dengan kedua metode ini. Untuk para <i>daters<\/i>, menghabiskan waktu secara intensif dengan lawan jenis yang dirasa menarik dapat mengundang godaan yang bisa jadi sangat sulit untuk ditolak. Pasangan Kristen yang sedang melakukan <i>dating<\/i> harus memiliki batasan-batasan dan berkomitmen untuk tidak melanggarnya. Jika mereka merasa kalau hal ini sulit untuk dilakukan, mereka harus mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa Kristus akan selalu ditinggikan ketika mereka sedang menghabiskan waktu bersama-sama. Mereka sama sekali tidak boleh memberikan kesempatan kepada dosa untuk menguasai hubungan mereka.<\/p>\n<p>Sama seperti pasangan yang melakukan <i>courting<\/i>, orangtua dari pasangan yang melakukan <i>dating<\/i> harus terlibat dalam hubungan anak mereka, supaya mereka bisa ikut mengenal pasangan anaknya. Para orangtua bisa menjadi sumber nasihat dan bimbingan yang bijaksana dan cerdas bagi kedua pihak. Model <i>courtship<\/i> ini memiliki beberapa masalah tersendiri. Meskipun banyak pendukung <i>courtship<\/i> melihat metode ini sebagai satu-satunya pilihan untuk menemukan pasangan hidup, beberapa orang menganggap metode ini penuh tekanan dan kontrol. Selain itu, sulit untuk mengenali pribadi yang &#8220;sebenarnya&#8221; di balik topeng yang ditunjukkan seseorang di hadapan seluruh keluarga besar.<\/p>\n<p>Manusia pada umumnya akan menunjukkan kepribadian yang berbeda ketika sedang berada dalam kelompok dan dalam kondisi satu-lawan-satu. Jika pasangan ini tidak pernah memiliki waktu berdua, mereka tidak pernah memiliki kesempatan suntuk menjalin hubungan secara satu-lawan-satu. Mereka tidak bisa mengenal satu sama lain dalam keintiman emosional dan spiritual. Selain itu, <i>courtship<\/i> akhirnya lebih mengarah pada &#8220;perjodohan&#8221; dari orangtua kedua pihak. Seringkali, metode ini akan menimbulkan kebencian pada salah satu atau kedua pihak.<\/p>\n<p>Penting untuk dipahami kalau Alkitab tidak pernah mengajarkan metode <i>dating<\/i> ataupun <i>courtship <\/i>ini. Karakter Kekristenan dan kedewasaan rohani dari kedua pihak ini jauh lebih penting ketimbang bagaimana dan kapan mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Alkitab menyatakan kalau hasil dari sebuah proses \u2013 di mana pria dan wanita Kristen yang kudus menikah dan membesarkan anak-anaknya untuk kemuliaan Allah \u2013 jauh lebih penting daripada metode yang mereka gunakan untuk mencapai hasil tersebut. &#8220;Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah&#8221; (1 Kor 10:31).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, kita harus bijaksana dalam memutlakkan sesuatu \u2013 baik itu metode <i>dating<\/i> ataupun <i>courting<\/i> \u2013 sebagai &#8220;satu-satunya cara,&#8221; sehingga memandang rendah mereka yang memilih metode lain. Untuk segala sesuatu yang tidak dinyatakan Alkitab, kesatuan Tubuh Kristus harus menjadi yang terpenting, terlepas dari pilihan apa yang diambil orang lain. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Dating and courtship merupakan dua metode bagi seseorang untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Meskipun ada orang non-Kristen yang melakukan dating dengan maksud untuk melakukan hubungan seks, bagi orang Kristen hal ini tidak dapat diterima. Ini tidak boleh menjadi alasan baginya untuk melakukan dating. Banyak orang Kristen melihat dating sebagai hubungan yang sedikit [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[146],"class_list":["post-41382","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-relasi"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"907","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41382","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41382"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41382\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41382"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41382"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41382"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}