{"id":41405,"date":"2022-07-01T09:17:00","date_gmt":"2022-07-01T02:17:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41405"},"modified":"2022-06-05T17:43:42","modified_gmt":"2022-06-05T10:43:42","slug":"seberapa-pentingkah-faktor-daya-tarik-fisik-ketika-mencari-pasangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/seberapa-pentingkah-faktor-daya-tarik-fisik-ketika-mencari-pasangan\/","title":{"rendered":"Seberapa pentingkah faktor daya tarik fisik ketika mencari pasangan?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Tidak ada keraguan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk tertarik secara fisik satu sama lainnya. Komponen seksual dalam pernikahan itu penting bagi keintiman antara suami dan istri. Baik untuk reproduksi dan kelangsungan hidup umat manusia. Sebaliknya, perjodohan \u2013 termasuk mereka yang menikah tanpa pernah sebelumnya melihat satu sama lainnya \u2013 merupakan norma di masa lalu, yang masih dipraktekkan hingga saat ini di beberapa tempat di dunia. Salomo menggambarkan ketertarikan mempelai laki-laki kepada kekasihnya di kitab Kidung Agung pasal 4 dan 7. Dia menjelaskan kecantikan fisik si mempelai perempuan dan hasrat mempelai laki-laki terhadapnya. Di pasal 8, si mempelai perempuan membalasnya dengan menggambarkan gairahnya bagi si mempelai laki-laki. Termasuk hasratnya untuk berada di dalam pelukannya. Kitab Kidung Agung merupakan penggambaran yang indah dari kasih suami isteri, di mana daya tarik fisik menjadi salah satu komponennya. Tapi, bukan berarti kalau keindahan fisik menjadi aspek yang paling penting untuk dipertimbangkan ketika mencari pasangan hidup. Kecantikan tidak harus ditentukan oleh standar dunia. Yang dikatakan cantik oleh dunia ternyata berada di bawah standar kecantikan menurut Alkitab. Kecantikan fisik memudar seiring dengan waktu, tapi inner beauty yang sejati memancar dari seorang perempuan yang mencintai Allah (Ams 31:30). Petrus meminta kaum perempuan untuk membangun inner beauty yang berasal dari &quot;roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya&quot; (1 Ptr 3:3-5). Kecantikan fisik berlalu dengan cepat; inner beauty itu abadi. Daya tarik seorang pria juga harus berasal dari dalam. Contoh yang paling jelas dalam Alkitab adalah Yesus sendiri, yang &quot;tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya&quot; (Yes 53:2). Namun, keindahan dari kemuliaan dan kasih karunia-Nya, sebagai Anak Allah, tampak bersinar dari dalam diri-Nya bagi semua orang yang melihat-Nya. Tampilan fisik Yesus benar-benar kebalikan dari Lucifer\/Setan, yang dilukiskan sebagai &quot;gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah&quot; (Yeh 28:12). Terlepas dari keindahan fisiknya, Lucifer adalah perwujudan dari kejahatan dan kefasikan. Keindahan fisik berlalu dengan cepat. Semua laki-laki dan perempuan, yang penilaiannya sudah dirusak oleh kuasa dosa, akan mengganggap keindahan fisik sebagai sesuatu yang penting. Perspektif Allah berbeda. &quot;Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati&quot; (1 Sam 16:7). Calon pasangan hidup kita haruslah orang Kristen sejati yang sudah dilahirkan kembali, yang sedang bertumbuh dan semakin dewasa dalam iman dan ketaatan kepada Kristus. Dua orang yang memiliki tujuan yang sama dalam kehidupan \u2013 yaitu untuk memuliakan Allah dalam segala sesuatu yang mereka lakukan \u2013 akan semakin melihat keindahan daya tarik fisik pasangannya, yang akan berlangsung seumur hidup. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Tidak ada keraguan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk tertarik secara fisik satu sama lainnya. Komponen seksual dalam pernikahan itu penting bagi keintiman antara suami dan istri. Baik untuk reproduksi dan kelangsungan hidup umat manusia. Sebaliknya, perjodohan \u2013 termasuk mereka yang menikah tanpa pernah sebelumnya melihat satu sama lainnya \u2013 merupakan norma di masa lalu, yang masih dipraktekkan hingga saat ini di beberapa tempat di dunia.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Salomo menggambarkan ketertarikan mempelai laki-laki kepada kekasihnya di kitab Kidung Agung pasal 4 dan 7. Dia menjelaskan kecantikan fisik si mempelai perempuan dan hasrat mempelai laki-laki terhadapnya. Di pasal 8, si mempelai perempuan membalasnya dengan menggambarkan gairahnya bagi si mempelai laki-laki. Termasuk hasratnya untuk berada di dalam pelukannya. Kitab Kidung Agung merupakan penggambaran yang indah dari kasih suami isteri, di mana daya tarik fisik menjadi salah satu komponennya.<\/p>\n<p>Tapi, bukan berarti kalau keindahan fisik menjadi aspek yang paling penting untuk dipertimbangkan ketika mencari pasangan hidup. Kecantikan tidak harus ditentukan oleh standar dunia. Yang dikatakan cantik oleh dunia ternyata berada di bawah standar kecantikan menurut Alkitab. Kecantikan fisik memudar seiring dengan waktu, tapi inner beauty yang sejati memancar dari seorang perempuan yang mencintai Allah (Ams 31:30).<\/p>\n<p>Petrus meminta kaum perempuan untuk membangun inner beauty yang berasal dari &#8220;roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya&#8221; (1 Ptr 3:3-5). Kecantikan fisik berlalu dengan cepat; inner beauty itu abadi.<\/p>\n<p>Daya tarik seorang pria juga harus berasal dari dalam. Contoh yang paling jelas dalam Alkitab adalah Yesus sendiri, yang &#8220;tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya&#8221; (Yes 53:2). Namun, keindahan dari kemuliaan dan kasih karunia-Nya, sebagai Anak Allah, tampak bersinar dari dalam diri-Nya bagi semua orang yang melihat-Nya.<\/p>\n<p>Tampilan fisik Yesus benar-benar kebalikan dari Lucifer\/Setan, yang dilukiskan sebagai &#8220;gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah&#8221; (Yeh 28:12). Terlepas dari keindahan fisiknya, Lucifer adalah perwujudan dari kejahatan dan kefasikan. Keindahan fisik berlalu dengan cepat. Semua laki-laki dan perempuan, yang penilaiannya sudah dirusak oleh kuasa dosa, akan mengganggap keindahan fisik sebagai sesuatu yang penting. Perspektif Allah berbeda. &#8220;Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati&#8221; (1 Sam 16:7).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Calon pasangan hidup kita haruslah orang Kristen sejati yang sudah dilahirkan kembali, yang sedang bertumbuh dan semakin dewasa dalam iman dan ketaatan kepada Kristus. Dua orang yang memiliki tujuan yang sama dalam kehidupan \u2013 yaitu untuk memuliakan Allah dalam segala sesuatu yang mereka lakukan \u2013 akan semakin melihat keindahan daya tarik fisik pasangannya, yang akan berlangsung seumur hidup. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Tidak ada keraguan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk tertarik secara fisik satu sama lainnya. Komponen seksual dalam pernikahan itu penting bagi keintiman antara suami dan istri. Baik untuk reproduksi dan kelangsungan hidup umat manusia. Sebaliknya, perjodohan \u2013 termasuk mereka yang menikah tanpa pernah sebelumnya melihat satu sama lainnya \u2013 merupakan norma [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[505,147,146],"class_list":["post-41405","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-pacaran","tag-pernikahan","tag-relasi"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"770","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41405","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41405"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41405\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41405"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41405"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41405"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}