{"id":41409,"date":"2022-06-08T09:17:00","date_gmt":"2022-06-08T02:17:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41409"},"modified":"2022-06-05T17:51:16","modified_gmt":"2022-06-05T10:51:16","slug":"apakah-jodoh-atau-belahan-jiwa-itu-benar-benar-ada-apakah-allah-memang-telah-menentukan-orang-tertentu-untuk-kita-nikahi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-jodoh-atau-belahan-jiwa-itu-benar-benar-ada-apakah-allah-memang-telah-menentukan-orang-tertentu-untuk-kita-nikahi\/","title":{"rendered":"Apakah jodoh atau belahan jiwa itu benar-benar ada? Apakah Allah memang telah menentukan orang tertentu untuk kita nikahi?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Anggapan umum mengenai &quot;jodoh&quot; adalah: untuk setiap orang, ada seseorang yang merupakan &quot;belahan jiwanya.&quot; Jika Saudara menikah dengan siapapun selain jodoh ini, Saudara tidak akan pernah bahagia. Apakah konsep mengenai belahan jiwa atau jodoh ini alkitabiah? Tidak, konsep ini tidak alkitabiah. Konsep jodoh seringkali digunakan sebagai alasan bagi seseorang untuk bercerai. Orang-orang yang tidak bahagia dalam pernikahannya kadang-kadang menyatakan bahwa mereka tidak menikah dengan jodohnya, sehingga mereka merasa harus bercerai dan mulai mencari jodoh mereka yang sebenarnya. Ini hanyalah alasan belaka; alasan yang jelas-jelas tidak alkitabiah. Jika Saudara sudah menikah, orang yang Saudara nikahi itulah jodohnya Saudara. Markus 10:7-9 menyatakan, &quot;sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.&quot; Suami dan istri itu &quot;bersatu,&quot; &quot;satu daging,&quot; &quot;bukan lagi dua, melainkan satu,&quot; dan &quot;dipersatukan.&quot; Dengan kata lain, pasangan hidup Saudara menjadi jodoh atau belahan jiwanya Saudara. Pernikahan mungkin tidak seperti yang dibayangkan dan diinginkan oleh seseorang. Baik soal penyatuan dan sukacitanya. Sepasang suami istri mungkin tidak memiliki kesatuan fisik, emosional, dan spiritual yang mereka inginkan. Tapi, bahkan dalam situasi seperti ini, suami istri ini masih merupakan belahan jiwa masing-masing. Di dalam situasi seperti ini, setiap pasangan harus berusaha untuk membangun keintiman &quot;belahan jiwa&quot; yang sejati. Dengan menaati apa yang Alkitab ajarkan tentang pernikahan (Ef 5:22-33), setiap pasangan dapat mengembangkan keintiman, kasih, dan komitmen yang diperlukan oleh belahan jiwa yang sudah menjadi &quot;satu daging&quot;. Jika Saudara sudah menikah, berarti Saudara menikah dengan jodohnya Saudara. Tidak peduli seberapa tidak harmonisnya sebuah pernikahan, Allah dapat membawa kedamaian, pengampunan, pemulihan, dan kasih serta keharmonisan pernikahan sejati bagi Saudara. Apakah mungkin kita menikah dengan orang yang salah? Jika kita menyerahkan diri kita kepada Allah dan mencari pimpinan-Nya, Dia berjanji untuk mengarahkan kita: &quot;Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu&quot; (Ams 3:5-6). Kesimpulan dari Amsal 3:5-6 adalah: jika Saudara tidak percaya kepada Allah dengan segenap hati Saudara, dan bersandar pada pengertian Saudara sendiri, Saudara bisa saja menuju ke arah yang salah. Ya, Saudara bisa saja menikah dengan seseorang yang Allah tidak inginkan agar Saudara nikahi. Hal ini dapat terjadi karena ketidaktaatan dan kurangnya persekutuan yang intim dengan Allah. Meskipun begitu, dalam kejadian semacam ini pun, Allah tetap berdaulat dan berkuasa. Bahkan jika pernikahan tersebut bukan kehendak Allah, pernikahan tersebut masih berada dalam kedaulatan dan rencana-Nya. Allah membenci perceraian (Mal 2:16). Tapi, &quot;menikahi orang yang salah&quot; tidak pernah dinyatakan Alkitab sebagai alasan bagai seseorang untuk bercerai. Pernyataan bahwa &quot;saya menikah dengan orang yang salah dan tidak akan pernah bahagia kecuali saya menemukan jodoh sejati saya&quot; tidak alkitabiah karena dua hal. Pertama, itu sama saja dengan menyatakan kalau keputusan buruk Saudara telah mengesampingkan kehendak Allah dan menghancurkan rencana-Nya. Kedua, itu sama saja dengan menyatakan kalau Allah tidak mampu mengubah pernikahan yang dipenuhi masalah menjadi bahagia, menyatu, dan berhasil. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengganggu kehendak Allah yang berdaulat. Allah dapat mengubah dua orang, tidak peduli betapa tidak serasinya mereka, dan membentuk mereka menjadi dua orang yang cocok satu sama lainnya. Jika kita memelihara persekutuan yang dekat dengan Allah, Dia akan memimpin dan membimbing kita. Jika seseorang berjalan bersama Allah dan benar-benar mencari kehendak-Nya, Allah akan membawa orang tersebut kepada pasangan yang Dia kehendaki. Allah akan menuntun kita kepada &quot;jodoh&quot; kita, jika kita memang sungguh-sungguh tunduk kepada-Nya dan mengikuti-Nya. Namun, belahan jiwa adalah sebuah posisi dan sekaligus merupakan sebuah praktik. Suami istri adalah belahan jiwa bagi pasangannya masing-masing karena mereka merupakan &quot;satu daging.&quot; Baik secara spiritual, fisik, dan emosional, mereka telah bersatu satu sama lainnya. Bagaimanapun juga, dalam praktiknya, ada proses bagi seseorang untuk belajar menjadi satu kesatuan dan belahan jiwa. Termasuk, bagaimana mewujudkan hal tersebut menjadi realitas sehari-hari. Kesatuan belahan jiwa yang sejati hanya mungkin terjadi dengan menerapkan pola pernikahan yang alkitabiah. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Anggapan umum mengenai &#8220;jodoh&#8221; adalah: untuk setiap orang, ada seseorang yang merupakan &#8220;belahan jiwanya.&#8221; Jika Saudara menikah dengan siapapun selain jodoh ini, Saudara tidak akan pernah bahagia. Apakah konsep mengenai belahan jiwa atau jodoh ini alkitabiah? Tidak, konsep ini tidak alkitabiah.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Konsep jodoh seringkali digunakan sebagai alasan bagi seseorang untuk bercerai. Orang-orang yang tidak bahagia dalam pernikahannya kadang-kadang menyatakan bahwa mereka tidak menikah dengan jodohnya, sehingga mereka merasa harus bercerai dan mulai mencari jodoh mereka yang sebenarnya. Ini hanyalah alasan belaka; alasan yang jelas-jelas tidak alkitabiah. Jika Saudara sudah menikah, orang yang Saudara nikahi itulah jodohnya Saudara.<\/p>\n<p>Markus 10:7-9 menyatakan, &#8220;sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.&#8221; Suami dan istri itu &#8220;bersatu,&#8221; &#8220;satu daging,&#8221; &#8220;bukan lagi dua, melainkan satu,&#8221; dan &#8220;dipersatukan.&#8221; Dengan kata lain, pasangan hidup Saudara menjadi jodoh atau belahan jiwanya Saudara.<\/p>\n<p>Pernikahan mungkin tidak seperti yang dibayangkan dan diinginkan oleh seseorang. Baik soal penyatuan dan sukacitanya. Sepasang suami istri mungkin tidak memiliki kesatuan fisik, emosional, dan spiritual yang mereka inginkan. Tapi, bahkan dalam situasi seperti ini, suami istri ini masih merupakan belahan jiwa masing-masing. Di dalam situasi seperti ini, setiap pasangan harus berusaha untuk membangun keintiman &#8220;belahan jiwa&#8221; yang sejati. Dengan menaati apa yang Alkitab ajarkan tentang pernikahan (Ef 5:22-33), setiap pasangan dapat mengembangkan keintiman, kasih, dan komitmen yang diperlukan oleh belahan jiwa yang sudah menjadi &#8220;satu daging&#8221;.<\/p>\n<p>Jika Saudara sudah menikah, berarti Saudara menikah dengan jodohnya Saudara. Tidak peduli seberapa tidak harmonisnya sebuah pernikahan, Allah dapat membawa kedamaian, pengampunan, pemulihan, dan kasih serta keharmonisan pernikahan sejati bagi Saudara.<\/p>\n<p>Apakah mungkin kita menikah dengan orang yang salah? Jika kita menyerahkan diri kita kepada Allah dan mencari pimpinan-Nya, Dia berjanji untuk mengarahkan kita: &#8220;Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu&#8221; (Ams 3:5-6). Kesimpulan dari Amsal 3:5-6 adalah: jika Saudara tidak percaya kepada Allah dengan segenap hati Saudara, dan bersandar pada pengertian Saudara sendiri, Saudara bisa saja menuju ke arah yang salah. Ya, Saudara bisa saja menikah dengan seseorang yang Allah tidak inginkan agar Saudara nikahi. Hal ini dapat terjadi karena ketidaktaatan dan kurangnya persekutuan yang intim dengan Allah. Meskipun begitu, dalam kejadian semacam ini pun, Allah tetap berdaulat dan berkuasa.<\/p>\n<p>Bahkan jika pernikahan tersebut bukan kehendak Allah, pernikahan tersebut masih berada dalam kedaulatan dan rencana-Nya. Allah membenci perceraian (Mal 2:16). Tapi, &#8220;menikahi orang yang salah&#8221; tidak pernah dinyatakan Alkitab sebagai alasan bagai seseorang untuk bercerai.<\/p>\n<p>Pernyataan bahwa &#8220;saya menikah dengan orang yang salah dan tidak akan pernah bahagia kecuali saya menemukan jodoh sejati saya&#8221; tidak alkitabiah karena dua hal. Pertama, itu sama saja dengan menyatakan kalau keputusan buruk Saudara telah mengesampingkan kehendak Allah dan menghancurkan rencana-Nya. Kedua, itu sama saja dengan menyatakan kalau Allah tidak mampu mengubah pernikahan yang dipenuhi masalah menjadi bahagia, menyatu, dan berhasil.<\/p>\n<p>Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengganggu kehendak Allah yang berdaulat. Allah dapat mengubah dua orang, tidak peduli betapa tidak serasinya mereka, dan membentuk mereka menjadi dua orang yang cocok satu sama lainnya.<\/p>\n<p>Jika kita memelihara persekutuan yang dekat dengan Allah, Dia akan memimpin dan membimbing kita. Jika seseorang berjalan bersama Allah dan benar-benar mencari kehendak-Nya, Allah akan membawa orang tersebut kepada pasangan yang Dia kehendaki. Allah akan menuntun kita kepada &#8220;jodoh&#8221; kita, jika kita memang sungguh-sungguh tunduk kepada-Nya dan mengikuti-Nya. Namun, belahan jiwa adalah sebuah posisi dan sekaligus merupakan sebuah praktik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suami istri adalah belahan jiwa bagi pasangannya masing-masing karena mereka merupakan &#8220;satu daging.&#8221; Baik secara spiritual, fisik, dan emosional, mereka telah bersatu satu sama lainnya. Bagaimanapun juga, dalam praktiknya, ada proses bagi seseorang untuk belajar menjadi satu kesatuan dan belahan jiwa. Termasuk, bagaimana mewujudkan hal tersebut menjadi realitas sehari-hari. Kesatuan belahan jiwa yang sejati hanya mungkin terjadi dengan menerapkan pola pernikahan yang alkitabiah. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Anggapan umum mengenai &#8220;jodoh&#8221; adalah: untuk setiap orang, ada seseorang yang merupakan &#8220;belahan jiwanya.&#8221; Jika Saudara menikah dengan siapapun selain jodoh ini, Saudara tidak akan pernah bahagia. Apakah konsep mengenai belahan jiwa atau jodoh ini alkitabiah? Tidak, konsep ini tidak alkitabiah. Konsep jodoh seringkali digunakan sebagai alasan bagi seseorang untuk bercerai. Orang-orang yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[506,505,147,146],"class_list":["post-41409","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-jodoh","tag-pacaran","tag-pernikahan","tag-relasi"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1196","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41409","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41409"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41409\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41409"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41409"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41409"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}