{"id":41429,"date":"2022-08-11T09:20:00","date_gmt":"2022-08-11T02:20:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41429"},"modified":"2022-06-05T18:36:31","modified_gmt":"2022-06-05T11:36:31","slug":"apakah-kencan-misionaris-sebuah-ide-yang-bagus-apakah-allah-tidak-dapat-menggunakannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-kencan-misionaris-sebuah-ide-yang-bagus-apakah-allah-tidak-dapat-menggunakannya\/","title":{"rendered":"Apakah kencan misionaris sebuah ide yang bagus? Apakah Allah tidak dapat menggunakannya?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kencan misionaris\/penginjilan adalah sebuah ide modern bahwa seorang Kristen dapat mengencani seorang non-Kristen dengan tujuan membawa orang itu beriman kepada Kristus. Walaupun Allah dapat menggunakan hubungan bagi penginjilan, Alkitab menyatakan bahwa hubungan terpenting kita seharusnya dengan sesama umat percaya. Sebuah masalah dalam mengevaluasi kencan sebagai media penginjilan dari sudut pandangan Alkitab adalah bahwa kencan sebetulnya tidak sering dilakukan dalam kurun waktu Alkitab. Sebagian besar pernikahan telah diatur sebelumnya. Akan tetapi, karena kencan seringkali kita pandang di kala ini sebagai &quot;jalur&quot; menuju pernikahan, prinsip Alkitabiah yang berlaku kepada pernikahan haruslah kita kenakan terhadap kencan, sebuah tindakan awal dari pernikahan. Alkitab melarang pernikahan antara orang percaya dan orang tidak percaya. Di dalam 1 Korintus 7:39, Paulus berkata bahwa seorang janda &quot;bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya.&quot; Perkecualian Paulus bahwa pasangannya harus &quot;seorang yang percaya&quot; adalah perintah yang jelas untuk menikahi orang Kristen. Paulus juga menuliskan, &quot;Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?&quot; (2 Korintus 6:14). Prinsip yang dituliskan ini adalah bahwa hubungan yang dekat dengan orang yang tidak percaya seringkali membuat iman kita terbengkalai. Menjalin hubungan romantis dengan orang yang tidak percaya sama bahayanya seperti bermain dengan api. &quot;Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik&quot; (1 Korintus 15:33). Bagaimana dengan kasus dimana seorang Kristen telah berkencan dengan orang non-Kristen, dan orang tersebut kemudian beriman kepada Yesus? Kita bersyukur kepada Tuhan akan pertobatan mereka, akan tetapi walaupun Allah memilih untuk menyelamatkan seseorang yang berkencan dengan orang Kristen tidak berarti bahwa &quot;kencan misionaris&quot; pada umumnya dianggap berhikmat atau Alkitabiah. Sebenarnya, jauh lebih banyak kasus dimana orang Kristen telah menurunkan standar imannya dibandingkan dengan memenangkan jiwa bagi Kristus. Lepas dari niatan terbaik, kencan dengan alasan penginjilan masih tetap mengandung resiko yang besar, dan adapun jauh lebih banyak cara menginjili yang lebih efektif. Alkitab tidak berbicara khusus mengenai prosedur kencan. Akan tetapi, karena kencan biasanya melangkah ke latar pelaminan, kita dapat menerapkan prinsip-prinsip yang berlaku di dalam Alkitab terhadap pernikahan. Indikasinya adalah bahwa orang percaya harusnya berkencan hanya dengan orang yang percaya. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Kencan misionaris\/penginjilan adalah sebuah ide modern bahwa seorang Kristen dapat mengencani seorang non-Kristen dengan tujuan membawa orang itu beriman kepada Kristus. Walaupun Allah <i>dapat<\/i> menggunakan hubungan bagi penginjilan, Alkitab menyatakan bahwa hubungan terpenting kita seharusnya dengan sesama umat percaya.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Sebuah masalah dalam mengevaluasi kencan sebagai media penginjilan dari sudut pandangan Alkitab adalah bahwa kencan sebetulnya tidak sering dilakukan dalam kurun waktu Alkitab. Sebagian besar pernikahan telah diatur sebelumnya. Akan tetapi, karena kencan seringkali kita pandang di kala ini sebagai &#8220;jalur&#8221; menuju pernikahan, prinsip Alkitabiah yang berlaku kepada pernikahan haruslah kita kenakan terhadap kencan, sebuah tindakan awal dari pernikahan.<\/p>\n<p>Alkitab melarang pernikahan antara orang percaya dan orang tidak percaya. Di dalam 1 Korintus 7:39, Paulus berkata bahwa seorang janda &#8220;bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya.&#8221; Perkecualian Paulus bahwa pasangannya harus &#8220;seorang yang percaya&#8221; adalah perintah yang jelas untuk menikahi orang Kristen.<\/p>\n<p>Paulus juga menuliskan, &#8220;Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?&#8221; (2 Korintus 6:14). Prinsip yang dituliskan ini adalah bahwa hubungan yang dekat dengan orang yang tidak percaya seringkali membuat iman kita terbengkalai. Menjalin hubungan romantis dengan orang yang tidak percaya sama bahayanya seperti bermain dengan api. &#8220;Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik&#8221; (1 Korintus 15:33).<\/p>\n<p>Bagaimana dengan kasus dimana seorang Kristen telah berkencan dengan orang non-Kristen, dan orang tersebut kemudian beriman kepada Yesus? Kita bersyukur kepada Tuhan akan pertobatan mereka, akan tetapi walaupun Allah memilih untuk menyelamatkan seseorang yang berkencan dengan orang Kristen tidak berarti bahwa &#8220;kencan misionaris&#8221; pada umumnya dianggap berhikmat atau Alkitabiah. Sebenarnya, jauh lebih banyak kasus dimana orang Kristen telah menurunkan standar imannya dibandingkan dengan memenangkan jiwa bagi Kristus. Lepas dari niatan terbaik, kencan dengan alasan penginjilan masih tetap mengandung resiko yang besar, dan adapun jauh lebih banyak cara menginjili yang lebih efektif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Alkitab tidak berbicara khusus mengenai prosedur kencan. Akan tetapi, karena kencan biasanya melangkah ke latar pelaminan, kita dapat menerapkan prinsip-prinsip yang berlaku di dalam Alkitab terhadap pernikahan. Indikasinya adalah bahwa orang percaya harusnya berkencan hanya dengan orang yang percaya. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kencan misionaris\/penginjilan adalah sebuah ide modern bahwa seorang Kristen dapat mengencani seorang non-Kristen dengan tujuan membawa orang itu beriman kepada Kristus. Walaupun Allah dapat menggunakan hubungan bagi penginjilan, Alkitab menyatakan bahwa hubungan terpenting kita seharusnya dengan sesama umat percaya. Sebuah masalah dalam mengevaluasi kencan sebagai media penginjilan dari sudut pandangan Alkitab adalah bahwa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"70"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[146],"class_list":["post-41429","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-relasi"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"835","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41429","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41429"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41429\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41429"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41429"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41429"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}