{"id":41433,"date":"2022-07-02T09:21:00","date_gmt":"2022-07-02T02:21:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41433"},"modified":"2022-06-05T17:45:12","modified_gmt":"2022-06-05T10:45:12","slug":"hubungan-seks-pranikah-mengapa-umat-kristen-begitu-anti-terhadapnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/hubungan-seks-pranikah-mengapa-umat-kristen-begitu-anti-terhadapnya\/","title":{"rendered":"Hubungan seks pranikah \u2013 mengapa umat Kristen begitu anti terhadapnya?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Hubungan seks pranikah mencakup segala tindakan seksual yang dilakukan sebelum menikah secara sah. Ada berbagai alasan mengapa Alkitab dan keKristenan yang tradisional menentangnya. Allah menciptakan hubungan seks untuk dinikmati di dalam hubungan nikah yang berkomitmen seumur hidup antara satu pria dan satu wanita. Jika kita mencabut seks dari konteksnya maka kita sedang menyimpangkan penggunaannya dan mengurangi kenikmatannya. Hubungan seksual melibatkan keintiman yang tidak dapat dialami oleh hubungan manusiawi lainnya. Ketika Allah mempersatukan Adam dan Hawa di dalam pernikahan, Ia menetapkan aspek &quot;satu daging&quot; dalam hubungan mereka. Kejadian 2:24 mengajar bahwa seorang pria akan meninggalkan keluarganya, bersatu dengan istrinya, dan menjadi &quot;satu daging&quot; dengannya. Ide ini diteruskan di dalam Perjanjian Baru; kita melihatnya dalam ucapan Yesus yang direkam dalam Matius 19:5 dan Markus 10:7. Paulus menjelaskan ide ini dalam 1 Korintus 6:12-20, dalam kaitannya dengan ketuhanan Allah atas tubuh dan jiwa kita. Ia mengajar jika seorang pria berhubungan seks dengan pelacur, maka mereka telah menjadi &quot;satu tubuh&quot; (ayat 16). Cukup jelas bahwa hubungan seksual bersifat istimewa. Ada sebuah kerentanan yang dialami dalam hubungan seks yang hanya boleh dibagikan dalam persatuan yang berkomitmen dan saling mempercayai. Pada umumnya ada dua alasan yang diberikan sebagai pembenaran terhadap seks pranikah. Pertama, &quot;kita saling mengasihi dan berkomitmen, namun kita tidak ingin menundanya sampai pernikahan,&quot; dan kedua &quot;seks bebas.&quot; Yang pertama seringkali dibela dengan alasan bahwa pasangan itu pasti akan menikah, sehingga tidak salah jika mereka mulai menikmatinya sekarang. Akan tetapi, alasan ini menunjukkan adanya ketidaksabaran dan tidak menghargai diri sendiri atau pasangannya. Keistimewaan seks dicabut dari susunannya yang sah, sehingga bahkan ide tentang adanya susunan tersebut akan ikut tergerus. Jika kita menerima perilaku ini, maka tidak lama kemudian kita akan beranggapan bahwa seks di luar nikah juga diperbolehkan. Berpantangan seks sebelum nikah seolah-olah memberitahu calon pasangan nikah kita bahwa mereka layak menerima kesucian kita; dan hubungan maupun komitmen pada hubungan tersebut akan diperkuat. Seks bebas merajalela pada jaman ini. Kenyataannya, tidak ada &quot;kebebasan&quot; dalam hubungan seks, karena keintiman yang terlibat dalam hubungan seks amat sangat dalam. Mungkin konsep ini lebih mudah ditangkap dalam bentuk kiasan. Jika kita menempelkan sesuatu kepada barang yang lain dengan lem, keduanya akan menempel. Jika kita mencabutnya, ada sedikit sisa lem yang tertinggal; semakin lama menempel, semakin banyak sisa yang tertinggal. Jika kita mengambil obyek yang kita lem dan kita tempelkan berulang kali pada barang yang lain, maka akan ada sisa yang tertinggal dimana-mana, dan pada akhirnya lem itu kehilangan daya tempelnya. Inilah yang terjadi ketika kita terlibat dalam seks &quot;bebas&quot;. Setiap kali kita meninggalkan hubungan yang telah menjadi seksual, kita meninggalkan &quot;sisa&quot; diri kita. Semakin lama hubungan itu berlangsung, semakin banyak &quot;sisa&quot; yang kita tinggalkan, dan semakin banyak diri kita yang tertinggal. Ketika kita beralih pada pasangan baru, kita semakin kehilangan diri kita, dan pada akhirnya kita tidak lagi mampu menjalin hubungan seks yang mampu bertahan. Hubungan seks begitu kuat dan begitu intim sehingga kita tidak mungkin menjalaninya dengan santai, meskipun kelihatannya begitu saja. Lantas, apakah ada harapan bagi yang sudah terlanjur? Ketika seorang Kristen terlibat dalam hubungan seks pranikah, atau seseorang sudah kehilangan keperawanan\/keperjakaan mereka sebelum mengenal Kristus, Roh Kudus akan menuduh akan dosa tersebut, dan akan ada rasa bersalah yang dirasakan. Akan tetapi kita perlu mengingat bahwa tidak ada dosa yang tidak mampu dibersihkan oleh darah Yesus. Jika kita mengaku, maka Ia tidak hanya mengampuni, Ia bahkan akan membersihkan kita dari &quot;segala kejahatan&quot; (1 Yohanes 1:9). Selebihnya, selain pengampunan (yang begitu luar biasa), Allah juga memulihkan kita. Di dalam Yoel 2:25 Allah memberitahui Israel bahwa Ia akan mengembalikan semua yang telah dimakan oleh belalang. Walaupun ini bukan janji bagi umat Kristen di jaman ini, hal ini mengajar bahwa sifat Allah memulihkan. Seks pranikah mirip dengan belalang yang memakan harga diri kita dan kelayakan kita untuk diampuni. Namun Allah dapat memulihkan semuanya. Alkitab juga mengajar bahwa, ketika kita datang pada Kristus, kita menjadi ciptaan baru (2 Korintus 5:17), sehingga mereka yang terlanjur terlibat dalam seks pranikah sebelunya telah diciptakan baru oleh Allah sebagai manusia baru; yang lama telah berlalu, yang baru telah datang. Pada akhirnya, kita tahu bahwa, sebagai orang Kristen, kita terus diperbarui oleh Roh Kudus setiap hari kita berjalan dengan Yesus. Kolose 3:10 mengajar bahwa diri kita yang baru sedang diperbarui setiap hari menurut rupa Sang Pencipta kita. Tidak ada dosa tanpa harapan. Kuasa injil tersedia bagi setiap orang yang mempercayakan pengampunan mereka kepada Yesus. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Hubungan seks pranikah mencakup segala tindakan seksual yang dilakukan sebelum menikah secara sah. Ada berbagai alasan mengapa Alkitab dan keKristenan yang tradisional menentangnya. Allah menciptakan hubungan seks untuk dinikmati di dalam hubungan nikah yang berkomitmen seumur hidup antara satu pria dan satu wanita. Jika kita mencabut seks dari konteksnya maka kita sedang menyimpangkan penggunaannya dan mengurangi kenikmatannya. Hubungan seksual melibatkan keintiman yang tidak dapat dialami oleh hubungan manusiawi lainnya. Ketika Allah mempersatukan Adam dan Hawa di dalam pernikahan, Ia menetapkan aspek &#8220;satu daging&#8221; dalam hubungan mereka. Kejadian 2:24 mengajar bahwa seorang pria akan meninggalkan keluarganya, bersatu dengan istrinya, dan menjadi &#8220;satu daging&#8221; dengannya.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Ide ini diteruskan di dalam Perjanjian Baru; kita melihatnya dalam ucapan Yesus yang direkam dalam Matius 19:5 dan Markus 10:7. Paulus menjelaskan ide ini dalam 1 Korintus 6:12-20, dalam kaitannya dengan ketuhanan Allah atas tubuh dan jiwa kita. Ia mengajar jika seorang pria berhubungan seks dengan pelacur, maka mereka telah menjadi &#8220;satu tubuh&#8221; (ayat 16). Cukup jelas bahwa hubungan seksual bersifat istimewa. Ada sebuah kerentanan yang dialami dalam hubungan seks yang hanya boleh dibagikan dalam persatuan yang berkomitmen dan saling mempercayai.<\/p>\n<p>Pada umumnya ada dua alasan yang diberikan sebagai pembenaran terhadap seks pranikah. Pertama, &#8220;kita saling mengasihi dan berkomitmen, namun kita tidak ingin menundanya sampai pernikahan,&#8221; dan kedua &#8220;seks bebas.&#8221; Yang pertama seringkali dibela dengan alasan bahwa pasangan itu pasti akan menikah, sehingga tidak salah jika mereka mulai menikmatinya sekarang. Akan tetapi, alasan ini menunjukkan adanya ketidaksabaran dan tidak menghargai diri sendiri atau pasangannya. Keistimewaan seks dicabut dari susunannya yang sah, sehingga bahkan ide tentang adanya susunan tersebut akan ikut tergerus. Jika kita menerima perilaku ini, maka tidak lama kemudian kita akan beranggapan bahwa seks di luar nikah juga diperbolehkan. Berpantangan seks sebelum nikah seolah-olah memberitahu calon pasangan nikah kita bahwa mereka layak menerima kesucian kita; dan hubungan maupun komitmen pada hubungan tersebut akan diperkuat.<\/p>\n<p>Seks bebas merajalela pada jaman ini. Kenyataannya, tidak ada &#8220;kebebasan&#8221; dalam hubungan seks, karena keintiman yang terlibat dalam hubungan seks amat sangat dalam. Mungkin konsep ini lebih mudah ditangkap dalam bentuk kiasan. Jika kita menempelkan sesuatu kepada barang yang lain dengan lem, keduanya akan menempel. Jika kita mencabutnya, ada sedikit sisa lem yang tertinggal; semakin lama menempel, semakin banyak sisa yang tertinggal. Jika kita mengambil obyek yang kita lem dan kita tempelkan berulang kali pada barang yang lain, maka akan ada sisa yang tertinggal dimana-mana, dan pada akhirnya lem itu kehilangan daya tempelnya. Inilah yang terjadi ketika kita terlibat dalam seks &#8220;bebas&#8221;. Setiap kali kita meninggalkan hubungan yang telah menjadi seksual, kita meninggalkan &#8220;sisa&#8221; diri kita. Semakin lama hubungan itu berlangsung, semakin banyak &#8220;sisa&#8221; yang kita tinggalkan, dan semakin banyak diri kita yang tertinggal. Ketika kita beralih pada pasangan baru, kita semakin kehilangan diri kita, dan pada akhirnya kita tidak lagi mampu menjalin hubungan seks yang mampu bertahan. Hubungan seks begitu kuat dan begitu intim sehingga kita tidak mungkin menjalaninya dengan santai, meskipun kelihatannya begitu saja.<\/p>\n<p>Lantas, apakah ada harapan bagi yang sudah terlanjur? Ketika seorang Kristen terlibat dalam hubungan seks pranikah, atau seseorang sudah kehilangan keperawanan\/keperjakaan mereka sebelum mengenal Kristus, Roh Kudus akan menuduh akan dosa tersebut, dan akan ada rasa bersalah yang dirasakan. Akan tetapi kita perlu mengingat bahwa tidak ada dosa yang tidak mampu dibersihkan oleh darah Yesus. Jika kita mengaku, maka Ia tidak hanya mengampuni, Ia bahkan akan membersihkan kita dari &#8220;segala kejahatan&#8221; (1 Yohanes 1:9). Selebihnya, selain pengampunan (yang begitu luar biasa), Allah juga memulihkan kita. Di dalam Yoel 2:25 Allah memberitahui Israel bahwa Ia akan mengembalikan semua yang telah dimakan oleh belalang. Walaupun ini bukan janji bagi umat Kristen di jaman ini, hal ini mengajar bahwa sifat Allah memulihkan. Seks pranikah mirip dengan belalang yang memakan harga diri kita dan kelayakan kita untuk diampuni. Namun Allah dapat memulihkan semuanya. Alkitab juga mengajar bahwa, ketika kita datang pada Kristus, kita menjadi ciptaan baru (2 Korintus 5:17), sehingga mereka yang terlanjur terlibat dalam seks pranikah sebelunya telah diciptakan baru oleh Allah sebagai manusia baru; yang lama telah berlalu, yang baru telah datang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, kita tahu bahwa, sebagai orang Kristen, kita terus diperbarui oleh Roh Kudus setiap hari kita berjalan dengan Yesus. Kolose 3:10 mengajar bahwa diri kita yang baru sedang diperbarui setiap hari menurut rupa Sang Pencipta kita. Tidak ada dosa tanpa harapan. Kuasa injil tersedia bagi setiap orang yang mempercayakan pengampunan mereka kepada Yesus. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Hubungan seks pranikah mencakup segala tindakan seksual yang dilakukan sebelum menikah secara sah. Ada berbagai alasan mengapa Alkitab dan keKristenan yang tradisional menentangnya. Allah menciptakan hubungan seks untuk dinikmati di dalam hubungan nikah yang berkomitmen seumur hidup antara satu pria dan satu wanita. Jika kita mencabut seks dari konteksnya maka kita sedang menyimpangkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[146],"class_list":["post-41433","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-relasi"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1016","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41433","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41433"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41433\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41433"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41433"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41433"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}