{"id":41443,"date":"2022-08-14T09:23:00","date_gmt":"2022-08-14T02:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41443"},"modified":"2022-06-05T18:40:31","modified_gmt":"2022-06-05T11:40:31","slug":"apa-saja-alasan-yang-tepat-untuk-memutuskan-hubungan-dengan-pacar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-saja-alasan-yang-tepat-untuk-memutuskan-hubungan-dengan-pacar\/","title":{"rendered":"Apa saja alasan yang tepat untuk memutuskan hubungan dengan pacar?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ini pertanyaan yang sulit dijawab, apapun alasan penyebabnya. Hal pertama yang harus kita ingat adalah nasehat Yesus kepada Petrus tentang mengampuni orang yang telah berdosa terhadap kita: &quot;Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: &#039;Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?&#039; Yesus berkata kepadanya: &#039;Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali&#039;&quot; (Matius 18:21-22). Mengampuni adalah langkah pertama yang harus kita ambil. Anda mungkin dapat menganggap pacaran sebagai latihan untuk pernikahan. Ini bukan berarti Anda harus menikahi orang itu. Allah mungkin mengarahkan Anda kepada orang lain, tetapi mengampuni dan berusaha memecahkan masalah masih merupakan langkah terbaik kecuali, setelah berdoa, Allah masih mengarahkan Anda untuk meninggalkan hubungan tersebut. Memecahkan masalah merupakan kebiasaan yang baik, sebagaimana yang kita lakukan dalam pernikahan, daripada melarikan diri ketika pasangan nikah kita berperilaku buruk atau menyakiti kita. Ada satu alasan yang tepat untuk memutuskan hubungan asmara. Paulus dalam 1 Korintus 5:9-11 mengajar, &quot;Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.&quot; Jika pacar Anda terjerat dosa semacam ini, Paulus memerintahkan supaya Anda memutuskan hubungan itu segera. Mereka yang hidupnya dicemari oleh keserakahan, percabulan, berhala, dsb. tidak sepantasnya menjadi calon pasangan nikah kita. Setiap situasi tidaklah sama, dan sulit sekali memberi saran yang tepat untuk setiap situasi yang berbeda. Adalah jelas bahwa Allah berkenan supaya kita mengampuni, namun dalam halnya memutuskan hubungan asmara, cara yang terbaik adalah mendoakannya, dengan ketekunan, ketajaman, hikmat, dan belas kasih. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Ini pertanyaan yang sulit dijawab, apapun alasan penyebabnya. Hal pertama yang harus kita ingat adalah nasehat Yesus kepada Petrus tentang mengampuni orang yang telah berdosa terhadap kita: &#8220;Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: &#8216;Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?&#8217; Yesus berkata kepadanya: &#8216;Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali'&#8221; (Matius 18:21-22). Mengampuni adalah langkah pertama yang harus kita ambil.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Anda mungkin dapat menganggap pacaran sebagai latihan untuk pernikahan. Ini bukan berarti Anda harus menikahi orang itu. Allah mungkin mengarahkan Anda kepada orang lain, tetapi mengampuni dan berusaha memecahkan masalah masih merupakan langkah terbaik kecuali, setelah berdoa, Allah masih mengarahkan Anda untuk meninggalkan hubungan tersebut. Memecahkan masalah merupakan kebiasaan yang baik, sebagaimana yang kita lakukan dalam pernikahan, daripada melarikan diri ketika pasangan nikah kita berperilaku buruk atau menyakiti kita.<\/p>\n<p>Ada satu alasan yang tepat untuk memutuskan hubungan asmara. Paulus dalam 1 Korintus 5:9-11 mengajar, &#8220;Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.&#8221; Jika pacar Anda terjerat dosa semacam ini, Paulus memerintahkan supaya Anda memutuskan hubungan itu segera. Mereka yang hidupnya dicemari oleh keserakahan, percabulan, berhala, dsb. tidak sepantasnya menjadi calon pasangan nikah kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap situasi tidaklah sama, dan sulit sekali memberi saran yang tepat untuk setiap situasi yang berbeda. Adalah jelas bahwa Allah berkenan supaya kita mengampuni, namun dalam halnya memutuskan hubungan asmara, cara yang terbaik adalah mendoakannya, dengan ketekunan, ketajaman, hikmat, dan belas kasih. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ini pertanyaan yang sulit dijawab, apapun alasan penyebabnya. Hal pertama yang harus kita ingat adalah nasehat Yesus kepada Petrus tentang mengampuni orang yang telah berdosa terhadap kita: &#8220;Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: &#8216;Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?&#8217; Yesus berkata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[146],"class_list":["post-41443","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-relasi"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"907","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41443","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41443"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41443\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41443"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41443"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41443"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}