{"id":41450,"date":"2020-06-09T08:09:03","date_gmt":"2020-06-09T01:09:03","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41450"},"modified":"2020-06-06T23:59:00","modified_gmt":"2020-06-06T16:59:00","slug":"apa-kata-alkitab-tentang-jatuh-cinta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-kata-alkitab-tentang-jatuh-cinta\/","title":{"rendered":"Apa kata Alkitab tentang jatuh cinta?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -&quot;Jatuh cinta&quot; adalah menjadi terpikat pada seseorang dan mulai merasa cinta pada orang itu. Jatuh cinta sedang menggambarkan perasaan senang seseorang ketika mereka merasakan cinta. Alkitab tidak berbicara tentang jatuh cinta, melainkan tentang cinta itu sendiri. Alkitab tidak menggambarkan cinta sebagai perasaan melainkan tindakan yang dipilih. Kita memilih untuk mengasihi; yakni, kita berkomitmen untuk bertindak demi kebaikan orang lain. Ide di balik ekspresi &quot;jatuh cinta&quot; sangat tergantung pada perasaan senang dan kuatnya rangsangan hormon. Kasih yang alkitabiah berada dalam kondisi terpisah dari perasaan; dalam kata lain, perintah &quot;kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri&quot; (Yakobus 2:8) dapat ditaati tanpa dipengaruhi oleh hormon. Tentunya perasaan senang seringkali mendampingi cinta, dan secara alami kita mempunyai perasaan hangat terhadap orang yang kita senangi. Dan adalah pada tempatnya untuk mempunyai perasaan yang positif ditemani rangsangan hormon pada pasangan yang kita nikahi. Namun jika &quot;jatuh cinta&quot; sampai sebatas itu saja, maka ada masalah. Apa yang terjadi ketika perasaan mulai hambar? Bagaimana ketika rangsangan hormon kita sudah menyurut? Apakah cinta kita sudah jatuh? Cinta seharusnya tidak tergantung pada perasaan atau manfaat atau daya tarik romantis. Konsep &quot;jatuh cinta&quot; menekankan kondisi perasaan mereka yang terlibat, seolah-olah mereka tidak sengaja terjerumus ke dalam sesuatu. Meskipun &quot;jatuh cinta&quot; puitis, namun realitanya kita bertanggung-jawab mengendalikan perasaan kita. Banyak sekali pernikahan (dan dimulai dengan ceroboh) berujung pada perceraian karena kedua pihak &quot;jatuh cinta&quot; dengan orang yang salah. Perlu kita ingatkan bahwa Allah membenci perceraian (Maleakhi 2:16), tanpa menghiraukan betapa &quot;jatuh cintanya&quot; suami atau istri pada orang lain. Cinta bukan kondisi yang ke dalamnya kita tidak sengaja terperosok. Cinta adalah komitmen yang kita penuhi dalam kehidupan. Masalah pada konsep &quot;jatuh cinta&quot; ada pada penyimpangan makna cinta atau kasih yang sebenarnya. &quot;Jatuh cinta&quot; lebih mirip dengan &quot;terjatuh ke dalam nafsu&quot; atau &quot;jatuh hati.&quot; Kasih adalah &quot;jalan yang terbaik&quot; (1 Korintus 12:31, versi BIS). &quot;Kasih itu sabar; kasih itu murah hati&quot; (1 Korintus 13:4), dan kita tidak &quot;jatuh&quot; ke dalam kesabaran atau kemurahan hati. Semakin kita mengasihi, semakin kita memberi dan semakin kita berfokus pada orang lain (baca Yohanes 3:16 dan 1 Yohanes 4:10). Ungkapan &quot;jatuh cinta&quot; itu menarik, dan bayangan asmaranya menyenangkan. Perasaan itu tidak salah, dan mungkin saja orang yang jatuh cinta telah menemukan pasangannya yang sempurna. Namun penting untuk diingat bahwa kasih sebenarnya lebih besar dari sekedar perasaan yang didasari oleh daya tarik jasmani. Mereka yang sedang &quot;jatuh cinta&quot; kadang buta terhadap situasi mereka yang sebenarnya dan seringkali salah menganggap kuatnya perasaan mereka sebagai cinta yang sejati. Sang mempelai wanita dalam Kidung Agung berbicara mengenai sifat permanen nya cinta sejati ketika ia berkata pada suaminya: &quot;Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu&quot; (Kidung Agung 8:6). Dalam kata lain, &quot;Ikrarkan padaku seluruh perasaanmu (hatimu), dan seluruh kekuatanmu (lenganmu). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-&#8220;Jatuh cinta&#8221; adalah menjadi terpikat pada seseorang dan mulai merasa cinta pada orang itu. <i>Jatuh cinta<\/i> sedang menggambarkan perasaan senang seseorang ketika mereka merasakan cinta. Alkitab tidak berbicara tentang jatuh cinta, melainkan tentang cinta itu sendiri.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Alkitab tidak menggambarkan cinta sebagai perasaan melainkan tindakan yang dipilih. Kita memilih untuk mengasihi; yakni, kita berkomitmen untuk bertindak demi kebaikan orang lain. Ide di balik ekspresi &#8220;jatuh cinta&#8221; sangat tergantung pada perasaan senang dan kuatnya rangsangan hormon. Kasih yang alkitabiah berada dalam kondisi terpisah dari perasaan; dalam kata lain, perintah &#8220;kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri&#8221; (Yakobus 2:8) dapat ditaati tanpa dipengaruhi oleh hormon.<\/p>\n<p>Tentunya perasaan senang seringkali mendampingi cinta, dan secara alami kita mempunyai perasaan hangat terhadap orang yang kita senangi. Dan adalah pada tempatnya untuk mempunyai perasaan yang positif ditemani rangsangan hormon pada pasangan yang kita nikahi. Namun jika &#8220;jatuh cinta&#8221; sampai sebatas itu saja, maka ada masalah. Apa yang terjadi ketika perasaan mulai hambar? Bagaimana ketika rangsangan hormon kita sudah menyurut? Apakah cinta kita sudah jatuh?<\/p>\n<p>Cinta seharusnya tidak tergantung pada perasaan atau manfaat atau daya tarik romantis. Konsep &#8220;jatuh cinta&#8221; menekankan kondisi perasaan mereka yang terlibat, seolah-olah mereka tidak sengaja terjerumus ke dalam sesuatu. Meskipun &#8220;jatuh cinta&#8221; puitis, namun realitanya kita bertanggung-jawab mengendalikan perasaan kita. Banyak sekali pernikahan (dan dimulai dengan ceroboh) berujung pada perceraian karena kedua pihak &#8220;jatuh cinta&#8221; dengan orang yang salah. Perlu kita ingatkan bahwa Allah membenci perceraian (Maleakhi 2:16), tanpa menghiraukan betapa &#8220;jatuh cintanya&#8221; suami atau istri pada orang lain.<\/p>\n<p>Cinta bukan kondisi yang ke dalamnya kita tidak sengaja terperosok. Cinta adalah komitmen yang kita penuhi dalam kehidupan. Masalah pada konsep &#8220;jatuh cinta&#8221; ada pada penyimpangan makna cinta atau kasih yang sebenarnya. &#8220;Jatuh cinta&#8221; lebih mirip dengan &#8220;terjatuh ke dalam nafsu&#8221; atau &#8220;jatuh hati.&#8221; Kasih adalah &#8220;jalan yang terbaik&#8221; (1 Korintus 12:31, versi BIS). &#8220;Kasih itu sabar; kasih itu murah hati&#8221; (1 Korintus 13:4), dan kita tidak &#8220;jatuh&#8221; ke dalam kesabaran atau kemurahan hati. Semakin kita mengasihi, semakin kita memberi dan semakin kita berfokus pada orang lain (baca Yohanes 3:16 dan 1 Yohanes 4:10).<\/p>\n<p>Ungkapan &#8220;jatuh cinta&#8221; itu menarik, dan bayangan asmaranya menyenangkan. Perasaan itu tidak salah, dan mungkin saja orang yang jatuh cinta telah menemukan pasangannya yang sempurna. Namun penting untuk diingat bahwa kasih sebenarnya lebih besar dari sekedar perasaan yang didasari oleh daya tarik jasmani. Mereka yang sedang &#8220;jatuh cinta&#8221; kadang buta terhadap situasi mereka yang sebenarnya dan seringkali salah menganggap kuatnya perasaan mereka sebagai cinta yang sejati. Sang mempelai wanita dalam Kidung Agung berbicara mengenai sifat permanen nya cinta sejati ketika ia berkata pada suaminya: &#8220;Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu&#8221; (Kidung Agung 8:6). Dalam kata lain, &#8220;Ikrarkan padaku seluruh perasaanmu (hatimu), dan seluruh kekuatanmu (lenganmu). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -&#8220;Jatuh cinta&#8221; adalah menjadi terpikat pada seseorang dan mulai merasa cinta pada orang itu. Jatuh cinta sedang menggambarkan perasaan senang seseorang ketika mereka merasakan cinta. Alkitab tidak berbicara tentang jatuh cinta, melainkan tentang cinta itu sendiri. Alkitab tidak menggambarkan cinta sebagai perasaan melainkan tindakan yang dipilih. Kita memilih untuk mengasihi; yakni, kita berkomitmen untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"70"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[146],"class_list":["post-41450","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-relasi"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2126","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41450","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41450"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41450\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41450"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41450"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41450"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}