{"id":41458,"date":"2022-08-19T09:25:00","date_gmt":"2022-08-19T02:25:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41458"},"modified":"2022-06-05T18:42:45","modified_gmt":"2022-06-05T11:42:45","slug":"bagaimana-pandangan-kristen-tentang-pertunangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bagaimana-pandangan-kristen-tentang-pertunangan\/","title":{"rendered":"Bagaimana pandangan Kristen tentang pertunangan?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Di dalam Alkitab, ada tiga langkah yang harus diambil orang Yahudi untuk menikah. Keluarga dari kedua pihak harus menyetujui persatuan itu, kemudian sebuah pernyataan umum disampaikan. Setelah itu, pasangan itu bertunangan. Pada akhirnya, mereka dinikahkan secara resmi dan mulai hidup bersama. Sayangnya, seringkali masyarakat jaman sekarang tidak menekankan betapa seriusnya pertunangan seperti jaman dahulu. Ketika pasangan Yahudi bertunangan pada jaman Alkitab, mereka telah diikat oleh kontrak yang hanya dapat diputus oleh kematian atau perceraian. Seorang Kristen yang sedang mempertimbangkan pernikahan perlu menyadari betapa seriusnya komitmen ini dan jangan memasukinya dengan sembrono. Allah memaksudkan pernikahan sebagai komitmen seumur hidup, bukan kondisi sementara. Alkitab berkata demikian mengenai pernikahan: &quot;Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia&quot; (Markus 10:7-9). Orang Kristen perlu memastikan bahwa mereka benar-benar mengenal calon pasangan hidup mereka sebelum bertunangan. Alkitab mengatakan bahwa orang Kristen tidak semestinya bersatu dan hidup secara harmonis dengan orang tidak percaya (2 Korintus 6:14-15). Seorang Kristen yang bersekutu dengan orang tidak percaya memastikan dirinya akan dijauhkan dari Kristus karena, Alkitab berkata, &quot;pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik&quot; (1 Korintus 15:33). Satu-satunya cara mendapatkan dasar pernikahan yang teguh adalah memastikan pernikahan itu didasari iman dan calon pasangannya sama-sama berdedikasi pada Allah. Peran hidup orang Kristen bagaikan Allah yang sedang mengemudi kendaraan dan mereka bagaikan penumpang. Ia ingin menjadi bagian dari tiap aspek kehidupan kita, termasuk siapa yang akan kita nikahi. Mempunyai pengertian yang jelas akan Firman Allah dan mengembangkan hubungan pribadi dengan-Nya melalui doa, serta tunduk kepada arahan Roh Kudus adalah langkah utama dan terpenting dalam mencari kehendak-Nya. Saran kencan dan pertunangan dunia hanya boleh dipertimbangkan dari sudut pandang Allah dalam Alkitab. Jika kita mencari kehendak-Nya dalam segala yang aspek kehidupan kita, Ia akan mengarahkan jalan kita (Amsal 3:5-6). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Di dalam Alkitab, ada tiga langkah yang harus diambil orang Yahudi untuk menikah. Keluarga dari kedua pihak harus menyetujui persatuan itu, kemudian sebuah pernyataan umum disampaikan. Setelah itu, pasangan itu bertunangan. Pada akhirnya, mereka dinikahkan secara resmi dan mulai hidup bersama. Sayangnya, seringkali masyarakat jaman sekarang tidak menekankan betapa seriusnya pertunangan seperti jaman dahulu. Ketika pasangan Yahudi bertunangan pada jaman Alkitab, mereka telah diikat oleh kontrak yang hanya dapat diputus oleh kematian atau perceraian.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Seorang Kristen yang sedang mempertimbangkan pernikahan perlu menyadari betapa seriusnya komitmen ini dan jangan memasukinya dengan sembrono. Allah memaksudkan pernikahan sebagai komitmen seumur hidup, bukan kondisi sementara. Alkitab berkata demikian mengenai pernikahan: &#8220;Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia&#8221; (Markus 10:7-9).<\/p>\n<p>Orang Kristen perlu memastikan bahwa mereka benar-benar mengenal calon pasangan hidup mereka sebelum bertunangan. Alkitab mengatakan bahwa orang Kristen tidak semestinya bersatu dan hidup secara harmonis dengan orang tidak percaya (2 Korintus 6:14-15). Seorang Kristen yang bersekutu dengan orang tidak percaya memastikan dirinya akan dijauhkan dari Kristus karena, Alkitab berkata, &#8220;pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik&#8221; (1 Korintus 15:33). Satu-satunya cara mendapatkan dasar pernikahan yang teguh adalah memastikan pernikahan itu didasari iman dan calon pasangannya sama-sama berdedikasi pada Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peran hidup orang Kristen bagaikan Allah yang sedang mengemudi kendaraan dan mereka bagaikan penumpang. Ia ingin menjadi bagian dari tiap aspek kehidupan kita, termasuk siapa yang akan kita nikahi. Mempunyai pengertian yang jelas akan Firman Allah dan mengembangkan hubungan pribadi dengan-Nya melalui doa, serta tunduk kepada arahan Roh Kudus adalah langkah utama dan terpenting dalam mencari kehendak-Nya. Saran kencan dan pertunangan dunia hanya boleh dipertimbangkan dari sudut pandang Allah dalam Alkitab. Jika kita mencari kehendak-Nya dalam segala yang aspek kehidupan kita, Ia akan mengarahkan jalan kita (Amsal 3:5-6). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Di dalam Alkitab, ada tiga langkah yang harus diambil orang Yahudi untuk menikah. Keluarga dari kedua pihak harus menyetujui persatuan itu, kemudian sebuah pernyataan umum disampaikan. Setelah itu, pasangan itu bertunangan. Pada akhirnya, mereka dinikahkan secara resmi dan mulai hidup bersama. Sayangnya, seringkali masyarakat jaman sekarang tidak menekankan betapa seriusnya pertunangan seperti jaman [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[146],"class_list":["post-41458","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-relasi"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1591","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41458","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41458"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41458\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41458"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41458"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41458"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}