{"id":41511,"date":"2022-06-16T09:43:00","date_gmt":"2022-06-16T02:43:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41511"},"modified":"2022-06-05T16:39:04","modified_gmt":"2022-06-05T09:39:04","slug":"apa-kata-alkitab-mengenai-pernikahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-kata-alkitab-mengenai-pernikahan\/","title":{"rendered":"Apa kata Alkitab mengenai pernikahan?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Lembaga pernikahan dicatat dalam kitab Kejadian. \u201cLalu berkatalah manusia itu: &quot;Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.&quot; Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging\u201d (Kejadian 2:23-24). Allah menciptakan laki-laki dan kemudian menciptakan perempuan dari \u201ctulang dari tulangku.\u201d Sebagaimana yang dicatat, Allah mengambil salah satu \u201ctulang rusuk\u201d Adam (Kejadian 2:21-22). Kata Ibrani yang dipakai secara harafiah berarti: sisi\/samping dari seseorang. Hawa diambil dari \u201csisi\u201d Adam dan di sisi Adamlah tempatnya. \u201cManusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia\u201d (Kejadian 2:20). Kata \u201cpenolong\u201d dan \u201csepadan\u201d dalam bahasa Ibrani adalah kata yang sama. Kata tersebut adalah \u201cezer\u201d dari berasal dari kata kuno yang berarti mengelilingi, melindungi atau membantu, menolong, penolong. Karena itu, kata ini berarti menolong atau membantu. Hawa diciptakan untuk berada di sisi Adam sebagai \u201cbagian dari dirinya,\u201d menjadi pembantu dan penolongnya. Setelah menikah, laki-laki dan perempuan menjadi \u201csatu daging.\u201d Perjanjian Baru menambahkan peringatan kepada \u201ckesatuan\u201d ini. \u201cDemikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia&quot; (Matius 19:6). Beberapa surat Paulus berbicara pernikahan dan memberi pandangan Alkitab mengenai pernikahan dan bagaimana orang-percaya harus bersikap dalam hubungan pernikahan. Salah satu bagian tersebut bisa ditemukan dalam 1 Korintus 7 dan Efesus 5:22-33. Ketika kedua bagian ini dipelajari bersama, kedua bagian Alkitab ini menyediakan orang-percaya prinsip-prinsip yang dapat dipegang untuk membentuk kerangka pernikahan yang menyenangkan Allah. Bagian yang terdapat dalam Efesus khususnya adalah dalam sekali dalam kaitannya dengan penikahan Alkitabiah yang berhasil. \u201cHai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh\u201d (Efesus 5:22-23). \u201cHai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya\u201d (Efesus 5:25). \u201cDemikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat\u201d (Efesus 5:28-29). \u201cSebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging\u201d (Efesus 5:31). Ketika prinsip-prinsip ini dipegang oleh suami istri dan dipadankan dengan hubungan mereka sebagai orang-percaya yang sudah lahir baru, inilah pernikahan yang Alkitabiah. Ini bukan hubungan yang terbalik, tetapi merupakan hubungan yang sesuai dengan konsep bahwa Kristus menjadi Kepala dari suami dan isteri secara bersama-sama. Karena itu, konsep Alkitab mengenai pernikahan merupakan kesatuan antara dua individu; yang merupakan gambaran kesatuan dalam hubungan antara Kristus dengan gerejaNya. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Lembaga pernikahan dicatat dalam kitab Kejadian. \u201cLalu berkatalah manusia itu: &#8220;Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.&#8221; Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging\u201d (Kejadian 2:23-24).<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Allah menciptakan laki-laki dan kemudian menciptakan perempuan dari \u201ctulang dari tulangku.\u201d Sebagaimana yang dicatat, Allah mengambil salah satu \u201ctulang rusuk\u201d Adam (Kejadian 2:21-22). Kata Ibrani yang dipakai secara harafiah berarti: sisi\/samping dari seseorang.<\/p>\n<p>Hawa diambil dari \u201csisi\u201d Adam dan di sisi Adamlah tempatnya. \u201cManusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia\u201d (Kejadian 2:20).<\/p>\n<p>Kata \u201cpenolong\u201d dan \u201csepadan\u201d dalam bahasa Ibrani adalah kata yang sama. Kata tersebut adalah \u201cezer\u201d dari berasal dari kata kuno yang berarti mengelilingi, melindungi atau membantu, menolong, penolong.<\/p>\n<p>Karena itu, kata ini berarti menolong atau membantu. Hawa diciptakan untuk berada di sisi Adam sebagai \u201cbagian dari dirinya,\u201d menjadi pembantu dan penolongnya. Setelah menikah, laki-laki dan perempuan menjadi \u201csatu daging.\u201d<\/p>\n<p>Perjanjian Baru menambahkan peringatan kepada \u201ckesatuan\u201d ini. \u201cDemikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia&#8221; (Matius 19:6).<\/p>\n<p>Beberapa surat Paulus berbicara pernikahan dan memberi pandangan Alkitab mengenai pernikahan dan bagaimana orang-percaya harus bersikap dalam hubungan pernikahan. Salah satu bagian tersebut bisa ditemukan dalam 1 Korintus 7 dan Efesus 5:22-33.<\/p>\n<p>Ketika kedua bagian ini dipelajari bersama, kedua bagian Alkitab ini menyediakan orang-percaya prinsip-prinsip yang dapat dipegang untuk membentuk kerangka pernikahan yang menyenangkan Allah.<\/p>\n<p>Bagian yang terdapat dalam Efesus khususnya adalah dalam sekali dalam kaitannya dengan penikahan Alkitabiah yang berhasil. \u201cHai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh\u201d (Efesus 5:22-23).<\/p>\n<p>\u201cHai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya\u201d (Efesus 5:25).<\/p>\n<p>\u201cDemikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat\u201d (Efesus 5:28-29). \u201cSebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging\u201d (Efesus 5:31).<\/p>\n<p>Ketika prinsip-prinsip ini dipegang oleh suami istri dan dipadankan dengan hubungan mereka sebagai orang-percaya yang sudah lahir baru, inilah pernikahan yang Alkitabiah.<\/p>\n<p>Ini bukan hubungan yang terbalik, tetapi merupakan hubungan yang sesuai dengan konsep bahwa Kristus menjadi Kepala dari suami dan isteri secara bersama-sama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, konsep Alkitab mengenai pernikahan merupakan kesatuan antara dua individu; yang merupakan gambaran kesatuan dalam hubungan antara Kristus dengan gerejaNya. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Lembaga pernikahan dicatat dalam kitab Kejadian. \u201cLalu berkatalah manusia itu: &#8220;Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.&#8221; Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging\u201d (Kejadian 2:23-24). Allah menciptakan laki-laki dan kemudian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[145,147],"class_list":["post-41511","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-keluarga","tag-pernikahan"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"992","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41511","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41511"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41511\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41511"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41511"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41511"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}