{"id":41652,"date":"2022-06-13T09:05:00","date_gmt":"2022-06-13T02:05:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41652"},"modified":"2022-06-06T08:39:07","modified_gmt":"2022-06-06T01:39:07","slug":"apakah-tujuan-dari-pernikahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-tujuan-dari-pernikahan\/","title":{"rendered":"Apakah tujuan dari pernikahan?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Apakah penting bagi seorang Kristen untuk menikah? Apakah tujuan dari pernikahan? Alkitab telah menyatakan banyak hal mengenai topik tersebut. Sejak pernikahan pertama dilakukan antara pria pertama dan wanita pertama, demikian juga diasumsikan bahwa pernikahan adalah kehendak Allah bagi semua orang. Hal ini telah didirikan &quot;pada waktu manusia tidak bersalah&quot; dan oleh karena itu ialah sebuah lembaga yang kudus. Penyebab pertama yang diberikan Alkitab mengenai keberadaan pernikahan sangat mudah: Adam merasa sendirian dan butuh pendamping (Kejadian 2:18). Ini adalah tujuan primer dari pernikahan - persekutuan, pertemanan, bantuan dan kenyamanan bersama. Salah satu tujuan pernikahan adalah menciptakan sebuah rumah tangga yang stabil dimana anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pernikahan yang terbaik terjadi di antara dua orang percaya (2 Korintus 6:14) yang akan menghasilkan anak yang ilahi (Maleakhi 2:13-15). Di dalam kitab Maleakhi, Allah berfirman kepada Israel bahwa Ia tidak akan menerima persembahan mereka karena mereka tidak setia kepada istri mereka. Ini menyatakan betapa pentingnya bagi Allah kekudusan sebuah pernikahan. Tidak hanya itu, Ia menyatakan bahwa Ia mencari &quot;keturunan ilahi&quot;. Bagian ini mungkin agak membingungkan dan adapun diterjemahkan sbb: a) keturunan ilahi adalah tujuan dari pernikahan; b) pernikahan yang baik di antara sepasang yang ilahi akan berarti bahwa keturunan mereka akan ilahi pula; c) Allah menginginkan kesetiaan dalam pernikahan dari kaum Yahudi dibanding dengan praktik dimana mereka meninggalkan pasangannya untuk wanita asing yang akan menghasilkan anak yang tidak ilahi karena keberhalaan bangsa-bangsa asing itu; dan d) Allah sendiri sedang mencari keturunan (bangsa) yang akan mengungkapkan keillahian melalui kesetiaan mereka. Dalam semua terjemahan itu, kita mengamati suatu tema yang berkesinambungan: anak dari orang yang setia akan juga setia pula. Pernikahan tidak hanya mengajarkan anak untuk setia dan memberi mereka sebuah tempat yang stabil untuk belajar dan berkembang, tetapi adapun efek pengkudusan pasangan itu ketika mereka tunduk kepada hukum Allah (Efesus 5). Setiap pernikahan pasti akan menjumpai saat-saat yang sulit. Ketika dua orang berdosa sedang menjalin sebuah kehidupan bersama, mereka harus pasrah kepada perintah Allah yang mensyaratkan kasih kepada sesama sesuai kasih yang Ia berikan - tanpa memikirkan timbal balik (1 Yohanes 3:16). Upaya kita untuk mengikuti perintah Allah sering berakhir dengan kegagalan, yang akan menyadarkan orang percaya tersebut untuk makin bertopang kepada Allah dan makin terbuka kepada pekerjaan Roh Kudus di dalam dirinya, yang kemudian berakhir pada keilahian. Keilahian membantu kita mengikuti perintah Allah. Jadi, pernikahan tentunya sangat membantu seseorang yang ingin hidup ilahi; dengan membersihkan hati dari ke-egoisan dan kekotoran lainnya. Pernikahan juga melindungi individu dari percabulan (1 Korintus 7:2). Dunia yang mengelilingi kita penuh dengan gambar, sindiran, dan godaan seksual. Meskipun seseorang tidak mengejar dosa seksual, dosa itu tidak berhenti mengejar orang itu, dan sangat sulit menghindari hal ini. Pernikahan menyediakan tempat yang sehat untuk mengekspresikan identitas seksual, tanpa harus mempertaruhkan kerusakan emosional dan fisik yang disebabkan oleh hubungan seks yang kasual dan tanpa komitmen. Sangatlah jelas bahwa Allah telah menciptakan pernikahan untuk kebaikan kita (Amsal 18:22), menyenangkan kita, memprioritaskan masyarakat yang lebih sehat, dan menciptakan kekudusan dalam kehidupan kita. Yang terakhir, pernikahan adalah sebuah gambaran yang indah tentang hubungan Kristus dan gerejaNya. Jemaat sering dikenal sebagai &quot;tubuh&quot; orang percaya yang disebut Mempelai Kristus secara kolektif. Sebagai Pengantin Pria, Yesus mengorbankan hidupNya demi mempelaiNya, yang &quot;telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman&quot; (Efesus 5:25-26), dan tindakan tanpa pamrih ini memberi teladan bagi setiap suami. Pada Kedatangan Kedua Kristus, gereja akan dipersatukan dengan Pengantin Pria, &quot;perjamuan pernikahan&quot; akan terjadi, dan melalui peristiwa itu sebuah persatuan yang abadi antara Kristus dan mempelaiNya akan diwujudkan (Wahyu 19:7-9; 21:1-2). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Apakah penting bagi seorang Kristen untuk menikah? Apakah tujuan dari pernikahan? Alkitab telah menyatakan banyak hal mengenai topik tersebut. Sejak pernikahan pertama dilakukan antara pria pertama dan wanita pertama, demikian juga diasumsikan bahwa pernikahan adalah kehendak Allah bagi semua orang. Hal ini telah didirikan &#8220;pada waktu manusia tidak bersalah&#8221; dan oleh karena itu ialah sebuah lembaga yang kudus. Penyebab pertama yang diberikan Alkitab mengenai keberadaan pernikahan sangat mudah: Adam merasa sendirian dan butuh pendamping (Kejadian 2:18). Ini adalah tujuan primer dari pernikahan &#8211; persekutuan, pertemanan, bantuan dan kenyamanan bersama.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Salah satu tujuan pernikahan adalah menciptakan sebuah rumah tangga yang stabil dimana anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pernikahan yang terbaik terjadi di antara dua orang percaya (2 Korintus 6:14) yang akan menghasilkan anak yang ilahi (Maleakhi 2:13-15). Di dalam kitab Maleakhi, Allah berfirman kepada Israel bahwa Ia tidak akan menerima persembahan mereka karena mereka tidak setia kepada istri mereka. Ini menyatakan betapa pentingnya bagi Allah kekudusan sebuah pernikahan. Tidak hanya itu, Ia menyatakan bahwa Ia mencari &#8220;keturunan ilahi&#8221;. Bagian ini mungkin agak membingungkan dan adapun diterjemahkan sbb: a) keturunan ilahi adalah tujuan dari pernikahan; b) pernikahan yang baik di antara sepasang yang ilahi akan berarti bahwa keturunan mereka akan ilahi pula; c) Allah menginginkan kesetiaan dalam pernikahan dari kaum Yahudi dibanding dengan praktik dimana mereka meninggalkan pasangannya untuk wanita asing yang akan menghasilkan anak yang tidak ilahi karena keberhalaan bangsa-bangsa asing itu; dan d) Allah sendiri sedang mencari keturunan (bangsa) yang akan mengungkapkan keillahian melalui kesetiaan mereka. Dalam semua terjemahan itu, kita mengamati suatu tema yang berkesinambungan: anak dari orang yang setia akan juga setia pula.<\/p>\n<p>Pernikahan tidak hanya mengajarkan anak untuk setia dan memberi mereka sebuah tempat yang stabil untuk belajar dan berkembang, tetapi adapun efek pengkudusan pasangan itu ketika mereka tunduk kepada hukum Allah (Efesus 5). Setiap pernikahan pasti akan menjumpai saat-saat yang sulit. Ketika dua orang berdosa sedang menjalin sebuah kehidupan bersama, mereka harus pasrah kepada perintah Allah yang mensyaratkan kasih kepada sesama sesuai kasih yang Ia berikan &#8211; tanpa memikirkan timbal balik (1 Yohanes 3:16). Upaya kita untuk mengikuti perintah Allah sering berakhir dengan kegagalan, yang akan menyadarkan orang percaya tersebut untuk makin bertopang kepada Allah dan makin terbuka kepada pekerjaan Roh Kudus di dalam dirinya, yang kemudian berakhir pada keilahian. Keilahian membantu kita mengikuti perintah Allah. Jadi, pernikahan tentunya sangat membantu seseorang yang ingin hidup ilahi; dengan membersihkan hati dari ke-egoisan dan kekotoran lainnya.<\/p>\n<p>Pernikahan juga melindungi individu dari percabulan (1 Korintus 7:2). Dunia yang mengelilingi kita penuh dengan gambar, sindiran, dan godaan seksual. Meskipun seseorang tidak mengejar dosa seksual, dosa itu tidak berhenti mengejar orang itu, dan sangat sulit menghindari hal ini. Pernikahan menyediakan tempat yang sehat untuk mengekspresikan identitas seksual, tanpa harus mempertaruhkan kerusakan emosional dan fisik yang disebabkan oleh hubungan seks yang kasual dan tanpa komitmen. Sangatlah jelas bahwa Allah telah menciptakan pernikahan untuk kebaikan kita (Amsal 18:22), menyenangkan kita, memprioritaskan masyarakat yang lebih sehat, dan menciptakan kekudusan dalam kehidupan kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang terakhir, pernikahan adalah sebuah gambaran yang indah tentang hubungan Kristus dan gerejaNya. Jemaat sering dikenal sebagai &#8220;tubuh&#8221; orang percaya yang disebut Mempelai Kristus secara kolektif. Sebagai Pengantin Pria, Yesus mengorbankan hidupNya demi mempelaiNya, yang &#8220;telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman&#8221; (Efesus 5:25-26), dan tindakan tanpa pamrih ini memberi teladan bagi setiap suami. Pada Kedatangan Kedua Kristus, gereja akan dipersatukan dengan Pengantin Pria, &#8220;perjamuan pernikahan&#8221; akan terjadi, dan melalui peristiwa itu sebuah persatuan yang abadi antara Kristus dan mempelaiNya akan diwujudkan (Wahyu 19:7-9; 21:1-2). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Apakah penting bagi seorang Kristen untuk menikah? Apakah tujuan dari pernikahan? Alkitab telah menyatakan banyak hal mengenai topik tersebut. Sejak pernikahan pertama dilakukan antara pria pertama dan wanita pertama, demikian juga diasumsikan bahwa pernikahan adalah kehendak Allah bagi semua orang. Hal ini telah didirikan &#8220;pada waktu manusia tidak bersalah&#8221; dan oleh karena itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[145,147],"class_list":["post-41652","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-keluarga","tag-pernikahan"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1023","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41652","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41652"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41652\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41652"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41652"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41652"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}