{"id":41660,"date":"2022-06-19T09:06:00","date_gmt":"2022-06-19T02:06:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41660"},"modified":"2022-06-05T17:10:34","modified_gmt":"2022-06-05T10:10:34","slug":"kapankah-sebaiknya-pasangan-kristen-mencari-konseling-pernikahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kapankah-sebaiknya-pasangan-kristen-mencari-konseling-pernikahan\/","title":{"rendered":"Kapankah sebaiknya pasangan Kristen mencari konseling pernikahan?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Pasangan yang sedang bergumul dalam pernikahan mereka perlu mencari konseling secara awal sebelum terlambat. Setiap pernikahan ada gejolak dan kesulitan yang jika tidak diatasi dengan benar berpotensi menciptakan celah yang sulit dijembatani. Seringkali, baik karena kesombongan atau rasa malu, pasangan tidak mencari bantuan pada masa awalnya yang dapat menyelamatkan pernikahan mereka. Mereka menunggu sampai pernikahan mereka babak belur dan konselor sangat kesulitan mencari jalan tengah. Amsal 11:14 mengajar, \u201cJikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.\u201d Ketika kita menghadapi pertempuran yang terlalu berat, orang yang bijak akan mencari nasehat yang bijak. Terulangnya isu-isu dalam pernikahan seakan-akan menjadi rambu jalan yang menghimbau akan bahaya jika dilanjutkan. Beberapa pertanda yang perlu diperhatikan adalah: 1. Gagal mengatasi konflik dengan sehat. 2. Salah satu pihak mendominasi hubungan sehingga kebutuhan pihak lainnya tidak terpenuhi. 3. Gagal berkompromi. 4. Ada pihak yang berupaya \u201cmemperbaiki\u201d masalah mereka di luar pernikahan. 5. Gagal berkomunikasi. 6. Gagal memahami peran setiap pihak dalam pernikahan. 7. Pornografi. 8. Dusta. 9. Perselisihan tentang cara membesarkan anak. 10. Kecanduan. Ketika pasangan menyadari adanya pertanda-pertanda ini, sebaiknya mereka segera mencari konseling Kristen. Akan tetapi tidak semua konseling \u201cKristen\u201d memang benar-benar didasari Firman Allah. Kerabat dan keluarga mungkin bermaksud baik, namun dapat menawarkan nasehat yang tidak alkitabiah yang berpotensi membingungkan dan memperparah situasinya. Kelayakan seorang konselor tergantung pada pendiriannya serta keselarasannya pada Alkitab. Tidak sedikit kisah-kisah kekecewaan yang muncul dari pasangan yang mencari nasehat dari orang yang mereka percayai, namun sebaliknya mendapatkan \u2018serigala berbulu domba\u2019 (Matius 7:15) yang menyepelekan dosa dan menyepelekan pasangan yang telah disakiti. Sebelum menanamkan waktu dan uang, ada beberapa pertanyaan dalam mewawancarai calon konselor yang dapat menghindarkan pasangan dari \u201cserigala.\u201d Pasangan sebaiknya mempertimbangkan beberapa poin berikut ini: 1. Darimanakah konselor ini memperoleh lisensi kerjanya atau pelatihannya? Kemungkinan mendapatkan terapis yang alkitabiah lebih besar jika mereka telah dilatih menurut program konseling Kristen, daripada universitas atau lembaga sekuler. Pendeta lokal, konselor orang awam, dan kelompok pendukung juga menjadi sumber konseling yang alkitabiah. 2. Apakah konselor ini berpengalaman dalam menangani isu yang saya hadapi? Beberapa pertanyaan seperti, \u201cBagaimana Anda menghadapi pasien yang mempunyai ketergantungan pada pornografi?\u201d dapat mengungkapkan sudut pandang konselor tersebut. 3. Apakah Anda setuju dengan pendirian dan keyakinan konselor tersebut? Ada berbagai sekte dan denominasi yang berada di bawah payung \u201cKeKristenan\u201d namun begitu jauh dari keyakinan pasangan sehingga nasehat yang diberikan tidak sepenuhnya bermanfaat. Memilih konselor dari denominasi yang sama kadang lebih bermanfaat. Tidak ada janji bahwa hasil konseling akan sempurna, namun mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini setidaknya membantu mempersempit pilihannya. Allah sepenuhnya mendukung pernikahan; Ia membenci perceraian (Maleakhi 2:16). Langkah pertama yang perlu diupayakan satu pasangan adalah meminta supaya Allah mengarahkan mereka kepada konselor yang tepat. Mungkin tidak langsung ditemukan, namun konselor yang tepat dapat menghadirkan hikmat ilahi dalam pernikahan yang renggang, dan manfaatnya luar biasa. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Pasangan yang sedang bergumul dalam pernikahan mereka perlu mencari konseling secara awal sebelum terlambat. Setiap pernikahan ada gejolak dan kesulitan yang jika tidak diatasi dengan benar berpotensi menciptakan celah yang sulit dijembatani. Seringkali, baik karena kesombongan atau rasa malu, pasangan tidak mencari bantuan pada masa awalnya yang dapat menyelamatkan pernikahan mereka. Mereka menunggu sampai pernikahan mereka babak belur dan konselor sangat kesulitan mencari jalan tengah. Amsal 11:14 mengajar, \u201cJikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.\u201d Ketika kita menghadapi pertempuran yang terlalu berat, orang yang bijak akan mencari nasehat yang bijak.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Terulangnya isu-isu dalam pernikahan seakan-akan menjadi rambu jalan yang menghimbau akan bahaya jika dilanjutkan. Beberapa pertanda yang perlu diperhatikan adalah:<\/p>\n<p>1. Gagal mengatasi konflik dengan sehat.<\/p>\n<p>2. Salah satu pihak mendominasi hubungan sehingga kebutuhan pihak lainnya tidak terpenuhi.<\/p>\n<p>3. Gagal berkompromi.<\/p>\n<p>4. Ada pihak yang berupaya \u201cmemperbaiki\u201d masalah mereka di luar pernikahan.<\/p>\n<p>5. Gagal berkomunikasi.<\/p>\n<p>6. Gagal memahami peran setiap pihak dalam pernikahan.<\/p>\n<p>7. Pornografi.<\/p>\n<p>8. Dusta.<\/p>\n<p>9. Perselisihan tentang cara membesarkan anak.<\/p>\n<p>10. Kecanduan.<\/p>\n<p>Ketika pasangan menyadari adanya pertanda-pertanda ini, sebaiknya mereka segera mencari konseling Kristen. Akan tetapi tidak semua konseling \u201cKristen\u201d memang benar-benar didasari Firman Allah. Kerabat dan keluarga mungkin bermaksud baik, namun dapat menawarkan nasehat yang tidak alkitabiah yang berpotensi membingungkan dan memperparah situasinya. Kelayakan seorang konselor tergantung pada pendiriannya serta keselarasannya pada Alkitab. Tidak sedikit kisah-kisah kekecewaan yang muncul dari pasangan yang mencari nasehat dari orang yang mereka percayai, namun sebaliknya mendapatkan \u2018serigala berbulu domba\u2019 (Matius 7:15) yang menyepelekan dosa dan menyepelekan pasangan yang telah disakiti.<\/p>\n<p>Sebelum menanamkan waktu dan uang, ada beberapa pertanyaan dalam mewawancarai calon konselor yang dapat menghindarkan pasangan dari \u201cserigala.\u201d Pasangan sebaiknya mempertimbangkan beberapa poin berikut ini:<\/p>\n<p>1. Darimanakah konselor ini memperoleh lisensi kerjanya atau pelatihannya? Kemungkinan mendapatkan terapis yang alkitabiah lebih besar jika mereka telah dilatih menurut program konseling Kristen, daripada universitas atau lembaga sekuler. Pendeta lokal, konselor orang awam, dan kelompok pendukung juga menjadi sumber konseling yang alkitabiah.<\/p>\n<p>2. Apakah konselor ini berpengalaman dalam menangani isu yang saya hadapi? Beberapa pertanyaan seperti, \u201cBagaimana Anda menghadapi pasien yang mempunyai ketergantungan pada pornografi?\u201d dapat mengungkapkan sudut pandang konselor tersebut.<\/p>\n<p>3. Apakah Anda setuju dengan pendirian dan keyakinan konselor tersebut? Ada berbagai sekte dan denominasi yang berada di bawah payung \u201cKeKristenan\u201d namun begitu jauh dari keyakinan pasangan sehingga nasehat yang diberikan tidak sepenuhnya bermanfaat. Memilih konselor dari denominasi yang sama kadang lebih bermanfaat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak ada janji bahwa hasil konseling akan sempurna, namun mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini setidaknya membantu mempersempit pilihannya. Allah sepenuhnya mendukung pernikahan; Ia membenci perceraian (Maleakhi 2:16). Langkah pertama yang perlu diupayakan satu pasangan adalah meminta supaya Allah mengarahkan mereka kepada konselor yang tepat. Mungkin tidak langsung ditemukan, namun konselor yang tepat dapat menghadirkan hikmat ilahi dalam pernikahan yang renggang, dan manfaatnya luar biasa. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Pasangan yang sedang bergumul dalam pernikahan mereka perlu mencari konseling secara awal sebelum terlambat. Setiap pernikahan ada gejolak dan kesulitan yang jika tidak diatasi dengan benar berpotensi menciptakan celah yang sulit dijembatani. Seringkali, baik karena kesombongan atau rasa malu, pasangan tidak mencari bantuan pada masa awalnya yang dapat menyelamatkan pernikahan mereka. Mereka menunggu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[145,147],"class_list":["post-41660","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-keluarga","tag-pernikahan"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"862","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41660","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41660"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41660\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41660"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41660"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41660"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}