{"id":41664,"date":"2022-07-04T07:06:00","date_gmt":"2022-07-04T00:06:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41664"},"modified":"2022-06-06T08:37:35","modified_gmt":"2022-06-06T01:37:35","slug":"mengapa-allah-membenci-perceraian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mengapa-allah-membenci-perceraian\/","title":{"rendered":"Mengapa Allah membenci perceraian?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -\u00a0 Maleakhi 2:16 merupakan ayat Alkitab yang sering digunakan terkait perceraian. \u201cSebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel\u2026\u201d Namun sebetulnya ada lebih banyak yang diajarkan selain kalimat itu. Jika kita membaca mulai ayat 13, tertulis: \u201cKamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: \u2018Oleh karena apa?\u2019 Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu. Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.\u201d Kita mempelajari beberapa hal dari perikop ini. Pertama, Allah tidak mendengarkan permintaan berkat dari mereka yang telah melanggar perjanjian nikah mereka. Satu Petrus 3:7 berkata, \u201cDemikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang\u201d (diberi penekanan). Ada sebuah korelasi antara cara suami memperlakukan istrinya dengan efektifitas doanya. Dengan jelas Allah mengajarkan alasan mengapa Ia begitu menghargai pernikahan. Ia befirman bahwa Ia-lah yang menyatukan daging dan roh mereka (Maleakhi 2:15). Pernikahan adalah gagasan Allah. Jika Ia menggagasnya, maka hanya Ia yang dapat mengartikannya. Penyimpangan sedikitpun dari rancangan-Nya adalah kekejian. Pernikahan bukanlah kontrak; ialah perjanjian. Perceraian merusak konsep perjanjian yang begitu dihargai oleh Allah. Di dalam Alkitab, Allah sering menggunakan kiasan dalam mengajar realita rohani. Ketika Abraham hendak mengurbankan Ishak di atas mezbah, yang digambarkan adalah suatu peristiwa yang akan terjadi ribuan tahun kemudian, ketika Tuhan Allah akan mengurbankan Anak Tunggal-Nya (Kejadian 22:9; Roma 8:32). Ketika Allah menyaratkan sistem pengurbanan darah bagi pengampunan dosa, Ia sedang menggambarkan pengurbanan sempurna yang akan Ia sediakan Sendiri di atas salib (Ibrani 10:10). Pernikahan adalah gambar perjanjian Allah dengan umat-Nya (Ibrani 9:15). Perjanjian adalah komitmen yang tidak dapat dibatalkan, dan Allah ingin supaya kita memahami keseriusannya. Ketika kita menceraikan lawan perjanjian kita, maka kita sedang merendahkan konsep hubungan perjanjian yang telah Allah tetapkan. Gereja (yakni orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat) digambarkan dalam Alkitab sebagai \u201cPengantin Kristus\u201d (2 Korintus 11:2; Wahyu 19:7-9). Kita, sebagai umat-Nya, telah \u201cdinikahkan\u201d pada-Nya melalui perjanjian yang telah Ia tetapkan. Gambar yang serupa digunakan dalam Yesaya 54:5 antara Allah dan Israel. Ketika Allah mengesahkan pernikahan di Taman Eden, Ia menciptakannya sebagai gambaran persatuan terdekat yang dapat dialami umat manusia (Kejadian 2:24). Gambaran itu mengungkapkan persatuan yang dapat kita miliki dengan-Nya melalui penebusan (1 Korintus 6:17). Ketika suami atau istri memilih untuk melanggar perjanjian pernikahan mereka, maka gambaran perjanjian Allah dengan kita sedang dinodai. Maleakhi 2:15 juga memberi kita alasan lain mengapa Allah membenci perceraian. Ia sedang mencari \u201cketurunan ilahi.\u201d Rencana keluarga Allah adalah satu pria dan satu wanita saling berkomitmen seumur hidup dan membesarkan anak yang memahami konsep perjanjian itu pula. Anak yang dibesarkan dalam rumah tangga yang lengkap dengan ayah dan ibu tetap, kesuksesan pernikahannya lebih besar. Ketika Yesus ditanya mengapa Hukum memperbolehkan perceraian, Ia menjawab bahwa Allah hanya memperbolehkannya \u201cKarena ketegaran hatimu...tetapi sejak semula tidaklah demikian\u201d (Matius 19:8). Allah tidak pernah menghendaki manusia mengalami perceraian, dan kita mendukakan-Nya ketika kita berkeras hati dan melanggar perjanjian yang telah Ia tetapkan. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211;\u00a0 Maleakhi 2:16 merupakan ayat Alkitab yang sering digunakan terkait perceraian. \u201cSebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel\u2026\u201d Namun sebetulnya ada lebih banyak yang diajarkan selain kalimat itu. Jika kita membaca mulai ayat 13, tertulis: \u201cKamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: \u2018Oleh karena apa?\u2019 Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu. Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.\u201d<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Kita mempelajari beberapa hal dari perikop ini. Pertama, Allah tidak mendengarkan permintaan berkat dari mereka yang telah melanggar perjanjian nikah mereka. Satu Petrus 3:7 berkata, \u201cDemikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang\u201d (diberi penekanan). Ada sebuah korelasi antara cara suami memperlakukan istrinya dengan efektifitas doanya.<\/p>\n<p>Dengan jelas Allah mengajarkan alasan mengapa Ia begitu menghargai pernikahan. Ia befirman bahwa Ia-lah yang menyatukan daging dan roh mereka (Maleakhi 2:15). Pernikahan adalah gagasan Allah. Jika Ia menggagasnya, maka hanya Ia yang dapat mengartikannya. Penyimpangan sedikitpun dari rancangan-Nya adalah kekejian. Pernikahan bukanlah kontrak; ialah perjanjian. Perceraian merusak konsep perjanjian yang begitu dihargai oleh Allah.<\/p>\n<p>Di dalam Alkitab, Allah sering menggunakan kiasan dalam mengajar realita rohani. Ketika Abraham hendak mengurbankan Ishak di atas mezbah, yang digambarkan adalah suatu peristiwa yang akan terjadi ribuan tahun kemudian, ketika Tuhan Allah akan mengurbankan Anak Tunggal-Nya (Kejadian 22:9; Roma 8:32). Ketika Allah menyaratkan sistem pengurbanan darah bagi pengampunan dosa, Ia sedang menggambarkan pengurbanan sempurna yang akan Ia sediakan Sendiri di atas salib (Ibrani 10:10).<\/p>\n<p>Pernikahan adalah gambar perjanjian Allah dengan umat-Nya (Ibrani 9:15). Perjanjian adalah komitmen yang tidak dapat dibatalkan, dan Allah ingin supaya kita memahami keseriusannya. Ketika kita menceraikan lawan perjanjian kita, maka kita sedang merendahkan konsep hubungan perjanjian yang telah Allah tetapkan. Gereja (yakni orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat) digambarkan dalam Alkitab sebagai \u201cPengantin Kristus\u201d (2 Korintus 11:2; Wahyu 19:7-9). Kita, sebagai umat-Nya, telah \u201cdinikahkan\u201d pada-Nya melalui perjanjian yang telah Ia tetapkan. Gambar yang serupa digunakan dalam Yesaya 54:5 antara Allah dan Israel.<\/p>\n<p>Ketika Allah mengesahkan pernikahan di Taman Eden, Ia menciptakannya sebagai gambaran persatuan terdekat yang dapat dialami umat manusia (Kejadian 2:24). Gambaran itu mengungkapkan persatuan yang dapat kita miliki dengan-Nya melalui penebusan (1 Korintus 6:17). Ketika suami atau istri memilih untuk melanggar perjanjian pernikahan mereka, maka gambaran perjanjian Allah dengan kita sedang dinodai.<\/p>\n<p>Maleakhi 2:15 juga memberi kita alasan lain mengapa Allah membenci perceraian. Ia sedang mencari \u201cketurunan ilahi.\u201d Rencana keluarga Allah adalah satu pria dan satu wanita saling berkomitmen seumur hidup dan membesarkan anak yang memahami konsep perjanjian itu pula. Anak yang dibesarkan dalam rumah tangga yang lengkap dengan ayah dan ibu tetap, kesuksesan pernikahannya lebih besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika Yesus ditanya mengapa Hukum memperbolehkan perceraian, Ia menjawab bahwa Allah hanya memperbolehkannya \u201cKarena ketegaran hatimu&#8230;tetapi sejak semula tidaklah demikian\u201d (Matius 19:8). Allah tidak pernah menghendaki manusia mengalami perceraian, dan kita mendukakan-Nya ketika kita berkeras hati dan melanggar perjanjian yang telah Ia tetapkan. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211;\u00a0 Maleakhi 2:16 merupakan ayat Alkitab yang sering digunakan terkait perceraian. \u201cSebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel\u2026\u201d Namun sebetulnya ada lebih banyak yang diajarkan selain kalimat itu. Jika kita membaca mulai ayat 13, tertulis: \u201cKamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"70"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[145,507,147],"class_list":["post-41664","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-keluarga","tag-perceraian","tag-pernikahan"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"976","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41664","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41664"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41664\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41664"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41664"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41664"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}