{"id":41668,"date":"2022-07-07T09:07:00","date_gmt":"2022-07-07T02:07:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41668"},"modified":"2022-06-06T08:43:12","modified_gmt":"2022-06-06T01:43:12","slug":"mengapa-perselingkuhan-begitu-merusak-pernikahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mengapa-perselingkuhan-begitu-merusak-pernikahan\/","title":{"rendered":"Mengapa perselingkuhan begitu merusak pernikahan?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Perselingkuhan, atau ketidak-setiaan, terjadi ketika satu pihak dari pasangan nikah berhubungan seks dengan orang lain selain pasangan nikahnya. Ada berbagai alasan yang diberikan bagi perzinahan, namun sebagian besar terjadi karena adanya kebutuhan untuk terpenuhi secara emosional. Manusia perlu merasa diperlukan, diinginkan, dan dimengerti. Secara ideal, kebutuhan ini terpenuhi dalam hubungan pernikahan. Namun, jika tidak, satu pasangan akan berusaha memenuhi kebutuhan emosional (dan jasmani)-nya di luar pernikahan, sehingga terjadilah ketidak-setiaan. Allah menciptakan seks untuk dinikmati dalam hubungan pernikahan yang saling berkomitmen; mencabut seks dari konteksnya adalah sama dengan menyimpangkan penggunaannya dan membatasi kenikmatannya. Seks melibatkan keintiman yang tiada taranya jika dibandingkan dengan hubungan manusia lainnya. Ketika Allah menyatukan Adam dan Hawa dalam pernikahan, Ia menetapkan hubungan \u201csatu daging.\u201d Kejadian 2:24 mengajar bahwa seorang pria perlu meninggalkan keluarganya, bergabung dengan istrinya dan menjadi \u201csatu daging\u201d dengannya. Ide ini dilanjutkan ke dalam Perjanjian Baru pula; kita melihat bagaimana Yesus membahasnya di dalam Matius 19:5 dan Markus 10:7. Paulus mengulas ide \u201csatu daging\u201d ini dalam 1 Korintus 6:12-20. Ia mengajar bahwa jika seorang pria berhubungan seks dengan pelacur, maka mereka telah menjadi \u201csatu tubuh\u201d (ayat 16). Cukup jelas bahwa hubungan seks itu istimewa; bukan semata-mata memenuhi fungsi biologis saja. Menjadi \u201csatu daging\u201d melibatkan lebih dari sekedar keintiman jasmani. Di dalam seks, selain berbagi fisik adapun emosi yang dibagikan. Pelembutan bahasa bagi topik hubungan seks dalam Perjanjian Lama adalah saling \u201cmengenal\u201d - istilah yang sangat signifikan. Di dalam hubungan seks, hubungan yang paling intim di antara manusia, orang dapat benar-benar \u201cmengenal\u201d pasangannya. Kepercayaan yang dibutuhkan oleh seks membuat seseorang sangat lemah, dan inilah alasan mengapa seks harus dikurung dalam lingkup pernikahan. Pernikahan melindungi kelemahan tanpa ada rasa takut; setiap pasangan dilindungi oleh komitmen dan stabilitas sebuah hubungan perjanjian. Melanggar kepercayaan itu sangat memukul baik individu maupun pernikahannya. Ialah pengkhianatan terkeji, pengingkaran janji, hilangnya rasa aman, dan terpecahnya kesatuan. Ada studi yang menyatakan bahwa 60-75 persen pasangan yang dikhianati tidak bercerai. Namun, ini tidak berarti bahwa hubungan mereka dipulihkan atau komitmen telah dijalin kembali. Dalam banyak kasus, pasangan memilih bersama setelah kasus perselingkuhan bukan karena mereka bahagia bersama, melainkan karena mereka takut akan alternatifnya. Akan tetapi ada juga pasangan yang berusaha menghadapi masalahnya, mencari kelemahan hubungan mereka, dan mengkoreksi kesalahan. Pasangan yang demikian akan keluar dari proses itu dengan pernikahan yang kuat, bahagia, dan saling memenuhi. Penting untuk diingat bahwa perselingkuhan, sama seperti dosa lainnya, masih dapat diampuni Allah. Pihak yang berzinah tidak berada di luar jangkauan Allah (Yesaya 59:1). Dimana seorang berdosa bertobat dan Allah mengampuni, pihak yang dikhianati harus turut mengampuni. Dengan mengetahui bahwa hutang kita yang begitu besar telah diampuni oleh Yesus, maka kita diharapkan mengampuni dengan serupa (Matius 6:15; 18:15-22). Mengampuni dan meninggalkan masalah itu tidak mudah dan tidak alami. Jalan pemulihan itu panjang dan menyakitkan. Namun kasih karunia Allah selalu mencukupi. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Perselingkuhan, atau ketidak-setiaan, terjadi ketika satu pihak dari pasangan nikah berhubungan seks dengan orang lain selain pasangan nikahnya. Ada berbagai alasan yang diberikan bagi perzinahan, namun sebagian besar terjadi karena adanya kebutuhan untuk terpenuhi secara emosional. Manusia perlu merasa diperlukan, diinginkan, dan dimengerti. Secara ideal, kebutuhan ini terpenuhi dalam hubungan pernikahan. Namun, jika tidak, satu pasangan akan berusaha memenuhi kebutuhan emosional (dan jasmani)-nya di luar pernikahan, sehingga terjadilah ketidak-setiaan.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Allah menciptakan seks untuk dinikmati dalam hubungan pernikahan yang saling berkomitmen; mencabut seks dari konteksnya adalah sama dengan menyimpangkan penggunaannya dan membatasi kenikmatannya. Seks melibatkan keintiman yang tiada taranya jika dibandingkan dengan hubungan manusia lainnya. Ketika Allah menyatukan Adam dan Hawa dalam pernikahan, Ia menetapkan hubungan \u201csatu daging.\u201d Kejadian 2:24 mengajar bahwa seorang pria perlu meninggalkan keluarganya, bergabung dengan istrinya dan menjadi \u201csatu daging\u201d dengannya. Ide ini dilanjutkan ke dalam Perjanjian Baru pula; kita melihat bagaimana Yesus membahasnya di dalam Matius 19:5 dan Markus 10:7. Paulus mengulas ide \u201csatu daging\u201d ini dalam 1 Korintus 6:12-20. Ia mengajar bahwa jika seorang pria berhubungan seks dengan pelacur, maka mereka telah menjadi \u201csatu tubuh\u201d (ayat 16). Cukup jelas bahwa hubungan seks itu istimewa; bukan semata-mata memenuhi fungsi biologis saja.<\/p>\n<p>Menjadi \u201csatu daging\u201d melibatkan lebih dari sekedar keintiman jasmani. Di dalam seks, selain berbagi fisik adapun emosi yang dibagikan. Pelembutan bahasa bagi topik hubungan seks dalam Perjanjian Lama adalah saling \u201cmengenal\u201d &#8211; istilah yang sangat signifikan. Di dalam hubungan seks, hubungan yang paling intim di antara manusia, orang dapat benar-benar \u201cmengenal\u201d pasangannya. Kepercayaan yang dibutuhkan oleh seks membuat seseorang sangat lemah, dan inilah alasan mengapa seks harus dikurung dalam lingkup pernikahan. Pernikahan melindungi kelemahan tanpa ada rasa takut; setiap pasangan dilindungi oleh komitmen dan stabilitas sebuah hubungan perjanjian. Melanggar kepercayaan itu sangat memukul baik individu maupun pernikahannya. Ialah pengkhianatan terkeji, pengingkaran janji, hilangnya rasa aman, dan terpecahnya kesatuan.<\/p>\n<p>Ada studi yang menyatakan bahwa 60-75 persen pasangan yang dikhianati tidak bercerai. Namun, ini tidak berarti bahwa hubungan mereka dipulihkan atau komitmen telah dijalin kembali. Dalam banyak kasus, pasangan memilih bersama setelah kasus perselingkuhan bukan karena mereka bahagia bersama, melainkan karena mereka takut akan alternatifnya. Akan tetapi ada juga pasangan yang berusaha menghadapi masalahnya, mencari kelemahan hubungan mereka, dan mengkoreksi kesalahan. Pasangan yang demikian akan keluar dari proses itu dengan pernikahan yang kuat, bahagia, dan saling memenuhi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penting untuk diingat bahwa perselingkuhan, sama seperti dosa lainnya, masih dapat diampuni Allah. Pihak yang berzinah tidak berada di luar jangkauan Allah (Yesaya 59:1). Dimana seorang berdosa bertobat dan Allah mengampuni, pihak yang dikhianati harus turut mengampuni. Dengan mengetahui bahwa hutang kita yang begitu besar telah diampuni oleh Yesus, maka kita diharapkan mengampuni dengan serupa (Matius 6:15; 18:15-22). Mengampuni dan meninggalkan masalah itu tidak mudah dan tidak alami. Jalan pemulihan itu panjang dan menyakitkan. Namun kasih karunia Allah selalu mencukupi. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Perselingkuhan, atau ketidak-setiaan, terjadi ketika satu pihak dari pasangan nikah berhubungan seks dengan orang lain selain pasangan nikahnya. Ada berbagai alasan yang diberikan bagi perzinahan, namun sebagian besar terjadi karena adanya kebutuhan untuk terpenuhi secara emosional. Manusia perlu merasa diperlukan, diinginkan, dan dimengerti. Secara ideal, kebutuhan ini terpenuhi dalam hubungan pernikahan. Namun, jika [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41133,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70],"tags":[145,507,147,508],"class_list":["post-41668","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","tag-keluarga","tag-perceraian","tag-pernikahan","tag-perselingkuhan"],"better_featured_image":{"id":41133,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/keluarga.jpg?fit=500%2C337&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1053","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41668","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41668"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41668\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41668"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41668"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41668"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}