{"id":41691,"date":"2022-06-06T11:25:00","date_gmt":"2022-06-06T04:25:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41691"},"modified":"2022-06-05T16:09:29","modified_gmt":"2022-06-05T09:09:29","slug":"apakah-agama-masih-relevan-di-zaman-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-agama-masih-relevan-di-zaman-ini\/","title":{"rendered":"Apakah agama masih relevan di zaman ini?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kamus menawarkan definisi ini untuk \u201dagama\u201d \u2013 \u201dkepercayaan kepada Allah atau ilah yang biasanya diwujudkan dalam perbuatan dan upacara; suatu sistem kepercayaan, penyembahan, dll., seringkali dengan kode etik tertentu.\u201d Dalam definisi ini, Alkitab berbicara mengenai agama yang diorganisir, dan dalam banyak kasus, tujuan dan dampak dari \u201dagama yang diorganisir\u201d bukanlah sesuatu yang menyenangkan Allah. Berikut ini beberapa contoh di mana agama yang diorganisir disebut-sebut. Kejadian 11:1-9: Barangkali ini adalah contoh paling awal mengenai agama yang diorganisir. Keturunan Nuh mengorganisasikan diri mereka membangun menara karena percaya bahwa jika mereka dapat membangun menara yang cukup tinggi, maka mereka dapat diselamatkan. Mereka percaya bahwa kesatuan mereka lebih penting daripada hubungan mereka dengan Allah. Allah turun tangan dan mengacaukan bahasa mereka sehingga memecahkan agama ini. Keluaran 6 dan seterusnya: Allah telah menjanjikan Abram (Abraham) hubungan yang khusus antara keturunannya dan Allah. Hal ini \u201ddiatur\u201d bagi sebuah bangsa, diawali pada saat keluarnya mereka dari Mesir dan terus berlanjut sepanjang sejarah orang-orang Israel. Sepuluh Hukum, Tabernakel, sistem korban, dll, semua diatur oleh Allah supaya diikuti oleh orang-orang Israel. Studi lebih lanjut terhadap Perjanjian Baru memperjelas bahwa tujuan akhir dari agama ini adalah untuk membawa para pengikutnya kepada Kristus (Galatia 3; Roma 7). Namun demikian, banyak yang salah mengerti dan menyembah elemen-elemennya, bukannya Allah yang sejati. Hakim-Hakim dan seterusnya: Banyak konflik yang dialami oleh orang-orang Israel melibatkan konflik dari agama yang diorganisir. Contoh-contohnya meliputi Baal (Hakim-Hakim 6; 1 Raja-Raja 18); Dagon (1 Samuel 5), Molekh (2 Raja-Raja 23:10). Allah menggunakan agama-agama ini untuk menyatakan kuasaNya dengan mengalahkan mereka. Kitab-Kitab Injil: Orang-orang Farisi dan Saduki mewakili agama yang diatur pada zaman Kristus. Yesus terus menerus menegur kesalahan pengajaran mereka dan kemunafikan cara hidup mereka. Banyak dari antara mereka yang bertobat dari agama yang diorganisir ini \u2013 Paulus adalah salah satu contoh. Surat-surat: Ada kelompok-kelompok yang mencampur-adukkan Injil dengan tuntutan-tuntutan perbuatan-perbuatan baik tertentu. Mereka juga mendesak dan menekan orang-orang percaya untuk mengubah dan menerima agama baru ini. Jemaat-jemaat di Galatia dan Kolose diperingatkan soal ini. Wahyu: Bahkan pada zaman akhir agama yang diorganisir akan memiliki dampak yaitu saat Antikristus mendirikan satu agama untuk seluruh dunia. Pada umumnya, hasil dari \u201dagama yang diorganisir\u201d itu mengacaukan orang dari rencana Allah. Namun, Alkitab juga berbicara mengenai orang-orang Kristen yang diorganisir (orang-orang percaya) itu sebagai bagian dari rencanaNya. Dia menyebut mereka Gereja. Penggambaran dalam Kitab Kisah Para Rasul dan Surat-Surat memberi petunjuk bahwa Gereja perlu diatur dan saling bergantung satu dengan yang lain. Organisasi menghasilkan perlindungan, produktifitas dan kemampuan untuk menjangkau keluar (Kisah Para Rasul 2:41-47). Dalam hal ini, Gereja lebih tepat disebut \u201drelasi yang diatur.\u201d Tidak ada kemauan untuk mencari Allah, karena Allah yang berinisiatif menjangkau mereka. Tidak ada kesombongan, karena semua diterima sebagai anugerah. Sepantasnya, tidak ada percekcokan mengenai kepemimpinan, karena Kristus adalah Kepala Gereja (Kolose 1:18). Seharusnya tidak ada prasangka, karena kita semua satu di dalam Kristus (Galatia 3:28). Masalahnya bukan soal diorganisir, tapi hidup sekedar mengikuti ritual agama. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Kamus menawarkan definisi ini untuk \u201dagama\u201d \u2013 \u201dkepercayaan kepada Allah atau ilah yang biasanya diwujudkan dalam perbuatan dan upacara; suatu sistem kepercayaan, penyembahan, dll., seringkali dengan kode etik tertentu.\u201d<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Dalam definisi ini, Alkitab berbicara mengenai agama yang diorganisir, dan dalam banyak kasus, tujuan dan dampak dari \u201dagama yang diorganisir\u201d bukanlah sesuatu yang menyenangkan Allah. Berikut ini beberapa contoh di mana agama yang diorganisir disebut-sebut.<\/p>\n<p>Kejadian 11:1-9: Barangkali ini adalah contoh paling awal mengenai agama yang diorganisir. Keturunan Nuh mengorganisasikan diri mereka membangun menara karena percaya bahwa jika mereka dapat membangun menara yang cukup tinggi, maka mereka dapat diselamatkan.<\/p>\n<p>Mereka percaya bahwa kesatuan mereka lebih penting daripada hubungan mereka dengan Allah. Allah turun tangan dan mengacaukan bahasa mereka sehingga memecahkan agama ini.<\/p>\n<p>Keluaran 6 dan seterusnya: Allah telah menjanjikan Abram (Abraham) hubungan yang khusus antara keturunannya dan Allah. Hal ini \u201ddiatur\u201d bagi sebuah bangsa, diawali pada saat keluarnya mereka dari Mesir dan terus berlanjut sepanjang sejarah orang-orang Israel. Sepuluh Hukum, Tabernakel, sistem korban, dll, semua diatur oleh Allah supaya diikuti oleh orang-orang Israel.<\/p>\n<p>Studi lebih lanjut terhadap Perjanjian Baru memperjelas bahwa tujuan akhir dari agama ini adalah untuk membawa para pengikutnya kepada Kristus (Galatia 3; Roma 7).<\/p>\n<p>Namun demikian, banyak yang salah mengerti dan menyembah elemen-elemennya, bukannya Allah yang sejati.<\/p>\n<p>Hakim-Hakim dan seterusnya: Banyak konflik yang dialami oleh orang-orang Israel melibatkan konflik dari agama yang diorganisir. Contoh-contohnya meliputi Baal (Hakim-Hakim 6; 1 Raja-Raja 18); Dagon (1 Samuel 5), Molekh (2 Raja-Raja 23:10). Allah menggunakan agama-agama ini untuk menyatakan kuasaNya dengan mengalahkan mereka.<\/p>\n<p>Kitab-Kitab Injil: Orang-orang Farisi dan Saduki mewakili agama yang diatur pada zaman Kristus. Yesus terus menerus menegur kesalahan pengajaran mereka dan kemunafikan cara hidup mereka. Banyak dari antara mereka yang bertobat dari agama yang diorganisir ini \u2013 Paulus adalah salah satu contoh.<\/p>\n<p>Surat-surat: Ada kelompok-kelompok yang mencampur-adukkan Injil dengan tuntutan-tuntutan perbuatan-perbuatan baik tertentu. Mereka juga mendesak dan menekan orang-orang percaya untuk mengubah dan menerima agama baru ini. Jemaat-jemaat di Galatia dan Kolose diperingatkan soal ini.<\/p>\n<p>Wahyu: Bahkan pada zaman akhir agama yang diorganisir akan memiliki dampak yaitu saat Antikristus mendirikan satu agama untuk seluruh dunia.<\/p>\n<p>Pada umumnya, hasil dari \u201dagama yang diorganisir\u201d itu mengacaukan orang dari rencana Allah. Namun, Alkitab juga berbicara mengenai orang-orang Kristen yang diorganisir (orang-orang percaya) itu sebagai bagian dari rencanaNya. Dia menyebut mereka Gereja.<\/p>\n<p>Penggambaran dalam Kitab Kisah Para Rasul dan Surat-Surat memberi petunjuk bahwa Gereja perlu diatur dan saling bergantung satu dengan yang lain. Organisasi menghasilkan perlindungan, produktifitas dan kemampuan untuk menjangkau keluar (Kisah Para Rasul 2:41-47).<\/p>\n<p>Dalam hal ini, Gereja lebih tepat disebut \u201drelasi yang diatur.\u201d<\/p>\n<p>Tidak ada kemauan untuk mencari Allah, karena Allah yang berinisiatif menjangkau mereka. Tidak ada kesombongan, karena semua diterima sebagai anugerah. Sepantasnya, tidak ada percekcokan mengenai kepemimpinan, karena Kristus adalah Kepala Gereja (Kolose 1:18).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seharusnya tidak ada prasangka, karena kita semua satu di dalam Kristus (Galatia 3:28). Masalahnya bukan soal diorganisir, tapi hidup sekedar mengikuti ritual agama. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kamus menawarkan definisi ini untuk \u201dagama\u201d \u2013 \u201dkepercayaan kepada Allah atau ilah yang biasanya diwujudkan dalam perbuatan dan upacara; suatu sistem kepercayaan, penyembahan, dll., seringkali dengan kode etik tertentu.\u201d Dalam definisi ini, Alkitab berbicara mengenai agama yang diorganisir, dan dalam banyak kasus, tujuan dan dampak dari \u201dagama yang diorganisir\u201d bukanlah sesuatu yang menyenangkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33118,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134],"tags":[238,148,293],"class_list":["post-41691","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","tag-agama","tag-gereja","tag-sosialisme"],"better_featured_image":{"id":33118,"alt_text":"","caption":"","description":"fa92371951cd4dfc224524543c810947","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/10-alasan-mengapa-agama-tak-baik-buat-anda_5df74098443ee.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/10-alasan-mengapa-agama-tak-baik-buat-anda_5df74098443ee.jpeg?fit=451%2C326&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1287","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41691","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41691"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41691\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41691"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41691"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41691"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}