{"id":41710,"date":"2022-09-06T11:28:00","date_gmt":"2022-09-06T04:28:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=41710"},"modified":"2022-06-05T18:33:39","modified_gmt":"2022-06-05T11:33:39","slug":"apa-kata-alkitab-mengenai-bentuk-pemerintahan-gereja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-kata-alkitab-mengenai-bentuk-pemerintahan-gereja\/","title":{"rendered":"Apa kata Alkitab mengenai bentuk pemerintahan gereja?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Dalam FirmanNya, jelas sekali bagaimana Allah menginginkan GerejaNya diorganisir dan dijalankan dalam dunia ini. Pertama-tama, Kristus itu Kepala Gereja dan Otoritas Tertinggi (Efesus 1:22, 4:15, Kolose 1:18). Kedua, gereja setempat berdiri sendiri, bebas dari kuasa dan pengaturan pihak luar, dengan hak mengatur diri sendiri dan bebas dari campur tangan pribadi ataupun organisasi manapun (Titus 1:5). Ketiga, gereja diatur oleh kepemimpinan rohani yang terdiri dari dua jabatan utama \u2013 penatua dan diaken. \u201cPenatua\u201d adalah dewan kepemimpinan di antara orang-orang Israel sejak zaman kitab-kitab Musa (Pentateukh). Kita tahu bahwa mereka membuat keputusan-keputusan politik (2 Samuel 5:3; 2 Samuel 17:4, 15), menasihati raja (1 Raja-Raja 20:7) dan mewakili rakyat dalam kaitannya dengan hal-hal rohani (Keluaran 7, 17:5-6, 24:1, 9; Bilangan 11:16, 24-25). Terjemahan mula-mula Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (LXX) menggunakan kata \u201cpresbuteros\u201d untuk penatua. Ini adalah kata dalam bahasa Yunani yang dalam Perjanjian Baru juga diterjemahkan sebagai \u201cpenatua.\u201d Perjanjian Baru berkali-kali merujuk pada penatua yang melayani dalam peranan sebagai pemimpin gereja (Kisah 14:23; 15:2; 20:17;Titus 1:5; Yakobus 5:14). Tampaknya, setiap gereja memiliki lebih dari satu penatua karena biasanya kata tersebut dijumpai dalam bentuk jamak. Satu-satunya pengecualian merujuk pada kasus-kasus di mana seorang penatua disebut secara khusus karena alasan-alasan tertentu (1 Timotius 5:1; 1 Timotius 5:19). Di Gereja Yerusalem, mereka menjadi bagian dari kepemimpinan bersama-sama dengan para Rasul (Kisah 15:2-16:4). Zodhiates, dalam karyanya The Complete Word Study Dictionary: New Testament, mendefinisikan kelompok penatua sebagai: \u201cPara penatua dari gereja-gereja Kristen, para presbiter, yang kepadanya dipercayakan arah dan pemerintahan dari tiap gereja, setara dengan episkopos, penilik jemaat, bishop (Kisah 11:30; 1 Timotius 5:17).\u201d Jadi, Zodhiates menyamakan \u201cpenatua\u201d dengan penilik jemaat atau bishop (episkopos diterjemahkan dengan istilah itu). Dia memandang \u201cpenatua\u201d sebagai rujukan pada wibawa dari jabatan tersebut, sementara bishop atau penilik jemaat merujuk pada otoritas dan kewajiban (1 Petrus 2:25; 5:1; 2, 4). Dia mencatat bahwa dalam Filipi 1:1 Paulus menyapa para bishop dan diaken, namun tidak mencantumkan para penatua (karena penatua adalah satu dan sama dengan bishop). Demikian pula 1 Timotius 3:2, 8 memberi kualifikasi para bishop dan diaken, namun tidak menyinggung para penatua karena alasan yang sama. Titus 1:5 dan 1:7 kelihatannya menghubungkan kedua istilah ini sebagai sesuatu yang sama. Sehubungan dengan kata \u201cgembala\u201d (poimen), dalam kaitannya dengan manusia sebagai pemimpin gereja, hanya ditemukan satu kali dalam Perjanjian Lama dalam Efesus 4:11, \u201cDan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.\u201d Kebanyakan orang menghubungkan kedua istilah \u201cgembala dan pengajar\u201d sebagai rujukan kepada satu pribadi yang sama dengan dua pembawaan. Dalam definisinya mengenai poimen, Zodhiates menjelaskan bahwa istilah \u201cgembala\u201d merujuk pada \u201cpembimbing rohani dari gereja tertentu.\u201d Ada dua bagian Alkitab (Kisah Para Rasul 20:28 dan 1 Petrus 5:1-2) yang menghubungkan ketiga istilah ini bersama-sama dan nampaknya mengindikasikan ketiga istilah ini sebagai rujukan pada satu jabatan yang sama. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, diaken adalah kelompok yang berbeda dalam gereja dan memiliki daftar kualifikasi yang dalam banyak hal serupa dengan bishop (1 Timotius 3:8-13). Mereka membantu gereja sebagaimana diperlukan seperti dapat dilihat dalam Kisah Para Rasul pasal 6. Dari ayat-ayat di atas, nampaknya penatua selalu lebih dari 1 orang, dan Allah memberi penatua tertentu karunia khusus untuk mengajar dan memberi penatua-penatua lainnya karunia administrasi (Roma 12:3-8, Efesus 4:11); juga tidak menutup kemungkinan Dia memanggil mereka ke dalam pelayanan di mana mereka dapat menggunakan karunia-karunia itu (Kisah 13:1). Karena itu, seorang penatua bisa saja dikarunia talenta sebagai \u201cgembala,\u201d sementara yang lainnya melakukan kunjungan kepada jemaat karena dia memiliki karunia berbelas kasihan, sementara yang lain dapat \u201cmengatur\u201d detail-detail organisasi, dan seterusnya. Banyak gereja yang diorganisir dengan sistem gembala dan diaken menjalankan fungsi pluralitas penatua dengan cara membagi beban pelayanan (diaken mengajar kelas Sekolah Minggu, dll) dan bekerja sama dalam pengambilan keputusan. Dalam Alkitab, Saudara akan mendapatkan bahwa ada banyak masukan dari jemaat dalam pengambilan keputusan. Karena itu, seorang pemimpin \u201cdiktator\u201d sebagai pengambil keputusan (baik disebut penatua, bishop atau gembala) itu tidak alkitabiah (Kisah 1:23, 26; 6:3, 5; 15:22, 30; 2 Korintus 8:19). Sebaliknya, gereja dengan jemaat sebagai pengambil keputusan tertinggi yang tidak memperhatikan masukan dari para penatua atau pemimpin gereja juga tidak alkitabiah. Secara ringkas, Alkitab mengajarkan kepemimpinan terdiri dari pluralitas penatua bersama dengan sekelompok diaken yang melayani sebagai pelayan gereja. Namun, bukan pertentangan dengan pluralitas penatua kalau satu dari mereka lebih terfokus melayani dalam \u201cpenggembalaan.\u201d Allah memanggil beberapa orang menjadi \u201cgembala\/pengajar\u201d (sambil memanggil beberapa menjadi misionaris dalam Kisah 13) dan memberi mereka sebagai hadiah untuk gereja (Efesus 4:11). Karena itu, gereja bisa saja memiliki banyak penatua, namun tidak semua penatua itu dipanggil untuk melayani dalam peranan penggembalaan. Namun, sebagai bagian dari penatua, gembala atau \u201cpenatua pengajar\u201d tidak memiliki otoritas lebih tinggi dalam pengambilan keputusan dibandingkan dengan penatua-penatua lainnya. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Dalam FirmanNya, jelas sekali bagaimana Allah menginginkan GerejaNya diorganisir dan dijalankan dalam dunia ini.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Pertama-tama, Kristus itu Kepala Gereja dan Otoritas Tertinggi (Efesus 1:22, 4:15, Kolose 1:18). Kedua, gereja setempat berdiri sendiri, bebas dari kuasa dan pengaturan pihak luar, dengan hak mengatur diri sendiri dan bebas dari campur tangan pribadi ataupun organisasi manapun (Titus 1:5). Ketiga, gereja diatur oleh kepemimpinan rohani yang terdiri dari dua jabatan utama \u2013 penatua dan diaken.<\/p>\n<p>\u201cPenatua\u201d adalah dewan kepemimpinan di antara orang-orang Israel sejak zaman kitab-kitab Musa (Pentateukh). Kita tahu bahwa mereka membuat keputusan-keputusan politik (2 Samuel 5:3; 2 Samuel 17:4, 15), menasihati raja (1 Raja-Raja 20:7) dan mewakili rakyat dalam kaitannya dengan hal-hal rohani (Keluaran 7, 17:5-6, 24:1, 9; Bilangan 11:16, 24-25).<\/p>\n<p>Terjemahan mula-mula Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (LXX) menggunakan kata \u201c<em>presbuteros<\/em>\u201d untuk penatua. Ini adalah kata dalam bahasa Yunani yang dalam Perjanjian Baru juga diterjemahkan sebagai \u201cpenatua.\u201d<\/p>\n<p>Perjanjian Baru berkali-kali merujuk pada penatua yang melayani dalam peranan sebagai pemimpin gereja (Kisah 14:23; 15:2; 20:17;Titus 1:5; Yakobus 5:14). Tampaknya, setiap gereja memiliki lebih dari satu penatua karena biasanya kata tersebut dijumpai dalam bentuk jamak.<\/p>\n<p>Satu-satunya pengecualian merujuk pada kasus-kasus di mana seorang penatua disebut secara khusus karena alasan-alasan tertentu (1 Timotius 5:1; 1 Timotius 5:19). Di Gereja Yerusalem, mereka menjadi bagian dari kepemimpinan bersama-sama dengan para Rasul (Kisah 15:2-16:4).<\/p>\n<p>Zodhiates, dalam karyanya <em>The Complete Word Study Dictionary: New Testament<\/em>, mendefinisikan kelompok penatua sebagai: \u201cPara penatua dari gereja-gereja Kristen, para presbiter, yang kepadanya dipercayakan arah dan pemerintahan dari tiap gereja, setara dengan episkopos, penilik jemaat, bishop (Kisah 11:30; 1 Timotius 5:17).\u201d<\/p>\n<p>Jadi, Zodhiates menyamakan \u201cpenatua\u201d dengan penilik jemaat atau bishop (episkopos diterjemahkan dengan istilah itu). Dia memandang \u201cpenatua\u201d sebagai rujukan pada wibawa dari jabatan tersebut, sementara bishop atau penilik jemaat merujuk pada otoritas dan kewajiban (1 Petrus 2:25; 5:1; 2, 4).<\/p>\n<p>Dia mencatat bahwa dalam Filipi 1:1 Paulus menyapa para bishop dan diaken, namun tidak mencantumkan para penatua (karena penatua adalah satu dan sama dengan bishop).<\/p>\n<p>Demikian pula 1 Timotius 3:2, 8 memberi kualifikasi para bishop dan diaken, namun tidak menyinggung para penatua karena alasan yang sama. Titus 1:5 dan 1:7 kelihatannya menghubungkan kedua istilah ini sebagai sesuatu yang sama.<\/p>\n<p>Sehubungan dengan kata \u201cgembala\u201d (poimen), dalam kaitannya dengan manusia sebagai pemimpin gereja, hanya ditemukan satu kali dalam Perjanjian Lama dalam Efesus 4:11, \u201cDan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.\u201d<\/p>\n<p>Kebanyakan orang menghubungkan kedua istilah \u201cgembala dan pengajar\u201d sebagai rujukan kepada satu pribadi yang sama dengan dua pembawaan. Dalam definisinya mengenai poimen, Zodhiates menjelaskan bahwa istilah \u201cgembala\u201d merujuk pada \u201cpembimbing rohani dari gereja tertentu.\u201d<\/p>\n<p>Ada dua bagian Alkitab (Kisah Para Rasul 20:28 dan 1 Petrus 5:1-2) yang menghubungkan ketiga istilah ini bersama-sama dan nampaknya mengindikasikan ketiga istilah ini sebagai rujukan pada satu jabatan yang sama.<\/p>\n<p>Sebagaimana dikatakan sebelumnya, diaken adalah kelompok yang berbeda dalam gereja dan memiliki daftar kualifikasi yang dalam banyak hal serupa dengan bishop (1 Timotius 3:8-13). Mereka membantu gereja sebagaimana diperlukan seperti dapat dilihat dalam Kisah Para Rasul pasal 6.<\/p>\n<p>Dari ayat-ayat di atas, nampaknya penatua selalu lebih dari 1 orang, dan Allah memberi penatua tertentu karunia khusus untuk mengajar dan memberi penatua-penatua lainnya karunia administrasi (Roma 12:3-8, Efesus 4:11); juga tidak menutup kemungkinan Dia memanggil mereka ke dalam pelayanan di mana mereka dapat menggunakan karunia-karunia itu (Kisah 13:1).<\/p>\n<p>Karena itu, seorang penatua bisa saja dikarunia talenta sebagai \u201cgembala,\u201d sementara yang lainnya melakukan kunjungan kepada jemaat karena dia memiliki karunia berbelas kasihan, sementara yang lain dapat \u201cmengatur\u201d detail-detail organisasi, dan seterusnya.<\/p>\n<p>Banyak gereja yang diorganisir dengan sistem gembala dan diaken menjalankan fungsi pluralitas penatua dengan cara membagi beban pelayanan (diaken mengajar kelas Sekolah Minggu, dll) dan bekerja sama dalam pengambilan keputusan.<\/p>\n<p>Dalam Alkitab, Saudara akan mendapatkan bahwa ada banyak masukan dari jemaat dalam pengambilan keputusan. Karena itu, seorang pemimpin \u201cdiktator\u201d sebagai pengambil keputusan (baik disebut penatua, bishop atau gembala) itu tidak alkitabiah (Kisah 1:23, 26; 6:3, 5; 15:22, 30; 2 Korintus 8:19).<\/p>\n<p>Sebaliknya, gereja dengan jemaat sebagai pengambil keputusan tertinggi yang tidak memperhatikan masukan dari para penatua atau pemimpin gereja juga tidak alkitabiah.<\/p>\n<p>Secara ringkas, Alkitab mengajarkan kepemimpinan terdiri dari pluralitas penatua bersama dengan sekelompok diaken yang melayani sebagai pelayan gereja.<\/p>\n<p>Namun, bukan pertentangan dengan pluralitas penatua kalau satu dari mereka lebih terfokus melayani dalam \u201cpenggembalaan.\u201d<\/p>\n<p>Allah memanggil beberapa orang menjadi \u201cgembala\/pengajar\u201d (sambil memanggil beberapa menjadi misionaris dalam Kisah 13) dan memberi mereka sebagai hadiah untuk gereja (Efesus 4:11). Karena itu, gereja bisa saja memiliki banyak penatua, namun tidak semua penatua itu dipanggil untuk melayani dalam peranan penggembalaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, sebagai bagian dari penatua, gembala atau \u201cpenatua pengajar\u201d tidak memiliki otoritas lebih tinggi dalam pengambilan keputusan dibandingkan dengan penatua-penatua lainnya. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Dalam FirmanNya, jelas sekali bagaimana Allah menginginkan GerejaNya diorganisir dan dijalankan dalam dunia ini. Pertama-tama, Kristus itu Kepala Gereja dan Otoritas Tertinggi (Efesus 1:22, 4:15, Kolose 1:18). Kedua, gereja setempat berdiri sendiri, bebas dari kuasa dan pengaturan pihak luar, dengan hak mengatur diri sendiri dan bebas dari campur tangan pribadi ataupun organisasi manapun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41678,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"5"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,5],"tags":[148],"class_list":["post-41710","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-gereja","tag-gereja"],"better_featured_image":{"id":41678,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gereja.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gereja.png?fit=768%2C726&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gereja.png"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gereja.png?fit=980%2C926&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1406","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41710","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41710"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41710\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41678"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41710"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41710"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41710"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}