{"id":42106,"date":"2020-02-09T08:28:42","date_gmt":"2020-02-09T01:28:42","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42106"},"modified":"2020-02-08T16:31:23","modified_gmt":"2020-02-08T09:31:23","slug":"meski-berpondasi-rapuh-makam-yesus-tetap-dibuka-untuk-umum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/meski-berpondasi-rapuh-makam-yesus-tetap-dibuka-untuk-umum\/","title":{"rendered":"Meski Berpondasi Rapuh, Makam Yesus Tetap Dibuka untuk Umum"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Situs bersejarah yang dipercaya sebagai makam Yesus atau Gereja Makam Kudus di Yerusalem Timur dibuka kembali untuk umum. Pembukaan makam Yesus tersebut untuk menandai selesainya proses penataan kembali atau restorasi yang berlangsung sejak Oktober 2016. Umat Kristiani, baik dari gereja maupun para peziarah, berkumpul di lokasi tersebut untuk berdoa. Sayangnya, sukacita tersebut harus diikuti dengan kegelisahan setelah ada peringatan dari para peneliti yang terlibat dalam proses restorasi. Mereka mengingatkan bahwa makam Yesus dibangun di atas fondasi yang rapuh sehingga rentan roboh. Menahem Kahana\/Reuters via RT.com Dikutip dari National Geographic, tim peneliti dari National Technical University of Athens (NTUA) menemukan fakta bahwa situs paling suci bagi umat Kristiani tersebut berpotensi untuk roboh sebab dibangun di atas fondasi yang tak stabil. Tim NTUA mengungkapkan kemungkinan itu usai melakukan restorasi. Bahkan, bila terjadi, yang roboh bukan hanya makam Yesus, tapi juga kompleks di sekitarnya. Antonia Moropoulou, ketua pengawas NTUA, menyebut bahwa hal tersebut adalah sebuah keniscayaan bila tak segera dilakukan pembenahan yang lebih menyeluruh. &quot;Ketika fondasinya gagal menopang bangunan, proses robohnya tak akan pelan, tapi luar biasa,&quot; ujarnya. Di bawah makam Yesus adalah batuan kapur yang sekitar 2.000 tahun lalu digunakan sebagai kuburan kelompok elit Yahudi. Oded Balilty\/AP\/National Geographic Makam Yesus bukan satu-satunya struktur yang pertama kali berdiri di lokasi tersebut. Berdasarkan penuturan tim arkeologi yang tergabung dengan NTUA lokasi makam Yesus berdiri di atas batuan kapur yang pada 2.000 tahun lalu menjadi kuburan bangsawan Yahudi. Keyakinan itu didasari oleh penemuan sejumlah kuburan di dasar gereja. Tak sampai di situ. Gereja Makam Kudus juga didirikan di atas reruntuhan dari bangunan-bangunan sebelumnya. Kerentanan fondasi juga dipengaruhi oleh kelembaban yang disebabkan saluran drainase yang berada beberapa meter di bawah lantai gereja. Para peneliti juga menemukan beberapa terowongan bawah tanah yang belum diketahui kegunaannya. Kabarnya, proposal perbaikan menyeluruh yang ditawarkan NTUA masih menunggu tiga kelompok yang menguasai makam Yesus. Oded Balilty\/AP\/National Geographic Proses restorasi sebelumnya menghabiskan uang lebih dari Rp 40 miliar. Dananya diperoleh dari tiga kelompok penguasa makam Yesus:\u00a0kelompok Ortodoks Yunani, Armenia, dan Katolik Roma.\u00a0kelompok Ortodoks Yunani, Armenia, dan Katolik Roma. Restorasi tersebut adalah yang pertama dalam dua abad terakhir. Sementara itu, bagian Gereja Makam Kudus lainnya sempat direnovasi pada 1960-an dan 1990-an. Dengan fakta bahwa situs tersebut rawan roboh, NTUA merekomendasikan proyek restorasi menyeluruh yang diperkirakan memakan waktu 10 bulan dengan biaya Rp 60 miliar. Kabarnya, proposal itu sudah diberikan kepada tiga denominasi Kristen tersebut. Namun, belum ada keputusan final dari ketiganya. Makam Yesus sendiri dibangun oleh Kaisar Romawi, Konstantin I, pada abad 4. Oded Balilty\/AP\/National Geographic Situs yang diyakini sebagai makam Yesus terletak di dalam Gereja Makam Kudus di Kota Lama Yerusalem. Kaisar Romawi, Konstantin I, membangunnya pada abad 4. Menurut tradisi Kristen, tubuh Yesus dikubur di tempat itu setelah disalib oleh orang-orang Romawi. Umat Kristen meyakini bahwa Yesus bangkit setelah kematiannya. Keyakinan itu dilatarbelakangi kabar bahwa para wanita yang mengunjungi makamnya tiga hari usai pemakaman tak menemukan tubuh Yesus di sana. (idtimes)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Situs bersejarah yang dipercaya sebagai makam Yesus atau Gereja Makam Kudus di Yerusalem Timur dibuka kembali untuk umum. Pembukaan makam Yesus tersebut untuk menandai selesainya proses penataan kembali atau restorasi yang berlangsung sejak Oktober 2016.<\/p>\n<div id=\"article-content\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Umat Kristiani, baik dari gereja maupun para peziarah, berkumpul di lokasi tersebut untuk berdoa. Sayangnya, sukacita tersebut harus diikuti dengan kegelisahan setelah ada peringatan dari para peneliti yang terlibat dalam proses restorasi.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>Mereka mengingatkan bahwa makam Yesus dibangun di atas fondasi yang rapuh sehingga rentan roboh.<\/strong><\/h2>\n<div class=\"embed-image\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.idntimes.com\/content-images\/post\/20170325\/makam-1-e6d1e594ee4211dd01d4b2f70a8a75d4.jpg?ssl=1\" alt=\"Meski Berpondasi Rapuh, Makam Yesus Tetap Dibuka untuk Umum\" \/><span class=\"main-article-source\">Menahem Kahana\/Reuters via RT.com <\/span><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dikutip dari <em>National Geographic<\/em>, tim peneliti dari National Technical University of Athens (NTUA) menemukan fakta bahwa situs paling suci bagi umat Kristiani tersebut berpotensi untuk roboh sebab dibangun di atas fondasi yang tak stabil. Tim NTUA mengungkapkan kemungkinan itu usai melakukan restorasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahkan, bila terjadi, yang roboh bukan hanya makam Yesus, tapi juga kompleks di sekitarnya. Antonia Moropoulou, ketua pengawas NTUA, menyebut bahwa hal tersebut adalah sebuah keniscayaan bila tak segera dilakukan pembenahan yang lebih menyeluruh. &#8220;Ketika fondasinya gagal menopang bangunan, proses robohnya tak akan pelan, tapi luar biasa,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>Di bawah makam Yesus adalah batuan kapur yang sekitar 2.000 tahun lalu digunakan sebagai kuburan kelompok elit Yahudi.<\/strong><\/h2>\n<div class=\"embed-image\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.idntimes.com\/content-images\/post\/20170325\/makam-2-3cc5002a55ac48e2b52a4c7521245bbe.jpg?ssl=1\" alt=\"Meski Berpondasi Rapuh, Makam Yesus Tetap Dibuka untuk Umum\" \/><span class=\"main-article-source\">Oded Balilty\/AP\/National Geographic<\/span><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Makam Yesus bukan satu-satunya struktur yang pertama kali berdiri di lokasi tersebut. Berdasarkan penuturan tim arkeologi yang tergabung dengan NTUA lokasi makam Yesus berdiri di atas batuan kapur yang pada 2.000 tahun lalu menjadi kuburan bangsawan Yahudi. Keyakinan itu didasari oleh penemuan sejumlah kuburan di dasar gereja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak sampai di situ. Gereja Makam Kudus juga didirikan di atas reruntuhan dari bangunan-bangunan sebelumnya. Kerentanan fondasi juga dipengaruhi oleh kelembaban yang disebabkan saluran drainase yang berada beberapa meter di bawah lantai gereja. Para peneliti juga menemukan beberapa terowongan bawah tanah yang belum diketahui kegunaannya.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>Kabarnya, proposal perbaikan menyeluruh yang ditawarkan NTUA masih menunggu tiga kelompok yang menguasai makam Yesus.<\/strong><\/h2>\n<div class=\"embed-image\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.idntimes.com\/content-images\/post\/20170325\/makam-4-49f46def1f04a54661ba30bee92e86f3.jpg?ssl=1\" alt=\"Meski Berpondasi Rapuh, Makam Yesus Tetap Dibuka untuk Umum\" \/><span class=\"main-article-source\">Oded Balilty\/AP\/National Geographic<\/span><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Proses restorasi sebelumnya menghabiskan uang lebih dari Rp 40 miliar. Dananya diperoleh dari tiga kelompok penguasa makam Yesus:\u00a0kelompok Ortodoks Yunani, Armenia, dan Katolik Roma.\u00a0kelompok Ortodoks Yunani, Armenia, dan Katolik Roma. Restorasi tersebut adalah yang pertama dalam dua abad terakhir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, bagian Gereja Makam Kudus lainnya sempat direnovasi pada 1960-an dan 1990-an. Dengan fakta bahwa situs tersebut rawan roboh, NTUA <a href=\"https:\/\/www.rt.com\/news\/382083-jesus-tomb-reopened-jerusalem-collapse\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">merekomendasikan<\/a> proyek restorasi menyeluruh yang diperkirakan memakan waktu 10 bulan dengan biaya Rp 60 miliar. Kabarnya, proposal itu sudah diberikan kepada tiga denominasi Kristen tersebut. Namun, belum ada keputusan final dari ketiganya.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>Makam Yesus sendiri dibangun oleh Kaisar Romawi, Konstantin I, pada abad 4.<\/strong><\/h2>\n<div class=\"embed-image\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.idntimes.com\/content-images\/post\/20170325\/makam-5-46e49f46977fec6967e93ca0edd1a4dc.jpg?ssl=1\" alt=\"Meski Berpondasi Rapuh, Makam Yesus Tetap Dibuka untuk Umum\" \/><span class=\"main-article-source\">Oded Balilty\/AP\/National Geographic<\/span><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Situs yang diyakini sebagai makam Yesus terletak di dalam Gereja Makam Kudus di Kota Lama Yerusalem. Kaisar Romawi, Konstantin I, membangunnya pada abad 4. Menurut tradisi Kristen, tubuh Yesus dikubur di tempat itu setelah disalib oleh orang-orang Romawi. Umat Kristen meyakini bahwa Yesus bangkit setelah kematiannya. Keyakinan itu dilatarbelakangi kabar bahwa para wanita yang mengunjungi makamnya tiga hari usai pemakaman tak menemukan tubuh Yesus di sana. (idtimes)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Situs bersejarah yang dipercaya sebagai makam Yesus atau Gereja Makam Kudus di Yerusalem Timur dibuka kembali untuk umum. Pembukaan makam Yesus tersebut untuk menandai selesainya proses penataan kembali atau restorasi yang berlangsung sejak Oktober 2016. Umat Kristiani, baik dari gereja maupun para peziarah, berkumpul di lokasi tersebut untuk berdoa. Sayangnya, sukacita tersebut harus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":42107,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"109"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[109],"tags":[],"class_list":["post-42106","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-site"],"better_featured_image":{"id":42107,"alt_text":"","caption":"","description":"1045b9abb31a5d3629ae281ee6dc6e82","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/meski-berpondasi-rapuh-makam-yesus-tetap-dibuka-untuk-umum_5e3e7e7feae20.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/meski-berpondasi-rapuh-makam-yesus-tetap-dibuka-untuk-umum_5e3e7e7feae20.jpeg?fit=600%2C400&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/meski-berpondasi-rapuh-makam-yesus-tetap-dibuka-untuk-umum_5e3e7e7feae20.jpeg"},"categories_detail":[{"id":109,"name":"Situs Bersejarah","description":"","slug":"site","count":30,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/meski-berpondasi-rapuh-makam-yesus-tetap-dibuka-untuk-umum_5e3e7e7feae20.jpeg?fit=600%2C400&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2153","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42106","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42106"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42106\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42107"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42106"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42106"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42106"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}