{"id":42109,"date":"2020-02-10T11:32:16","date_gmt":"2020-02-10T04:32:16","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42109"},"modified":"2020-02-08T19:28:01","modified_gmt":"2020-02-08T12:28:01","slug":"mencari-titik-tengah-sengketa-yerusalem-kota-suci-3-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mencari-titik-tengah-sengketa-yerusalem-kota-suci-3-agama\/","title":{"rendered":"Mencari Titik Tengah Sengketa Yerusalem, Kota Suci 3 Agama"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Keputusan pemerintah Israel untuk memindahkan ibu kotanya dari Tel Aviv ke Yerusalem mendapat kritik keras dari banyak negara. Hal yang menarik adalah ragam protes tidak hanya disuarakan oleh negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. \u201cUnjuk rasa terlihat di banyak kota, seperti Jakarta, Amman, Istanbul, London, Paris, Toronto, Beirut, dan masih banyak lagi. Ini menjawab kalau klaim Israel atas Yerusalem bukan hanya masalah agama, tapi juga ada ketidakadilan atau diskriminasi di sana,\u201d ujar M. Hamdan Basyar peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tindakan Israel dianggap melanggar Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 242 yang meminta negara Zionis tersebut untuk meninggalkan wilayah Palestina, termasuk Yerusalem Timur, setelah perang 1967. Kendati demikian, PBB dinilai tidak bisa berbuat banyak. \u201cIsrael tidak pernah mundur menanggapi resolusi itu. Tapi kenapa PBB terkesan diam saja saat resolusinya diabaikan? Di antaranya karena perbedaan penerjemahan status Yerusalem. Bagi PBB itu adalah occupied territory\u00a0(wilayah yang direbut karena perang), tapi bagi Israel itu adalah dispute territory (wilayah yang disengketakan). Karena itulah Israel merasa memiliki hak disana,\u201d terangnya\u00a0dalam seminar Konstelasi Baru Kepemimpinan di Timur Tengah. touristisrael.com Kemudian, Amerika Serikat (AS) menampakkan diri sebagai negara yang mendukung keputusan Israel tersebut. Menanggapi itu, Hamdan\u00a0mewanti-wanti agar keputusan Presiden Donald Trump tidak menjadi bumerang bagi negerinya sendiri. \u201cTrump harus berhati-hati karena dia memiliki banyak kepentingan di banyak negara. Kalau memang benar semua negara tidak mendukung (kebijakan Israel), bisa saja kemudian seluruh produk AS diboikot di banyak negara,\u201d tambahnya. Penyelesaian Yerusalem tidak dapat sepihak Telah dipaparkan sebelumnya, bahwa Yerusalem merupakan kota suci bagi tiga agama. Oleh karenanya, Hamdan menegaskan bahwa seluruh pihak dan agama harus terlibat demi menuntaskan klaim sepihak ini. \u201cBerbagai pihak telah menyarankan status Yerusalem. Seperti saran Vatikan agar Yerusalem menjadi wilayah internasional. Kemudian, Yahudi non-Zionis yang menyarankan agar Yerusalem di bawah kedaulatan Tuhan. Ada juga Mesir yang menyarankan agar diolah secara bersama. Intinya adalah\u00a0Palestina dan pihak lain harus duduk bersama untuk merundingkan status akhir kota ini,\u201d tutur peneliti Timur Tengah tersebut. Sebelumnya, Trump berencana\u00a0 mengutus Wakil Presiden AS, Mike Pence, mengunjungi Timur Tengah untuk menjelaskan dukungan Negeri Paman Sam terhadap peralihan Ibu Kota Israel. \u201cAkan tetapi, kunjungan tersebut ditolak. Presiden Palestina, Mahmoud Abbas menyatakan tidak mau menemuinya. Syekh Al-Azhar Mesir, Ahmad El Thayeb juga menolak bertemu Pence. Bahkan Gereja Koptik di Mesir juga menolak kunjungan wakil presiden tersebut,\u201d ujar Hamdan. Dalam seminar ini, disimpulkan tindakan yang dianggap dapat menekan AS agar membatalkan kebijakan tersebut harus datang dari pemerintah dan masyarakat. Pemerintah diminta terus melakukan pendekatan persuasif dan melakukan diplomasi dengan banyak negara. Sedangkan untuk masyarakat, cara yang dianggap paling ampuh adalah dengan tidak membeli produk dari AS. (idtimes)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Keputusan pemerintah Israel untuk memindahkan ibu kotanya dari Tel Aviv ke Yerusalem mendapat kritik keras dari banyak negara. Hal yang menarik adalah ragam protes tidak hanya disuarakan oleh negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim.<\/p>\n<div id=\"article-content\">\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cUnjuk rasa terlihat di banyak kota, seperti Jakarta, Amman, Istanbul, London, Paris, Toronto, Beirut, dan masih banyak lagi. Ini menjawab kalau klaim Israel atas Yerusalem bukan hanya masalah agama, tapi juga ada ketidakadilan atau diskriminasi di sana,\u201d ujar M. Hamdan Basyar peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tindakan Israel dianggap melanggar Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 242 yang meminta negara Zionis tersebut untuk meninggalkan wilayah Palestina, termasuk Yerusalem Timur, setelah perang 1967. Kendati demikian, PBB dinilai tidak bisa berbuat banyak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIsrael tidak pernah mundur menanggapi resolusi itu. Tapi kenapa PBB terkesan diam saja saat resolusinya diabaikan? Di antaranya karena perbedaan penerjemahan status Yerusalem. Bagi PBB itu adalah <em>occupied territory\u00a0<\/em>(wilayah yang direbut karena perang), tapi bagi Israel itu adalah <em>dispute territory<\/em> (wilayah yang disengketakan). Karena itulah Israel merasa memiliki hak disana,\u201d terangnya\u00a0dalam seminar Konstelasi Baru Kepemimpinan di Timur Tengah.<\/p>\n<div class=\"embed-image\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.idntimes.com\/content-images\/post\/20171207\/jerusalem-old-city-tour-photo-66b122fa04933c0c50d4c9d2760ca73b.jpg?ssl=1\" alt=\"Mencari Titik Tengah Sengketa Yerusalem, Kota Suci 3 Agama\" \/><span class=\"main-article-source\">touristisrael.com <\/span><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian, Amerika Serikat (AS) menampakkan diri sebagai negara yang mendukung keputusan Israel tersebut. Menanggapi itu, Hamdan\u00a0mewanti-wanti agar keputusan Presiden Donald Trump tidak menjadi bumerang bagi negerinya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTrump harus berhati-hati karena dia memiliki banyak kepentingan di banyak negara. Kalau memang benar semua negara tidak mendukung (kebijakan Israel), bisa saja kemudian seluruh produk AS diboikot di banyak negara,\u201d tambahnya.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>Penyelesaian Yerusalem tidak dapat sepihak<\/strong><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Telah dipaparkan sebelumnya, bahwa Yerusalem merupakan kota suci bagi tiga agama. Oleh karenanya, Hamdan menegaskan bahwa seluruh pihak dan agama harus terlibat demi menuntaskan klaim sepihak ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBerbagai pihak telah menyarankan status Yerusalem. Seperti saran Vatikan agar Yerusalem menjadi wilayah internasional. Kemudian, Yahudi non-Zionis yang menyarankan agar Yerusalem di bawah kedaulatan Tuhan. Ada juga Mesir yang menyarankan agar diolah secara bersama. Intinya adalah\u00a0Palestina dan pihak lain harus duduk bersama untuk merundingkan status akhir kota ini,\u201d tutur peneliti Timur Tengah tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelumnya, Trump berencana\u00a0 mengutus Wakil Presiden AS, Mike Pence, mengunjungi Timur Tengah untuk menjelaskan dukungan Negeri Paman Sam terhadap peralihan Ibu Kota Israel.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAkan tetapi, kunjungan tersebut ditolak. Presiden Palestina, Mahmoud Abbas menyatakan tidak mau menemuinya. Syekh Al-Azhar Mesir, Ahmad El Thayeb juga menolak bertemu Pence. Bahkan Gereja Koptik di Mesir juga menolak kunjungan wakil presiden tersebut,\u201d ujar Hamdan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam seminar ini, disimpulkan tindakan yang dianggap dapat menekan AS agar membatalkan kebijakan tersebut harus datang dari pemerintah dan masyarakat. Pemerintah diminta terus melakukan pendekatan persuasif dan melakukan diplomasi dengan banyak negara. Sedangkan untuk masyarakat, cara yang dianggap paling ampuh adalah dengan tidak membeli produk dari AS. (idtimes)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Keputusan pemerintah Israel untuk memindahkan ibu kotanya dari Tel Aviv ke Yerusalem mendapat kritik keras dari banyak negara. Hal yang menarik adalah ragam protes tidak hanya disuarakan oleh negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. \u201cUnjuk rasa terlihat di banyak kota, seperti Jakarta, Amman, Istanbul, London, Paris, Toronto, Beirut, dan masih banyak lagi. Ini menjawab [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":42110,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[22,109],"tags":[],"class_list":["post-42109","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional","category-site"],"better_featured_image":{"id":42110,"alt_text":"","caption":"","description":"c088d32b3b2f16d2877bc30dd38ddda8","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/mencari-titik-tengah-sengketa-yerusalem-kota-suci-3-agama_5e3e7f86b96ca.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/mencari-titik-tengah-sengketa-yerusalem-kota-suci-3-agama_5e3e7f86b96ca.jpeg?fit=600%2C400&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/mencari-titik-tengah-sengketa-yerusalem-kota-suci-3-agama_5e3e7f86b96ca.jpeg"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0},{"id":109,"name":"Situs Bersejarah","description":"","slug":"site","count":30,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/mencari-titik-tengah-sengketa-yerusalem-kota-suci-3-agama_5e3e7f86b96ca.jpeg?fit=600%2C400&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1632","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42109","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42109"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42109\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42110"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42109"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42109"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42109"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}