{"id":42135,"date":"2020-02-09T16:35:29","date_gmt":"2020-02-09T09:35:29","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42135"},"modified":"2020-02-08T20:38:16","modified_gmt":"2020-02-08T13:38:16","slug":"henk-ngantung-pria-kristen-dan-keturunan-tionghoa-pertama-yang-jadi-gubernur-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/henk-ngantung-pria-kristen-dan-keturunan-tionghoa-pertama-yang-jadi-gubernur-jakarta\/","title":{"rendered":"Henk Ngantung, Pria Kristen dan Keturunan Tionghoa Pertama yang Jadi Gubernur Jakarta"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Sebagian masyarakat Jakarta, bahkan Indonesia, yang beragama Islam saat ini tengah meributkan apakah boleh memilih pria non-Muslim sebagai gubernur. Ahok bukanlah gubernur DKI Jakarta pertama yang memiliki status minoritas ganda: beragama Kristen dan merupakan keturunan Tionghoa. Jauh sebelum Ahok, ibukota negara pernah dipimpin oleh seorang gubernur non-muslim dan keturunan Tionghoa. Namanya Henk Ngantung, Gubernur Jakarta di masa pemerintahan Presiden Soekarno. beritasatu.com Henk Ngantung memiliki nama asli Hendrik Hermanus Joel Ngantung. Ia lahir di Manado pada 1 Maret 1921 dan meninggal di Jakarta pada 12 Desember 1991. Henk punya perjalanan karir yang menarik. Pada dasarnya ia bukan politisi, melainkan seorang seniman lukis. Setelah menjadi deputi gubernur, Bung Karno mempercayakan kursi nomor satu di DKI kepadanya. Menurut sang istri, Evie Ngantung, kala itu Bung Karno ingin Jakarta dibangun dengan budaya dan seni. Presiden pertama Indonesia itu melihat Henk mampu melaksanakannya. Sayangnya, masa pemerintahannya hanya berjalan singkat, yakni pada periode 1964-1965. Penolakan terhadapnya bukan berasal dari faktor suku maupun agama, tapi dugaan keterlibatan dalam Partai Komunis Indonesia (PKI). Merdeka Alwi Shahab, salah seorang sejarawan Indonesia, menyebut bahwa Henk adalah contoh gubernur yang merangkul masyarakat.\u00a0&quot;Henk Ngantung tidak banyak berpolitik, tapi lebih banyak bekerja untuk rakyat, sehingga rakyat tidak merasa kalau gubernurnya non-Muslim,&quot; kata Alwi. Alwi juga berkata meski sebagai gubernur, tapi Henk tinggal di gang kecil, dan menurutnya, itu membuat Henk dekat dengan rakyat kecil. Meski demikian, bukan berarti Henk tak pernah menerima penolakan. Sebagai seorang seniman sejati yang pernah mengabadikan peristiwa bersejarah seperti Perjanjian Linggarjati dan Perundingan Kaliurang ke dalam lukisan, ia dekat dengan organisasi budaya bernama Lekra yang berafiliasi dengan PKI. Pada 1965, saat Gerakan 30 September bergolak, Henk dicopot dari posisinya sebagai gubernur DKI. Menurut kesaksian Evie Ngantung, Henk dituduh PKI padahal tak pernah ada bukti bahwa ia terlibat dalam politik yang digagas PKI. Dalam buku Journalism and Politics in Indonesia: A Critical Biography of Mochtar Lubis karya David T.Hill, jurnalis Mochtar Lubis pun menyebut seniman Lekra, termasuk Henk, tak pernah mau\u00a0didikte oleh ideologi politis yang diusung PKI. Semenjak itu, kehidupan Henk sangat merana, bahkan keluarganya harus dibantu oleh Ahok. Metro TV News Karena dituduh PKI, pemerintahan Orde Baru yang dikomando oleh Soeharto memperlakukan Henk dan keluarganya dengan diskriminatif. Keluarganya diteror. Bahkan, ketika kesehatan mata Henk mulai memburuk, ia tak diizinkan berobat karena tak punya surat keterangan bebas PKI. Selain itu, kondisi keuangan pun semakin parah. Kabar terakhir juga menyebut bahwa Ahok membantu keuangan keluarga Henk dengan mengirimkan Rp 3 juta kepada mendiang istri Henk. Ini diungkapkan oleh anak Henk, Kamang Solana Ngantung. Pernyataan ini dikeluarkan Kamang pada 2014 dan ia menyebut Ahok telah melakukannya sejak 2013, saat sang ibu masih ada. Menurut Kamang, bantuan itu berasal dari uang pribadi Ahok. Selain itu, Evie Ngantung juga menggantungkan hidup dari uang pensiunan Henk sebesar Rp 830 ribu. (idtimes)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Sebagian masyarakat Jakarta, bahkan Indonesia, yang beragama Islam saat ini tengah meributkan apakah boleh memilih pria non-Muslim sebagai gubernur.<\/p>\n<div id=\"article-content\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Ahok bukanlah gubernur DKI Jakarta pertama yang memiliki status minoritas ganda: beragama Kristen dan merupakan keturunan Tionghoa. Jauh sebelum Ahok, ibukota negara pernah dipimpin oleh seorang gubernur non-muslim dan keturunan Tionghoa.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>Namanya Henk Ngantung, Gubernur Jakarta di masa pemerintahan Presiden Soekarno.<\/strong><\/h2>\n<div class=\"embed-image\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.idntimes.com\/content-images\/post\/20170220\/henk-ngantung-37c5cdb6451980777aaa923b2744a8e0.jpg?ssl=1\" alt=\"Henk Ngantung, Pria Kristen dan Keturunan Tionghoa Pertama yang Jadi Gubernur Jakarta\" \/><span class=\"main-article-source\">beritasatu.com<\/span><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Henk Ngantung memiliki nama asli Hendrik Hermanus Joel Ngantung. Ia lahir di Manado pada 1 Maret 1921 dan meninggal di Jakarta pada 12 Desember 1991. Henk punya perjalanan karir yang menarik. Pada dasarnya ia bukan politisi, melainkan seorang seniman lukis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah menjadi deputi gubernur, Bung Karno mempercayakan kursi nomor satu di DKI kepadanya. Menurut sang istri, Evie Ngantung, kala itu Bung Karno ingin Jakarta dibangun dengan budaya dan seni. Presiden pertama Indonesia itu melihat Henk mampu melaksanakannya. Sayangnya, masa pemerintahannya hanya berjalan singkat, yakni pada periode 1964-1965.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>Penolakan terhadapnya bukan berasal dari faktor suku maupun agama, tapi dugaan keterlibatan dalam Partai Komunis Indonesia (PKI).<\/strong><\/h2>\n<div class=\"embed-image\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.idntimes.com\/content-images\/post\/20170220\/henk-ngantung-1-cd6792631fac2905d07e8d2861f4a967.jpg?ssl=1\" alt=\"Henk Ngantung, Pria Kristen dan Keturunan Tionghoa Pertama yang Jadi Gubernur Jakarta\" \/><span class=\"main-article-source\">Merdeka<\/span><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Alwi Shahab, salah seorang sejarawan Indonesia, menyebut bahwa Henk adalah contoh gubernur yang merangkul masyarakat.\u00a0&#8220;Henk Ngantung tidak banyak berpolitik, tapi lebih banyak bekerja untuk rakyat, sehingga rakyat tidak merasa kalau gubernurnya non-Muslim,&#8221; kata Alwi. Alwi juga berkata meski sebagai gubernur, tapi Henk tinggal di gang kecil, dan menurutnya, itu membuat Henk dekat dengan rakyat kecil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski demikian, bukan berarti Henk tak pernah menerima penolakan. Sebagai seorang seniman sejati yang pernah mengabadikan peristiwa bersejarah seperti Perjanjian Linggarjati dan Perundingan Kaliurang ke dalam lukisan, ia dekat dengan organisasi budaya bernama Lekra yang berafiliasi dengan PKI.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada 1965, saat Gerakan 30 September bergolak, Henk dicopot dari posisinya sebagai gubernur DKI. Menurut kesaksian Evie Ngantung, Henk dituduh PKI padahal tak pernah ada bukti bahwa ia terlibat dalam politik yang digagas PKI. Dalam buku Journalism and Politics in Indonesia: A Critical Biography of Mochtar Lubis karya David T.Hill, jurnalis Mochtar Lubis pun menyebut seniman Lekra, termasuk Henk, tak pernah mau\u00a0didikte oleh ideologi politis yang diusung PKI.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>Semenjak itu, kehidupan Henk sangat merana, bahkan keluarganya harus dibantu oleh Ahok.<\/strong><\/h2>\n<div class=\"embed-image\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.idntimes.com\/content-images\/post\/20170220\/henk-ngantung-2-4575eb3beef20cb5afcb66cbc1aeca4f.jpg?ssl=1\" alt=\"Henk Ngantung, Pria Kristen dan Keturunan Tionghoa Pertama yang Jadi Gubernur Jakarta\" \/><span class=\"main-article-source\">Metro TV News<\/span><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena dituduh PKI, pemerintahan Orde Baru yang dikomando oleh Soeharto memperlakukan Henk dan keluarganya dengan diskriminatif. Keluarganya diteror. Bahkan, ketika kesehatan mata Henk mulai memburuk, ia tak diizinkan berobat karena tak punya surat keterangan bebas PKI. Selain itu, kondisi keuangan pun semakin parah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kabar terakhir juga menyebut bahwa Ahok membantu keuangan keluarga Henk dengan mengirimkan Rp 3 juta kepada mendiang istri Henk. Ini diungkapkan oleh anak Henk, Kamang Solana Ngantung. Pernyataan ini dikeluarkan Kamang pada 2014 dan ia menyebut Ahok telah melakukannya sejak 2013, saat sang ibu masih ada. Menurut Kamang, bantuan itu berasal dari uang pribadi Ahok. Selain itu, Evie Ngantung juga menggantungkan hidup dari uang pensiunan Henk sebesar Rp 830 ribu. (idtimes)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Sebagian masyarakat Jakarta, bahkan Indonesia, yang beragama Islam saat ini tengah meributkan apakah boleh memilih pria non-Muslim sebagai gubernur. Ahok bukanlah gubernur DKI Jakarta pertama yang memiliki status minoritas ganda: beragama Kristen dan merupakan keturunan Tionghoa. Jauh sebelum Ahok, ibukota negara pernah dipimpin oleh seorang gubernur non-muslim dan keturunan Tionghoa. Namanya Henk Ngantung, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":42136,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"13"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[14,13],"tags":[],"class_list":["post-42135","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebangsaan","category-tokoh"],"better_featured_image":{"id":42136,"alt_text":"","caption":"","description":"b514e74cb019338ccdda611e25512814","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/henk-ngantung-pria-kristen-dan-keturunan-tionghoa-pertama-yang-jadi-gubernur-jakarta_5e3eb037ce551.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/henk-ngantung-pria-kristen-dan-keturunan-tionghoa-pertama-yang-jadi-gubernur-jakarta_5e3eb037ce551.jpeg?fit=600%2C400&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/henk-ngantung-pria-kristen-dan-keturunan-tionghoa-pertama-yang-jadi-gubernur-jakarta_5e3eb037ce551.jpeg"},"categories_detail":[{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0},{"id":13,"name":"Tokoh Kristiani","description":"","slug":"tokoh","count":15,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/henk-ngantung-pria-kristen-dan-keturunan-tionghoa-pertama-yang-jadi-gubernur-jakarta_5e3eb037ce551.jpeg?fit=600%2C400&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2238","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42135","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42135"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42135\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42136"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42135"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42135"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42135"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}