{"id":42185,"date":"2020-06-07T09:27:00","date_gmt":"2020-06-07T02:27:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42185"},"modified":"2020-06-06T20:43:04","modified_gmt":"2020-06-06T13:43:04","slug":"apa-kata-alkitab-mengenai-orang-kristen-mengambil-hutang-patutkah-orang-kristen-meminjam-atau-memberi-pinjaman-uang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-kata-alkitab-mengenai-orang-kristen-mengambil-hutang-patutkah-orang-kristen-meminjam-atau-memberi-pinjaman-uang\/","title":{"rendered":"Apa kata Alkitab mengenai orang Kristen mengambil hutang? Patutkah orang Kristen meminjam atau memberi pinjaman uang?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Melalui Roma 13:8, Paulus memerintahkan orang Kristen untuk tidak berhutang apa-apa kecuali berhutang kasih. Ini merupakan sinyal yang kuat mengenai ketidaksenangan Allah terhadap bentuk hutang apapun yang tidak dibayar pada waktunya (lihat pula Mazmur 37:21). Biasanya kita memikirkan hutang dalam konteks kewajiban keuangan. Namun, dalam konteks keseluruhan pasal ini (Roma 13:1-10), nampaknya Paulus membahas hutang dalam konteks yang lebih luas (Roma 13:7). Bukan saja Paulus berbicara mengenai pajak dan cukai yang dibebankan pemerintah kepada kita, namun juga mengenai respek dan rasa hormat terhadap mereka yang berkuasa. Setiap manusia berhutang kepada anugerah Allah. Sebagaimana Allah telah menyatakan kasihNya kepada kita, kita perlu meneruskan kasih itu kepada mereka yang berada di sekitar kita, orang-orang yang bekerja dan hidup bersama kita \u2013 bahkan termasuk mereka yang memerintah dan membebankan pajak kepada kita. Beberapa orang mempertanyakan konsep bunga yang diterapkan pada hutang. Namun, beberapa kali di dalam Alkitab kita melihat bahwa bunga yang wajar adalah sesuatu yang pantas untuk hutang (Amsal 28:8, Matius 25:27). Dalam zaman Israel kuno, hukum Taurat melarang bunga pada satu jenis hutang, hutang dari orang-orang miskin (Imamat 25:35-38). Hukum ini memiliki banyak implikasi sosial, finansial dan rohani. Namun, ada dua prinsip yang perlu diperhatikan. Pertama, hukum ini secara sungguh-sungguh menolong orang-orang miskin dengan tidak membuat situasi mereka semakin memburuk. Jatuh miskin sudah cukup malang, dan meminta bantuan dapat memalukan. Jika selain membayar hutangnya, orang miskin itu harus membayar beban bunga yang berat, kewajiban itu bisa lebih merusaknya daripada membantunya. Kedua, hukum tersebut mengajar kebenaran rohani yang penting. Untuk orang yang meminjamkan uang, tidak meminta bunga dari orang miskin merupakan bentuk kemurahan hati. Sementara uang tersebut dipinjamkan pada orang miskin, dia tidak bisa menggunakan uang itu. Namun, hal ini menjadi cara yang nyata baginya untuk menyatakan syukur kepada Allah, yang dalam anugerahNya tidak membebani umatNya dengan \u201cbunga,\u201d untuk anugerah yang dinyatakanNya kepada mereka. Sama seperti Allah telah bermurah hati membawa orang-orang Israel keluar dari Mesir ketika mereka saat itu hanya budak-budak yang tidak punya sepeser pun, Ia bahkan memberi mereka tanah (Imamat 25:38). Maka, Dia juga mengharapkan umatNya bisa menunjukkan kemurahan yang sama terhadap sesama mereka yang miskin. Orang-orang Kristen berada dalam situasi yang sama. Hidup, mati dan kebangkitan Yesus telah membayar hutang dosa kita kepada Allah. Sekarang, kita punya kesempatan menolong mereka yang membutuhkan, khususnya sesama orang percaya, dengan hutang yang tidak memperburuk kesulitan mereka. Sejalan dengan itu, Yesus bahkan memberi perumpamaan mengenai dua orang yang memberi hutang dan sikap mereka terhadap pengampunan (Matius 18:23-35). Dia juga menginstruksikan para pengikutNya, \u201cKamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma\u201d (Matius 10:8). Alkitab tidak secara eksplisit melarang atau mengijinkan orang meminjam uang. Hikmat dari Alkitab mengajar kita bahwa pada umumnya tidak baik untuk berhutang. Hutang selalu membuat kita jadi budak dari orang yang memberi kita hutang. Pada saat bersamaan, dalam situasi-situasi tertentu, hutang sering kali merupakan \u201ckebutuhan yang tidak dapat dielakkan.\u201d Asal uang tersebut dipergunakan secara bijaksana dan pembayarannya masih dapat ditanggung, orang Kristen boleh saja berhutang, jika memang diperlukan. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Melalui Roma 13:8, Paulus memerintahkan orang Kristen untuk tidak berhutang apa-apa kecuali berhutang kasih. Ini merupakan sinyal yang kuat mengenai ketidaksenangan Allah terhadap bentuk hutang apapun yang tidak dibayar pada waktunya (lihat pula Mazmur 37:21).<\/p>\n<div id=\"\">\n<p>Biasanya kita memikirkan hutang dalam konteks kewajiban keuangan. Namun, dalam konteks keseluruhan pasal ini (Roma 13:1-10), nampaknya Paulus membahas hutang dalam konteks yang lebih luas (Roma 13:7). Bukan saja Paulus berbicara mengenai pajak dan cukai yang dibebankan pemerintah kepada kita, namun juga mengenai respek dan rasa hormat terhadap mereka yang berkuasa.<\/p>\n<p>Setiap manusia berhutang kepada anugerah Allah. Sebagaimana Allah telah menyatakan kasihNya kepada kita, kita perlu meneruskan kasih itu kepada mereka yang berada di sekitar kita, orang-orang yang bekerja dan hidup bersama kita \u2013 bahkan termasuk mereka yang memerintah dan membebankan pajak kepada kita.<\/p>\n<p>Beberapa orang mempertanyakan konsep bunga yang diterapkan pada hutang. Namun, beberapa kali di dalam Alkitab kita melihat bahwa bunga yang wajar adalah sesuatu yang pantas untuk hutang (Amsal 28:8, Matius 25:27).<\/p>\n<p>Dalam zaman Israel kuno, hukum Taurat melarang bunga pada satu jenis hutang, hutang dari orang-orang miskin (Imamat 25:35-38). Hukum ini memiliki banyak implikasi sosial, finansial dan rohani. Namun, ada dua prinsip yang perlu diperhatikan.<\/p>\n<p>Pertama, hukum ini secara sungguh-sungguh menolong orang-orang miskin dengan tidak membuat situasi mereka semakin memburuk. Jatuh miskin sudah cukup malang, dan meminta bantuan dapat memalukan. Jika selain membayar hutangnya, orang miskin itu harus membayar beban bunga yang berat, kewajiban itu bisa lebih merusaknya daripada membantunya.<\/p>\n<p>Kedua, hukum tersebut mengajar kebenaran rohani yang penting. Untuk orang yang meminjamkan uang, tidak meminta bunga dari orang miskin merupakan bentuk kemurahan hati. Sementara uang tersebut dipinjamkan pada orang miskin, dia tidak bisa menggunakan uang itu.<\/p>\n<p>Namun, hal ini menjadi cara yang nyata baginya untuk menyatakan syukur kepada Allah, yang dalam anugerahNya tidak membebani umatNya dengan \u201cbunga,\u201d untuk anugerah yang dinyatakanNya kepada mereka.<\/p>\n<p>Sama seperti Allah telah bermurah hati membawa orang-orang Israel keluar dari Mesir ketika mereka saat itu hanya budak-budak yang tidak punya sepeser pun, Ia bahkan memberi mereka tanah (Imamat 25:38). Maka, Dia juga mengharapkan umatNya bisa menunjukkan kemurahan yang sama terhadap sesama mereka yang miskin.<\/p>\n<p>Orang-orang Kristen berada dalam situasi yang sama. Hidup, mati dan kebangkitan Yesus telah membayar hutang dosa kita kepada Allah. Sekarang, kita punya kesempatan menolong mereka yang membutuhkan, khususnya sesama orang percaya, dengan hutang yang tidak memperburuk kesulitan mereka.<\/p>\n<p>Sejalan dengan itu, Yesus bahkan memberi perumpamaan mengenai dua orang yang memberi hutang dan sikap mereka terhadap pengampunan (Matius 18:23-35). Dia juga menginstruksikan para pengikutNya, \u201cKamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma\u201d (Matius 10:8).<\/p>\n<p>Alkitab tidak secara eksplisit melarang atau mengijinkan orang meminjam uang. Hikmat dari Alkitab mengajar kita bahwa pada umumnya tidak baik untuk berhutang.<\/p>\n<p>Hutang selalu membuat kita jadi budak dari orang yang memberi kita hutang. Pada saat bersamaan, dalam situasi-situasi tertentu, hutang sering kali merupakan \u201ckebutuhan yang tidak dapat dielakkan.\u201d<\/p>\n<p>Asal uang tersebut dipergunakan secara bijaksana dan pembayarannya masih dapat ditanggung, orang Kristen boleh saja berhutang, jika memang diperlukan. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Melalui Roma 13:8, Paulus memerintahkan orang Kristen untuk tidak berhutang apa-apa kecuali berhutang kasih. Ini merupakan sinyal yang kuat mengenai ketidaksenangan Allah terhadap bentuk hutang apapun yang tidak dibayar pada waktunya (lihat pula Mazmur 37:21). Biasanya kita memikirkan hutang dalam konteks kewajiban keuangan. Namun, dalam konteks keseluruhan pasal ini (Roma 13:1-10), nampaknya Paulus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":45661,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,70,3],"tags":[122],"class_list":["post-42185","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-relasi","category-umum","tag-eskatologi"],"better_featured_image":{"id":45661,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/uang.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/uang.jpg?fit=560%2C372&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/uang.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/uang.jpg?fit=560%2C372&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2653","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42185","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42185"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42185\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45661"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42185"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42185"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42185"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}