{"id":42191,"date":"2021-02-23T09:27:00","date_gmt":"2021-02-23T02:27:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42191"},"modified":"2021-02-13T11:57:18","modified_gmt":"2021-02-13T04:57:18","slug":"apa-kata-alkitab-mengenai-tuntutan-hukum-menuntut-seseorang-secara-hukum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-kata-alkitab-mengenai-tuntutan-hukum-menuntut-seseorang-secara-hukum\/","title":{"rendered":"Apa kata Alkitab mengenai tuntutan hukum\/menuntut seseorang secara hukum?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -\u00a0 1 Korintus 6:1-8 dengan jelas menginstruksikan sesama orang Kristen tidak melakukan tuntutan hukum satu dengan lainnya. Tindakan itu hanya membuktikan bahwa orang Kristen tidak dapat saling mengampuni, yang berarti sama saja dengan membuktikan kekalahan rohani orang Kristen. Bagaimana seseorang berminat menjadi orang Kristen jika melihat orang Kristen memiliki begitu banyak masalah dan sama tidak mampunya untuk mengatasinya? Memang, ada kalanya tuntutan hukum merupakan tindakan yang tepat. Jika pola Alkitab untuk berdamai sudah diikuti (Matius 18:15-17) dan pihak yang bersalah tetap bersikeras, dalam kasus-kasus tertentu, tuntutan hukum mungkin merupakan hal yang patut dilakukan. Hal ini sepatutnya dilakukan hanya setelah seseorang banyak berdoa untuk hikmat (Yakobus 1:5) dan berkonsultasi dengan pimpinan rohaninya. 1 Korintus 6:4 mengatakan, \u201cSekalipun demikian, jika kamu harus mengurus perkara-perkara biasa, kamu menyerahkan urusan itu kepada mereka yang tidak berarti dalam jemaat?\u201d Seluruh konteks 1 Korintus 6:1-6 berbicara mengenai sengketa yang terjadi di dalam gereja. Namun, Paulus merujuk kepada sistim pengadilan saat dia berbicara mengenai penghakiman dalam hidup ini. Paulus menyatakan bahwa sistim pengadilan itu ada semata-mata diperuntukkan bagi hal-hal yang tersangkut paut dengan kehidupan di luar gereja. Paulus mengajarkan kalau masalah gereja tidak sepatutnya dibawa ke pengadilan, namun harus dibereskan di dalam gereja. Kisah Para Rasul pasal 21, mulai dari ayat 26 berbicara mengenai momen ketika Paulus ditangkap dan menerima tuduhan palsu. Kemudian, orang-orang Roma membawa dia untuk diadili. \u201cKarena itu kepala pasukan memberi perintah untuk membawa Paulus ke markas dan menyuruh memeriksa dan menyesah dia, supaya dapat diketahui apa sebabnya orang banyak itu berteriak-teriak sedemikian terhadap dia. Tetapi ketika Paulus ditelentangkan untuk disesah, berkatalah ia kepada perwira yang bertugas: &quot;Bolehkah kamu menyesah seorang warganegara Rum, apalagi tanpa diadili?&quot;\u201d Paulus mempergunakan hukum Romawi dan kewarganegaraannya untuk melindungi dirinya. Tidak ada salahnya menggunakan sistim pengadilan sepanjang dilakukan dengan motivasi yang benar dan dengan hati yang tulus. 1 Korintus 6:7 menyatakan, \u201cAdanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?\u201d Hal yang menjadi kekuatiran Paulus terutama mengenai kesaksian dari orang percaya. Lebih baik orang Kristen dirugikan atau diperlakukan dengan tidak adil daripada tindakan mereka makin menjauhkan orang dari Kristus, termasuk ketika menuntut seseorang. Apa yang lebih penting; perjuangan hukum, atau perjuangan untuk jiwa yang kekal? Kesimpulannya, bolehkah orang Kristen saling menuntut di pengadilan terkait soal gereja? Sama sekali tidak boleh! Bolehkah orang Kristen saling menuntut di pengadilan dalam urusan perdata? Jika ada cara untuk menghindarinya, tidak. Bolehkah orang Kristen menuntut orang non-Kristen di pengadilan dalam urusan perdata? Sekali lagi, kalau bisa dihindari, tidak. Namun, dalam kasus-kasus tertentu, jika demi melindungi hak-hak kita (sebagaimana kisah Paulus), mungkin pantas bagi orang Kristen melakukan tuntutan hukum. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/><strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211;\u00a0 1 Korintus 6:1-8 dengan jelas menginstruksikan sesama orang Kristen tidak melakukan tuntutan hukum satu dengan lainnya. Tindakan itu hanya membuktikan bahwa orang Kristen tidak dapat saling mengampuni, yang berarti sama saja dengan membuktikan kekalahan rohani orang Kristen.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Bagaimana seseorang berminat menjadi orang Kristen jika melihat orang Kristen memiliki begitu banyak masalah dan sama tidak mampunya untuk mengatasinya?<\/p>\n<p>Memang, ada kalanya tuntutan hukum merupakan tindakan yang tepat. Jika pola Alkitab untuk berdamai sudah diikuti (Matius 18:15-17) dan pihak yang bersalah tetap bersikeras, dalam kasus-kasus tertentu, tuntutan hukum mungkin merupakan hal yang patut dilakukan.<\/p>\n<p>Hal ini sepatutnya dilakukan hanya setelah seseorang banyak berdoa untuk hikmat (Yakobus 1:5) dan berkonsultasi dengan pimpinan rohaninya.<\/p>\n<p>1 Korintus 6:4 mengatakan, \u201cSekalipun demikian, jika kamu harus mengurus perkara-perkara biasa, kamu menyerahkan urusan itu kepada mereka yang tidak berarti dalam jemaat?\u201d<\/p>\n<p>Seluruh konteks 1 Korintus 6:1-6 berbicara mengenai sengketa yang terjadi di dalam gereja. Namun, Paulus merujuk kepada sistim pengadilan saat dia berbicara mengenai penghakiman dalam hidup ini. Paulus menyatakan bahwa sistim pengadilan itu ada semata-mata diperuntukkan bagi hal-hal yang tersangkut paut dengan kehidupan di luar gereja.<\/p>\n<p>Paulus mengajarkan kalau masalah gereja tidak sepatutnya dibawa ke pengadilan, namun harus dibereskan di dalam gereja.<\/p>\n<p>Kisah Para Rasul pasal 21, mulai dari ayat 26 berbicara mengenai momen ketika Paulus ditangkap dan menerima tuduhan palsu. Kemudian, orang-orang Roma membawa dia untuk diadili. \u201cKarena itu kepala pasukan memberi perintah untuk membawa Paulus ke markas dan menyuruh memeriksa dan menyesah dia, supaya dapat diketahui apa sebabnya orang banyak itu berteriak-teriak sedemikian terhadap dia. Tetapi ketika Paulus ditelentangkan untuk disesah, berkatalah ia kepada perwira yang bertugas: &#8220;Bolehkah kamu menyesah seorang warganegara Rum, apalagi tanpa diadili?&#8221;\u201d<\/p>\n<p>Paulus mempergunakan hukum Romawi dan kewarganegaraannya untuk melindungi dirinya. Tidak ada salahnya menggunakan sistim pengadilan sepanjang dilakukan dengan motivasi yang benar dan dengan hati yang tulus.<\/p>\n<p>1 Korintus 6:7 menyatakan, \u201cAdanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?\u201d<\/p>\n<p>Hal yang menjadi kekuatiran Paulus terutama mengenai kesaksian dari orang percaya. Lebih baik orang Kristen dirugikan atau diperlakukan dengan tidak adil daripada tindakan mereka makin menjauhkan orang dari Kristus, termasuk ketika menuntut seseorang. Apa yang lebih penting; perjuangan hukum, atau perjuangan untuk jiwa yang kekal?<\/p>\n<p>Kesimpulannya, bolehkah orang Kristen saling menuntut di pengadilan terkait soal gereja? Sama sekali tidak boleh!<\/p>\n<p>Bolehkah orang Kristen saling menuntut di pengadilan dalam urusan perdata? Jika ada cara untuk menghindarinya, tidak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bolehkah orang Kristen menuntut orang non-Kristen di pengadilan dalam urusan perdata? Sekali lagi, kalau bisa dihindari, tidak. Namun, dalam kasus-kasus tertentu, jika demi melindungi hak-hak kita (sebagaimana kisah Paulus), mungkin pantas bagi orang Kristen melakukan tuntutan hukum. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211;\u00a0 1 Korintus 6:1-8 dengan jelas menginstruksikan sesama orang Kristen tidak melakukan tuntutan hukum satu dengan lainnya. Tindakan itu hanya membuktikan bahwa orang Kristen tidak dapat saling mengampuni, yang berarti sama saja dengan membuktikan kekalahan rohani orang Kristen. Bagaimana seseorang berminat menjadi orang Kristen jika melihat orang Kristen memiliki begitu banyak masalah dan sama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":39826,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,5,3],"tags":[148,368],"class_list":["post-42191","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-gereja","category-umum","tag-gereja","tag-hukum"],"better_featured_image":{"id":39826,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png?fit=768%2C341&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png?fit=900%2C400&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1563","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42191","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42191"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42191\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42191"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42191"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42191"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}