{"id":42197,"date":"2020-10-30T10:27:07","date_gmt":"2020-10-30T03:27:07","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42197"},"modified":"2020-10-29T22:32:14","modified_gmt":"2020-10-29T15:32:14","slug":"bagaimana-saya-bisa-tahu-jika-keinginan-hati-saya-berasal-dari-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bagaimana-saya-bisa-tahu-jika-keinginan-hati-saya-berasal-dari-allah\/","title":{"rendered":"Bagaimana saya bisa tahu jika keinginan hati saya berasal dari Allah?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Yesus menjawab pertanyaan ini untuk kita. &quot;Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat&quot; (Mat 15:19). Juga: &quot;Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang&quot; (Mrk 7:20-23). Dalam bagian ayat ini, Yesus mengungkapkan sumber dari keinginan kita, yaitu keinginan daging yang datang dari lubuk hati kita. Dosa tidak hanya terjadi sebagai akibat dari dorongan yang berasal dari luar. Dosa lahir dari relung tersembunyi di dalam pikiran dan hati kita; dari keinginan tersembunyi yang hanya bisa dibayangkan oleh pikiran dan hati kita. Karena manusia sudah rusak total oleh kuasa dosa, keinginan hati kita tidak datang dari Allah. Yeremia lebih lanjut menegaskan sifat hati manusia: &quot;Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?&quot; (Yer 17:9). Selama ini, kebanyakan orang menganggap kalau semua manusia pada dasarnya baik dan terhormat. Kondisi kehidupan seperti kemiskinan atau pola pengasuhan yang buruk yang dianggap mengubah manusia menjadi pembunuh dan pencuri. Namun, Alkitab menyatakan kalau semua manusia memiliki kelemahan yang sama \u2013 dosa. Rasul Paulus menyebutnya sebagai natur dosa. &quot;Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku&quot; (Rom 7:18-20). Hati kita yang jahat yang mendorong kita untuk berbuat dosa. Hati kita begitu jahat dan licik, sehingga motivasi hati kita pun menjadi serba tidak jelas, bahkan bagi diri kita sendiri. Sebagai makhluk berdosa, kita merancang dan memikirkan hal-hal yang jahat terkait kesombongan dan keangkuhan hati kita (Ams 16:30; Mzm 35:20; Mik 2: 1; Rom 1:30). Hanya Allah yang bisa menguji isi hati terdalam dan keinginan batin manusia. Hanya melalui kuasa-Nya kita memiliki harapan untuk terlepas dari kebusukan dan kebobrokan yang tinggal di dalam hati kita. Dia menyelidiki segala sesuatu dan mengenal kita dengan begitu baik (Ibr 4:11-13). Untungnya, Allah tidak membiarkan kita sendirian dalam perjuangan melawan keinginan yang jahat dan kecenderungan untuk berdosa. Sebaliknya, Dia menganugerahkan kasih karunia dan kekuatan yang kita perlukan untuk melawan dan mengalahkan dosa yang sudah mengintai di depan pintu hati kita. Pemazmur menyerukan supaya kita &quot;bergembira(lah) karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang&quot; (Mzm 37:4-6). Allah bisa saja menaruh keinginan-Nya sendiri ke dalam hati manusia. Tanpa kehadiran-Nya, hati manusia sangat jahat dan licik. Dia bisa menggantikan kejahatan dengan kebaikan. Dia bisa menetapkan hati kita untuk berjalan menuju kepadaNya; menghapus keinginan kita sendiri dan menggantinya dengan keinginan-Nya. Hal ini hanya bisa terjadi jika kita datang kepada-Nya dan menerima karunia keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus. Pada saat itu, Dia akan menggantikan hati yang keras dengan hati yang taat (Yeh 11:19). Dia menyempurnakan hal ini dengan menanamkan Roh-Nya secara supranatural ke dalam hati kita. Kemudian, keinginan kita akan menjadi keinginan-Nya. Kehendak kita menjadi berusaha untuk melakukan kehendak-Nya. Pemberontakan kita diubah menjadi ketaatan yang penuh sukacita kepada-Nya. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Yesus menjawab pertanyaan ini untuk kita. &#8220;Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat&#8221; (Mat 15:19). Juga: &#8220;Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang&#8221; (Mrk 7:20-23).<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Dalam bagian ayat ini, Yesus mengungkapkan sumber dari keinginan kita, yaitu keinginan daging yang datang dari lubuk hati kita. Dosa tidak hanya terjadi sebagai akibat dari dorongan yang berasal dari luar. Dosa lahir dari relung tersembunyi di dalam pikiran dan hati kita; dari keinginan tersembunyi yang hanya bisa dibayangkan oleh pikiran dan hati kita. Karena manusia sudah rusak total oleh kuasa dosa, keinginan hati kita tidak datang dari Allah. Yeremia lebih lanjut menegaskan sifat hati manusia: &#8220;Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?&#8221; (Yer 17:9).<\/p>\n<p>Selama ini, kebanyakan orang menganggap kalau semua manusia pada dasarnya baik dan terhormat. Kondisi kehidupan seperti kemiskinan atau pola pengasuhan yang buruk yang dianggap mengubah manusia menjadi pembunuh dan pencuri. Namun, Alkitab menyatakan kalau semua manusia memiliki kelemahan yang sama \u2013 dosa.<\/p>\n<p>Rasul Paulus menyebutnya sebagai natur dosa. &#8220;Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku&#8221; (Rom 7:18-20).<\/p>\n<p>Hati kita yang jahat yang mendorong kita untuk berbuat dosa. Hati kita begitu jahat dan licik, sehingga motivasi hati kita pun menjadi serba tidak jelas, bahkan bagi diri kita sendiri. Sebagai makhluk berdosa, kita merancang dan memikirkan hal-hal yang jahat terkait kesombongan dan keangkuhan hati kita (Ams 16:30; Mzm 35:20; Mik 2: 1; Rom 1:30). Hanya Allah yang bisa menguji isi hati terdalam dan keinginan batin manusia. Hanya melalui kuasa-Nya kita memiliki harapan untuk terlepas dari kebusukan dan kebobrokan yang tinggal di dalam hati kita. Dia menyelidiki segala sesuatu dan mengenal kita dengan begitu baik (Ibr 4:11-13).<\/p>\n<p>Untungnya, Allah tidak membiarkan kita sendirian dalam perjuangan melawan keinginan yang jahat dan kecenderungan untuk berdosa. Sebaliknya, Dia menganugerahkan kasih karunia dan kekuatan yang kita perlukan untuk melawan dan mengalahkan dosa yang sudah mengintai di depan pintu hati kita. Pemazmur menyerukan supaya kita &#8220;bergembira(lah) karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang&#8221; (Mzm 37:4-6).<\/p>\n<p>Allah bisa saja menaruh keinginan-Nya sendiri ke dalam hati manusia. Tanpa kehadiran-Nya, hati manusia sangat jahat dan licik. Dia bisa menggantikan kejahatan dengan kebaikan. Dia bisa menetapkan hati kita untuk berjalan menuju kepadaNya; menghapus keinginan kita sendiri dan menggantinya dengan keinginan-Nya. Hal ini hanya bisa terjadi jika kita datang kepada-Nya dan menerima karunia keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada saat itu, Dia akan menggantikan hati yang keras dengan hati yang taat (Yeh 11:19). Dia menyempurnakan hal ini dengan menanamkan Roh-Nya secara supranatural ke dalam hati kita. Kemudian, keinginan kita akan menjadi keinginan-Nya. Kehendak kita menjadi berusaha untuk melakukan kehendak-Nya. Pemberontakan kita diubah menjadi ketaatan yang penuh sukacita kepada-Nya. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Yesus menjawab pertanyaan ini untuk kita. &#8220;Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat&#8221; (Mat 15:19). Juga: &#8220;Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":39826,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[],"class_list":["post-42197","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":39826,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png?fit=768%2C341&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png?fit=900%2C400&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1115","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42197","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42197"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42197\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42197"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42197"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42197"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}