{"id":42199,"date":"2020-11-11T11:27:07","date_gmt":"2020-11-11T04:27:07","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42199"},"modified":"2020-11-05T22:18:10","modified_gmt":"2020-11-05T15:18:10","slug":"seperti-apa-yang-dianggap-berpakaian-sopan-itu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/seperti-apa-yang-dianggap-berpakaian-sopan-itu\/","title":{"rendered":"Seperti apa yang dianggap berpakaian sopan itu?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ketika menjelaskan model pakaian yang tepat untuk perempuan di gereja, rasul Paulus menyerukan mereka untuk berpakaian &quot;sopan&quot; dan sesuai dengan &quot;kesusilaan dan kepatutan.&quot; Paulus kemudian menjelaskan cara berpakaian yang tidak sopan, lalu perbuatan baik yang pantas bagi mereka yang mengaku sebagai penyembah sejati dari Allah (1 Tim 2:9-10). Kesopanan dalam cara kita berpakaian bukan hanya ketika pergi ke gereja saja. Standar berbusana ini seharusnya berlaku bagi semua orang Kristen, untuk dilakukan setiap saat. Kunci untuk memahami apa yang dianggap sebagai kesopanan dalam berpakaian adalah dengan menguji sikap dan niat hati. Mereka yang hatinya mengarah kepada Allah akan melakukan segala upaya untuk berpakaian dengan sopan dan sepantasnya, yang sesuai dengan norma susila. Mereka yang hatinya mengarah kepada dirinya sendiri akan berpakaian untuk menarik perhatian orang-orang kepada diri mereka sendiri. Mereka biasanya tidak peduli pada konsekuensi yang bisa terjadi pada dirinya atau orang lain. Perempuan yang saleh akan berusaha untuk melakukan segala sesuatu dengan perspektif yang saleh juga. Dia tahu bahwa Allah ingin agar umat-Nya senantiasa memuliakan-Nya. Termasuk peduli pada keadaan rohani saudara-saudara seiman mereka di dalam Kristus. Jika seorang perempuan mengaku menjadi orang Kristen namun berpakaian dengan cara yang terlalu mengumbar kemolekan tubuhnya sendiri, dia sudah menjadi seorang saksi yang buruk bagi Juru Selamat yang telah menebus jiwanya dengan mati baginya di kayu salib. Dia lupa bahwa tubuhnya telah ditebus oleh Kristus sehingga sekarang merupakan bait Roh Kudus (1 Kor 6:19-20). Perempuan itu sebenarnya sedang mengatakan kepada dunia bahwa dirinya bernilai hanya dari segi fisik semata. Daya tariknya tergantung pada seberapa banyak ia mengekspos tubuhnya kepada dunia. Dengan berpakaian dengan tidak sepantasnya, ia menyajikan tubuhnya bagi mata para pria sehingga membuat mereka bernafsu, sehingga menyebabkan saudara seimannya di dalam Kristus menjadi berdosa. Ini adalah sesuatu yang dikutuk oleh Allah (Mat 5:27-29). Amsal 7:10 (AYT) menyebutkan seorang perempuan yang &quot;berpakaian seperti seorang pelacur, berhati yang licik.&quot; Di sini kita melihat gambaran dari seseorang yang sikap hatinya bisa ditunjukkan melalui cara berpakaiannya. Alkitab memerintahkan seorang perempuan berpakaian sopan, tapi apa sebenarnya arti berpakaian sopan dalam masyarakat modern? Apakah seorang perempuan harus berpakaian tertutup dari kepala sampai kaki? Ada sekte dan agama di dunia yang menuntut hal ini kepada perempuan. Seperti itukah kesopanan yang dimaksudkan oleh Alkitab? Sekali lagi, kita harus terfokus pada sikap hati. Jika hati seorang perempuan terfokus pada kesalehan, dia akan mengenakan pakaian yang tidak provokatif dan tidak mengekspos tubuhnya di depan umum. Dia akan mengenakan pakaian yang tidak berpotensi merusak kesaksian pribadinya sebagai anak Allah. Bahkan ketika orang lain berpakaian tidak sopan, dia tetap menolak godaan untuk mengikut selera pasar. Dia tahu kalau jenis pakaian seperti ini dirancang untuk menarik perhatian pada tubuhnya dan bisa menyebabkan lelaki menjadi bernafsu. Dia akan cukup bijaksana untuk mengetahui bahwa jenis perhatian seperti ini hanya akan membuatnya terlihat murahan. Pemahaman kalau pakaiannya berpotensi membuat para pria berdosa terhadap Allah akan terasa begitu mengerikan baginya, karena dia memang berusaha untuk mengasihi dan menghormati Allah. Karena itu, ia pasti ingin orang lain juga melakukan hal yang sama. Kesopanan dalam berpakaian mengungkapkan kerendahan hati dan kesalehan hati seseorang. Ini seharusnya menjadi sikap bagi semua perempuan yang memang hidup untuk menyenangkan dan menghormati Allah. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Ketika menjelaskan model pakaian yang tepat untuk perempuan di gereja, rasul Paulus menyerukan mereka untuk berpakaian &#8220;sopan&#8221; dan sesuai dengan &#8220;kesusilaan dan kepatutan.&#8221; Paulus kemudian menjelaskan cara berpakaian yang tidak sopan, lalu perbuatan baik yang pantas bagi mereka yang mengaku sebagai penyembah sejati dari Allah (1 Tim 2:9-10). Kesopanan dalam cara kita berpakaian bukan hanya ketika pergi ke gereja saja. Standar berbusana ini seharusnya berlaku bagi semua orang Kristen, untuk dilakukan setiap saat.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Kunci untuk memahami apa yang dianggap sebagai kesopanan dalam berpakaian adalah dengan menguji sikap dan niat hati. Mereka yang hatinya mengarah kepada Allah akan melakukan segala upaya untuk berpakaian dengan sopan dan sepantasnya, yang sesuai dengan norma susila. Mereka yang hatinya mengarah kepada dirinya sendiri akan berpakaian untuk menarik perhatian orang-orang kepada diri mereka sendiri. Mereka biasanya tidak peduli pada konsekuensi yang bisa terjadi pada dirinya atau orang lain.<\/p>\n<p>Perempuan yang saleh akan berusaha untuk melakukan segala sesuatu dengan perspektif yang saleh juga. Dia tahu bahwa Allah ingin agar umat-Nya senantiasa memuliakan-Nya. Termasuk peduli pada keadaan rohani saudara-saudara seiman mereka di dalam Kristus. Jika seorang perempuan mengaku menjadi orang Kristen namun berpakaian dengan cara yang terlalu mengumbar kemolekan tubuhnya sendiri, dia sudah menjadi seorang saksi yang buruk bagi Juru Selamat yang telah menebus jiwanya dengan mati baginya di kayu salib.<\/p>\n<p>Dia lupa bahwa tubuhnya telah ditebus oleh Kristus sehingga sekarang merupakan bait Roh Kudus (1 Kor 6:19-20). Perempuan itu sebenarnya sedang mengatakan kepada dunia bahwa dirinya bernilai hanya dari segi fisik semata. Daya tariknya tergantung pada seberapa banyak ia mengekspos tubuhnya kepada dunia. Dengan berpakaian dengan tidak sepantasnya, ia menyajikan tubuhnya bagi mata para pria sehingga membuat mereka bernafsu, sehingga menyebabkan saudara seimannya di dalam Kristus menjadi berdosa.<\/p>\n<p>Ini adalah sesuatu yang dikutuk oleh Allah (Mat 5:27-29). Amsal 7:10 (AYT) menyebutkan seorang perempuan yang &#8220;berpakaian seperti seorang pelacur, berhati yang licik.&#8221; Di sini kita melihat gambaran dari seseorang yang sikap hatinya bisa ditunjukkan melalui cara berpakaiannya.<\/p>\n<p>Alkitab memerintahkan seorang perempuan berpakaian sopan, tapi apa sebenarnya arti berpakaian sopan dalam masyarakat modern? Apakah seorang perempuan harus berpakaian tertutup dari kepala sampai kaki? Ada sekte dan agama di dunia yang menuntut hal ini kepada perempuan. Seperti itukah kesopanan yang dimaksudkan oleh Alkitab? Sekali lagi, kita harus terfokus pada sikap hati.<\/p>\n<p>Jika hati seorang perempuan terfokus pada kesalehan, dia akan mengenakan pakaian yang tidak provokatif dan tidak mengekspos tubuhnya di depan umum. Dia akan mengenakan pakaian yang tidak berpotensi merusak kesaksian pribadinya sebagai anak Allah. Bahkan ketika orang lain berpakaian tidak sopan, dia tetap menolak godaan untuk mengikut selera pasar. Dia tahu kalau jenis pakaian seperti ini dirancang untuk menarik perhatian pada tubuhnya dan bisa menyebabkan lelaki menjadi bernafsu. Dia akan cukup bijaksana untuk mengetahui bahwa jenis perhatian seperti ini hanya akan membuatnya terlihat murahan.<\/p>\n<p>Pemahaman kalau pakaiannya berpotensi membuat para pria berdosa terhadap Allah akan terasa begitu mengerikan baginya, karena dia memang berusaha untuk mengasihi dan menghormati Allah. Karena itu, ia pasti ingin orang lain juga melakukan hal yang sama. Kesopanan dalam berpakaian mengungkapkan kerendahan hati dan kesalehan hati seseorang. Ini seharusnya menjadi sikap bagi semua perempuan yang memang hidup untuk menyenangkan dan menghormati Allah. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ketika menjelaskan model pakaian yang tepat untuk perempuan di gereja, rasul Paulus menyerukan mereka untuk berpakaian &#8220;sopan&#8221; dan sesuai dengan &#8220;kesusilaan dan kepatutan.&#8221; Paulus kemudian menjelaskan cara berpakaian yang tidak sopan, lalu perbuatan baik yang pantas bagi mereka yang mengaku sebagai penyembah sejati dari Allah (1 Tim 2:9-10). Kesopanan dalam cara kita berpakaian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":39826,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[122],"class_list":["post-42199","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-eskatologi"],"better_featured_image":{"id":39826,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png?fit=768%2C341&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png?fit=900%2C400&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1291","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42199","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42199"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42199\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42199"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42199"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42199"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}