{"id":42227,"date":"2020-09-17T13:27:07","date_gmt":"2020-09-17T06:27:07","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42227"},"modified":"2020-09-15T12:20:59","modified_gmt":"2020-09-15T05:20:59","slug":"bolehkah-orang-kristen-mengonsumsi-antidepresan-atau-obat-obatan-kesehatan-mental-lainnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bolehkah-orang-kristen-mengonsumsi-antidepresan-atau-obat-obatan-kesehatan-mental-lainnya\/","title":{"rendered":"Bolehkah orang Kristen mengonsumsi antidepresan atau obat-obatan kesehatan mental lainnya?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Serangan panik, gangguan kecemasan, fobia, dan depresi telah mempengaruhi jutaan orang. Meskipun dunia kedokteran menganggap penyakit tersebut seringkali disebabkan gangguan jiwa seseorang, ada kalanya ketidakseimbangan kimiawi merupakan penyebabnya. Bisa juga masalah yang dipendam seseorang ikut berkontribusi pada ketidakseimbangan kimiawi yang kemudian memperpanjang dan memperberat masalahnya. Jika memang ini yang terjadi, obat seringkali diresepkan untuk membantu mengatasi ketidakseimbangan tersebut, yang bisa membantu mengobati gejala dari penyakit psikologisnya. Apakah ini dosa? Allah telah mengijinkan pengetahuan tentang obat-obatan berkembang pesat, yang sering Allah gunakan dalam proses penyembuhan. Apakah Allah membutuhkan obat-buatan-manusia untuk menyembuhkan? Tentu saja tidak! Namun, Allah mengijinkan dunia kedokteran untuk mengalami kemajuan pesat. Tidak ada alasan yang alkitabiah bagi kita untuk tidak memanfaatkan semua kemajuan medis itu. Namun, ada batas tipis antara menggunakan obat untuk penyembuhan dengan menjadi tergantung terus-menerus pada obat supaya bisa menjalani kehidupan sehari-hari. Kita harus mengakui Allah sebagai Tabib Agung. Hanya Allah sendiri yang memiliki kuasa untuk benar-benar menyembuhkan (Yoh 4:14). Pertama-tama dan yang terutama, kita harus mencari Allah untuk kesembuhan kita. Misalnya, obat yang digunakan untuk mengobati kasus serangan panik seharusnya hanya digunakan jika obat tersebut memungkinkan si penderita untuk menyelesaikan akar penyebab dari ketakutannya itu. Obat bisa digunakan supaya si penderita menjadi sepenuhnya sadar. Namun, banyak penderita meminum obat supaya bisa terhindar dari usaha untuk menyelesaikan penyebab yang sebenarnya dari penyakit mereka. Ini akan menjadi bentuk penyangkalan terhadap tanggung jawabnya. Juga bisa dianggap sebagai bentuk penyangkalan terhadap kemungkinan bagi kesembuhan yang berasal dari Allah. Ini juga mungkin merupakan bentuk penyangkalan terhadap hal lain, seperti misalnya pengampunan atau penyelesaian beberapa peristiwa masa lalu yang menjadi penyebab timbulnya penyakit. Inilah yang kemudian menjadi dosa, karena pengobatan ini didasarkan pada egoisme seseorang semata. Dengan meminum obat secara terbatas untuk mengobati gejala yang ada, kemudian mengandalkan Firman Tuhan dan melakukan konseling yang alkitabiah untuk mendorong terjadinya transformasi dalam hati dan pikiran seseorang, pada umumnya kebutuhan seseorang atas obat tertentu akan semakin berkurang. Ada beberapa orang yang tubuhnya memang membutuhkan penggunaan anti-depresan dalam jangka panjang untuk mengurangi gejala tertentu. Juga, gangguan psikologis tertentu lainnya, seperti gangguan bipolar dan skizofrenia, memerlukan penggunaan obat dalam jangka panjang, seperti halnya insulin bagi penderita diabetes. Posisi orang-percaya di dalam Kristus telah ditetapkan. Allah juga berkarya di area-area yang bermasalah di dalam hati dan pikiran seseorang, yang menjadi penyebab penyakit tertentu. Misalnya, mengenai rasa cemas, kita dapat mempelajari apa yang Firman Tuhan nyatakan tentang itu dan bagaimana seharusnya orang-percaya menghadapinya. Membaca ayat-ayat berikut dan merenungkannya bisa menjadi obat. Firman Tuhan bisa membuat seseorang menjadi percaya diri. Juga, bisa menyediakan terang kebenaran bagi seseorang mengenai bagaimana seharusnya menjadi anak Allah (Silakan membaca Ams 29:25; Mat 6:34; Yoh 8:32; Rm 8:28-39; 12:1-2; 1 Kor 10:13; 2 Kor 10:5; Flp 4:4-9; Kol 3:1-2; 2 Tim 1:6-8; Ibr 13:5-6; Yak 1:2-4; 1 Ptr 5:7; 2 Ptr 1:3-4; 1 Yoh 1:9; 4:18-19). Allah dapat menyembuhkan secara supernatural dan ajaib. Kita harus berdoa untuk hal tersebut. Allah juga bisa menyembuhkan melalui obat-obatan dan dokter. Kita juga harus berdoa juga untuk itu. Terlepas jalan mana yang Allah pilih, iman-percaya kita haruslah di dalam Dia saja (Mat 9:22). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Serangan panik, gangguan kecemasan, fobia, dan depresi telah mempengaruhi jutaan orang. Meskipun dunia kedokteran menganggap penyakit tersebut seringkali disebabkan gangguan jiwa seseorang, ada kalanya ketidakseimbangan kimiawi merupakan penyebabnya. Bisa juga masalah yang dipendam seseorang ikut berkontribusi pada ketidakseimbangan kimiawi yang kemudian memperpanjang dan memperberat masalahnya.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika memang ini yang terjadi, obat seringkali diresepkan untuk membantu mengatasi ketidakseimbangan tersebut, yang bisa membantu mengobati gejala dari penyakit psikologisnya. Apakah ini dosa? Allah telah mengijinkan pengetahuan tentang obat-obatan berkembang pesat, yang sering Allah gunakan dalam proses penyembuhan. Apakah Allah membutuhkan obat-buatan-manusia untuk menyembuhkan? Tentu saja tidak! Namun, Allah mengijinkan dunia kedokteran untuk mengalami kemajuan pesat. Tidak ada alasan yang alkitabiah bagi kita untuk tidak memanfaatkan semua kemajuan medis itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, ada batas tipis antara menggunakan obat untuk penyembuhan dengan menjadi tergantung terus-menerus pada obat supaya bisa menjalani kehidupan sehari-hari. Kita harus mengakui Allah sebagai Tabib Agung. Hanya Allah sendiri yang memiliki kuasa untuk benar-benar menyembuhkan (Yoh 4:14). Pertama-tama dan yang terutama, kita harus mencari Allah untuk kesembuhan kita. Misalnya, obat yang digunakan untuk mengobati kasus serangan panik seharusnya hanya digunakan jika obat tersebut memungkinkan si penderita untuk menyelesaikan akar penyebab dari ketakutannya itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Obat bisa digunakan supaya si penderita menjadi sepenuhnya sadar. Namun, banyak penderita meminum obat supaya bisa terhindar dari usaha untuk menyelesaikan penyebab yang sebenarnya dari penyakit mereka. Ini akan menjadi bentuk penyangkalan terhadap tanggung jawabnya. Juga bisa dianggap sebagai bentuk penyangkalan terhadap kemungkinan bagi kesembuhan yang berasal dari Allah. Ini juga mungkin merupakan bentuk penyangkalan terhadap hal lain, seperti misalnya pengampunan atau penyelesaian beberapa peristiwa masa lalu yang menjadi penyebab timbulnya penyakit. Inilah yang kemudian menjadi dosa, karena pengobatan ini didasarkan pada egoisme seseorang semata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan meminum obat secara terbatas untuk mengobati gejala yang ada, kemudian mengandalkan Firman Tuhan dan melakukan konseling yang alkitabiah untuk mendorong terjadinya transformasi dalam hati dan pikiran seseorang, pada umumnya kebutuhan seseorang atas obat tertentu akan semakin berkurang. Ada beberapa orang yang tubuhnya memang membutuhkan penggunaan anti-depresan dalam jangka panjang untuk mengurangi gejala tertentu. Juga, gangguan psikologis tertentu lainnya, seperti gangguan bipolar dan skizofrenia, memerlukan penggunaan obat dalam jangka panjang, seperti halnya insulin bagi penderita diabetes.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Posisi orang-percaya di dalam Kristus telah ditetapkan. Allah juga berkarya di area-area yang bermasalah di dalam hati dan pikiran seseorang, yang menjadi penyebab penyakit tertentu. Misalnya, mengenai rasa cemas, kita dapat mempelajari apa yang Firman Tuhan nyatakan tentang itu dan bagaimana seharusnya orang-percaya menghadapinya. Membaca ayat-ayat berikut dan merenungkannya bisa menjadi obat. Firman Tuhan bisa membuat seseorang menjadi percaya diri. Juga, bisa menyediakan terang kebenaran bagi seseorang mengenai bagaimana seharusnya menjadi anak Allah (Silakan membaca Ams 29:25; Mat 6:34; Yoh 8:32; Rm 8:28-39; 12:1-2; 1 Kor 10:13; 2 Kor 10:5; Flp 4:4-9; Kol 3:1-2; 2 Tim 1:6-8; Ibr 13:5-6; Yak 1:2-4; 1 Ptr 5:7; 2 Ptr 1:3-4; 1 Yoh 1:9; 4:18-19).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Allah dapat menyembuhkan secara supernatural dan ajaib. Kita harus berdoa untuk hal tersebut. Allah juga bisa menyembuhkan melalui obat-obatan dan dokter. Kita juga harus berdoa juga untuk itu. Terlepas jalan mana yang Allah pilih, iman-percaya kita haruslah di dalam Dia saja (Mat 9:22). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Serangan panik, gangguan kecemasan, fobia, dan depresi telah mempengaruhi jutaan orang. Meskipun dunia kedokteran menganggap penyakit tersebut seringkali disebabkan gangguan jiwa seseorang, ada kalanya ketidakseimbangan kimiawi merupakan penyebabnya. Bisa juga masalah yang dipendam seseorang ikut berkontribusi pada ketidakseimbangan kimiawi yang kemudian memperpanjang dan memperberat masalahnya. Jika memang ini yang terjadi, obat seringkali diresepkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":39826,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[122],"class_list":["post-42227","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-eskatologi"],"better_featured_image":{"id":39826,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png?fit=768%2C341&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png?fit=900%2C400&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"972","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42227","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42227"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42227\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42227"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42227"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42227"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}