{"id":42243,"date":"2020-11-01T08:27:07","date_gmt":"2020-11-01T01:27:07","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42243"},"modified":"2020-10-30T22:59:29","modified_gmt":"2020-10-30T15:59:29","slug":"apakah-alkitab-menyarankan-untuk-mengikuti-hati-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-alkitab-menyarankan-untuk-mengikuti-hati-kita\/","title":{"rendered":"Apakah Alkitab menyarankan untuk mengikuti hati kita?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Baik di dalam film, novel, semboyan, blog dan meme lainnya, ada ajakan untuk \u201cmengikuti hati kita.\u201d Adapun nasehat yang berbunyi \u201cpercayalah diri sendiri\u201d atau \u201cikuti nalurimu.\u201d Adapula yang berbunyi \u201chatimu tidak mungkin menyimpangkanmu.\u201d Masalahnya, semua nasehat ini tidak alkitabiah. Bukannya mempercayai kata hati kita, seharusnya kita menyerahkan hati kita kepada Allah: \u201cPercayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu\u201d (Amsal 3:5-6). Ayat ini memerintahkan secara khusus supaya kita tidak mempercayai diri kita sendiri. Sebaliknya, ayat ini menjanjikan bimbingan bagi mereka yang memilih untuk mengikuti Tuhan. Jika sesuatu dapat memberi arahan, maka hal itu harus didasari oleh kebenaran secara obyektif. Dalam kata lain, apapun yang diajak konsultasi harus menyediakan konklusi berdasarkan kebenaran obyektif, bukan pengertian emosional yang subyektif. Alkitab mengajar bahwa manusia harus mengikuti Allah. Allah berfirman, \u201cDiberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!\u201d (Yeremia 17:7). Allah memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai segala sesuatu (1 Yohanes 3:20), sebuah sifat yang kita juluki sebagai ke-MahaTahu-an. Pengetahuan Allah tidak dibatasi oleh apapun juga. Allah menyadari semua peristiwa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi (Yesaya 46:9-10). Pengetahuan Allah tidak terbatas pada peristiwa, melainkan pada pemikiran dan motivasi di baliknya (Yohanes 2:25; Kisah 1:24). Namun, bukanlah semata pengetahuan ini yang membuat Allah menjadi sumber bimbingan yang dapat diandalkan. Allah juga menyadari setiap kemungkinan dan setiap akibat yang dapat terjadi dalam tiap peristiwa (Matius 11:21). Kemampuan itu, ketika dipadukan dengan kebaikan Allah, menjadikan Allah sebagai pembimbing yang terbaik untuk diikuti umat manusia. Tentang hati orang yang belum lahir baru, Allah berfirman: \u201cBetapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?\u201d (Yeremia 17:9). Ayat ini memberi setidaknya dua alasan mengapa manusia tidak boleh mengandalkan hatinya dalam mengambil keputusan. Pertama, dari segenap ciptaan tidak ada yang lebih licik daripada hati manusia, karena khodratnya yang berdosa. Jika kita mengikuti kata hati kita, maka kita sedang mengikuti pemandu yang tak layak dipercayai. Kita dibutakan terhadap sifat penipu hati kita. Sebagaimana ditanya oleh sang nabi, \u201cSiapakah yang dapat mengetahuinya?\u201d Ketika kita mengandalkan hikmat pribadi kita, maka kita akan sulit menentukan yang mana yang baik dan yang mana yang buruk. Membedakan baik dan buruk berdasarkan \u201cperasaan\u201d adalah cara hidup yang bahaya (dan tidak alkitabiah). Yang kedua, Yeremia 17:9 mengajarkan bahwa hati manusia itu licik. Tidak ada cara untuk memperbaiki hati. Manusia membutuhkan hati yang baru. Oleh karena itu, ketika seseorang beriman pada Kristus, ia dijadikan ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Yesus tidak memperbaiki hati; sebaliknya, Ia menggantikannya dengan yang baru. Ini tidak berarti bahwa kita dapat mengandalkan hati kita setelah beriman pada Kristus. Sebagai orang percaya, kita dinasehati untuk mengikuti kehendak Allah, bukan kehendak pribadi kita. Alkitab mengajar bahwa \u201ckeinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki\u201d (Galatia 5:17). Ada beberapa klarifikasi yang perlu kami berikan. Yang kami sampaikan bukan bahwa semua emosi kita selalu bersalah atau bahwa Allah tidak pernah menempatkan keinginan dalam hati kami (Mazmur 37:4). Hanya saja bahwa emosi bukanlah pembimbing yang dapat diandalkan, namun mereka tetap berguna dan informatif. Keinginan di dalam hati kita tidak selalu bersifat ilahi, namun tentu saja Allah dapat menanamkan mereka dalam hati kita. Orang Kristen mempunyai khodrat yang berdosa dan khodrat yang baru; belajar membedakan keduanya adalah pertanda kedewasaan rohani. Kita harus membandingkan keinginan hati kita dengan Firman Allah dalam doa. Sama-halnya, mencari tahu letak karunia kita dan hal-hal yang menyenangkan hati kita adalah penting. Kita tidak &quot;mengikuti hati kita&quot; selayaknya dunia, namun gerakan hati tidak selalu salah. Kadang, mengikuti dorongan Roh Kudus terasa seolah-olah &quot;mengikuti kata hati kita.&quot; Namun, sekali lagi, &quot;mengikuti hati&quot; hanya tepat jika hati kita tunduk kepada pengarahan Allah dan kebenaran dalam Firman-Nya. Kita mempunyai Tuhan yang baik dan MahaTahu yang berjanji akan memberi kami hikmat (Yakobus 1:5); kita memiliki Firman-Nya yang terilhami dan tak bercacat dalam bentuk tulisan (2 Timotius 3:16). Daripada mengikuti hasrat hati kita yang ternoda oleh dosa, kita berpaling kepada Allah dan percaya dalam janji-Nya yang kekal. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Baik di dalam film, novel, semboyan, blog dan meme lainnya, ada ajakan untuk \u201cmengikuti hati kita.\u201d Adapun nasehat yang berbunyi \u201cpercayalah diri sendiri\u201d atau \u201cikuti nalurimu.\u201d Adapula yang berbunyi \u201chatimu tidak mungkin menyimpangkanmu.\u201d Masalahnya, semua nasehat ini tidak alkitabiah.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Bukannya mempercayai kata hati kita, seharusnya kita menyerahkan hati kita kepada Allah: \u201cPercayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu\u201d (Amsal 3:5-6). Ayat ini memerintahkan secara khusus supaya kita tidak mempercayai diri kita sendiri. Sebaliknya, ayat ini menjanjikan bimbingan bagi mereka yang memilih untuk mengikuti Tuhan.<\/p>\n<p>Jika sesuatu dapat memberi arahan, maka hal itu harus didasari oleh kebenaran secara obyektif. Dalam kata lain, apapun yang diajak konsultasi harus menyediakan konklusi berdasarkan kebenaran obyektif, bukan pengertian emosional yang subyektif. Alkitab mengajar bahwa manusia harus mengikuti Allah. Allah berfirman, \u201cDiberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!\u201d (Yeremia 17:7). Allah memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai segala sesuatu (1 Yohanes 3:20), sebuah sifat yang kita juluki sebagai ke-MahaTahu-an. Pengetahuan Allah tidak dibatasi oleh apapun juga. Allah menyadari semua peristiwa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi (Yesaya 46:9-10). Pengetahuan Allah tidak terbatas pada peristiwa, melainkan pada pemikiran dan motivasi di baliknya (Yohanes 2:25; Kisah 1:24). Namun, bukanlah semata pengetahuan ini yang membuat Allah menjadi sumber bimbingan yang dapat diandalkan. Allah juga menyadari setiap kemungkinan dan setiap akibat yang dapat terjadi dalam tiap peristiwa (Matius 11:21). Kemampuan itu, ketika dipadukan dengan kebaikan Allah, menjadikan Allah sebagai pembimbing yang terbaik untuk diikuti umat manusia.<\/p>\n<p>Tentang hati orang yang belum lahir baru, Allah berfirman: \u201cBetapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?\u201d (Yeremia 17:9). Ayat ini memberi setidaknya dua alasan mengapa manusia tidak boleh mengandalkan hatinya dalam mengambil keputusan. Pertama, dari segenap ciptaan tidak ada yang lebih licik daripada hati manusia, karena khodratnya yang berdosa. Jika kita mengikuti kata hati kita, maka kita sedang mengikuti pemandu yang tak layak dipercayai.<\/p>\n<p>Kita dibutakan terhadap sifat penipu hati kita. Sebagaimana ditanya oleh sang nabi, \u201cSiapakah yang dapat mengetahuinya?\u201d Ketika kita mengandalkan hikmat pribadi kita, maka kita akan sulit menentukan yang mana yang baik dan yang mana yang buruk. Membedakan baik dan buruk berdasarkan \u201cperasaan\u201d adalah cara hidup yang bahaya (dan tidak alkitabiah).<\/p>\n<p>Yang kedua, Yeremia 17:9 mengajarkan bahwa hati manusia itu licik. Tidak ada cara untuk memperbaiki hati. Manusia membutuhkan hati yang baru. Oleh karena itu, ketika seseorang beriman pada Kristus, ia dijadikan ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Yesus tidak memperbaiki hati; sebaliknya, Ia menggantikannya dengan yang baru.<\/p>\n<p>Ini tidak berarti bahwa kita dapat mengandalkan hati kita setelah beriman pada Kristus. Sebagai orang percaya, kita dinasehati untuk mengikuti kehendak Allah, bukan kehendak pribadi kita. Alkitab mengajar bahwa \u201ckeinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging&#8211;karena keduanya bertentangan&#8211;sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki\u201d (Galatia 5:17).<\/p>\n<p>Ada beberapa klarifikasi yang perlu kami berikan. Yang kami sampaikan bukan bahwa semua emosi kita selalu bersalah atau bahwa Allah tidak pernah menempatkan keinginan dalam hati kami (Mazmur 37:4). Hanya saja bahwa emosi bukanlah pembimbing yang dapat diandalkan, namun mereka tetap berguna dan informatif. Keinginan di dalam hati kita tidak selalu bersifat ilahi, namun tentu saja Allah dapat menanamkan mereka dalam hati kita. Orang Kristen mempunyai khodrat yang berdosa dan khodrat yang baru; belajar membedakan keduanya adalah pertanda kedewasaan rohani. Kita harus membandingkan keinginan hati kita dengan Firman Allah dalam doa. Sama-halnya, mencari tahu letak karunia kita dan hal-hal yang menyenangkan hati kita adalah penting. Kita tidak &#8220;mengikuti hati kita&#8221; selayaknya dunia, namun gerakan hati tidak selalu salah. Kadang, mengikuti dorongan Roh Kudus terasa seolah-olah &#8220;mengikuti kata hati kita.&#8221; Namun, sekali lagi, &#8220;mengikuti hati&#8221; hanya tepat jika hati kita tunduk kepada pengarahan Allah dan kebenaran dalam Firman-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita mempunyai Tuhan yang baik dan MahaTahu yang berjanji akan memberi kami hikmat (Yakobus 1:5); kita memiliki Firman-Nya yang terilhami dan tak bercacat dalam bentuk tulisan (2 Timotius 3:16). Daripada mengikuti hasrat hati kita yang ternoda oleh dosa, kita berpaling kepada Allah dan percaya dalam janji-Nya yang kekal. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Baik di dalam film, novel, semboyan, blog dan meme lainnya, ada ajakan untuk \u201cmengikuti hati kita.\u201d Adapun nasehat yang berbunyi \u201cpercayalah diri sendiri\u201d atau \u201cikuti nalurimu.\u201d Adapula yang berbunyi \u201chatimu tidak mungkin menyimpangkanmu.\u201d Masalahnya, semua nasehat ini tidak alkitabiah. Bukannya mempercayai kata hati kita, seharusnya kita menyerahkan hati kita kepada Allah: \u201cPercayalah kepada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":39826,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[],"class_list":["post-42243","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":39826,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png?fit=768%2C341&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png?fit=900%2C400&ssl=1","comment_count":0,"views":"1372","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42243","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42243"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42243\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42243"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42243"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42243"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}