{"id":42267,"date":"2020-11-07T09:27:06","date_gmt":"2020-11-07T02:27:06","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42267"},"modified":"2020-11-05T22:09:37","modified_gmt":"2020-11-05T15:09:37","slug":"apakah-orang-kristen-perlu-mencalonkan-diri-sebagai-politikus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-orang-kristen-perlu-mencalonkan-diri-sebagai-politikus\/","title":{"rendered":"Apakah orang Kristen perlu mencalonkan diri sebagai politikus?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ada perdebatan yang sangat panas terkait topik apakah sepantasnya orang Kristen terlibat dalam dunia politik. Meskipun tidak ada ayat rujukan khusus mengenai umat Kristen dalam jabatan politik, ada beberapa prinsip Kristiani yang dapat kita pertimbangkan. Siapapun yang hendak mencalonkan diri sebagai politikus perlu mempertimbangkan prinsip ini dan mencari kehendak Allah dalam doa. Sudah jelas bahwa negara dimana pejabat dan politikusnya dipilih oleh penduduknya merupakan negara yang mengusung tinggi nilai-nilai kebebasan. Di banyak negara di sekeliling dunia umat Kristen seringkali ditindas dan dianiaya, dengan menderita di bawah pemerintahan yang mustahil mereka ubah dan yang membenci agama mereka dan berupaya membungkam mereka. Orang percaya disana mengabarkan injil Yesus Kristus dengan resiko nyawa. Di negara lain, umat Kristen telah diberi kebebasan untuk membahas dan memilih pemimpin mereka tanpa ancaman terhadap keamanan mereka. Para pemimpin yang kita pilih sangat mempengaruhi kebebasan yang kita miliki. Mereka dapat memilih untuk melindungi hak penduduknya untuk beribadah dan mengabarkan injil, atau mereka dapat membatasi kebebasan tersebut. Mereka dapat mengarahkan bangsanya menuju kebenaran atau menuju keasusilaan. Cukup jelas bahwa semakin banyak umat Kristen sejati yang terlibat dalam pemerintahan \u2013 baik di eselon atas maupun di bawah \u2013 semakin kebebasan beragama dijaga. Orang Kristen di dalam arena politik dapat memprakarsai perubahan yang sangat dibutuhkan dalam sebuah kebudayaan. Suatu contoh yang tepat adalah William Wilberforce, seorang politikus Inggris pada abad ke-19 yang berkampanye selama puluhan tahun demi mengakhiri perdagangan budak yang sedang merajalela. Upayanya pada akhirnya berhasil, dan ia dipuji pada zaman ini atas keberanian dan komitmennya terhadap prinsip Kristiani. Namun di balik semua itu, ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa politikus adalah usaha yang kotor. Politikus, meskipun dengan motivasi yang baik, sangat rentan disimpangkan oleh sistem kekuasaan. Mereka yang menjabat, terutama di tingkat atas, dikelilingi oleh orang-orang yang mencari muka demi memajukan agenda pribadi mereka. Dimana uang dan kekuasaan berpusat, keserakahan dan nafsu mengingini tidak pernah jauh. Orang Kristen yang terlibat dalam sistem politik duniawi harus sangat waspada akan hal ini. Ajaran \u201cpergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik\u201d sangat berlaku dalam dunia politik. Yesus telah mengajar bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (Yohanes 18:36). Kerajaan Kristus tidak berhubungan dengan sistem politik di dunia ini atau pemerintahan negara-negara duniawi. Dunia yang seharusnya menjadi pusat perhatian umat Kristen adalah dunia rohani, bukan yang fana. Tidak masalah jika seorang Kristen ingin terlibat dalam politik, selama mereka ingat bahwa kita harus menjadi perwakilan Kristus di dunia ini. Itulah deskripsi tugas kita, dan tujuan kita ialah memohon supaya orang lain berdamai dengan Allah melalui Yesus (2 Korintus 5:20). Jadi apakah sebaiknya orang Kristen mencalonkan diri sebagai politikus? Bagi orang Kristen tertentu, jawabannya tidak; bagi orang lain, ya. Keputusan ini bersifat pribadi dan memerlukan doa dan hikmat yang hanya dapat diberikan oleh Allah (dan yang dijanjikan bagi mereka yang benar-benar mencarinya \u2013 Yakobus 1:5). Politikus Kristen harus mengingat bahwa kewajiban mereka kepada Tuhan harus mendahului kewajiban mereka kepada negara. Paulus memberitahu kita bahwa apapun yang kita lakukan, harus kita lakukan bagi kemuliaan Tuhan, bukan untuk memuliakan diri-sendiri (1 Korintus 10:31; Kolose 3:17). Jika seorang Kristen mencalonkan diri, ia harus memastikan dirinya dapat memenuhi tanggung-jawab jabatan tersebut sehingga memuliakan Allah dan tanpa menawar prinsip-prinsip Kristiani.\u00a0 (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Ada perdebatan yang sangat panas terkait topik apakah sepantasnya orang Kristen terlibat dalam dunia politik. Meskipun tidak ada ayat rujukan khusus mengenai umat Kristen dalam jabatan politik, ada beberapa prinsip Kristiani yang dapat kita pertimbangkan. Siapapun yang hendak mencalonkan diri sebagai politikus perlu mempertimbangkan prinsip ini dan mencari kehendak Allah dalam doa.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sudah jelas bahwa negara dimana pejabat dan politikusnya dipilih oleh penduduknya merupakan negara yang mengusung tinggi nilai-nilai kebebasan. Di banyak negara di sekeliling dunia umat Kristen seringkali ditindas dan dianiaya, dengan menderita di bawah pemerintahan yang mustahil mereka ubah dan yang membenci agama mereka dan berupaya membungkam mereka. Orang percaya disana mengabarkan injil Yesus Kristus dengan resiko nyawa. Di negara lain, umat Kristen telah diberi kebebasan untuk membahas dan memilih pemimpin mereka tanpa ancaman terhadap keamanan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para pemimpin yang kita pilih sangat mempengaruhi kebebasan yang kita miliki. Mereka dapat memilih untuk melindungi hak penduduknya untuk beribadah dan mengabarkan injil, atau mereka dapat membatasi kebebasan tersebut. Mereka dapat mengarahkan bangsanya menuju kebenaran atau menuju keasusilaan. Cukup jelas bahwa semakin banyak umat Kristen sejati yang terlibat dalam pemerintahan \u2013 baik di eselon atas maupun di bawah \u2013 semakin kebebasan beragama dijaga. Orang Kristen di dalam arena politik dapat memprakarsai perubahan yang sangat dibutuhkan dalam sebuah kebudayaan. Suatu contoh yang tepat adalah William Wilberforce, seorang politikus Inggris pada abad ke-19 yang berkampanye selama puluhan tahun demi mengakhiri perdagangan budak yang sedang merajalela. Upayanya pada akhirnya berhasil, dan ia dipuji pada zaman ini atas keberanian dan komitmennya terhadap prinsip Kristiani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun di balik semua itu, ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa politikus adalah usaha yang kotor. Politikus, meskipun dengan motivasi yang baik, sangat rentan disimpangkan oleh sistem kekuasaan. Mereka yang menjabat, terutama di tingkat atas, dikelilingi oleh orang-orang yang mencari muka demi memajukan agenda pribadi mereka. Dimana uang dan kekuasaan berpusat, keserakahan dan nafsu mengingini tidak pernah jauh. Orang Kristen yang terlibat dalam sistem politik duniawi harus sangat waspada akan hal ini. Ajaran \u201cpergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik\u201d sangat berlaku dalam dunia politik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yesus telah mengajar bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (Yohanes 18:36). Kerajaan Kristus tidak berhubungan dengan sistem politik di dunia ini atau pemerintahan negara-negara duniawi. Dunia yang seharusnya menjadi pusat perhatian umat Kristen adalah dunia rohani, bukan yang fana. Tidak masalah jika seorang Kristen ingin terlibat dalam politik, selama mereka ingat bahwa kita harus menjadi perwakilan Kristus di dunia ini. Itulah deskripsi tugas kita, dan tujuan kita ialah memohon supaya orang lain berdamai dengan Allah melalui Yesus (2 Korintus 5:20).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi apakah sebaiknya orang Kristen mencalonkan diri sebagai politikus? Bagi orang Kristen tertentu, jawabannya tidak; bagi orang lain, ya. Keputusan ini bersifat pribadi dan memerlukan doa dan hikmat yang hanya dapat diberikan oleh Allah (dan yang dijanjikan bagi mereka yang benar-benar mencarinya \u2013 Yakobus 1:5). Politikus Kristen harus mengingat bahwa kewajiban mereka kepada Tuhan harus mendahului kewajiban mereka kepada negara. Paulus memberitahu kita bahwa apapun yang kita lakukan, harus kita lakukan bagi kemuliaan Tuhan, bukan untuk memuliakan diri-sendiri (1 Korintus 10:31; Kolose 3:17). Jika seorang Kristen mencalonkan diri, ia harus memastikan dirinya dapat memenuhi tanggung-jawab jabatan tersebut sehingga memuliakan Allah dan tanpa menawar prinsip-prinsip Kristiani.\u00a0 (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ada perdebatan yang sangat panas terkait topik apakah sepantasnya orang Kristen terlibat dalam dunia politik. Meskipun tidak ada ayat rujukan khusus mengenai umat Kristen dalam jabatan politik, ada beberapa prinsip Kristiani yang dapat kita pertimbangkan. Siapapun yang hendak mencalonkan diri sebagai politikus perlu mempertimbangkan prinsip ini dan mencari kehendak Allah dalam doa. Sudah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":14396,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"14"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,14,3],"tags":[206,205],"class_list":["post-42267","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-kebangsaan","category-umum","tag-pemerintahan","tag-politik"],"better_featured_image":{"id":14396,"alt_text":"","caption":"","description":"a8c10be67f4b2fb5decf9cec468f3131","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/imajinasi-politik-apa-yang-kita-pahami-saat-menyebut-yesus-sebagai-tuhan_5c717bff3be4a.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/imajinasi-politik-apa-yang-kita-pahami-saat-menyebut-yesus-sebagai-tuhan_5c717bff3be4a.jpeg?fit=473%2C471&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/imajinasi-politik-apa-yang-kita-pahami-saat-menyebut-yesus-sebagai-tuhan_5c717bff3be4a.jpeg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/imajinasi-politik-apa-yang-kita-pahami-saat-menyebut-yesus-sebagai-tuhan_5c717bff3be4a.jpeg?fit=473%2C471&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1384","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42267","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42267"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42267\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14396"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42267"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42267"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42267"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}