{"id":42304,"date":"2020-02-13T19:09:40","date_gmt":"2020-02-13T12:09:40","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42304"},"modified":"2020-02-13T19:09:40","modified_gmt":"2020-02-13T12:09:40","slug":"denny-siregar-umat-islam-belajarlah-ke-umat-kristen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/denny-siregar-umat-islam-belajarlah-ke-umat-kristen\/","title":{"rendered":"Denny Siregar: Umat Islam, Belajarlah ke Umat Kristen"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Entah kenapa, mendengar ceramah Ustaz Abdul Somad yang viral membahas tentang salib, saya yang seagama dengan dia justru merasa malu sendiri. Penjelasan tentang salib oleh orang yang dianggap ustaz sekelas Somad yang pendidikan agamanya mencapai S2, ternyata sekelas dukun yang mengkambinghitamkan jin yang tak ada wujudnya. Sama sekali tidak ada penjelasan logis dan universal untuk menjelaskan kepada jamaah yang awam. Dan tanpa rasa malu, Somad merasa tidak bersalah. Ia merasa hanya menyampaikan ajaran dalam agamanya saja. Sebuah kesombongan yang hakiki. Bahkan untuk merendah saja ia sulit. Sekadar meminta maaf saja ia gagap. Padahal, ia sedang memegang keilmuan sebuah ajaran yang katanya rahmat bagi semesta alam. UU penistaan agama selama ini hanya dipakai sebagai senjata bagi mereka yang punya kepentingan dan merasa berkuasa. Bukan sebagai jalan untuk mencari keadilan seperti yang diinginkan. Dan saya tambah malu ketika Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) melarang kasus ini untuk dilaporkan ke polisi. Mereka malah membahas tentang tidak efektifnya UU penistaan agama, yang membawa banyak korban tak bersalah. Mulai Ahok sampai Meiliana harus menerima akibat dari sebab yang tidak mereka perbuat. Mereka dipenjara karena tekanan massa dan pembentukan opini yang kejam. UU penistaan agama selama ini hanya dipakai sebagai senjata bagi mereka yang punya kepentingan dan merasa berkuasa. Bukan sebagai jalan untuk mencari keadilan seperti yang diinginkan. PGI sebenarnya sedang menabok umat &quot;Rahmatan lil Alamin&quot; dengan konsep &quot;Kasih&quot;. Sedang menabok anggota DPR yang membuat UU dengan protes tanpa suara berlebih. Mereka ingin peristiwa ini menjadi pelajaran banyak pihak bahwa ada masalah dalam sistem hukum kita yang katanya menjadi &quot;panglima&quot;. Tapi apakah mereka yang ditabok akan merasa? Jelas tidak. Kesombongan sedang menutup mata dan hati mereka. Merasa benar dan besar, sehingga tanpa sadar tersesat dari apa yang diajarkan Rasulnya. Hafal kitab tapi tidak pernah mengkaji isinya. Jangan tanya tentang &quot;makna&quot; setiap ayat, mereka tidak akan pernah paham apa yang disampaikan di dalamnya. Saya jadi teringat perkataan Ali bin Abu Thalib (semoga Allah memuliakan wajahnya). Bahwa, &quot;Periwayat ilmu banyak, tetapi yang memahaminya sedikit.&quot; Itulah yang terjadi dalam ruang agama kita sekarang ini. Jujur, seharusnya umat Islam di Indonesia harus belajar banyak dari umat Kristen di sini. Bagaimana cara mereka menahan diri supaya masalah tidak melebar ke sana kemari. Bagaimana cara mereka tetap tersenyum saat ditindas dan dizalimi. Bagi mereka, keimanan tidak perlu diakui, tetapi dipelajari supaya mereka tidak tersesat dalam ajaran sendiri. Itulah yang mereka sebut &quot;menanggung salib&quot; atau menanggung beban sekuat apapun yang terjadi. Karena bagi mereka, semua ujian adalah kenikmatan. Tanpa ada ujian, bagaimana bisa keimanan menguat? Salam hormat buat umat Kristen dimana saja kalian berada. Terimalah rasa malu saya sebagai umat beragama dengan ahlak yang terendah. Sesungguhnya, berada dalam lingkup mayoritas itu juga bukan hal yang menyenangkan. Karena kesombongan, itulah sesungguhnya ujian yang terberat. Salam seruput kopi. *)Penulis: Denny Siregar (Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Entah kenapa, mendengar ceramah Ustaz Abdul Somad yang viral membahas tentang salib, saya yang seagama dengan dia justru merasa malu sendiri.<\/p>\n<div id=\"content\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Penjelasan tentang salib oleh orang yang dianggap ustaz sekelas Somad yang pendidikan agamanya mencapai S2, ternyata sekelas dukun yang mengkambinghitamkan jin yang tak ada wujudnya. Sama sekali tidak ada penjelasan logis dan universal untuk menjelaskan kepada jamaah yang awam.<\/p>\n<p>Dan tanpa rasa malu, Somad merasa tidak bersalah.<\/p>\n<p>Ia merasa hanya menyampaikan ajaran dalam agamanya saja. Sebuah kesombongan yang hakiki. Bahkan untuk merendah saja ia sulit. Sekadar meminta maaf saja ia gagap. Padahal, ia sedang memegang keilmuan sebuah ajaran yang katanya rahmat bagi semesta alam.<\/p>\n<blockquote><p>UU penistaan agama selama ini hanya dipakai sebagai senjata bagi mereka yang punya kepentingan dan merasa berkuasa. Bukan sebagai jalan untuk mencari keadilan seperti yang diinginkan.<\/p><\/blockquote>\n<p>Dan saya tambah malu ketika Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) melarang kasus ini untuk dilaporkan ke polisi.<\/p>\n<p>Mereka malah membahas tentang tidak efektifnya UU penistaan agama, yang membawa banyak korban tak bersalah. Mulai Ahok sampai Meiliana harus menerima akibat dari sebab yang tidak mereka perbuat. Mereka dipenjara karena tekanan massa dan pembentukan opini yang kejam.<\/p>\n<p>UU penistaan agama selama ini hanya dipakai sebagai senjata bagi mereka yang punya kepentingan dan merasa berkuasa. Bukan sebagai jalan untuk mencari keadilan seperti yang diinginkan.<\/p>\n<p>PGI sebenarnya sedang menabok umat &#8220;Rahmatan lil Alamin&#8221; dengan konsep &#8220;Kasih&#8221;. Sedang menabok anggota DPR yang membuat UU dengan protes tanpa suara berlebih. Mereka ingin peristiwa ini menjadi pelajaran banyak pihak bahwa ada masalah dalam sistem hukum kita yang katanya menjadi &#8220;panglima&#8221;.<\/p>\n<p>Tapi apakah mereka yang ditabok akan merasa?<\/p>\n<p>Jelas tidak. Kesombongan sedang menutup mata dan hati mereka. Merasa benar dan besar, sehingga tanpa sadar tersesat dari apa yang diajarkan Rasulnya. Hafal kitab tapi tidak pernah mengkaji isinya. Jangan tanya tentang &#8220;makna&#8221; setiap ayat, mereka tidak akan pernah paham apa yang disampaikan di dalamnya.<\/p>\n<p>Saya jadi teringat perkataan Ali bin Abu Thalib (semoga Allah memuliakan wajahnya). Bahwa, &#8220;Periwayat ilmu banyak, tetapi yang memahaminya sedikit.&#8221; Itulah yang terjadi dalam ruang agama kita sekarang ini.<\/p>\n<p>Jujur, seharusnya umat Islam di Indonesia harus belajar banyak dari umat Kristen di sini.<\/p>\n<p>Bagaimana cara mereka menahan diri supaya masalah tidak melebar ke sana kemari. Bagaimana cara mereka tetap tersenyum saat ditindas dan dizalimi. Bagi mereka, keimanan tidak perlu diakui, tetapi dipelajari supaya mereka tidak tersesat dalam ajaran sendiri.<\/p>\n<p>Itulah yang mereka sebut &#8220;menanggung salib&#8221; atau menanggung beban sekuat apapun yang terjadi. Karena bagi mereka, semua ujian adalah kenikmatan. Tanpa ada ujian, bagaimana bisa keimanan menguat?<\/p>\n<p>Salam hormat buat umat Kristen dimana saja kalian berada.<\/p>\n<p>Terimalah rasa malu saya sebagai umat beragama dengan ahlak yang terendah. Sesungguhnya, berada dalam lingkup mayoritas itu juga bukan hal yang menyenangkan.<\/p>\n<p>Karena kesombongan, itulah sesungguhnya ujian yang terberat.<\/p>\n<p>Salam seruput kopi.<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>*)Penulis: Denny Siregar (Penulis buku <em>Tuhan dalam Secangkir Kopi)<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Entah kenapa, mendengar ceramah Ustaz Abdul Somad yang viral membahas tentang salib, saya yang seagama dengan dia justru merasa malu sendiri. Penjelasan tentang salib oleh orang yang dianggap ustaz sekelas Somad yang pendidikan agamanya mencapai S2, ternyata sekelas dukun yang mengkambinghitamkan jin yang tak ada wujudnya. Sama sekali tidak ada penjelasan logis dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":42305,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending"},"jnews_primary_category":{"id":"98"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[98],"tags":[],"class_list":["post-42304","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-analisis-opini"],"better_featured_image":{"id":42305,"alt_text":"","caption":"","description":"ebd77cc3f4b82ddadc3d2cc71636c25d","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/denny-siregar-umat-islam-belajarlah-ke-umat-kristen_5e4252aea3fc7.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/denny-siregar-umat-islam-belajarlah-ke-umat-kristen_5e4252aea3fc7.jpeg?fit=768%2C576&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/denny-siregar-umat-islam-belajarlah-ke-umat-kristen_5e4252aea3fc7.jpeg"},"categories_detail":[{"id":98,"name":"Analisis &amp; Opini","description":"","slug":"analisis-opini","count":30,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/denny-siregar-umat-islam-belajarlah-ke-umat-kristen_5e4252aea3fc7.jpeg?fit=1024%2C768&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1874","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42304","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42304"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42304\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42305"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42304"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42304"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42304"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}