{"id":42308,"date":"2023-04-04T10:31:00","date_gmt":"2023-04-04T03:31:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42308"},"modified":"2023-04-03T01:32:42","modified_gmt":"2023-04-02T18:32:42","slug":"sejarah-kekristenan-di-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sejarah-kekristenan-di-jepang\/","title":{"rendered":"Sejarah Kekristenan di Jepang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Misionaris Kristen disebut bateren (bahasa Portugis: padre; bahasa Indonesia: pastor, romo, padri) atau iruman (bahasa Portugis: irm\u00e3o, bruder). Kirishitan (\u5409\u5229\u652f\u4e39, \u5207\u652f\u4e39, \u9b3c\u5229\u6b7b\u4e39, \u30ad\u30ea\u30b7\u30bf\u30f3, dari bahasa Portugis: crist\u00e3o) adalah istilah kuno untuk agama Katolik Roma dalam bahasa Jepang, dan dipakai sebagai istilah historiografi untuk menunjuk agama Katolik Roma di Jepang pada abad ke-16 dan abad ke-17. Transkripsi dalam aksara kanji: \u5207\u652f\u4e39 dan \u9b3c\u5229\u6b7b\u4e39 dipakai selama Periode Edo ketika Kekristenan dinyatakan sebagai agama terlarang di Jepang. Kedua transkripsi tersebut memiliki konotasi negatif. Istilah kirishitan hanya dipakai dalam kata daimyo kirishitan yang berarti daimyo beragama Kristen, dan Kakure Kirishitan yang merujuk kepada penganut Katolik Roma di Jepang yang membuat gerakan bawah tanah setelah Pemberontakan Shimabara. Kapal-kapal Portugis tiba di Jepang pada tahun 1543,[1] dan kegiatan misionaris Katolik di Jepang sudah dimulai paling tidak sekitar tahun 1549. Kegiatan penyebaran Kristen di Jepang terutama dilakukan oleh Yesuit yang disponsori Portugis hingga kedatangan misionaris ordo Fransiskan dan Dominikan yang disponsori Spanyol. Di antara 95 Yesuit yang bekerja di Jepang hingga tahun 1600, 57 orang adalah orang Portugis, 20 orang Spanyol, dan 18 orang Italia.[2]Francisco Xavier,[3][4] Cosme de Torres (seorang pendeta Yesuit), dan Romo John Fernandes adalah misionaris pertama yang tiba di Jepang. Mereka tiba di Kagoshima dengan tujuan menyebarkan Kekristenan dan Kekatolikan di Jepang. Pada abad ke-17, agama Katolik secara resmi dilarang di beberapa daerah, dan berubah menjadi gerakan bawah tanah. Meskipun demikian, bukti-bukti arkeologis membuka kemungkinan tentang kedatangan misionaris Nestorianisme di Jepang pada tahun 199 Masehi. Mereka diperkirakan singgah di Jepang setelah melakukan perjalanan melalui India, Cina, dan Korea sebelum akhirnya tiba di Dinasti Tang. Gereja pertama di Jepang kemungkinan sudah didirikan pada akhir abad-4 di Nara.[5] \u00a0 Kiri: Seorang Kirishitan yang menetap di Jakarta setelah diberlakukannya Sakoku. Agama Kristen ditandai dengan topinya. Kanan: Orang yang sama tampak di sebelah kanan bagian depan. The Castle of Batavia, lukisan karya Andries Beeckman, circa 1656. . Sumber:\u00a0 id.wikipedia.or\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Misionaris Kristen disebut <i>bateren<\/i> (bahasa Portugis: <i>padre<\/i>; bahasa Indonesia: pastor, romo, padri) atau <i>iruman<\/i> (bahasa Portugis: <i>irm\u00e3o<\/i>, bruder). <i>Kirishitan<\/i> (<span lang=\"ja\">\u5409\u5229\u652f\u4e39, \u5207\u652f\u4e39, \u9b3c\u5229\u6b7b\u4e39, \u30ad\u30ea\u30b7\u30bf\u30f3<\/span>, dari bahasa Portugis: <i>crist\u00e3o<\/i>) adalah istilah kuno untuk agama Katolik Roma dalam bahasa Jepang, dan dipakai sebagai istilah historiografi untuk menunjuk agama Katolik Roma di Jepang pada abad ke-16 dan abad ke-17. Transkripsi dalam aksara kanji: \u5207\u652f\u4e39 dan \u9b3c\u5229\u6b7b\u4e39 dipakai selama Periode Edo ketika Kekristenan dinyatakan sebagai agama terlarang di Jepang. Kedua transkripsi tersebut memiliki konotasi negatif. Istilah <i>kirishitan<\/i> hanya dipakai dalam kata <i>daimyo kirishitan<\/i> yang berarti daimyo beragama Kristen, dan <i>Kakure Kirishitan<\/i> yang merujuk kepada penganut Katolik Roma di Jepang yang membuat gerakan bawah tanah setelah Pemberontakan Shimabara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kapal-kapal Portugis tiba di Jepang pada tahun 1543,<sup id=\"cite_ref-1\" class=\"reference\">[1]<\/sup> dan kegiatan misionaris Katolik di Jepang sudah dimulai paling tidak sekitar tahun 1549. Kegiatan penyebaran Kristen di Jepang terutama dilakukan oleh Yesuit yang disponsori Portugis hingga kedatangan misionaris ordo Fransiskan dan Dominikan yang disponsori Spanyol. Di antara 95 Yesuit yang bekerja di Jepang hingga tahun 1600, 57 orang adalah orang Portugis, 20 orang Spanyol, dan 18 orang Italia.<sup id=\"cite_ref-2\" class=\"reference\">[2]<\/sup>Francisco Xavier,<sup id=\"cite_ref-3\" class=\"reference\">[3]<\/sup><sup id=\"cite_ref-4\" class=\"reference\">[4]<\/sup> Cosme de Torres (seorang pendeta Yesuit), dan Romo John Fernandes adalah misionaris pertama yang tiba di Jepang. Mereka tiba di Kagoshima dengan tujuan menyebarkan Kekristenan dan Kekatolikan di Jepang. Pada abad ke-17, agama Katolik secara resmi dilarang di beberapa daerah, dan berubah menjadi gerakan bawah tanah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun demikian, bukti-bukti arkeologis membuka kemungkinan tentang kedatangan misionaris Nestorianisme di Jepang pada tahun 199 Masehi. Mereka diperkirakan singgah di Jepang setelah melakukan perjalanan melalui India, Cina, dan Korea sebelum akhirnya tiba di Dinasti Tang. Gereja pertama di Jepang kemungkinan sudah didirikan pada akhir abad-4 di Nara.<sup id=\"cite_ref-5\" class=\"reference\">[5]<\/sup><\/p>\n<div id=\"mw-content-text\" dir=\"ltr\" lang=\"id\" style=\"text-align: justify;\">\n<div class=\"mw-parser-output\">\n<div class=\"thumb tmulti tright\">\n<div class=\"thumbinner\">\n<div class=\"trow\">\n<div class=\"tsingle\">\n<div class=\"thumbimage\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/sejarah-kekristenan-di-jepang_5e42539ebe2bb.jpeg?resize=120%2C190&#038;ssl=1\" alt=\"\" width=\"120\" height=\"190\" data-file-width=\"1793\" data-file-height=\"2835\" \/>\u00a0<img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/sejarah-kekristenan-di-jepang_5e42539e63d2a.jpeg?resize=267%2C190&#038;ssl=1\" alt=\"\" width=\"267\" height=\"190\" data-file-width=\"7222\" data-file-height=\"5134\" \/><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"trow\">\n<div class=\"thumbcaption\" style=\"text-align: left;\"><b>Kiri<\/b>: Seorang Kirishitan yang menetap di Jakarta setelah diberlakukannya Sakoku. Agama Kristen ditandai dengan topinya.<\/div>\n<div class=\"thumbcaption\" style=\"text-align: left;\"><b>Kanan<\/b>: Orang yang sama tampak di sebelah kanan bagian depan. <i>The Castle of Batavia<\/i>, lukisan karya Andries Beeckman, circa 1656.<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">.<\/p>\n<p>Sumber:\u00a0 id.wikipedia.or<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Misionaris Kristen disebut bateren (bahasa Portugis: padre; bahasa Indonesia: pastor, romo, padri) atau iruman (bahasa Portugis: irm\u00e3o, bruder). Kirishitan (\u5409\u5229\u652f\u4e39, \u5207\u652f\u4e39, \u9b3c\u5229\u6b7b\u4e39, \u30ad\u30ea\u30b7\u30bf\u30f3, dari bahasa Portugis: crist\u00e3o) adalah istilah kuno untuk agama Katolik Roma dalam bahasa Jepang, dan dipakai sebagai istilah historiografi untuk menunjuk agama Katolik Roma di Jepang pada abad ke-16 dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":42309,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"Wikipedia","source_url":"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sejarah_Gereja_Katolik_di_Jepang","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"20","hide":""},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[22,20],"tags":[],"class_list":["post-42308","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional","category-sejarah"],"better_featured_image":{"id":42309,"alt_text":"","caption":"","description":"02f5f80b4da1079b7d848da5b65a74fa","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/sejarah-kekristenan-di-jepang_5e42539e63d2a.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/sejarah-kekristenan-di-jepang_5e42539e63d2a.jpeg?fit=267%2C190&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/sejarah-kekristenan-di-jepang_5e42539e63d2a.jpeg"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0},{"id":20,"name":"Sejarah","description":"","slug":"sejarah","count":39,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/sejarah-kekristenan-di-jepang_5e42539e63d2a.jpeg?fit=267%2C190&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1448","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42308","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42308"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42308\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63966,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42308\/revisions\/63966"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42309"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42308"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42308"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42308"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}