{"id":42379,"date":"2020-12-04T09:27:04","date_gmt":"2020-12-04T02:27:04","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42379"},"modified":"2020-11-15T09:26:47","modified_gmt":"2020-11-15T02:26:47","slug":"apa-itu-dosa-yang-tak-dapat-diampuni","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-itu-dosa-yang-tak-dapat-diampuni\/","title":{"rendered":"Apa itu dosa yang tak dapat diampuni?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Soal \u201cdosa yang tak dapat diampuni\u201d atau \u201cmenghujat Roh Kudus\u201d disebutkan dalam Markus 3:22-30 dan Matius 12:22-32. Istilah \u201cpenghujatan\u201d dapat secara umum didefinisikan sebagai \u201cmembangkang secara kurangajar.\u201d Kita menggunakan istilah ini pada dosa-dosa seperti mengutuki Allah atau dengan sengaja mencemarkan hal-hal yang berhubungan dengan-Nya. Juga menuduh Allah untuk hal-hal yang jahat, atau tidak mengakui Allah untuk hal-hal yang baik yang Dia lakukan. Menghujat yang dimaksud di sini adalah apa yang disebut \u201cmenghujat Roh Kudus\u201d dalam Matius 12:31. Dalam bagian ini, orang-orang Farisi, setelah menyaksikan bukti yang tak dapat disangkal bahwa Yesus melakukan mukjizat dengan kuasa Roh Kudus malah menuduhNya Dia dikuasai oleh Beelzebul (Matius 12:24). Dalam Markus 3:30, Yesus sangat jelas menyatakan apa yang dimaksud sebagai \u201cmenghujat Roh Kudus.\u201d Penghujatan ini berhubungan dengan tindakan menuduh Yesus (secara pribadi, dalam dunia) dikuasai oleh roh jahat. Ada cara-cara lain menghujat Roh Kudus (seperti misalnya berdusta kepada-Nya, seperti halnya Ananias dan Safira dalam Kisah 5:1-10), namun tuduhan terhadap Yesus ini menjadi satu-satunya penghujatan yang tak dapat diampuni. Dosa spesifik terhadap Roh Kudus ini karenanya tidak dapat diulangi pada zaman sekarang, karena Yesus tidak ada di dunia dalam bentuk daging. Satu-satunya dosa yang tak diampuni pada zaman sekarang ialah ketika seseorang terus menerus tidak percaya. Tidak ada pengampunan terhadap seseorang yang mati dalam keadaan tidak percaya. Yohanes 3:16 memberitahu kita, \u201cKarena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal\u201d (Yohanes 3:16). Satu-satunya alasan di mana seseorang tidak mendapatkan pengampunan adalah kalau dia tidak termasuk orang yang percaya kepada-Nya. Yesus berkata, &quot;Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku\u201d (Yohanes 14:6). Menolak satu-satunya jalan keselamatan itu sama dengan menghukum diri sendiri untuk menghabiskan kekekalan di dalam neraka. Jelas jika menolak satu-satunya pengampunan itu membuat seseorang tidak dapat diampuni. Banyak orang takut bahwa mereka sudah melakukan dosa-dosa tertentu yang Allah tidak dapat atau tidak akan ampuni, dan mereka merasa putus asa, apapun yang mereka lakukan. Iblis senang kalau kita tetap mempertahakan konsep yang keliru ini. Sebenarnya, kalau seseorang takut akan dosanya, yang dia perlu lakukan hanyalah datang kepada Allah, mengakui dosa itu, menyesalinya dan menerima janji pengampunan Allah. \u201cJika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan\u201d (1 Yohanes 1:9). Ayat ini meyakinkan kita bahwa Allah siap untuk mengampuni dosa apapun \u2013 betapapun kejinya- kalau kita datang kepada-Nya dengan penyesalan. Kalau Saudara menderita karena banyaknya rasa bersalah, Allah saat ini menunggu Saudara dengan tangan kasih dan belas kasihan yang terbuka untuk menyambut Saudara datang kepada-Nya. Dia tidak akan pernah mengecewakan atau tidak mengampuni orang yang memohon kepadaNya. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Soal \u201cdosa yang tak dapat diampuni\u201d atau \u201cmenghujat Roh Kudus\u201d disebutkan dalam Markus 3:22-30 dan Matius 12:22-32.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Istilah \u201cpenghujatan\u201d dapat secara umum didefinisikan sebagai \u201cmembangkang secara kurangajar.\u201d Kita menggunakan istilah ini pada dosa-dosa seperti mengutuki Allah atau dengan sengaja mencemarkan hal-hal yang berhubungan dengan-Nya. Juga menuduh Allah untuk hal-hal yang jahat, atau tidak mengakui Allah untuk hal-hal yang baik yang Dia lakukan.<\/p>\n<p>Menghujat yang dimaksud di sini adalah apa yang disebut \u201cmenghujat Roh Kudus\u201d dalam Matius 12:31. Dalam bagian ini, orang-orang Farisi, setelah menyaksikan bukti yang tak dapat disangkal bahwa Yesus melakukan mukjizat dengan kuasa Roh Kudus malah menuduhNya Dia dikuasai oleh Beelzebul (Matius 12:24).<\/p>\n<p>Dalam Markus 3:30, Yesus sangat jelas menyatakan apa yang dimaksud sebagai \u201cmenghujat Roh Kudus.\u201d<\/p>\n<p>Penghujatan ini berhubungan dengan tindakan menuduh Yesus (secara pribadi, dalam dunia) dikuasai oleh roh jahat. Ada cara-cara lain menghujat Roh Kudus (seperti misalnya berdusta kepada-Nya, seperti halnya Ananias dan Safira dalam Kisah 5:1-10), namun tuduhan terhadap Yesus ini menjadi satu-satunya penghujatan yang tak dapat diampuni. Dosa spesifik terhadap Roh Kudus ini karenanya tidak dapat diulangi pada zaman sekarang, karena Yesus tidak ada di dunia dalam bentuk daging.<\/p>\n<p>Satu-satunya dosa yang tak diampuni pada zaman sekarang ialah ketika seseorang terus menerus tidak percaya. Tidak ada pengampunan terhadap seseorang yang mati dalam keadaan tidak percaya.<\/p>\n<p>Yohanes 3:16 memberitahu kita, \u201cKarena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal\u201d (Yohanes 3:16).<\/p>\n<p>Satu-satunya alasan di mana seseorang tidak mendapatkan pengampunan adalah kalau dia tidak termasuk orang yang percaya kepada-Nya.<\/p>\n<p>Yesus berkata, &#8220;Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku\u201d (Yohanes 14:6). Menolak satu-satunya jalan keselamatan itu sama dengan menghukum diri sendiri untuk menghabiskan kekekalan di dalam neraka. Jelas jika menolak satu-satunya pengampunan itu membuat seseorang tidak dapat diampuni.<\/p>\n<p>Banyak orang takut bahwa mereka sudah melakukan dosa-dosa tertentu yang Allah tidak dapat atau tidak akan ampuni, dan mereka merasa putus asa, apapun yang mereka lakukan.<\/p>\n<p>Iblis senang kalau kita tetap mempertahakan konsep yang keliru ini. Sebenarnya, kalau seseorang takut akan dosanya, yang dia perlu lakukan hanyalah datang kepada Allah, mengakui dosa itu, menyesalinya dan menerima janji pengampunan Allah.<\/p>\n<p>\u201cJika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan\u201d (1 Yohanes 1:9).<\/p>\n<p>Ayat ini meyakinkan kita bahwa Allah siap untuk mengampuni dosa apapun \u2013 betapapun kejinya- kalau kita datang kepada-Nya dengan penyesalan. Kalau Saudara menderita karena banyaknya rasa bersalah, Allah saat ini menunggu Saudara dengan tangan kasih dan belas kasihan yang terbuka untuk menyambut Saudara datang kepada-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia tidak akan pernah mengecewakan atau tidak mengampuni orang yang memohon kepadaNya. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Soal \u201cdosa yang tak dapat diampuni\u201d atau \u201cmenghujat Roh Kudus\u201d disebutkan dalam Markus 3:22-30 dan Matius 12:22-32. Istilah \u201cpenghujatan\u201d dapat secara umum didefinisikan sebagai \u201cmembangkang secara kurangajar.\u201d Kita menggunakan istilah ini pada dosa-dosa seperti mengutuki Allah atau dengan sengaja mencemarkan hal-hal yang berhubungan dengan-Nya. Juga menuduh Allah untuk hal-hal yang jahat, atau tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33511,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1],"tags":[8,122],"class_list":["post-42379","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","tag-dosa","tag-eskatologi"],"better_featured_image":{"id":33511,"alt_text":"","caption":"","description":"8acade6fafae0d999304dbd2924da6f5","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg?fit=310%2C318&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1478","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42379","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42379"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42379\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42379"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42379"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42379"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}