{"id":42396,"date":"2020-09-24T09:27:04","date_gmt":"2020-09-24T02:27:04","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42396"},"modified":"2020-09-21T17:49:25","modified_gmt":"2020-09-21T10:49:25","slug":"apakah-ada-situasi-dimana-dusta-diperbolehkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-ada-situasi-dimana-dusta-diperbolehkan\/","title":{"rendered":"Apakah ada situasi dimana dusta diperbolehkan?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Alkitab tidak pernah memberi suatu situasi dimana berbohong dipandang sebagai tindakan yang benar. Perintah ke sembilan melarang bersaksi dusta (Keluaran 20:16). Amsal 6:16-19 menuliskan &quot;lidah dusta&quot; dan &quot;seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan&quot; sebagai dua dari tujuh perkara yang dibenci Tuhan. Kasih bersuka cita karena kebenaran (1 Korintus 13:6). Beberapa Firman yang mengecam kebohongan adalah Mazmur 119:29,163; 120:2; Amsal 12:22; 13:5; Efesus 4:25; Kolose 3:9; dan Wahyu 21:8. Adapun berbagai contoh pembohong lainnya di dalam Firman, dari Yakub di dalam Kejadian 27 sampai penutupan kebenaran oleh Ananias dan Zafira dalam Kisah Para Rasul 5. Dari waktu ke waktu, kita mengamati bahwa kepalsuan membawa kepada penderitaan, kehilangan, dan penghakiman. Adapun setidaknya dua situasi di dalam Alkitab dimana kebohongan menghasilkan sebuah hasil yang baik. Sebagai contoh, dusta yang diucapkan para bidan-bidan kepada Firaun yang mengakibatkan berkat Allah di atas mereka (Keluaran 1:15-21), dan mungkin ini telah menyelamatkan banyak nyawa bayi Yahudi. Sebuah contoh lain adalah dusta Rahab untuk melindungi para mata-mata Israel dalam Yosua 2:5. Penting untuk diingat bahwa Allah tidak pernah menyetujui dusta-dusta tersebut. Terlepas dari akibat &quot;positif&quot; dusta tersebut, Alkitab tidak memuji dusta itu sendiri. Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa ada situasi dimana berbohong adalah tindakan yang benar. Sama-halnya, Alkitab juga tidak menyatakan pula bahwa tidak akan ada situasi dimana berbohong adalah pilihan yang dapat diterima. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah ini: apakah ada kala dimana berbohong merupakan tindakan yang benar? Sebuah ilustrasi dari dilema tersebut muncul dari kehidupan Corrie ten Boom di Belanda, yang waktu itu dikuasai oleh rezim Nazi. Kisah sederhananya sbb: Corrie ten Boom sedang menyembunyikan orang Yahudi di rumahnya untuk melindungi mereka dari Nazi. Tentara Nazi datang ke rumahya dan bertanya padanya apabila ia mengetahui adanya Yahudi yang bersembunyi. Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus jujur dan memperbolehkan para Nazi menangkap orang Yahudi yang coba ia lindungi? Atau, haruskah dia berbohong dan menolak telah mengetahui apa-apa tentang mereka? Dalam situasi seperti ini, dimana dusta hanyalah satu-satunya cara untuk mencegah kejahatan yang keji, mungkin berbohong menjadi tindakan yang dapat ditoleransi. Situasi seperti ini mungkinlah mirip dengan bohong yang diucapkan para bidan Yahudi ataupun Rahab. Di dalam dunia yang jahat, dan di dalam situasi yang putus asa, mungkin benar jka dengan melakukan kejahatan yang lebih kecil, berbohong, untuk menghindari kejahatan yang lebih besar. Akan tetapi, perlu diingat bahwa situasi seperti ini sangatlah jarang. Lebih memungkinkan bahwa sebagian besar orang di dalam sejarah manusia tidak pernah menghadapi situasi dimana berbohong adalah tindakan yang benar. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Alkitab tidak pernah memberi suatu situasi dimana berbohong dipandang sebagai tindakan yang benar. Perintah ke sembilan melarang bersaksi dusta (Keluaran 20:16). Amsal 6:16-19 menuliskan &#8220;lidah dusta&#8221; dan &#8220;seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan&#8221; sebagai dua dari tujuh perkara yang dibenci Tuhan. Kasih bersuka cita karena kebenaran (1 Korintus 13:6). Beberapa Firman yang mengecam kebohongan adalah Mazmur 119:29,163; 120:2; Amsal 12:22; 13:5; Efesus 4:25; Kolose 3:9; dan Wahyu 21:8. Adapun berbagai contoh pembohong lainnya di dalam Firman, dari Yakub di dalam Kejadian 27 sampai penutupan kebenaran oleh Ananias dan Zafira dalam Kisah Para Rasul 5. Dari waktu ke waktu, kita mengamati bahwa kepalsuan membawa kepada penderitaan, kehilangan, dan penghakiman.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Adapun setidaknya dua situasi di dalam Alkitab dimana kebohongan menghasilkan sebuah hasil yang baik. Sebagai contoh, dusta yang diucapkan para bidan-bidan kepada Firaun yang mengakibatkan berkat Allah di atas mereka (Keluaran 1:15-21), dan mungkin ini telah menyelamatkan banyak nyawa bayi Yahudi. Sebuah contoh lain adalah dusta Rahab untuk melindungi para mata-mata Israel dalam Yosua 2:5. Penting untuk diingat bahwa Allah tidak pernah menyetujui dusta-dusta tersebut. Terlepas dari akibat &#8220;positif&#8221; dusta tersebut, Alkitab tidak memuji dusta itu sendiri. Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa ada situasi dimana berbohong adalah tindakan yang benar. Sama-halnya, Alkitab juga tidak menyatakan pula bahwa tidak akan ada situasi dimana berbohong adalah pilihan yang dapat diterima.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertanyaan yang perlu dijawab adalah ini: apakah ada kala dimana berbohong merupakan tindakan yang benar? Sebuah ilustrasi dari dilema tersebut muncul dari kehidupan Corrie ten Boom di Belanda, yang waktu itu dikuasai oleh rezim Nazi. Kisah sederhananya sbb: Corrie ten Boom sedang menyembunyikan orang Yahudi di rumahnya untuk melindungi mereka dari Nazi. Tentara Nazi datang ke rumahya dan bertanya padanya apabila ia mengetahui adanya Yahudi yang bersembunyi. Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus jujur dan memperbolehkan para Nazi menangkap orang Yahudi yang coba ia lindungi? Atau, haruskah dia berbohong dan menolak telah mengetahui apa-apa tentang mereka?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam situasi seperti ini, dimana dusta hanyalah satu-satunya cara untuk mencegah kejahatan yang keji, mungkin berbohong menjadi tindakan yang dapat ditoleransi. Situasi seperti ini mungkinlah mirip dengan bohong yang diucapkan para bidan Yahudi ataupun Rahab. Di dalam dunia yang jahat, dan di dalam situasi yang putus asa, mungkin benar jka dengan melakukan kejahatan yang lebih kecil, berbohong, untuk menghindari kejahatan yang lebih besar. Akan tetapi, perlu diingat bahwa situasi seperti ini sangatlah jarang. Lebih memungkinkan bahwa sebagian besar orang di dalam sejarah manusia tidak pernah menghadapi situasi dimana berbohong adalah tindakan yang benar. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Alkitab tidak pernah memberi suatu situasi dimana berbohong dipandang sebagai tindakan yang benar. Perintah ke sembilan melarang bersaksi dusta (Keluaran 20:16). Amsal 6:16-19 menuliskan &#8220;lidah dusta&#8221; dan &#8220;seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan&#8221; sebagai dua dari tujuh perkara yang dibenci Tuhan. Kasih bersuka cita karena kebenaran (1 Korintus 13:6). Beberapa Firman yang mengecam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33511,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[],"class_list":["post-42396","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":33511,"alt_text":"","caption":"","description":"8acade6fafae0d999304dbd2924da6f5","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg?fit=310%2C318&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1188","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42396","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42396"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42396\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42396"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42396"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42396"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}