{"id":42403,"date":"2020-11-18T09:27:04","date_gmt":"2020-11-18T02:27:04","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42403"},"modified":"2020-11-14T17:57:08","modified_gmt":"2020-11-14T10:57:08","slug":"apakah-artinya-menjadi-budak-kepada-dosa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-artinya-menjadi-budak-kepada-dosa\/","title":{"rendered":"Apakah artinya menjadi budak kepada dosa?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Dalam pemahaman rohani, kita semua merupakan budak. Kita bisa menjadi budak pada dosa, yakni kondisi alami kita, atau menjadi budak Kristus. Para penulis Perjanjian Baru dengan sukarela menyatakan diri sebagai budak Kristus. Paulus membuka suratnya kepada jemaat di Roma dengan menyebut diri sebagai &quot;hamba Kristus Yesus&quot; (Roma 1:1) dan dalam suratnya kepada Titus sebagai &quot;hamba Allah&quot; (Titus 1:1). Yakobus memulai suratnya dengan cara yang sama, &quot;Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus&quot; (Yakobus 1:1). Sebagian besar terjemahan menuliskan &quot;hamba&quot; dalam bagian ayat ini, namun kata Yunani doulas, secara harafiah, artinya &quot;budak.&quot; Di dalam Yohanes 8:34 Yesus berkata pada orang Farisi, &quot;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.&quot; Ia menggunakan kiasan tuan dan hamba untuk mengajar bahwa seorang hamba menaati tuannya karena ia adalah miliknya. Hamba tidak mempunyai kehendak pribadi. Mereka terikat pada tuan mereka. Ketika dosa adalah tuan kita, kita tak mampu menolaknya. Akan tetapi, melalui kuasa Kristus kita dapat mengalahkan kuasa dosa, &quot;Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran&quot; (Roma 6:18). Ketika kita datang kepada Kristus dalam pertobatan dan menerima pengampunan dosa, kita dihidupkan secara rohani oleh Roh Kudus yang mulai mendiami kita. Melalui kuasa-Nya kita dapat menolak dosa dan menjadi budak kebenaran. Murid Yesus adalah milik-Nya dan ingin melakukan hal yang menyenangkan-Nya. Ini berarti para anak-anak Allah menaati Dia dan hidup dalam kemerdekaan dari kebiasaan berdosa. Kita dapat melakukan hal ini karena Yesus telah melepaskan kita dari perbudakan dosa (Yohanes 8:36), dan dengan demikian kita sudah tidak lagi berada di bawah hukuman mati dan keterpisahan dari Allah. Roma 6:1-23 memperdalam kiasan antara hamba dan tuannya. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh melanjutkan kebiasaan berdosa karena kita telah mati bagi dosa. Roma 6:4 mengajar bahwa karena kita telah dikubur dan dibangkitkan bersama Kristus kita sekarang dapat mengalami kehidupan yang baru, lain dari orang yang tidak percaya yang masih diperbudak dosa. Roma 6:6 mengatakan bahwa, karena diri kita yang lama telah disalibkan dengan-Nya sehingga tubuh berdosa kita tersingkirkan, kita sudah boleh menjadi hamba dosa. Dan Roma 6:11 menekankan bahwa kita harus menganggap diri mati kepada dosa dan hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Allah memerintah supaya kita tidak memperbolehkan dosa bertakhta dalam tubuh jasmani kita, dengan menaati hawa nafsunya, melainkan kita perlu mempersembahkan diri kepada-Nya sebagai senjata kebenaran (Roma 6:12-14). Di dalam Roma 6:16-18 kita diajari bahwa kita merupakan hamba pada apa yang kita taati, baik ketaatan kepada dosa atau ketaatan pada kebenaran. Kita perlu menjadi budak Allah, yang daripada-Nya kita menerima karunia pengudusan dan kehidupan kekal. Kita melakukan hal ini karena upah dosa adalah maut, namun anugerah Allah adalah kehidupan kekal dalam Kristus Yesus Tuhan kita (Roma 6:23). Rasul Paulus, penulis kitab Roma, kemudian menjelaskan bahwa ia memahami betapa sulitnya untuk tidak hidup dalam dosa karena ia bergumul dengan pengalaman itu meskipun telah menjadi pengikut Kristus. Hal ini penting untuk diketahui umat Kristen. Walaupun kita sekarang telah dibebaskan dari hukuman dosa, kita masih hidup di tengah-tengah dosa di bumi ini. Satu-satunya cara supaya kita dapat bebas dari kuasa dosa adalah melalui kuasa Roh Kudus yang telah diberikan pada orang percaya pada saat mereka beriman dalam Kristus (Efesus 1:13-14), dan Ia memeteraikan kita dalam Kristus sebagai jaminan akan warisan kita sebagai anak-anak Allah. Keberadaan Roh Kudus dalam kehidupan kita berarti bahwa, sambil iman kita berkembang dan kita semakin mengasihi Allah tiap harinya, kita mendapatkan kekuatan untuk semakin menahan diri dari dosa. Melalui karya Roh Kudus kita dimampukan untuk bertahan melawan dosa, tidak menyerah pada godaan, dan hidup menurut Firman Allah. Kebiasaan berdosa akan semakin membuat kita jijik, dan kita semakin menjauh dari hal-hal yang merintangi persekutuan kita dengan Allah. Roma 7:17-8:2 menyemangati orang percaya karena kita dibertahu bahwa, walaupun kadang kita berdosa, kutukan sudah tidak ada lagi karena kita berada did alam Kristus Yesus. Dan 1 Yohanes 1:9 memberi kami harapan bahwa, jika kita berdosa sebagai orang Kristen, ketika kita mengakui dosa kita kepada Tuhan tiap harinya, Ia setia dan benar dan akan menyucikan kita dari noda dosa supaya kita dapat hidup dalam hubungan yang benar dengan-Nya. Di sepanjang kitab Efesus, rasul Paulus mendukung dan menyemangati kita untuk hidup sebagai anak-anak terang, dengan saling mengasihi sebagaimana Kristus telah mengasihi kita, dan mencari tahu apa yang berkenan bagi Tuhan dan melaksanakannya (Efesus 2:1-10; 3:16-19; 4:1-6; 5:1-10). Di dalam Efesus 6:10-18 Paulus memberitahu caranya menguatkan diri dalam Tuhan dengan mengenakan perlengkapan baju zirah Allah tiap hari supaya kita dapat bertahan melawan siasat Iblis. Kita berkomitmen untuk bertumbuh dan menjadi dewasa dalam iman kita sebagai pengikut Kristus dengan membaca dan mempelajari Firman Allah setiap hari dan mengkhususkan waktu dengan-Nya dalam dosa. Dengan demikian kita semakin dikuatkan oleh Roh Kudus dan mampu bertahan terhadap dosa. Pengalaman kemenangan-kemenangan kecil tiap hari yang kita peroleh dalam Kristus akan menguatkan dan menyemangati kita, dengan pengetahuan bahwa kita tidak lagi merupakan budak dosa; melainkan budak Allah. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Dalam pemahaman rohani, kita semua merupakan budak. Kita bisa menjadi budak pada dosa, yakni kondisi alami kita, atau menjadi budak Kristus. Para penulis Perjanjian Baru dengan sukarela menyatakan diri sebagai budak Kristus. Paulus membuka suratnya kepada jemaat di Roma dengan menyebut diri sebagai &#8220;hamba Kristus Yesus&#8221; (Roma 1:1) dan dalam suratnya kepada Titus sebagai &#8220;hamba Allah&#8221; (Titus 1:1). Yakobus memulai suratnya dengan cara yang sama, &#8220;Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus&#8221; (Yakobus 1:1). Sebagian besar terjemahan menuliskan &#8220;hamba&#8221; dalam bagian ayat ini, namun kata Yunani <i>doulas<\/i>, secara harafiah, artinya &#8220;budak.&#8221;<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Di dalam Yohanes 8:34 Yesus berkata pada orang Farisi, &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.&#8221; Ia menggunakan kiasan tuan dan hamba untuk mengajar bahwa seorang hamba menaati tuannya karena ia adalah miliknya. Hamba tidak mempunyai kehendak pribadi. Mereka terikat pada tuan mereka. Ketika dosa adalah tuan kita, kita tak mampu menolaknya. Akan tetapi, melalui kuasa Kristus kita dapat mengalahkan kuasa dosa, &#8220;Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran&#8221; (Roma 6:18). Ketika kita datang kepada Kristus dalam pertobatan dan menerima pengampunan dosa, kita dihidupkan secara rohani oleh Roh Kudus yang mulai mendiami kita. Melalui kuasa-Nya kita dapat menolak dosa dan menjadi budak kebenaran.<\/p>\n<p>Murid Yesus adalah milik-Nya dan ingin melakukan hal yang menyenangkan-Nya. Ini berarti para anak-anak Allah menaati Dia dan hidup dalam kemerdekaan dari kebiasaan berdosa. Kita dapat melakukan hal ini karena Yesus telah melepaskan kita dari perbudakan dosa (Yohanes 8:36), dan dengan demikian kita sudah tidak lagi berada di bawah hukuman mati dan keterpisahan dari Allah.<\/p>\n<p>Roma 6:1-23 memperdalam kiasan antara hamba dan tuannya. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh melanjutkan kebiasaan berdosa karena kita telah mati bagi dosa. Roma 6:4 mengajar bahwa karena kita telah dikubur dan dibangkitkan bersama Kristus kita sekarang dapat mengalami kehidupan yang baru, lain dari orang yang tidak percaya yang masih diperbudak dosa. Roma 6:6 mengatakan bahwa, karena diri kita yang lama telah disalibkan dengan-Nya sehingga tubuh berdosa kita tersingkirkan, kita sudah boleh menjadi hamba dosa. Dan Roma 6:11 menekankan bahwa kita harus menganggap diri mati kepada dosa dan hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.<\/p>\n<p>Allah memerintah supaya kita tidak memperbolehkan dosa bertakhta dalam tubuh jasmani kita, dengan menaati hawa nafsunya, melainkan kita perlu mempersembahkan diri kepada-Nya sebagai senjata kebenaran (Roma 6:12-14). Di dalam Roma 6:16-18 kita diajari bahwa kita merupakan hamba pada apa yang kita taati, baik ketaatan kepada dosa atau ketaatan pada kebenaran. Kita perlu menjadi budak Allah, yang daripada-Nya kita menerima karunia pengudusan dan kehidupan kekal. Kita melakukan hal ini karena upah dosa adalah maut, namun anugerah Allah adalah kehidupan kekal dalam Kristus Yesus Tuhan kita (Roma 6:23).<\/p>\n<p>Rasul Paulus, penulis kitab Roma, kemudian menjelaskan bahwa ia memahami betapa sulitnya untuk tidak hidup dalam dosa karena ia bergumul dengan pengalaman itu meskipun telah menjadi pengikut Kristus. Hal ini penting untuk diketahui umat Kristen. Walaupun kita sekarang telah dibebaskan dari hukuman dosa, kita masih hidup di tengah-tengah dosa di bumi ini. Satu-satunya cara supaya kita dapat bebas dari kuasa dosa adalah melalui kuasa Roh Kudus yang telah diberikan pada orang percaya pada saat mereka beriman dalam Kristus (Efesus 1:13-14), dan Ia memeteraikan kita dalam Kristus sebagai jaminan akan warisan kita sebagai anak-anak Allah.<\/p>\n<p>Keberadaan Roh Kudus dalam kehidupan kita berarti bahwa, sambil iman kita berkembang dan kita semakin mengasihi Allah tiap harinya, kita mendapatkan kekuatan untuk semakin menahan diri dari dosa. Melalui karya Roh Kudus kita dimampukan untuk bertahan melawan dosa, tidak menyerah pada godaan, dan hidup menurut Firman Allah. Kebiasaan berdosa akan semakin membuat kita jijik, dan kita semakin menjauh dari hal-hal yang merintangi persekutuan kita dengan Allah.<\/p>\n<p>Roma 7:17-8:2 menyemangati orang percaya karena kita dibertahu bahwa, walaupun kadang kita berdosa, kutukan sudah tidak ada lagi karena kita berada did alam Kristus Yesus. Dan 1 Yohanes 1:9 memberi kami harapan bahwa, jika kita berdosa sebagai orang Kristen, ketika kita mengakui dosa kita kepada Tuhan tiap harinya, Ia setia dan benar dan akan menyucikan kita dari noda dosa supaya kita dapat hidup dalam hubungan yang benar dengan-Nya. Di sepanjang kitab Efesus, rasul Paulus mendukung dan menyemangati kita untuk hidup sebagai anak-anak terang, dengan saling mengasihi sebagaimana Kristus telah mengasihi kita, dan mencari tahu apa yang berkenan bagi Tuhan dan melaksanakannya (Efesus 2:1-10; 3:16-19; 4:1-6; 5:1-10). Di dalam Efesus 6:10-18 Paulus memberitahu caranya menguatkan diri dalam Tuhan dengan mengenakan perlengkapan baju zirah Allah tiap hari supaya kita dapat bertahan melawan siasat Iblis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita berkomitmen untuk bertumbuh dan menjadi dewasa dalam iman kita sebagai pengikut Kristus dengan membaca dan mempelajari Firman Allah setiap hari dan mengkhususkan waktu dengan-Nya dalam dosa. Dengan demikian kita semakin dikuatkan oleh Roh Kudus dan mampu bertahan terhadap dosa. Pengalaman kemenangan-kemenangan kecil tiap hari yang kita peroleh dalam Kristus akan menguatkan dan menyemangati kita, dengan pengetahuan bahwa kita tidak lagi merupakan budak dosa; melainkan budak Allah. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Dalam pemahaman rohani, kita semua merupakan budak. Kita bisa menjadi budak pada dosa, yakni kondisi alami kita, atau menjadi budak Kristus. Para penulis Perjanjian Baru dengan sukarela menyatakan diri sebagai budak Kristus. Paulus membuka suratnya kepada jemaat di Roma dengan menyebut diri sebagai &#8220;hamba Kristus Yesus&#8221; (Roma 1:1) dan dalam suratnya kepada Titus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33511,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1],"tags":[],"class_list":["post-42403","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab"],"better_featured_image":{"id":33511,"alt_text":"","caption":"","description":"8acade6fafae0d999304dbd2924da6f5","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg?fit=310%2C318&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1852","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42403","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42403"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42403\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42403"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42403"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42403"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}